
Tidak ada yang baik-baik saja setelah jatuh cinta. Cinta mengubah segalanya. Rasa sakit mengajarkan kalau jatuh cinta memang sesakit itu. Dan bahagia juga mengajarkan, kalau jatuh cinta se-menyenangkan itu.
-Ega_Sri
Thomas Jenafi Achilles.
Laki-laki tampan dengan pesona yang memikat, dapat membuat wanita mana saja bertekuk lutut di depannya. Hanya dengan kedipan mata, dan gerakan bibir sensual, mampu membuat wanita berbondong mendatanginya.
Tapi jangan harap akan ada salah satu saja dari mereka yang mampu mendekatinya. Karena, jika mendekat padanya harus, mampu menahan air mata atas penolakannya.
Siapa sangka, laki-laki gagah itu masih melajang dengan usianya yang kini tidak muda lagi.
Dia antara David dan Max, maka Thomas adalah yang termuda. Max dan Thomas bertemu sewaktu laki-laki itu sedang melakukan transaksi di daerah yang cukup terpencil, dan kala itu Thomas yang masih belia melihat Max dalam bahaya, karena lawan transaksinya berkhianat dan menodongkan senjata.
Dengan gagahnya, Thomas memukul orang-orang itu, lalu menembakkan senjata api membuat lawannya ambruk, dan Max terpukau akan keahlian laki-laki muda itu.
Setelah berhasil melumpuhkan lawan-lawannya, Max mendekat pada Thomas, dah berbincang dengannya, juga dengan kawan-kawan Thomas yang lainnya.
Sedangkan David yang saat itu juga sedang melawan musuh, setelah menghabisi lawannya, David mendekat untuk melihat kondisi Max yang selamat berkat Thomas dan yang lainnya
David dan Max, membawa Thomas ke markas mereka, karena setelah diselidiki, Thomas adalah pemuda berandalan tidak tau arah tujuan dan juga tidak punya orang tua. Max mengangkatnya untuk menjadi anggota Black Devils.
Jika saat itu usia Max Dua puluh lima tahun dan David Dua puluh empat, maka usia Thomas adalah sembilan belas.
Usia remaja yang baru beranjak dewasa untuk mencari jati diri.
Dan Max menikah saat usia dua puluh sembilan tahun, maka usia Thomas saat itu baru dua puluh tiga tahun, dan saat itu dia menjadi korban ngidam Max yang menggendongnya berputar-putar.
Usia yang bisa di bilang sudah dewasa.
Kini laki-laki yang berusia empat puluh tiga tahun itu sedang merenung dalam ruangannya. Setelah mengantarkan Mattea pulang, pikiran Thomas berkecamuk karena melihat kedekatan gadis kecilnya itu dengan laki-laki yang bernama Harry.
Thomas juga memikirkan ucapan Max beberapa hari yang lalu, tentang Mattea yang mencintainya.
Bagaimana mungkin gadis kecilnya itu mencintai dia yang jarak usia mereka lebih dari dua puluh tahun.
Meskipun Thomas tidak terlihat seperti pria yang berusia empat puluh tahun, tapi tetap saja dia merasa aneh dengan hal itu.
“Tidak mungkin, pasti Mattea tidak serius dengan perasaannya itu. Dia adalah remaja labil yang baru mengenal cinta, dan pasti Max bercanda dengan kata-katanya itu, karena aku tau dia dekat dengan Harry.”
Entah sadar atau tidak, saat menyebutkan nama Harry tangan Thomas terkepal karena tidak suka.
________
Max menyuruh Thomas dan David untuk datang ke mansionnya. Karena ada pembicaraan bisnis yang ingin Max runding kan dengan kedua orang itu.
Setelah keluar dari ruang kerja Max, dua laki-laki dewasa itu di ajak untuk makan malam bersama. Mattea sudah ada di meja makan bersama dengan Stef dan Matteo.
“Uncle Thomas?” ujar Mattea berbinar saat melihat Thomas mendekat.
“Hai baby?” Thomas berjalan mendekat pada Mattea lalu mengusap kepala gadis kecilnya itu, membuat wajah Mattea memerah.
Lalu Thomas duduk di hadapan Mattea.
Makan malam kali ini diisi dengan obrolan seputar pekerjaan laki-laki dewasa itu. Sedangkan Mattea hanya diam mendengarkan mereka.
Setelah makan malam berakhir, Mattea memilih untuk pergi ke taman belakang Mansion. Menikmati cahaya rembulan dalam kegelapan malam dan hembusan angin yang membuat tubuhnya sedikit kedinginan.
Saat sedang asik menghitung bintang yang bertaburan di langit, Thomas duduk di samping Mattea membuat gadis itu terkejut.
“Uncle?” ucapnya kaget.
“Uncle belum pulang?” tanya Mattea lagi, saat Thomas hanya tersenyum menanggapi perkataannya tadi.
“Hemm, seperti yang kau lihat baby. Aku masih disini. Dan kau, kenapa disini? Angin malam tidak baik untuk kesehatan?!” Thomas menatap Mattea sekilas setelah itu dia menatap langit mengikuti arah pandangan Mattea.
