
Kepergian Zello yang tiba-tiba tanpa pamit padanya, membuat Aletta menangis histeris. Membuat Thomas dan Mattea kebingungan. Anak gadis mereka itu tidak hentinya menangis dan menanyakan keberadaan Zello.
“Sayang, Zello pasti ada urusan mendadak, yang membuatnya tidak bisa menunggumu.” ujar Mattea mencoba untuk menghentikan tangis Aletta.
“Tapi kenapa dia tidak membangunkan aku, Mom?” tanya gadis itu terisak. Hidungnya memerah karena terlalu lama menangis. Bahkan matanya tampak bengkak.
“Mungkin kau tidur terlalu lelap, Sayang. Jadi dia tidak tega untuk membangunkanmu.” ujar Thomas menimpali. Tapi itu tidak membuat Aletta diam sedikitpun.
“Mom, Dad, aku hanya mau berteman dengan Zello. Aku hanya mau dia.” gadis itu terisak lagi. Thomas mengusap wajahnya kasar. Memang benar, kehadiran Zello berdampak besar bagi psikis Aletta yang sebelumnya sempat terguncang.
“Sayang, Zello itu ada urusan yang mendadak, dia tidak bisa datang untuk menemanimu lebih lama di sini.” Aletta menggeleng. Tangisnya bahkan lebih kencang dari pada sebelumnya. Bahkan, Max pun sampai mendengarnya dari lantai bawah.
“Ada apa ini?” tanya Grandpa dari seorang Aletta tersebut.
“Grandpa,” Aletta mengangkat tangannya ke arah Max, meminta untuk di gendong oleh laki-laki itu.
“Ada apa gadis kecil Grandpa menangis seperti ini? Siapa yang membuatmu menangis?” Max mengusap air mata Aletta yang membasahi kedua pipi tembem itu.
“Zello, Grandpa. Dia pergi tanpa memberitahu aku.” ujar gadis itu dengan masih terisak. Tangan kecil itu dia kalung kan ke leher Max, dan tangisnya dia redam di bahu laki-laki tua itu.
“Zello?” tanya Max pura-pura kaget.
“Iya, dia pergi.” terisak lagi.
“Bukankah dia pergi untuk berobat?” Aletta mengangkat kepalanya. Gadis itu menatap Max dengan tajam.
“Dia tidak sakit Grandpa!” ujar Aletta ketus.
“Tapi tadi dia bilang pinggangnya sakit. Karena terjatuh dari tempat tidur.” Aletta membekap mulutnya tidak percaya. Gadis kecil itu melirik Max dengan tatapan mautnya.
“Grandpa bohong!” ujar Aletta. Dia mengingat kembali saat dia menendang pemuda itu jatuh dari tempat tidurnya. Apakah karena itu? Dan Aletta perhatikan, Zello itu juga sedikit bergerak saat bersama dengannya.
“Grandpa tidak bohong. Dia benar-benar sakit pinggang, katanya jatuh dari tempat tidur. Di tendang oleh seseorang!” mata hitam pekat milik Max, menatap manik abu-abu milik Aletta dengan tatapan jahil dan juga meledek. Gadis kecil itu mengusap-usap hidungnya menahan malu.
“Ya sudah, karena dia pergi berobat, maka aku tidak akan marah." ujar Aletta. Thomas, Mattea, dan juga Max menghela napas mendengar perkataan itu. Jelas sebenarnya, kalau tadi Max berbohong perihal sakit pinggang Zello karena terjatuh dari atas tempat tidur. Karena bukan itu kenyataannya.
“Hahhh ... Tapi dia tidak memberikan aku kado Natal!” ujar Aletta.
“Siapa bilang? Dia menitipkan kado untukmu pada Grandpa.” ujar Max. Aletta berbinar senang. “Benarkah?” tanyanya antusias. Max mengangguk.
“Mana Grandpa, aku mau melihatnya.” Max mengangguk. Dia membawa Aletta keluar dari kamar gadis itu, meninggalkan Thomas dan Mattea disana.
Max berjalan menuruni tangga menuju lantai bawah, dia membawa cucunya itu menuju arah belakang mansion.
“Kenapa kita disini?” tanya Aletta bingung. Mereka ada di dekat dapur.
“Mengambil hadiah untukmu.” ujar Max singkat. Dia menurunkan Aletta dari gendongannya. Dan membuka kotak kecil yang terletak di atas meja, dan meletakkannya di atas lantai.
