My Devils Husband

My Devils Husband
Season 2. Apa kau tidak lelah mengawasi ku Max?!



Saat cinta menemukan jalan pulang, dia tidak akan pernah melihat ke belakang! Karena dia tau, masa lalu untuk di lupakan, bukan untuk di kenang, ataupun kembali berbalik dan meninggalkan jalan pulang!


-Ega_Sri.


_____


Thomas membawa Mattea pulang, setelah bersusah payah mencari gadis itu, yang ternyata dia pergi untuk menemui Patricia lagi. Thomas tidak akan membayangkan bagaimana reaksi dokter yang dulunya sudah membantu Stef melahirkan itu, dan bayi yang dia bantu untuk lahirkan, kini malah akan menjadi calon istrinya, dan untuk reaksi Patricia dia tidak ingin tahu, karena baginya itu sangat tidak penting.


Keduanya terlibat obrolan ringan saat perjalanan pulang, hingga tanpa terasa mereka sudah tiba di mansion besar milik keluarga Alexander.


“Apa Uncle, akan mampir dulu?” tanya Mattea dengan penuh harap. Thomas menganggukkan kepalanya, membuat Mattea sangat berbinar. Tapi sebelum itu, dia menahan tangan Thomas yang akan membuka pintu mobil.


“Kenapa Atea?” tanya Thomas heran. Sedangkan Mattea mengambil kantong belanjaan yang dia simpan dalam tasnya tadi.


Lalu dia memasangkan sebuah jam pada Thomas membuat laki-laki itu mengernyit.


Mattea mengantikan jam yang kini di pakai Thomas dengan jam yang sudah dia beli.


“Uncle harus memakai jam ini terus!” ujar Mattea.


“Kenapa?”


Setelah mendengar pertanyaan Thomas, Mattea juga mengeluarkan jam miliknya yang hampir mirip dengan Thomas, bedanya jam milik Thomas sedikit lebih besar daripada milik Mattea.


“Jam cople?” tanya Thomas. Mattea menganggukkan kepalanya. Sedangkan Thomas hanya tersenyum dengan hal itu.


“Ayo turun!” Mattea turun dari dalam mobil terlebih dahulu, diikuti oleh Thomas kemudian.


Kedua orang itu, berjalan menuju pintu utama, dan saat membuka pintu, Marko sudah berdiri disana dan menyambut mereka.


“Selamat sore nona muda, tuan Thomas?!” Thomas dan Mattea mengangguk pada Marko.


“Sore Marko, apa Max dan Stef sudah pulang?” tanya Thomas.


“Sudah tuan, Tuan besar Max ada di kamar bersama dengan Nyonya Stef, mereka baru saja sampai!”


“Oke, baiklah. Terimakasih Marko.” Marko mengangguk mendengar ucapan terimakasih Thomas, dah senyum cerah Mattea.


Setelah itu Mattea pergi ke kamarnya, dan Thomas pergi ke kamar yang biasa dia tempati sewaktu menginap di mansion milik Max ini.


Setibanya di kamar, Mattea langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia menatap langit-langit kamar besar itu. Menghembuskan nafas saat mengingat kembali apa yang tadi dia lakukan sewaktu di mall.


“Dokter Patricia.” Mattea memberanikan diri menghampiri Patricia, dia tidak lagi melihat Thomas disana. Mungkin mencari dirinya? pikir Mattea tersenyum dalam hatinya.


“Kenapa Mattea?” tanya Patricia dengan sopan dan ramah.


“Apa aku boleh mengatakan sesuatu?” tanya Mattea dengan tatapan berani. Patricia sedikit terintimidasi melihat mata hitam pekat milik gadis cantik dihadapannya itu.


“Tanya apa Mattea?” tanya dokter Patricia dengan gugup.


“Aku akan meminta satu permintaan padamu! Aku berharap, setelah pertemuan dokter dengan Uncle Thomas tadi, dokter tidak menganggu hidupnya lagi. Jangan datang lagi sebagai masa lalu ataupun mengharapkan masa depan padanya!” mendengar perkataan Mattea membuat dokter Patricia kaget.


“Apa maksudmu Mattea?” tanya Patricia bingung.


“Hemm, aku tau dulu kau adalah wanita yang ada di hati Uncle Thomas. Tapi aku ingatkan, kau hanya masa lalunya, jadi jangan pernah dokter berharap ataupun mempunyai niat untuk datang di masa depannya, dengan kata-kata kalau kau masih sangat mencintainya!”


Dokter Patricia merasa terintimidasi oleh tatapan tajam milik Mattea itu. Dia seperti berbicara dengan Max, sama sewaktu dulu saat dia pergi meninggalkan Thomas, pria yang menjadi pemilik tempatnya bekerja dulu itu, juga melayangkan tatapan marah padanya.


Mata hitam pekat yang memancarkan keseriusan itu, membuat dokter Patricia mengalihkan pandangannya ke arah lain.


