My Devils Husband

My Devils Husband
44. Bodyguard



Max dan David kembali ke meja makan setelah perbincangan tadi, mereka berbicara seperti biasanya tanpa mengatakan apa yang tadi mereka bicarakan.


“Apa makanannya enak sayang?” tanya Max yang dibalas anggukan kepala oleh Stef.


“Iya, sangat enak!” jawab Stef sembari terus mengunyah makanannya membuat Max tersenyum geli.


“Apa kau tidak takut gemuk Stef?” tanya Masseria pada menantunya itu dengan bercanda.


“Tidak mom!” jawab Stef singkat membuat Masseria tersenyum geli.


“Karena dia tahu bahwa walaupun dia gemuk, menantuku akan tetap mencintainya!” Jhon berkata seperti itu tertawa meledek Stef yang membuat pipi kemerahan itu terlihat semakin merah.


“Benarkah Max?” tanya Lucky ikut berkata, membuat semua orang tertawa meledek kedua pasangan tersebut.


Max ikut tertawa, menyikapi candaan keluarganya itu, tapi pikirannya bercabang kemana-mana, dan David menyadari itu.


Dan Stef yang tidak tahu apa-apa, tetap melanjutkan makannya tanpa tahu bahaya yang akan menimpanya. Iya, Stef hingga kini masih belum mengetahui bahwa Justin adalah anak dari Henri Hill, lelaki yang membunuh ayahnya.


“Ayo, kita ke pantai sekarang!” Max mengajak mereka semua setelah selesai sarapan, dia berjalan dibelakang bersama dengan David, sedangkan Stef berjalan dengan ayahnya, sungguh kini anak dan ayah tersebut tampak sangat dekat seperti perangko.


“Apa kau sudah mencari bodyguard yang aku katakan David?” tanya Max melirik David, yang dibalas anggukan kepala mantap oleh David.


“Apa mereka bodyguard terpercaya?” Max kembali bertanya.


“Iya, aku sudah memeriksa kualifikasi yang dikirimkan lewat email padaku, dan ada salah satu dari mereka adalah seorang wanita.


“Seorang wanita?” tanya Max tak yakin, lalu keduanya berjalan berbelok keluar untuk mengikuti para orang tua yang terlebih dahulu sudah sampai menginjak pasir.


“Iya!” jawab David singkat.


“Kumpulkan mereka semua, aku ingin melihat mereka terlebih dahulu, baru memperkerjakan mereka!” David menganggukkan kepalanya mantap, lalu mengeluarkan ponselnya untuk menelepon agen bodyguard yang tadi dihubunginya. Wajar saja semuanya dilakukan agak terbatas, karena ini bukanlah negara mereka, jadi harus bertindak hati-hati dan penuh kualifikasi.


“Hallo,” ucap David memulai pembicaraan pada orang diseberang sana.


“Iya, aku ingin kau mengirimkan seluruh anggota yang tadi kau kirimkan datanya padaku, aku ingin melihat mereka langsung!”


setelah mengatakan itu, David terdiam sebentar mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang yang di seberang sana.


“Baiklah, aku tunggu secepatnya!” setelah itu David menutup kembali teleponnya dan memasukkan ponselnya kedalam saku celana santainya.


Lalu David kembali menatap Max yang sudah duduk di kursi yang tersedia disana, melihat Stef yang tampak sangat bahagia bermain air.


“Lima belas menit lagi mereka kemari, dan akan berpakaian santai seperti pengunjung juga, agar tidak terlihat mencurigakan!” Max menganggukkan kepalanya, lalu menatap Stef dari jauh.


“Dia terlihat sangat bahagia, tanpa tahu ada bahaya yang mengincarnya,” Max menatap penuh kasih pada Stef yang bermain dengan Jhon Masseria dan juga Lucky, sedangkan Lie terlihat hanya berdiri dan tertawa saja.


“Terlalu banyak yang sudah dia hadapi Max,” David ikut memperhatikan sekitarnya.


“Max, ayo sini main bersamaku!” Stef berteriak, membuat Max maupun David menatap kepada wanita yang sudah basah terkena cipratan air tersebut.


“Kau lanjutkan saja dulu sayang, sebentar lagi aku akan menyusul,” Max ikut berteriak, membuat Stef menganggukkan kepalanya, lalu kembali bermain air dengan semangat. Liburan kali ini benar-benar membuat Stef sangat senang setelah beberapa hal belakangan ini yang terjadi di hidupnya, dengan seluruh peristiwa yang seperti sudah terencana untuk dia hadapi.