“Kenapa?” Mattea bingung dengan pertanyaan Thomas yang tiba-tiba, dan tidak dia mengerti arah bicaranya itu.
“Apa?”
“Kenapa kau mencintai aku?” perkataan yang keluar dari mulut Thomas sukses membuat Mattea kaget.
Gadis itu tidak bisa berkata-kata. Ingin memberikan jawaban tapi lidahnya kelu untuk mengatakannya.
“Hah? Uncle tau darimana?” hanya kata-kata itu yang keluar dari dalam mulutnya. Mattea merutuki mulutnya yang menanyakan hal itu.
“Daddy mu!” jawab Thomas singkat. Mattea menghela nafas. Dia tau saat ini akan tiba. Saat dimana dia mendengar penolakan dari Thomas, saat dia mendengar kata-kata menyakitkan dari laki-laki itu.
“Kenapa Uncle? Apa tidak boleh?” bolehkah kali ini Mattea berharap, agar Tuhan berbaik hati lagi padanya, dengan mendengar jawaban 'Boleh' dari laki-laki dewasa di sampingnya ini?
“Tidak!” Mattea memang sudah memprediksi kata-kata itu keluar dari mulut Thomas. Tapi tidak menyangka rasanya akan sesakit ini.
“Kenapa? Beri aku jawaban yang dapat aku terima.” Mattea berkaca-kaca saat mengatakan itu.
“Karena aku tidak ingin menikah, tidak ingin mencintai ataupun di cintai. Hilangkan perasaanmu itu baby girl, karena kau tau aku tidak akan bisa untuk membalas perasaanmu!”
Meskipun kata-kata itu sudah sering keluar dari mulut Thomas, tapi saat mendengar laki-laki itu mengatakan langsung didepan matanya, membuat hati Mattea sakit.
“Itu bukan sebuah alasan Uncle. Setiap orang berhak untuk mencintai dan di cintai. Aku juga tidak tau, kenapa akhirnya bisa mencintai Uncle, padahal banyak yang ingin bersama denganku, tapi aku bisa apa? Kalau hatiku memilih Uncle untuk dicintai.”
Mattea menahan agar air matanya tidak jatuh dan menetes di kedua pipinya.
“Atea, aku hanya menganggapmu seperti anakku sendiri. Rasa sayangku padamu sama seperti sayang Max padamu. Jangan menaruh harapan lebih padaku Atea, karena sampai kapanpun aku tidak ingin mencintai!”
Thomas menatap Mattea dengan tatapan serius. Jika bukan sekarang untuk menyadarkan Mattea, maka perasaan gadis itu akan semakin besar padanya, dan Thomas tidak mau gadis kecilnya itu semakin tersakiti nantinya.
“Uncle ... Apa sebegitu sulitnya bagimu untuk membuka hati untukku? Apa wanita itu masih ada di hatimu?” Thomas terdiam dengan pertanyaan Mattea.
Bukan! Bukan karena dia masih mencintai Patricia, tapi memang hanya dia saja yang sudah terlanjur tersakiti karena cinta, dan Thomas tidak mau mengulanginya sekali lagi, Apalagi dengan Mattea, gadis cantik yang sangat dia sayangi itu.
“Jawab aku Uncle? Apa wanita itu masih ada di hatimu?” tanya Mattea menyadarkan Thomas akan lamunannya.
“Tidak!”
“Lalu kenapa kau tidak mau untuk mencintai aku?” kedua pipi Mattea sudah basah oleh air mata. Tangan Thomas rasanya gatal untuk mengusap pipi gadis cantik itu, tapi dia tahan.
“Karena aku menganggapmu seperti anakku sendiri! Jikalau pun nanti aku membuka hati, maka orang yang akan bersama denganku itu bukan kau Mattea! Bukan!” perkataan tegas dari Thomas, sukses membuat Mattea tersakiti lagi, lagi dan lagi.
Jika bukan dengannya, maka dengan wanita lain?
Lalu untuk apa perjuangannya selama ini?
“Kenapa kau sebegitu jahatnya padaku Uncle? Apa penantianku bertahun-tahun ini tidak ada artinya bagimu Uncle? Setidaknya lihat aku sebagai orang lain. Sebagai wanita dewasa yang juga ingin di cintai!” Mattea mengusap air matanya dengan kasar, ini adalah puncak dari semuanya. Thomas sudah jelas-jelas menolaknya, tapi Mattea merasa sangat sakit, karena ternyata jatuh cinta sesakit ini.
“Tapi bagiku kau masih bocahku Mattea. Tolong mengertilah!” Thomas ingin sekali merengkuh gadisnya itu kedalam pelukannya, tapi ego mengalahkan segalanya.
“Kau yang seharusnya mengerti aku! Kau Uncle!” Mattea berdiri dari duduknya, mengatakan kata-kata itu dengan sangat kecewa.
Mattea berlari masuk kedalam, meninggalkan Thomas yang termenung frustasi sendirian.
“Sudah aku katakan padamu Mattea, jangan mencintai aku! Karena hanya air mata yang akan kau dapatkan!”
__________
Arrrgggghhhh😬😬😬
Ku menangiiiisss 😭
Like nya dong sayangku😍