
Mattea turun setelah selesai dengan membersihkan tubuhnya. Dia berjalan menuju ruang keluarga, disana terlihat Max dan Thomas sedang mengobrol. Gadis cantik itu duduk di samping Max.
“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Mattea. Dia mengambil kue yang ada didalam toples. Lalu memakannya, tanpa menghiraukan tatapan dari dua laki-laki yang ada di dekatnya itu.
“Why Dad? Uncle?” tanya Mattea heran, setelah sadar, kalau dia diperhatikan.
“Apa kau tidak bisa berhenti makan baby?” tanya Max, sedangkan Mattea hanya tertawa.
“No dad. Aku lapar, dan pelayan belum selesai membuatkan makan malam!”
“Apa laki-laki ini tadi tidak memberikanmu makan baby?” tanya Max menatap Thomas. Mattea menggeleng menjawab pertanyaan Max.
“Apa kau semiskin itu Thomas, hingga tidak mampu membelikan makanan untuk anak gadisku yang sudah kau ajak jalan?”
“Aku lupa Max, karena gadis berani ini membuatku panik!” Max tertawa mendengar perkataan Thomas, berbeda dengan Mattea yang cemberut mendengar perkataan laki-laki yang dia cintai itu.
“Aku penasaran, apa saja yang kau bicarakan dengan Patricia itu tadi baby?!” Thomas menanyakan hal itu, membuat Mattea menggeleng.
“No! Uncle tidak perlu tau!” Mattea menggeleng cepat, sembari kembali memasukkan kue kering itu kedalam mulutnya
“Why? Bukankah aku perlu tau? Karena yang kalian perebutkan adalah aku?” Thomas dengan percaya dirinya membuat Max menggeleng.
“Percaya diri sekali kau Uncle?!” ledek Mattea, tapi dalam hati dia membenarkan kata laki-laki itu.
“Hahaha, harus baby!”
“Tunggu dulu, ini kenapa kau masih memanggil laki-laki tua ini Uncle, baby?” tanya Max, yang geli sendiri mendengar Mattea memanggil Thomas Uncle, setelah mereka berdua menjalin hubungan.
“Entahlah, aku nyaman memanggilnya begitu!" jawab Mattea polos. Sedangkan Thomas mengerling kesal pada gadis itu.
“Harusnya kau memanggilku dengan nama panggilan kesayangan baby girl!” jawab Thomas yang setuju dengan perkataan Max tadi.
“No, aku tidak mau!” tolak Mattea cepat.
“Harus mau baby girl!”
“Tidak!”
“Apa yang kalian debatkan?” tanya Stef yang baru tiba. Wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu, berdiri di dekat Mattea.
“Bisa minggir sayang, duduk di dekat Uncle mu, jangan duduk di samping suami Momy!” Stef berkacak pinggang menatap Mattea yang semakin mendekatkan dirinya pada sang Daddy.
“Tapi dia Daddy ku mom!” Mattea memeluk lengan Max dengan lengannya, lalu kembali masukkan kue dalam mulutnya dengan tangan Max yang terkurung dalam lengannya.
“Iya, tapi sebelum menjadi Daddy mu, dia itu suami Momy!” Stef yang tidak mau kalah dengan anaknya itu, membuat Max dan Thomas terkekeh geli.
“Tidak mau!” tolak Mattea lagi.
“Ya sudah, Momy duduk didekat Thomas saja!” Stef yang hendak berjalan menuju sofa yang diduduki oleh Thomas, langsung ditahan oleh Max
“Hoho, no sayangku. Baby, silahkan pindah ke samping pria mu sendiri!” Mattea cemberut menatap Max, membuat Daddy-nya itu gemas.
“Dad?” panggil Mattea manja.
“Atea sayang? Kau tidak mau duduk disampingku?” Thomas yang sedari tadi, hanya tersenyum gemas melihat kelakuan keluarga itu, akhirnya membuka suara.
“No! Uncle bau!”
“Heii!”