“Aku yakin dia wanita kuat, dan aku juga akan selalu melindunginya!” Max berkata menatap lurus kedepan, lalu ia memalingkan kepala dan menatap David yang menganggukkan kepalanya.


“Aku juga akan melindungi kalian semua,” David ikut menerawang kedepan, mengingat semua yang sudah dilakukan oleh Max padanya, membuat dirinya merasa sangat-sangat beruntung karena sudah mengenal Max.


“Kau jangan terus memikirkan aku, pikirkan juga dirimu, carilah pasangan agar kau segera menikah!” David hanya menatap Max jengkel.


“Iya iya, nanti aku akan cari pasangan, kau ini cerewet sekali!” Max hanya tertawa mendengar ucapan David.


“Bagaimana dengan Thomas?” tanya Max lagi, David ikut duduk disamping Max lalu berdehem.


“Aku tau itu!” jawab Max singkat.


Keduanya dilanda keheningan, tanpa ada yang bicara, tak lama setelah itu tampak beberapa orang yang mendekat kearah keduanya dengan berpakaian santai, dan terlihat salah satu dari mereka adalah seorang wanita.


“Bukankah itu pelayan semalam?” ucap David bertanya pada dirinya sendiri, tapi masih terdengar oleh Max.


“Siapa?” tanya Max yang tidak tahu apa-apa.


“Wanita itu,” David menatap wanita tersebut, Max mengikuti arah pandang David, lalu kembali menatap sahabatnya itu.


“Cantik!” hanya itu yang diucapkan oleh Max dengan nada menggoda David.


“Diam kau Max!” ucap David kesal, karena disaat seperti inipun Max masih saja meledeknya.


“Hei, aku bicara fakta!” ucap Max tidak ingin kalah.


“Terserah kau saja,” ucap David mengalah. Karena memang yang dikatakan oleh Max itu adalah fakta, karena melihat dari jauh saja wanita itu terlihat bercahaya dan mengagumkan, wajah khas orang Indonesia.


Dan semalam David juga termangu sejenak saat wanita itu mengantarkan menu padanya.


Sedangkan Lucky dan Jhon memperhatikan mereka berdua dari kejauhan, karena sebenarnya kedua lelaki paruh baya itu mengetahui apa yang dilakukan oleh Max dan David, hanya saja mereka bersikap seperti biasa saja karena tidak ingin membuat para wanita menjadi takut atau semacamnya.


“Selamat siang tuan,” ucap salah satu dari mereka, sedangkan wanita yang ikut bersama mereka itu, memperhatikan David, pria yang semalam dia layani di restoran hotel.


“Siang semuanya,” ucap Max singkat.


Lalu perbincangan pun terjadi antara mereka semua, hingga Max merasa yakin untuk memperkerjakan mereka. Hingga kini tiba saatnya mereka memperkenalkan diri satu persatu. Bodyguard yang berjumlah sembilan orang itu dengan salah satu dari mereka adalah wanita, memperkenalkan dirinya satu persatu.


Hingga kini tiba di giliran wanita tersebut.


“Tunggu, bukannya semalam kau adalah pelayan yang ada di restoran hotel?” tanya David yang tidak dapat menyembunyikan rasa penasarannya pada wanita cantik itu.


“Aku memang bekerja disana, dengan slot malam, dan siangnya aku ingin bekerja sebagai bodyguard,” wanita yang masih terlihat muda tersebut menjawab jujur.


“Tapi nanti kau akan menjaga istriku siang dan malam, apa tidak apa-apa?” tanya Max pada wanita itu.


“Iya, aku akan mengajukan cuti untuk beberapa hari, karena mereka juga pasti tahu, bahwa kalian adalah tamu hotel mereka.” Max dan David membenarkan ucapan wanita tersebut, sedangkan kawan kawannya yang lain ikut menganggukkan kepala mereka.


“Baiklah, sekarang siapa namamu?” tanya David tak sabaran.


“Namaku Aira.” ucap gadis yang bernama Aira itu singkat.


“Baiklah Aira, semoga kau bisa menjalankan tugasmu dengan baik, karena aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan istriku!” gadis atau wanita yang bernama Aira tersebut menganggukkan kepalanya mantap.


“Iya tuan,”


Memang kualifikasi bodyguard yang dicari oleh David ini adalah kualifikasi terbaik, karena mereka mempunyai skill yang sangat bagus dan juga bahasa Inggris yang sangat baik, karena sedari tadi mereka menggunakan bahasa Inggris, membuat Stef yang berjalan mendekat kearah mereka tidak mengetahui isi dari pembicaraan mereka.


.


.


.


.


Love❤️❤️❤️ EgaSri