“Kelinci?” tanya Aletta bingung, saat matanya melihat ada dua ekor kelinci putih di sana.
“Hemm, dia memberikanmu kelinci.” ujar Max. Gadis itu berjongkok untuk melihat kelinci-kelinci putih yang sangat bersih di hadapannya itu.
“Kenapa dia memberikan aku ini?" tanya Aletta yang masih sedikit bingung. Max mengeluarkan sebuah kertas dari tangannya.
“Apa ini Grandpa?” tanya Aletta saat Max memberikan kertas itu padanya.
“Surat.” ujar Max singkat. Aletta segera mengambil surat itu.
“Dari Zello?” tanyanya. Max mengangguk. Aletta mengangguk-angguk beberapa kali.
“Aku mau baca surat ini dulu, Grandpa jaga dulu kelincinya!” Aletta segera berlari dari sana, meninggalkan Max yang menggeleng melihat tingkah menggemaskan dari cucunya itu.
“Pemuda itu benar-benar!” Max mendesah. Dia kembali menutup kotak itu, dan meletakkannya kembali atas meja.
Aletta duduk diam di atas ranjang. Setelah mengunci pintu kamarnya, dia merenung melihat surat yang belum dia buka tersebut.
“Kenapa dia memberikan aku ini?” tanya gadis kecil itu pada dirinya sendiri. Perlahan, Aletta membuka surat tersebut.
Dengan berbekal kepandaian membacanya selama sekolah dia mengeja isi surat itu.
Senyuman terkembang di wajahnya. Matanya berbinar senang. Dia menyimpan surat itu dan berlari keluar kamar, menuruni anak tangga dengan cepat dan menuju ke arah dapur.
“Hallo Zeta, hallo Alze, kenalkan aku Aletta. Pemilik baru kalian.” gadis itu mengambil kursi supaya dia bisa melihat kotak yang berisi sepasang kelinci putih itu. Senyumannya terus terkembang.
“Hadiah Natal kali ini cukup menarik.” Aletta terkekeh geli.
...***...
...****...
...*****...
Musim dingin sudah usai. Kini sudah tiga bulan semenjak Natal, dan masuk ke musim semi kandungan Stella sudah semakin besar. Mual dan muntah tidak dia rasakan lagi. Bahkan, kini berat badannya naik secara drastis. Banyak makanan yang dilahapnya begitu saja.
Padahal setiap hari dia merengek pada Arthur karena masalah berat badan yang dialaminya. Tapi setiap hari pula dia tidak mempedulikan porsi makannya yang berlebihan dari biasanya.
Arthur hanya perlu memperbanyak stok kesabarannya, setiap menghadapi tingkah Stella selama kehamilan ini. Wanita itu sudah tidak bekerja lagi di perusahaan Matt. Karena Arthur tidak mau Stella sampai kelelahan. Tapi ... itu pula yang menjadi permasalahannya.
Sekarang istrinya itu semakin cemburuan. Apalagi dengan badannya yang sudah melar karena hamil, membuatnya tidak percaya diri.
Bahkan, sebenarnya menurut Arthur sendiri, istrinya itu tampak semakin cantik dengan tubuh berisi dan padat tersebut. Lebih seksi menurutnya. Apalagi pipi wanita yang biasa judes itu terlihat sedikit lebih chubby, membuatnya tampak semakin menggemaskan, apalagi saat marah-marah karena berat badannya, saat itulah Arthur membungkam istrinya dengan berhubungan. Yang langsung akan membuat wanita itu diam.
Tapi bagi Aletta sendiri, tidak berkerja sangatlah menjadi sebuah masalah untuknya. Terlebih saat dia tidak bisa datang ke kantor, karena itu dia tidak bisa mengawasi suaminya yang bisa melakukan apa saja di sana saat dia tidak ada.
Bukan tidak mungkin, kalau banyak wanita-wanita yang menyukai suaminya di kantor besar itu. Terlebih, suaminya itu tampak semakin gagah dan juga tampan setelah menikah.
Memang benar kata orang, laki-laki akan tampak semakin menggoda saat menjadi suami orang. Dan wanita tampak semakin cantik saat menjadi istri orang. Yang tentunya, punya banyak uang.
Stella mondar-mandir di depan televisi besar yang ada di ruang keluarga. Pagi ini, Entertainment News, mengabarkan sebuah berita, kalau ada seorang wanita yang melabrak suaminya di hotel bersama dengan wanita lain. Wanita itu menjambak rambut pelakor tidak tahu diri itu, dan dia juga membotaki rambut suaminya. Sangat sadis, Stella bahkan merinding sendiri saat melihat berita itu.