“Ck, Atea, kau pindah saja! Sudah besar tapi masih seperti anak kecil saja!” Matteo yang baru saja keluar dari kamar, dan berjalan menuju ruang keluarga, duduk di dekat Thomas.
“Hei, siapa yang menyuruhmu duduk disana! Minggir!” melihat Matteo yang duduk di samping Thomas, Mattea langsung bangkit dan menarik tangan saudara kembarnya itu.
“Astaga, kenapa kau jadi menyebalkan begini sih?” Matteo masih tidak mau bangun dari duduknya walaupun Mattea menarik tangannya.
“Mom, dad...” Mattea menatap Daddy dan momynya dengan memelas, membuat Matteo menghela nafas.
“Matt....” ujar Max menekankan suaranya.
“Yes Dad!” laki-laki itu bangkit, lalu duduk di sofa tunggal yang ada disana, lalu mencibir pada Mattea yang juga mencibir padanya.
“Kenapa kalian jadi ke kanak-kanakan begini sih?” tanya Stef, yang melihat perlakuan kedua putra dan putrinya itu. Sedangkan Max menatap istrinya itu dengan gemas, seakan berkata, ‘Seperti kau tidak saja sayang?!’
“Apa?” tanya Stef, sedangkan Max hanya menggeleng takut, lalu memalingkan wajah ke arah lain.
Hingga tak lama setelah itu, Marko mengatakan pada mereka kalau makan malam sudah siap. Max mengajak orang yang duduk di ruang keluarga itu, untuk berjalan menuju ruang makan.
Mattea berbinar senang melihat banyaknya menu makan malam hari ini.
“Apa dad membuat acara?” tanya Mattea, sedangkan Max hanya mengangguk.
“Acara apa Dad?” tanya Mattea berbinar, lalu duduk dikursi yang berhadapan dengan Thomas.
“Entahlah, Dady juga tidak tahu!” Max mengangkat bahunya acuh, melihat Daddy-nya yang menyebalkan seperti itu, Mattea hanya mencebikkan bibirnya kesal.
Saat sebelum makan malam di mulai, Thomas berdehem untuk mengalihkan perhatian, membuat Mattea heran.
“Kenapa Uncle?” tanya Mattea bingung, melihat tatapan Thomas yang tidak lepas darinya.
“Mattea...” semua orang menatap pada Mattea membuat gadis itu bingung.
“Apa?”
“Aku tidak tau mulai dari mana Max!” Thomas yang sedari tadi hanya diam, mengatakan hal itu membuat Max ingin sekali rasanya memukul kepala laki-laki itu.
“Astaga Thomas! Aku bahkan sudah menunggu kau bicara, dan kau tidak tau, bagaimana mengatakannya? Kau mau aku pukul?” melihat Daddy-nya yang kesal seperti itu, membuat Mattea semakin heran. Tanpa menghiraukan orang yang ada di meja makan, dia tetap melanjutkan makan ayam goreng itu dengan perlahan, agar orang-orang itu tidak menyadarinya.
“Aku gugup Max, aku tidak ada perencanaan!” bisik Thomas berkilah membuat Max semakin kesal.
“Thomas, aku sudah lapar, kau mau bicara apa?” Stef yang dari tadi hanya diam melihat perdebatan kedua laki-laki dewasa itu akhirnya buka suara.
Sedangkan Matteo yang duduk di samping Mattea, menyenggol kaki saudari kembarnya itu, membuat Mattea menatap sengit ke arahnya.
“Apa sih?!” ujar Mattea ketus.
“Aku lapar Matt, kalau menunggu mereka berdebat, itu akan lama. Mending kau ikut makan denganku!” Mattea meraih lagi ayam goreng yang ada didepannya, dan memakannya perlahan, sedangkan Matteo menggelengkan kepalanya melihat kelakuan saudari kembarnya ini.
“Katakan sekarang atau tidak sama sekali?!” Max memberikan pilihan pada Thomas, yang membuat laki-laki itu mengangguk.
