My Devils Husband

My Devils Husband
Eps 55



Justin berbincang dengan Jenna cukup lama. Keduanya menikmati suara deburan ombak yang menenangkan. Langit malam yang secerah hati Justin tapi berbeda dengan Jena. Gadis itu menatap Justin sekilas, lalu kembali menatap hamparan air pantai hingga sinar rembulan membuatnya tampak seperti berkilau.


“Kapan kau kembali ke Italia?” tanya Justin. Jenna terdiam sejenak, memikirkan apa yang ingin dia katakan. Mengambil sedikit pasir, Jenna memainkannya dengan memindahkan dari tangan kanannya ke tangan kiri. Begitu seterusnya hingga membuat Justin heran.


“Kau kenapa?” tanya Justin. Jenna menggeleng sebagai jawabannya. Lalu menatap Justin, seakan berat baginya untuk berkata mengeluarkan suaranya.


“Ada yang ingin kau katakan?” tanya Justin lagi.


“Apa orang seperti aku pantas untuk menikah?” tanya Jenna. Justin terdiam sejenak lalu menatap hamparan air pantai yang luas.


“Memangnya kenapa?” tanya Justin, membuat Jenna menggeleng.


“Jawab saja, Apa aku pantas untuk menikah, dicintai dan mencintai?” ucap Jenna lagi mengulang pertanyaannya. Justin mengembuskan nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan dari wanita yang baru beberapa menit dia kenal ini.


“Semua orang pantas untuk menikah, pantas untuk dicintai dan pantas untuk mencintai. Kita mencintai orang yang pantas untuk dicintai, dan mencintai orang sepantas dia mencintai kita!” ucap Justin membuat Jenna bingung.


“Ah kau ini! Katakan saja dengan cara sederhana, aku tidak paham!” Justin tergelak, dan Jenna sadar, lelaki itu sangat tampan walau dalam cahaya remang dibawah sinar rembulan.


“Aku tidak pantas bicara seperti itu, karena aku sendiri tidak yakin, apa aku pantas untuk mencintai dan dicintai!” Justin mengingat perlakuannya pada Stef beberapa waktu lalu.


“Memangnya kenapa? Apa yang sudah kau lakukan?” tanya Jenna yang semakin tertarik dengan obrolan ini.


“Lelakkan dulu minumanmu, baru kita bercerita!” Jenna cemberut Mendengar perkataan Justin, tapi tak urung dia tetap melakukan apa yang dikatakan oleh lelaki itu.


“Jadi, bagaimana menurutmu?” tanya Jena lagi setelah ia membuang minumannya membuat Justin tergelak.


“Sepertinya kau sangat antusias dengan pembicaraan ini,” ucap Justin meledek membuat Jenna mendelik sebal.


“Sudahlah, cepat katakan!” ucap Jenna membuat Justin kembali tergelak.


“Baiklah,” Justin terdiam sejenak.


“Sebenarnya aku bukanlah orang yang pantas untuk tempatmu bertanya hal seperti itu, karena diriku sendiri merasa tidak pantas untuk dicintai mengingat apa yang pernah dulu aku lakukan. Tapi saat ini aku terus mencoba untuk me-mantaskan diri. Karena setiap manusia memiliki masa lalu, memiliki kesalahan, tapi bukan berarti dia tidak pantas untuk dicintai dimasa depan, karena setiap orang memiliki pilihan hidup. Dia mau berusaha berubah untuk me-mantaskan diri, atau tetap seperti dia yang dulu hingga merasa tidak pantas untuk dicintai seperti saat ini.” Justin bicara panjang lebar membuat Jenna mengangguk mengerti. (Author curhat)


“Aku sudah punya jawaban untuk diriku sendiri, terimakasih!” Jenna tersenyum menatap Justin. Senyum yang manis, membuat Justin terdiam sesaat lalu kembali mengalihkan pandangannya kearah pantai.