Apalagi saat itu, Entertainment News juga mengatakan, kalau kedua orang pasangan selingkuh itu bekerja di tempat yang sama. Sehingga mereka menjalin hubungan gelap.
Rasa kurang percaya diri kembali menghampirinya. Apalagi wanita yang diselingkuhi itu sangat cantik menurutnya, dan berbanding terbalik dengan dirinya yang sudah bengkak dimana-mana.
Stella menggigit jarinya, terus berjalan mondar-mandir, hingga pembantu rumah tangga yang diperkerjakan oleh Arthur untuk membantu istrinya di rumah menjadi heran dan juga pusing sendiri.
“Ada apa, Nyonya?” tanya Wanita yang berumur sekitar empat puluh tahun itu.
Stella melirik ke arah pelayannya itu. Dan mengerucutkan bibir sebal.
“Tadi aku melihat berita, ada perempuan yang melabrak suaminya selingkuh dengan wanita lain!” ujar Stella dengan berapi-api. Pelayan itu melihat pada Televisi yang sudah menayangkan berita lain.
“Tapi Tuan Arthur tidak mungkin seperti itu, Nyonya,” ujar pelayan yang bernama Nemi itu. Stella mendelik sinis pada Nemi membuat wanita itu sedikit gugup.
“Kan, kau juga memikirkan suamiku. Hahhh, bagaimana ini. Di kantor pasti banyak wanita-wanita yang menyukai dia, secara dia itu sangat tampan!” Stella masih grasak-grusuk. Nemi pusing sendiri melihat majikannya itu.
“Iya!” ketusnya saat mengingat kalau tadi dia mengatakan bahwa Arthur itu sangat tampan.
“Nah, karena itu, Nyonya. Karena Nyonya bilang Tuan Arthur jelek, jadi dia pasti meminta perempuan lain untuk memujinya?” pelayan bodoh itu membuat Stella semakin berpikir yang tidak-tidak. Wanita itu jadi semakin resah.
“Sudah ... sudah. Sana kau kembali bekerja!” Stella kemudian duduk di atas sofa saat Nemi pergi kembali ke dapur. Wanita itu memegang ponselnya yang sedari tadi ada di atas meja kaca di depan sofa.
Sedangkan Arthur di kantor Matt, dia sedang duduk di meja kerja di sebuah ruangan didekat ruangan boss nya itu.
Laki-laki itu terlihat fokus dengan laptop yang ada didepannya, hingga akhirnya bunyi notifikasi khusus untuk Stella berbunyi membuat ia mengalihkan pandangannya.
“Ada apa dengan wanita ini?” tanya Arthur pada dirinya sendiri, saat melihat pesan Stella yang masuk ke ponselnya. “Apa benar ini wanita judes itu?” tanyanya lagi pada dirinya sendiri.
‘Arthur, Sayang. Suamiku yang sangat tampan, dan juga sangat pintar. Apakah dikau sudah makan siang? Apakah dikau mau makan siang dengan daku? Istrimu yang cantik ini menunggu jawaban dikau.’
Arthur benar-benar mengusap matanya beberapa kali, untuk memastikan kalau itu benar-benar pesan yang dikirim oleh Stella untuk dirinya.
“Apa dia kerasukan?” rasanya Arthur masih belum percaya dengan apa yang di bacanya itu. Dia membaca kembali pesan-pesan judes yang dikirimkan orang istrinya itu beberapa waktu kemarin, sangat berbanding terbalik dengan saat ini.
Stella yang sedang menunggu balasan pesan dari Arthur itu kembali berjalan mondar-mandir. Matanya selalu tertuju pada ponselnya yang terletak di atas meja. Hingga bunyi notifikasi membuatnya cepat-cepat membuka ponsel tersebut.
‘Belum, kau mau makan dimana? Tunggu aku satu jam lagi, aku akan menjemputmu!’ Stella tersenyum senang melihat jawaban pesan dari Arthur. Dia kembali menuliskan jawaban untuk suaminya itu.
Lagi-lagi Arthur mengucek matanya beberapa kali, untuk memastikan kalau yang dilihatnya itu adalah pesan dari istrinya.
‘Iya suamiku yang tampan. Daku akan menunggu dikau. Cepatlah pulang, daku merindukan dikau.’
