My Devils Husband

My Devils Husband
36. Revenge



Saat sudah sampai di hotel Max dan juga Stef langsung naik kelantai paling atas letak kamar mereka berada.


"Ah, apa kau lapar?" tanya Max saat mereka sudah berada didalam kamar. Mereka tadi bahkan tidak sempat untuk sarapan karena terlalu terburu-buru untuk pergi ke rumah sakit.


"Iya," jawab Stef singkat, lalu ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Kau ingin makan apa?" tanya Max, ia sudah memegang ponselnya untuk menelepon pihak hotel.


"Steak, Falscher Hase, jus lemon," ucap Stef memberitahu makanan apa yang diinginkannya.


"Hanya itu saja?" tanya Max.


"Ya," jawab Stef singkat.


Lalu Max menekan beberapa angka hingga terdengar nada sambung setelah itu terdengar suara seorang menjawab di seberang sana.


"(....)"


"Ich möchte Essen zum Mittagessen bestellen, zwei Portionen Steak, zwei Portionen Falscher Hase, zwei Gläser Zitronensaft, (Aku ingin memesan makanan untuk makan siang, steak 2, Falscher Hase 2, jus lemon 2,)" ucap Max menjelaskan makanan apa yang diinginkannya.


"(....)"


"Okay, ich werde so schnell wie möglich warten! (Baiklah, aku tunggu secepatnya!)" setelah itu sambungan teleponnya pun terputus. Max berjalan mendekat kearah tempat tidur dan duduk didekat Stef yang tengah berbaring.


"Kenapa kau memesan makanan yang sama dengan ku?" tanya Stef heran.


"Karena aku juga ingin memakannya," jawab Max santai.


"Aish kau ini, padahal tadi jika kau memesan makanan yang lain aku ingin mencobanya nanti," ucap Stef yang membuat Max mengkerut. Setelah itu Max tertawa terbahak-bahak.


"Oh je, dein Mann ist keine schwierige Person, du kannst frei essen, was du willst, (Astaga sayang, suamimu ini bukanlah orang susah, jadi kau bisa bebas makan apa saja yang kau inginkan,)" ucap Max dengan tertawa, sedangkan Stef hanya diam memperhatikan Max yang tertawa lebar, lelaki itu terlihat tampak sangat bahagia.


"Kenapa kau memperhatikan aku seperti itu?" tanya Max.


"Aku hanya suka melihatmu tertawa, teruslah tertawa jangan pernah bersedih," ucap Stef menatap Max tulus, Max juga menatap Stef dengan pandangan penuh cinta.


"Jika kau selalu bersamaku, maka kau akan selalu melihat tawaku sayang!"


"Aku akan selalu bersamamu,"


Setelah itu terdengarlah suara pintu di ketuk, Max berdiri bangkit dari tempat tidur berjalan untuk membukakan pintu.


"Masuklah," ucap Max singkat, karena melihat seorang Beelboy berdiri disana dengan mendorong sebuah meja kecil yang mempunyai roda. Lantas saja Beelboy itu masuk, lalu memindahkan makanan pesanan Max diatas meja. Setelah itu ia pamit keluar.


"Das ist für dich,(Ini untukmu,)" ucap Max menyerahkan beberapa lembar uang kepada Beelboy itu.


"Vielen Dank, Sir. (Terimakasih tuan,)" ucap Beelboy itu menundukkan kepalanya, setelah itu ia berjalan keluar tanpa melihat kearah Stef sedikitpun. Kerena jika saja ia melihat kearah Stef yang masih terbaring bisa saja Max akan memecatnya.


"Ayo kita makan," ucap Max mengajak Stef, lalu Stef pun bangkit dan berjalan perlahan menuju meja makan yang ada di dalam kamar tersebut.


Keduanya makan dengan lahap makanan masing-masing, menikmati setiap cita rasa dari makanan yang mereka makan.


"Apa kau ingin makanan lain lagi?" tanya Max melihat Stef yang sudah selesai dengan makanannya, dan kini sedang meminum jus lemon kesukaannya.


"Tidak!" jawab Stef singkat.


"Kenapa?"


"Aku sudah kenyang,"


"Benarkah?"


"Tentu saja,"


"Kalau begitu setelah ini apa kita bisa melanjutkan yang semalam?" ucap Max dengan tersenyum mesum, sedangkan Stef langsung tersedak minumannya.


"Jika saja kau tidak mengatakan hal tersebut, mana mungkin aku akan tersedak," ucap Stef jengkel.


"Hehe,"


****


Kini hari sudah berganti sore, seharian ini waktunya hanya dihabiskan oleh Stef dengan berguling di tempat tidur, menonton televisi, memakan camilan kesukaannya yang tentunya di pesankan oleh Max dan memainkan ponsel.


Sedangkan Max, lelaki itu benar-benar memegang ucapannya, ia tidak menggangu Stef sama sekali, waktunya hanya dihabiskan didepan laptop dan juga ponselnya yang selalu berdering hampir di setiap saat membuat Stef heran sekaligus jengkel.


Seperti saat ini, ponsel Max kembali berdering entah untuk yang ke berapa kalinya, Stef tidak menghitungnya, karena jika ia menghitung mungkin sudah sampai pada angka dua puluh.


Tampaklah Max mengerutkan keningnya menerima panggilan telepon tersebut, ia menatap Stef lalu berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris, agar tidak diketahui oleh Stef mereka membicarakan apa.


"What is wrong?(Ada apa?)" tanya Max pada orang yang diseberang sana yang ternyata adalah David.


"Why do you use English? (Kenapa kau menggunakan bahasa Inggris?" tanya David.


"There's my wife here, so what do you want to say? (Ada istriku disini, jadi apa yang ingin kau katakan?" ucap Max langsung bertanya, karena ini pasti berhubungan dengan sesuatu yang sedikit berbahaya.


"Baiklah, Justin sudah kembali lagi kesini saat ini, sepertinya dia ingin balas dendam kepada kita setelah kau menikahi Stef kemarin," ucap David menjelaskan.


"Revenge?(Balas dendam?)" ucap Max mengulang perkataan David.


"Ya,"


"I'm waiting for that moment,(Aku menanti saat itu)"


"Kau tidak takut?" tanya David.


"For what I am afraid, he should be afraid of me, (Untuk apa aku takut, seharusnya dia yang takut padaku,)" ucap Max dengan yakin.


"Ya, terserah kau saja," ucap David singkat.


"You prepare our men to monitor their movements, I don't want to be fooled! (Kau siapkan anak buah kita untuk memantaunya, aku tidak ingin kecolongan!" ucap Max serius


"Baiklah," setelah itu sambungan telepon pun terputus.


Stef berjalan mendekat kepada Max, "Siapa yang meneleponmu? Kenapa harus memakai bahasa Inggris?" tanya Stef.


"Rekan bisnisku," ucap Max menjawab singkat. "Apa kau mengerti dengan yang aku bicarakan?" sambung Max bertanya. Karena jika Stef mengerti itu artinya sia-sia saja dia tadi berbicara berbahasa Inggris.


"Tidak," jawab Stef singkat membuat Max menghela nafas lega.


"Sebaiknya kau belajar bahasa Inggris, supaya jika kita keluar negeri nanti kau tidak kesusahan berbicara dengan para turis," ucap Max panjang lebar.


"Ya, tapi kan ada kau yang akan menjadi penerjemahku," ucap Stef dengan seenaknya setelah itu dia tertawa membuat Max melotot dan menggelengkan kepalanya.


"Up to you,"


.


.


.


.


Jangan lupa berikan Tap jempol dan juga Vote nya.


Love❤️❤️❤️ Egasri.