“Memangnya kenapa kau bicara seperti itu?” tanya Justin, yang membuat Jenna kembali menatapnya dan menghembuskan nafas kasar.


“Tidak apa-apa! Aku hanya sedang memikirkan orang tuaku yang kini sedang berusaha untuk membujukku pulang,” ucap Jenna.


“Memangnya kenapa kau sampai ada disini?” tanya Justin lagi.


“Tidak apa-apa! Aku hanya kabur dari rumah karena aku mau dijodohkan dengan orang yang bahkan aku sendiri tidak tau siapa dia!” Justin menatap Jenna heran.


“Maksudmu, kau belum pernah bertemu dengannya?” Jenna mengangguk sebagai jawaban.


“Lalu, jika belum bertemu kenapa kau memutuskan untuk pergi? Kenapa kau tidak mau menemuinya dulu? Apa ada sesuatu?” Justin bertanya penasaran, menatap Jenna yang hanya terdiam.


“Maaf, jika pertanyaanku menyinggungmu, tidak usah dipikirkan!” ucap Justin merasa tidak enak saat melihat raut wajah Jenna yang berubah sedih.


“Tidak apa-apa!” ucap Jenna menatap Justin tersenyum.


“Kenapa?” tanya Justin.


“Tidak apa-apa! Aku tidak mau di jodohkan karena sudah memiliki kekasih,” ucap Jenna membuat Justin mengangguk.


“Apa aku sedang mengganggu kekasih orang?” tanya Justin menggoda membuat Jenna tersenyum pahit.


“Tidak! Tidak usah kau pikirkan. Ini sudah terlalu larut, kau tidak mau kembali ke hotel?” tanya Jenna mengalihkan pembicaraan.


Justin mendongak melihat kearah tempat tadi Max, Stef, David dan juga Aira berdiri. Tapi tidak ada mereka disana.


‘Ck, mereka meninggalkan aku!’ batin Justin berdecak kesal.


“Iya, aku juga mau kembali ke hotel!” ucap Justin. “Atau kau mau bersama?” tanya Justin yang di angguki oleh Jenna.


“Ayo!” Justin dan Jenna berlalu dari sana, meninggalkan rembulan yang tertutupi awan, membuat langit tampak begitu indah dengan bayangannya.


“Kau tinggal di kamar nomor berapa?” tanya Justin.


“601.” ucap Jenna singkat.


“Benarkah? Aku di nomor 604,” ucap Justin yang membuat Jenna menatapnya sembari terus berjalan.


“Apa kau penghuni baru?” tanya Jenna yang dijawab anggukan kepala oleh Justin.


“Pantas saja!” ucap Jenna membuat Justin mengernyit.


“Pantas kenapa?” tanya Justin.


“Sudahlah, jangan dipikirkan. Yang jelas kamar kita bertetangga!” ucap Jenna yang di angguki oleh Justin.


“Buona notte,(Selamat malam)” ucap Justin saat Jenna sudah berdiri didepan pintu kamarnya.


“Notte!” balas Jenna. Setelah itu Jenna masuk kedalam kamar, disusul oleh Justin yang juga berlalu masuk kedalam kamarnya.


Justin membuka sepatunya dan juga jaket yang dia gunakan, lalu merebahkan diri diatas kasur.


“Untuk yang kedua kalinya, aku memiliki perasaan yang salah!”


★‡★


Stef menggeliat didalam pelukan Max, membuat dia agak sedikit kesulitan karena kungkungan suaminya itu.


“Max, lepaskan!” ucap Stef, lalu mencubit perut Max membuat lelaki itu terbangun.


“Tetap seperti ini sayang! Aku suka wangimu!” kening Stef berkerut mendengar perkataan Max.


”Tapi sungguh sayang, kau sangat wangi!” ucap Max lagi membuat Stef jengkel. Yang benar saja, dia yang belum mandi seperti ini di bilang sangat wangi? Apa penciuman suaminya itu bermasalah, begitu pikir Stef.