“Haha, ada apa dengan wanita hamil ini?” Arthur benar-benar tertawa lebar kali ini. Istrinya itu benar-benar aneh. Ntah apa yang ada di pikiran ibu hamil itu, tapi Arthur harap itu adalah suatu hal yang baik.
...***...
Arthur berdiri didepan pintu, membuka matanya lebar-lebar saat melihat tampilan istrinya yang sedang berdiri tidak jauh disana, dengan senyuman lebar.
Bibir yang di poles lipstik berwarna Nude itu, dan pipi yang diberi sedikit blus on, dan rambut pirang yang tergerai indah. Tapi yang benar-benar mencuri perhatian adalah, dress ibu hamil di atas lutut, dengan belahan dada yang rendah.
Benar-benar membuat Stella tampak sangat —cantik. Terlebih saat ada perut buncit itu, membuatnya semakin seksi, Arthur rasanya ingin sekali untuk membawa Stella ke kamar mereka dan mengahabisinya di atas ranjang.
‘Oh God, kenapa istriku sangat seksi?’ pikiran liar langsung menyerbu isi kepala Arthur. Stella mendekat dengan jalan yang mendayu-dayu. Bibirnya merekah dengan sempurna.
“Ayo tampan. Kita pergi makan siang sekarang?” Stella menggenggam tangan Arthur. Tapi laki-laki itu masih diam di tempatnya.
“Ada apa?” tanya Stella dengan sedikit cemas. Apa dia berdandan berlebihan sekarang? Apa dia terlihat jelek?
‘Kalau iya, habislah kau Nemi! Aku akan mencincangmu nanti!’ Stella mengutuk Nemi yang sudah membantunya berhias tadi.
“Iya, sepertinya aku sangat butuh makan siang sekarang!” ujar Arthur dengan suara yang berat. Stella tersenyum senang. Segala kutukan untuk Nemi dia cabut kembali.
“Ya sudah, ayo!” ajak Stella. Dan Arthur langsung mengangkat tubuh istrinya itu, berjalan menuju ruang keluarga, dan akhirnya melewatkan ruangan itu.
“Arthur, kita akan makan siang. Kenapa kembali ke kamar?” tanya Stella bingung.
“Ya, adikku butuh makan siang sekarang. Salahkan dirimu sendiri, kenapa menggodaku siang-siang begini!” Arthur tadi meminta izin pada Matt untuk membawa istrinya makan siang. Tapi siapa sangka, kini makan siang itu berubah menjadi sebuah makan siang yang tidak akan dapat di lupakan oleh Stella. Dia berjanji, akan memberikan Nemi bonus nanti! Ingatkan kalau dia lupa, oke?!
****
Stella masih menutup matanya. Setelah pergulatan panasnya dengan Arthur, wanita itu menjadi sangat kelelahan. Tenaga suaminya itu benar-benar menakjubkan.
Bahkan, waktu makan siang sudah berlalu beberapa jam yang lalu, dan Arthur juga sudah kembali ke kantor. Tapi, Stella masih bergelung dalam selimut tebalnya.
Nemi yang sedari tadi berjalan mondar-mandir menggantikan Stella, menatap cemas pada arah kamar majikannya itu. Tadi Arthur menitipkan pesan padanya untuk menyuruh Stella makan siang di rumah saja. Tapi, sampai sekarang wanita itu masih belum keluar dari dalam kamar. Apa yang terjadi di kamar itu tadi? Apa yang kedua pasangan itu lakukan saat dia pergi berbelanja ke mini market tadi?
Ahh, kenapa Nemi jadi gelisah galau merana seperti ini? Nemi berharap, semoga tidak terjadi apa-apa dengan kedua majikannya itu, karena sampai jam tiga sore pun, Stella masih belum keluar dari dalam kamar.
Nemi kembali ke dapur. Dia meminum air banyak-banyak. Tekatnya sudah bulat, dia harus memeriksa keadaan Nyonya besarnya saat ini.
Ketukan pintu beberapa kali dari Nemi membuat Stella merasa terganggu. Wanita hamil itu berusaha untuk duduk. Dan meraih bajunya yang berserakan dimana-mana. Stella memakai bajunya dengan cepat, lalu membuka pintu kamar dengan keadaan yang masih sedikit mengantuk.
Nemi menghembuskan napas lega saat melihat Stella berdiri di hadapannya dengan keadaan yang sangat baik. Wanita itu tampak seperti orang bangun tidur, bukan seperti orang yang habis menangis.
Cih, memangnya apa yang kau pikirkan, Nemiii? Wanita paruh baya itu merutuki pikirannya sendiri.