“Tatap lawan bicara anda dokter!” Mattea seperti melupakan seorang anak laki-laki yang ada di samping Patricia. Tapi anak laki-laki tersebut seperti tidak berminat pada obrolan orang dewasa yang ada di depannya ini.


“Kenapa kau menyuruhku untuk jangan menganggu hidup Thomas, memang tadi dia mengatakan kalau dia akan menikah. Tapi tidak apa kan? Kalau aku berusaha sebelum dia berjanji di hadapan tuhan?” dengan keberanian yang masih ada, Patricia menatap manik gelap itu, yang memandang dirinya dengan marah. Kilat emosi tampak jelas dimatanya.


“Kenapa anda sangat egois dokter? Aku ingatkan sekali lagi, kau yang dulunya meninggalkan Uncle Thomas! Lalu dengan tanpa bersalah kau ingin dia kembali ke pelukanmu? Wanita macam apa kau ini?!”


Kata-kata Mattea, membuat dokter Patricia terdiam. Ya, dia memang egois. Sangat egois, dia juga sadar dengan apa yang sudah dia lakukan dulunya


“Aku ada alasan untuk itu!” maniknya yang berwarna abu-abu, beradu pandang dengan manik gelap berkilau itu. Mata dengan bulu yang lentik itu tampak sangat cantik, apalagi dengan wajah yang sangat sempurna, Mattea benar-benar sangat sempurna untuk seorang wanita.


“Tidak perlu alasan dokter, meninggalkan tetap meninggalkan. Karena yang pergi dan menyakiti, tidak mempunyai tempat untuk kembali!”


“Aku tau Mattea, tapi kenapa kau sangat marah denganku. Apa wanita yang menjadi calon istri Thomas itu sangat dekat denganmu?”


Mattea tertawa sarkas mendengar pertanyaan Patricia membuat wanita itu sedikit berkerut takut.


“Ya! Aku sangat mengenalnya. Aku tau bagaimana perjuangannya meyakinkan Thomas untuk membuka mata dan hatinya. Aku tau bagaimana sakitnya dia, saat Thomas menolaknya, karena trauma masa lalu yang sudah menorehkan luka dihatinya. Aku benar-benar sangat mengenal dia! Bahkan perjuangannya, tidak akan sebanding dengan cintamu dulu Patricia!”


Dokter Patricia menatap Mattea takut. Wanita yang ada di depannya ini benar-benar mewarisi sifat Max. Bagaimana wajah cantik yang polos ini, tapi mampu mengeluarkan aura mengintimidasi, membuat lawan bicaranya bergetar.


“Baiklah ... Aku ingin bertemu dengan wanita itu?” entah ada dimana muka Patricia saat ini. Perempuan itu, seperti tidak menyadari kesalahannya, dan bahkan, dengan seenaknya dia bicara kalau di menginginkan Thomas lagi.


“Dia ada di depanmu!”


“Aku Patricia, aku! Aku wanita itu!”


“Kau?” Patricia terkejut mendengar ini semua.


Bagaimana mungkin, Thomas berhubungan dengan anak tuannya ini? Bahkan, Mattea pantas menjadi anak laki-laki itu!


“Jangan bercanda kau Mattea?!” Patricia yang tadinya tertawa, membuat Mattea menyunggingkan senyum sinis, saat tawa itu berubah menjadi wajah pias.


“Untuk apa aku bercanda dokter? Aku tidak sama sepertimu, yang membuat semuanya seperti sebuah candaan! Bahkan, kau mempercandakan perasaan seseorang!”


Tatapan serius itu, sukses membuat Patricia terdiam.


“Sudahlah, anggap saja kita tidak pernah bertemu Mattea. Dan aku anggap ucapanmu tadi sebuah peringatan sebagai keponakan. Jadi aku tidak akan mengambil hati!” Patricia berlalu dari hadapan Mattea, menggenggam tangan anaknya dengan erat, dia sendiripun sangat takut berhadapan dengan Mattea.


“Ya! Anggap saja kita tidak pernah bertemu. Baik kau bertemu aku, maupun Thomas! Karena jika kau menampakkan diri lagi di hadapan kami berdua, habislah kau!” Patricia diam mendengarkan kalimat tegas yang keluar dari mulut Mattea. Setelah itu, dia membalikkan tubuhnya, tapi terlihat Mattea sudah beranjak dari sana dan berjalan menuju eskalator Mall itu.


“Aku ... Aku tidak punya harapan lagi?” gumam Patricia menatap kepergian Mattea dengan sendu.


_____


Setelah lama melamun, Mattea akhirnya bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Entah sudah berapa lama dia melamun, dia tidak menyadarinya. Gadis itu menanggalkan seluruh pakaiannya, dan berjalan masuk kedalam bathub yang ada disana, sebelum dia mengisinya dengan air hangat terlebih dahulu.