“Lepaskan Max, aku mau mandi!” ucap Stef lagi. Max cemberut kesal lalu melepaskan pelukannya. Stef bangkit dari tidurnya lalu berjalan menuju kamar mandi yang membuat lelaki tampan yang menjadi suaminya itu semakin kesal. “Sungguh dia tidak peka!” ucap Max yang kembali mengurung dirinya dengan selimut.


*


Stef keluar dari kamar mandi, dengan menggunakan handuk, lalu berjalan untuk mengambil pakaiannya yang ada didalam lemari dan mengenakannya. Setelah itu Stef mengeringkan rambutnya dengan menggunakan hairdryer yang tersedia disana, memoleskan sedikit bedak pada wajah cantiknya.


“Max,” panggil Stef menggoyangkan tubuh suaminya itu, membuat Max menggeliat kecil tapi tetap melanjutkan tidurnya.


“Max,” panggil Stef lagi. “Hey, apa kau tidak ingat, kita hari ini ada jadwal untuk berkeliling kota Lombok!” ucap Stef memberitahu Max, tapi tidak di gubris oleh itu.


“Hummm..,” Max menjawab dengan deheman saja, membuat Stef semakin kesal.


“Baiklah, sepertinya kau tidak mau ikut! Baiklah, aku pergi dulu!” ucap Stef berlagak seperti orang berjalan tapi tetap tidak membuat Max bangun. Stef semakin kesal pada suaminya itu, sejak kapan Max menjadi orang pemalas seperti ini, sangat sulit untuk dibangunkan.


“Semoga saja nanti ada orang Indonesia yang menyukai aku!” setelah mengucapkan itu Stef segera berlalu dari sana meninggalkan Max yang langsung membuka matanya.


“Apa?” ucap Max langsung terduduk, tapi dia tidak melihat Stef disana.


“Tidak boleh, Stef hanya milikku!” Max langsung berlari kedalam kamar mandi tanpa membawa handuk, membuka pakaiannya lalu mengguyur tubuhnya dengan Air shower.


“Aih, handukku!” ucap Max setelah selesai mandi beberapa saat, dan dia baru sadar kalau dirinya tidak membawa handuk untuk mandinya.


“Bagaimana ini?” Max membuka pintu kamar mandi lalu melihat keluar. Dan sepertinya Stef belum kembali ke kamar.


“Untung saja dia sudah keluar!” Max berlari keluar menyambar handuk yang tergantung disana, dan pada saat itu pula pintu kamar terbuka dan Stef berdiri dengan mulut ternganga disana ditambah dengan muka yang memerah.


“Hey, tutup pintunya!” sontak saja Stef langsung masuk dan menutup pintu, lalu ia juga menutup matanya membuat Max berdecak.


“Kau melihatnya setiap hari, tidak usah ditutupi!” Stef semakin memerah mendengar perkataan Max, tapi ia tetap menutup matanya.


Max sudah selesai mengenakan pakaiannya, lalu berjalan mendekat pada Stef.


“Ayo, kita sarapan dulu!” Stef membuka matanya lalu berjalan mengikuti Max yang sudah berjalan terlebih dahulu keluar.


Mereka berdua berjalan ke arah Restoran hotel. Disana sudah ada seluruh anggota keluarga, Masseria yang duduk bergandeng dengan Lucky, Jhon yang duduk disebelahnya Lie, David dengan Aira dan tentu saja Justin sendiri.


Max duduk disalah satu bangku yang tersedia disana, dengan Stef yang ikut duduk dengannya.


“Kau tidak bekerja disini lagi Aira?” tanya Max yang dijawab gelengan kepala oleh Aira. Max hanya mengangguk pertanda mengerti tanpa banyak bertanya lagi.


“Kalian mau pesan apa?” tanya Masseria. Setelah itu wanita paruh baya yang menjadi Momy Max ini menyerahkan buku menu pada Max. Disana ada pilihan menu dengan menggunakan bahasa Inggris.