“Mattea, apa kau mau menikah denganku?” dengan sekali ucap dan sekali tarikan nafas, kata-kata itu meluncur dari mulut Thomas, membuatnya mendapat tatapan tajam dari Max!
“Hah?” ayam goreng yang baru masuk kedalam mulut Mattea, kembali keluar menyembur karena reaksi kaget dari gadis itu.
“Heii, kau ini, tidak ada romantisnya sedikitpun! Sialnya putriku yang cinta mati padamu!” Max menatap Thomas tajam membuat laki-laki itu juga menatapnya tajam.
“Hei pria tua, aku gugup. Kau tau!” kesal Thomas.
“Baby girl?” Thomas menatap Mattea meminta jawaban, sedangkan gadis itu masih dalam mode terkejutnya.
“Atea sayang?” tanya Stef lembut pada anak gadisnya itu.
“Uncle, melamarku?” mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Mattea, membuat Thomas langsung menganggukkan kepalanya cepat.
“Yes baby, lalu bagaimana jawabanmu?”
“Uncle, apa tidak ada lagi yang lebih romantis dari ini?” Mattea mengerling kesal pada Thomas, dia lalu melanjutkan mengunyah ayam gorengnya. Tapi, jujur dari dalam hati terdalamnya saat ini, dia sangat gugup.
Bagaimanapun, di lamar di rumah orang tua, di depan orangtuanya, saat makan malam, bahkan tanpa dia duga sebelumnya, membuat Mattea sungguh sangat bahagia.
Mendengar perkataan Mattea, Thomas bangkit dari duduknya, lalu berjalan mendekat pada gadis itu. Mattea sudah gugup sendiri saat Thomas berdiri di belakangnya.
“Baby girl, bisa tatap aku?” Mattea berbalik menatap Thomas yang berdiri di belakangnya. Dia duduk dengan menyamping.
“Aku tau, kalau aku ini bukanlah pria yang romantis, bukan pria yang bisa berbuat manis, ataupun berkata-kata manis, aku hanyalah seorang pria beruntung yang mendapatkan cinta sebegitu besarnya dari gadis cantik seperti dirimu, aku tidak tau, kebaikan apa yang sudah aku perbuat di kehidupan sebelumnya, tapi aku sangat-sangat bersyukur dengan hal ini.”
“Mattea, aku tau, aku bukanlah pria muda yang seumuran denganmu, dan aku bahkan tidak menyangka kalau kau mencintai aku, yang perbedaan umur kita sangat jauh darimu. Bahkan kini ternyata aku juga telah jatuh cinta padamu!”
Thomas terkekeh pelan saat mengatakan kalimat terakhirnya. Bagaimanapun, dialah yang awalnya sangat keras menolak Mattea, menolak membuka hatinya, setelah kegagalan pada masa lalunya membuatku hancur.
Semua diam menatap pada laki-laki yang sedang berbicara di depan Mattea itu. Bahkan para pelayan mengintip dari balik lemari menyaksikan momen romantis itu.
“Mattea, aku sadar usiaku sudah tidak muda lagi, dan dengan itu, makanya aku berniat untuk melamarmu. Apa kau bersedia untuk menjadi istriku, ibu dari anak-anakku nantinya? Dan menjadi wanita satu-satunya yang ada dalam hidupku?! Untuk menemani sisa akhir hidup yang aku jalani? Menjadi wanita satu-satunya yang akan selalu aku cintai, yang akan selalu aku sayangi hingga ajal menjemput. Kita akan selalu bersama dalam cinta yang menyatu dalam raga, dan juga hati kita?” Thomas terdiam sebentar.
“Apa kau bersedia menerimaku Mattea Martha Alexander Luciano?” tatapan mata penuh cinta dari Thomas, mampu membuat Mattea terbisu. Walaupun ini tidak seperti lamaran pada umumnya, tapi bagi Mattea, ini adalah lamaran paling romantis baginya.
Karena, bagi Mattea sendiri, lebih baik di lamar dengan cara sederhana, tapi perasaan keduanya benar-benar dalam dan kuat untuk menyatu satu sama lain.