“Ada apa?” tanya Stella dengan nada malas. Nemi menelan Saliva gugup.
“Tuan Arthur bilang, kalau Nyonya harus makan siang sekarang. Saya sudah menyiapkannya!” Stella berbalik melirik ke arah jam dinding di kamarnya. Mata wanita itu membola, saat melihat jam sudah menunjukkan pukul tiga lewat.
“Astaga, kenapa kau tidak membangunkan aku dari tadi? Aku sangat lapar sekarang? Kau masak apa? Ayo, segera siapkan makanannya!” Stella berjalan mendahului Nemi, mengoceh tidak tentu arah. Mengabaikan Nemi yang hampir saja menggerakkan tangannya untuk menutup telinga. Cih, berdosa kau Nemi, tidak mendengarkan perkataan ibu hamil ini!
Nemi menyiapkan makan siang yang bisa disebut sebagai makan sore itu di atas meja.
Ada ayam goreng, pasta, ikan dan makanan berempah lainnya. Stella memakan masakan Nemi dengan lahap, dia bahkan menghabiskan ayam gorengnya. Nemi hanya bisa mengusap dada saat melihat majikannya itu makan seperti orang yang sudah tidak makan selama satu Minggu.
Nemi menuangkan jus strawberry pada gelas bersih yang sudah dia siapkan. Lalu memberikannya pada Stella sesuai permintaan wanita itu.
Stella mengusap perutnya yang sudah terasa sangat kenyang itu, lalu kemudian teringat akan berat badan lagi.
“Huaaa ... kenapa aku selalu lupa tentang berat badan saat makan? Bagaimana ini, aku tadi bahkan menghabiskan tiga piring makanan!” wanita itu meraung-raung tidak jelas. Nemi hanya bisa mengangkat bahu acuh. Pemandangan ini sudah setiap hari ia lihat, selama beberapa bulan ini.
Nemi segera membereskan piring bekas makan Stella, dan ia juga memberikan air putih untuk wanita itu, karena biasanya setelah meraung tidak jelas seperti tadi, wanita hamil itu akan kehausan dan meminta air padanya.
Nah, benar, kan? Lihatlah, sekarang dia minum seperti orang yang tidak minum satu hari saja. Habis itu pergi ke ruang keluarga untuk menonton televisi lagi, dan makan camilan lagi.
Heuuh, baru beberapa menit yang lalu menangis tidak jelas, sekarang sudah makan lagi. Ibu hamil memang benar-benar menakjubkan. Sepertinya, bayi yang ada di dalam perut Stella, sedang membalaskan dendam sekarang. Karena di awal dulu, dia jarang sekali makan karena hormon kehamilan.
****
Stella duduk di atas tempat tidur. Melirik pada meja rias yang berada tidak jauh dari sana. Wajahnya sudah bersih, tubuhnya juga. Dia wangi, rambutnya juga sudah di sisir rapi. Baju yang dikenakannya juga sudah seksi—menurutnya.
“Aku sudah secantik ini, kalau dia berani untuk selingkuh dariku? Aku akan memotong adiknya itu sampai habis!” Stella menggenggam sisir yang ada di tangannya dengan berapi-api. Rasa percaya diri kembali membuatnya bersemangat. Dengan kecantikannya, Arthur pasti tidak akan berpaling dari dirinya!
Ya, begitulah kalau hormon ibu hamil berubah-ubah. Sebentar baik, sebentar buruk. Entahlah, lihat saja apa yang dilakukan oleh ibu hamil ini nanti.
Pukul delapan malam, Arthur membuka pintu apartemen. Dia melihat pada Stella yang sedang berada di ruang keluarga. Laki-laki itu menghembuskan napas lelah. Tapi, sekarang saat melihat senyuman merekah dari kedua sudut bibir istrinya, lelah itu seketika hilang, diganti dengan senyuman bahagia.
“Selamat datang, Papi.” sapa Stella mendekat. Dia mencium pipi Arthur sekilas, membuat laki-laki itu mematung.
“Kau sedang menggodaku lagi?” tanya laki-laki itu menyeringai. Stella menggelengkan kepalanya cepat. Tidak, dia tidak bermaksud untuk menggoda, tapi kalau Arthur tergoda, bukankah ini hal baik?
‘Hehe, tidak akan aku biarkan kau melirik perempuan lain, Arthur. Aku akan membuatmu terus memikirkan aku dimana pun kau berada.’ wanita itu tersenyum licik.
****
😆😝