Mattea menuangkan sabun aroma terapi kedalam bathub, dan menyandarkan tubuhnya ke tepi bathub.


“Ahh, aku sungguh lelah hari ini.” lama Mattea bersandar, dia kembali mengingat apa yang sudah dia lewati hari ini, membuatnya tertawa kecil.


“Aku tidak akan membiarkan kau merebut Uncle Thomas dariku Patricia! Karena kau tidak akan pernah tau, bagaimana perjuanganku!”


Setelah lama terdiam, Mattea menggosok tubuhnya dengan tangan, hingga benar-benar bersih menurutnya, dia juga menggosok rambutnya, dan menuangkan shampoo, hingga rambutnya penuh busa dan wangi.


Setelah puas berendam, Mattea memutuskan untuk keluar, dan membilas tubuhnya dengan air shower, setelah itu dia mengambil kimono miliknya dan berjalan keluar kamar mandi, dengan sebuah handuk yang melekat di kepalanya untuk mengeringkan rambutnya yang basah.


Mattea mengambil pakaian santai, sangat santai. Sebuah kaos kebesaran berwarna putih dan celana pendek berwarna hitam, sangat kontras dengan kulit putih bersihnya, sangat sederhana tapi sangat cantik saat melekat ditubuhnya, dan rambutnya yang tergerai indah berwarna pirang, yang sudah dia keringkan dengan menggunakan hairdryer, membuat Mattea semakin sempurna walaupun terlihat sederhana.


______


Thomas juga sudah selesai mandi di kamar yang biasa dia tempati, setelah merapikan penampilannya, laki-laki itu keluar kamar dan menuju ke ruang keluarga. Tidak ada siapa-siapa disana, hingga dia memutuskan untuk menghidupkan televisi.


Melihat serial komedi, membuat Thomas tertawa. Bahkan dia tidak menyadari kedatangan Max disana, saking asiknya dia menonton televisi.


“Kau tampak sangat bahagia Thomas?!” Max duduk di sofa yang berhadapan dengan Thomas. Laki-laki yang di cintai oleh Mattea itu menoleh.


“Ya, seperti yang kau lihat. Aku sangat bahagia!” Thomas menampilkan senyumannya sekilas, setelah itu dia kembali melihat ke layar televisi.


“Jadi, menurutmu apa Mattea sangat berani hari ini?” Thomas tidak kaget lagi saat mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut Max, karena laki-laki yang sudah menjadi ayah itu pasti mengetahui semua yang bersangkutan dengan putrinya. Apalagi Mattea adalah putri satu-satunya dalam keluarga Luciano.


“Hemm, ya menurutku dia memang sangat berani!” ujar Thomas tersenyum bangga.


“Lalu kapan, barang yang kau beli tadi, akan kau berikan padanya?” kali ini Thomas benar-benar terkejut. Ternyata, Max tidak hanya mengawasi Mattea, tapi dirinya juga.


“Apa kau tidak lelah mengawasi ku Max?” tanya Thomas kesal.


“Hahaha, tentu saja tidak. Karena aku tidak akan membiarkan anakku tersakiti, jadi tidak ada kata lelah untuknya!” Thomas semakin mengagumi Max sebagai seorang ayah.


“Ya ... ya, terserah kau saja!” ujar Thomas akhirnya.


“Hei! Aku bertanya, kapan kau akan memberikan barang itu pada Mattea?” Thomas menatap Max.


“Secepatnya Max, kalau bisa malam ini juga!”


Max tertawa mendengar perkataan Thomas.


Lalu laki-laki itu memanggil Marko kedepannya.


“Iya tuan?” tanya Marko saat sudah berdiri di hadapan Max.


“Siapkan hidangan makan malam lebih banyak dari biasanya. Karena ada kejutan malam ini!” Marko mengangguk mendengar perkataan Max, dia berjalan ke belakang untuk memberitahu pelayan lainnya. Membuat mereka bergerak cepat kesana kemari untuk menyiapkan segalanya tepat waktu.


“Hei, kau ini jadi ayah tidak sabaran sekali?!” ujar Thomas.


Televisi yang tadinya mereka tonton, kini malah berbalik menonton mereka berdua. Obrolan laki-laki yang sudah saling mengenal dari lama itu, sepertinya lebih menarik dari serial kartun itu.


“Tidak sabaran bagaimana menurutmu? Aku bahkan sudah sesabar itu untuk melihat putriku menangis karenamu! Jadi, pasti aku juga tidak sabar, untuk melihat putriku bahagia karena kau juga!” Thomas tertawa mendengar perkataan Max.


“Sungguh Max, maafkan aku. Aku terlalu bodoh untuk menyadari perasaanku sendiri. Kalau saja anak gadismu itu tidak pergi ke club', mungkin aku tidak akan pernah menyadarinya!”


“Ya, karena itulah aku memberikannya hukuman menyenangkan!”


_____


Dukungannya sayangku😍