Stef memeluk lengan Max dengan penuh rasa haru. Dia menatap Max dengan tersenyum. Laki-laki itu membawa Stef kedalam pelukannya.
“Putri kita sudah dewasa sayang.” bisik Max dengan suara kecil, yang mendapat anggukan kepala dari Stef.
Mattea masih tidak bergeming. Dia menutup mulutnya tidak percaya, kalau seorang Thomas Achilles, mampu mengatakan kata-kata yang mampu membuat perempuan manapun akan terharu saat mendengarnya.
Matteo menatap Mattea yang ada disampingnya dengan tersenyum. Saudari kembarnya ini, akhirnya berhasil menghancurkan batu besar yang ada di hati laki-laki yang dia anggap paman ini. Matt tau bagaimana perasaan Mattea selama ini, maka dari itu, dia menjadi salah satu orang yang paling bahagia saat cinta saudarinya itu terbalaskan.
“Mattea?” Thomas melambaikan tangannya didepan Mattea yang tampak berkaca-kaca.
Para pelayan muda yang mengintip di belakang, saling memegang tangan mereka, merasa tersentuh dengan kata-kata dan tatapan penuh cinta dari Thomas untuk nona muda Mattea. Mereka seperti terhipnotis saat laki-laki gagah itu berlutut dihadapan Mattea.
“Aku juga ingin dilamar seperti itu!” ujar salah satu dari mereka berbisik kepada temannya, menatap Thomas dengan pandangan kagum.
“Sttt, diam. Kita tunggu jawaban nona muda!”
Entah sejak kapan Thomas mengeluarkan cincin dari sakunya, tapi kini cincin mungil dengan permata berlian putih yang berkilau itu sudah ada didepan Mattea.
Gadis itu tinggal mengatakan iya, maka dapat dipastikan pasti cincin itu sudah melingkar manis di jari manisnya.
“Mattea, kaki ku kram, jadi bisa kau jawab sekarang?!” mendengar pertanyaan Thomas yang berbisik padanya membuat Mattea cemberut lalu memukul pundak laki-laki itu.
“Aku sedang terharu, jadi lebih baik Uncle diam, jangan merusak suasana!” sinis Mattea menatap Thomas yang masih berlutut dihadapannya.
“Makanya cepat jawab baby girl, kaki ku kram!” Thomas berbisik lagi pada Mattea membuat gadis itu terlihat kesal.
“Uncle, kenapa kau menyebalkan seperti ini sih?” balas Mattea yang ikut berbisik.
“Aku sedang gugup di tatap seperti itu oleh semua orang, ayo cepat jawab baby girl!” bisik Thomas lagi.
“Jadi, apa kau mau menerimaku Mattea?” kini tatapan pria itu sudah terlihat serius kembali, setelah tadinya dia mengurangi sedikit rasa gugupnya dengan membuat Mattea kesal.
“Aku mau.” singkat, padat, jelas.
Dua kata itu mampu membuat Thomas langsung berdiri dan melonjak dengan sangat bahagia.
“YES!”
Thomas langsung memeluk Mattea dengan sangat erat melampiaskan kebahagiaannya membuat gadis itu memerah karena perlakuan Thomas.
Setelah puas dengan memeluk Mattea, Thomas melepaskan pelukannya, lalu kembali berlutut dihadapan Mattea.
Laki-laki itu memasangkan cincin berlian yang sangat indah itu dijari Mattea. Ukuran cincin itu, sangat pas dengan jari tangan Mattea yang mungil. Sekali lagi, Thomas membawa Mattea kedalam pelukannya.
Sedangkan para pelayan juga ikut bersorak bahagia di belakang mendengar jawaban dari Mattea.
“Hemm, apa makan malamnya bisa dimulai sekarang? Aku sudah sangat lapar!”
“Astaga baby girl!”
“Kau merusak suasana sayang!”
“Tapi aku benar-benar lapar Mom.”
______
Dukungannya sayangku 😍😍
Bonus buat hari ini nih😂😍