My Devils Husband

My Devils Husband
Season 2. Awal baru si kembar 1



Mengurus dua orang anak kembar sepasang bukan suatu hal yang mudah bagi Stef. Apalagi dengan karakter yang sangat bertolak belakang. Dan juga pekerjaannya sebagai dokter gigi membuat Stef sedikit kerepotan. Meskipun sebenarnya, Max sudah melarang istrinya itu untuk bekerja, tapi Stef menolak, dengan alasan dia akan jenuh di mansion setelah Max, dan kedua anaknya berangkat dari rumah. Baik itu untuk pergi ke kantor ataupun sekolah.


Matteo tumbuh menjadi seorang laki-laki yang sangat tampan, menawan, pintar dan juga seksi tentunya. Mata hitam pekat yang diturunkan oleh Max membuatnya terlihat sangat mempesona. Walaupun sikapnya tidak sehangat Mattea tapi tetap saja Matteo mampu membuat gadis yang ada di kampusnya tergila-gila pada dirinya.


Sedangkan Mattea, gadis ceria itu dengan senyuman menawannya mampu membuat para laki-laki bertekuk lutut padanya, tapi tentu tidak akan mudah karena ada seseorang yang sangat menjaga Mattea dari laki-laki yang menurutnya tidak baik.


Stef sangat bahagia dengan pertumbuhan anak-anaknya, dia sendiri yang menyaksikan pertumbuhan anak-anaknya, ditemani oleh Max, laki-laki yang sangat dia cintai di dunia ini. Max tidak berniat untuk menambah anak lagi, karena trauma dengan pengalaman buruk saat Stef melahirkan. Sudah cukup baginya dua anak, dan dia tidak ingin lagi.


“Morning Mom, Dad,” sapa Matteo pada kedua orangtuanya saat sedang sarapan di meja makan.


“Morning Baby,” balas Max, sedangkan Stef mengusap rambut anak tampannya itu.


“Hello Dad. Aku bukan bayi lagi. Aku sudah dewasa.” Matteo cemberut membuatnya tampak lucu dengan bibir mengkerut itu.


“Oh ayolah, come on baby. Bagi kami kau dan Mattea tetap menjadi bayi kami, walaupun kalian sudah dewasa sekalipun.” mendengar jawaban Max, Matteo hanya mencebikkan bibirnya.


Tak lama setelah itu, Mattea juga turun dari lantai dua menuju ruang makan.


“Morning all,” sapa Mattea dengan ceria.


“Morning princess.” jawab mereka berbarengan.


“Ohhh, i love you all,” Mattea duduk di kursi berhadapan dengan Matteo. Dia mengambil sarapan yang sudah disiapkan oleh Stef, sebuah roti dengan balutan selai kacang.


“Oh iya, mom dad, kapan kita pergi ke rumah uncle David? aku sangat merindukan Ana dan si kecil Kevano.” Mattea bertanya pada kedua orangtuanya, sedangkan Matteo hanya acuh saja.


“Nanti sayang. Setelah Dady pulang bekerja, kita bisa kesana bersama-sama.” Mattea menganggukkan kepalanya tanda setuju.


“Bagaimana dengan kuliah kalian?” kini giliran Stef yang bertanya. Wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu duduk di samping Mattea, ikut sarapan bersama.


“Sangat menyenangkan Mom.”


“Membosankan!”


“Eh? Kenapa membosankan sayang?” tanya Stef pada Matteo karena mendengar jawaban kurang enak dari anak laki-lakinya itu.


“Itu karena dia menjadi idola para gadis mom. Banyak gadis yang mengodanya, tapi si kaku ini tidak menanggapinya sedikitpun, aku heran padanya.” Mattea tertawa saat mengatakan pada Stef. Sedangkan sang kakak hanya mendelik tidak suka mendengar perkataan Mattea.


Benar, si kembar Matteo dan Mattea saat ini sudah duduk di bangku kuliah semester enam. Keduanya mengambil jurusan yang berbeda.


Matteo mengambil jurusan di fakultas management, sedangkan Mattea di dunia desain.


Max dan juga Stef tidak memaksakan kehendak mereka pada keinginan anak-anak mereka. Mereka ingin menjadi apa, maka Stef maupun Max tidak akan melarang. Dan untungnya, Matteo sangat tertarik dengan dunia bisnis hingga membuatnya masuk ke fakultas bisnis management, membuat Max tenang, karena ada yang mengikuti jejaknya tanpa di paksa sedikitpun.


Tidak ada yang mengikuti jejak Stef yang menjadi dokter gigi, kedua anaknya memilih jalan yang berbeda dengan dirinya.


“Cepat habiskan sarapanmu Atea, kita berangkat sekarang.” Mattea cemberut mendengar perkataan Matteo. Keduanya ada jadwal mata kuliah pagi hari ini, itu artinya Mattea akan pergi ke kampus bersama dengan Matteo, karena biasanya dia akan ke kampus di antar oleh sopir jika mempunyai jadwal yang berbeda dengan Matteo.