“Kau mau pesan apa Stef?” tanya Max pada istrinya.


“Sate Rembiga,” ucap Stef tanpa melihat buku menu yang disodorkan oleh Max.


“Kau ini sepertinya sangat suka dengan sate Rembiga!” ucap Max yang diangguki cepat oleh Stef


“Tentu saja, (Es ist sehr köstlich_Itu sangat lezat!)” ucap Stef membayangkan.


Max menatap kembali buku menu yang ada ditangannya. Membolak-balikkan buku tersebut tapi tak ada yang mampu membuatnya berselera.


“Kenapa?” tanya Stef pada suaminya itu.


“Aku tidak berselera makan!” ucap Max menjawab membuat istrinya itu heran.


“Tidak berselera? Biasanya kau yang paling banyak makan disini!” ucap Stef, sedangkan Max hanya menggedikkan bahunya.


“Sate Rembiga satu porsi, nanti jika aku mau makan, aku akan memanggilmu lagi kemari!” pelayan yang dari tadi berdiri disana akhirnya berlalu setelah Max mengatakan hal tersebut


“Jenna,” panggil Justin tiba-tiba yang melihat Jenna ada di dekat pintu masuk restoran. Melihat Justin yang ada disana, Jenna tersenyum dan mendekat.


Semua orang menatap pada wanita berambut pirang tersebut.


“Ayah, Ibu, semuanya kenalkan dia Jenna. Temanku!” ucap Justin memperkenalkan Jenna pada semua orang yang ada disana.


‘Ayah, ibu?’ tanya David dalam hatinya saat mendengar Justin memanggil Lie dan Jhon sebagai ayah dan ibu. Tapi dia tetap bungkam tanpa mau banyak bertanya.


“Hai Jenna, kenalkan aku Stef!” Jenna bersalaman dengan semua orang yang ada di meja tersebut. Justin tersenyum senang saat melihat Jenna yang mudah sekali akrab dengan orang lain.


Sarapan pagi itu terasa sangat menyenangkan bagi semua orang, kecuali Max.


Entah pengaruh dari angin laut semalam yang masih ada pada tubuhnya atau yang lainnya, tapi dia merasa pusing saat mencium bau makanan yang bercampur menjadi satu, dan dia juga harus bolak-balik menuju kamar mandi, membuat Stef iba.


★‡★


“Kita mau kemana hari ini?” tanya Stef saat Max sudah merasa baikan. Karena dia ingin sepuasnya untuk jalan-jalan hari ini, karena tadi Max menerima telepon dari Thomas yang menyuruhnya untuk cepat kembali ke Frankfurt karena ada sesuatu yang terjadi dengan perusahaannya. Jadi seharian ini hari mereka akan dihabiskan untuk berjalan-jalan, sebelum besok pulang ke Jerman.


Mereka mendatangi setiap tempat yang terkenal di kota Lombok, mencoba satu persatu kuliner yang dijual disana, dan syukurnya Max bisa makan beberapa diantaranya meskipun tidak terlalu banyak.


Max berjalan dengan Stef bergandengan tangan, mencari spot untuk berfoto. Menggunakan gaya terbaik, mereka berpose didepan kamera. Sedangkan David juga diajak oleh Aira untuk berfoto. Dan Justin tentu saja dia sedang menemani Lie dan Jhon, karena ia tidak bisa mengajak Jenna, karena gadis itu memutuskan untuk pulang ke Negaranya untuk menemui orangtuanya, dan menerima perjodohan itu.


Sebenarnya Justin sedikit kecewa dengan keputusan Jenna, tapi dia tidak mau untuk terlalu ikut campur dengan urusan gadis itu. Jadilah hanya dia yang tidak berpasangan untuk pergi jalan-jalan hari ini.


.


.


.


Salam sayang EgaSri.