____


Mattea turun dari mobil sport yang dibawa oleh Matteo. Keduanya langsung menjadi pusat perhatian oleh mahasiswa yang sudah berada di kampus. Banyak yang berbisik-bisik memuji ketampanan Matteo, khususnya para wanita. Sedangkan Mattea hanya jengah melihat wajah datar kakaknya itu. Tidak bisakah dia sedikit saja memberikan senyuman? Mattea menggelengkan kepalanya heran.


“Akan aku antar ke fakultasmu.” ujar Matteo yang membuat Mattea mendelik tidak suka. Memangnya dia anak kecil yang perlu di antar sampai masuk ke dalam kelas segala? Kan dia sudah dewasa. Ya dewasa menurut dirinya, dan bocah kecil menyebalkan menurut Matt.


“Tidak Matt, aku bisa sendiri!” tolak Mattea cepat. Setelah itu dia berjalan ke arah fakultasnya yang berada cukup jauh dari fakultas Matteo mengabaikan Matteo yang menghela nafas sepeninggalnya.


“Dasar, gadis keras kepala.” Matteo menggelengkan kepalanya, lalu berjalan menuju fakultasnya. Tiba di kelasnya, sahabat-sahabatnya menghampiri.


“Hello bro,” Matteo bersalaman ala pria dengan dua orang kawannya. Erick dan Arion.


“Kau pergi bersama adikmu?” tanya Erick.


“Yes.” Erick hanya mengangguk mendengar jawaban Matteo.


“Oh iya, apa nanti kau ada waktu?” tanya Arion.


“Memangnya kenapa?” Matteo bertanya sembari duduk di bangkunya.


“No, sepertinya aku tidak bisa.” Matteo teringat dengan pembicaraannya dengan keluarganya tadi pagi kalau dia akan pergi mengunjungi rumah David.


“Kenapa tidak bisa?” tanya Erick. Ada sedikit nada kecewa dalam pertanyaannya itu.


“Aku akan pergi dengan keluargaku nanti. Mengunjungi uncle David.” Erick dan Arion hanya mengangguk mendengar perkataan Matteo.


“Kau akan bertemu dengan Ana?” tanya Arion.


“Hemm.” Matteo hanya menjawab singkat. Sedangkan Arion tertawa mendengar jawaban Matteo.


“Heii, kenapa kau seperti tidak bersemangat. Kau akan bertemu dengan adik kecil itu, jadi kau harus senang, karena kau bisa melihat senyumannya.” Matteo mencebikkan bibirnya mendengar perkataan Arion, sedangkan Erick tertawa.


“Sialan kau!”


_____


Matteo merasa jengah menunggu saudaranya yang masih ada kelas. Tadi dia sudah menghubungi Mattea kalau mereka akan pulang bersama, dan adiknya itu mengatakan kalau dia masih ada kelas. Dan disinilah Matteo kini berada, di salah satu kafe yang ada di dekat kampus.


Ternyata bagi seorang pria, menunggu memang menjadi hal yang sangat membosankan. Matteo sudah menghabiskan segelas cappucino yang dia pesan, juga sepotong kue.


Hingga tidak lama setelah itu, ponselnya berdering.


“Hallo.”


“Kau dimana? Aku di parkiran kampus.” mendengar perkataan Mattea, lantas Matteo langsung berdiri dari duduknya, lalu berjalan menuju kasir untuk membayar minuman yang tadi dia pesan.


“Kau tunggu disana, aku kesana.” setelah itu sambungan telepon terputus.


____


Matteo dan juga Mattea berjalan dari garasi menuju pintu utama. Hari sudah menjelang sore, dan saat memasuki mansion, Martin terlihat menyambut mereka.


“Apa Dady dan Momy sudah pulang?” tanya Matteo sedangkan Mattea hanya diam mendengar percakapan mereka.


“Sudah tuan Muda, mereka ada di kamar.” Matteo mengangguk mendengar jawaban Martin.


‘Tumben sekali Dady pulang cepat. Ah iya, pasti ini karena kami akan ke rumah Uncle David.’


Keduanya berjalan menuju kamar masing-masing.


_____


“Mom, dad. Come on. Bukannya kita akan pergi ke rumah Uncle David?” Mattea mengetuk pintu kamar kedua orangtuanya. Setelah cukup lama akhirnya pintu itu terbuka. Dan Mattea menatap Max kesal.


“Yes Baby. Tenanglah.” Max yang keluar terlebih dahulu. Setelah itu dia membawa Mattea ke bawah. Biarkan Stef berjalan kebawah sendiri nantinya.


“Aku sudah merindukan dua adik kecil itu Dady.” ujar Mattea cemberut.


“Iya ... iya. Baiklah. Tunggu Momy sebentar lagi.” Mattea dan juga Max duduk di sofa yang ada disana. Terlihat Matteo juga baru turun dari tangga.


“Cepatlah Matt.” ujar Mattea.


“Iya, kenapa kau jadi bawel begini sih?” Matteo bertanya kesal, setelah itu ikut duduk dengan mereka berdua.


“Aih, kenapa Momy lama sekali sih?” Mattea mengerucutkan bibirnya kesal. Sedangkan Max hanya menggaruk tengkuknya.


“Sabar saja sayang.”


“Yes dad. Tapi ini lama.”


“Oh my God.”🙄


________