
Hari-hari yang dilalui Mattea rasanya penuh dengan rasa bahagia. Penantian panjang yang dia lewati selama ini berbuah manis. Kesabarannya menanti pria yang dia cintai untuk membalas cintanya, berujung membahagiakan. Mattea sangat bahagia, sangat-sangat bahagia.
Senyuman terukir di bibirnya yang tipis. Kala Mattea berjalan menuruni tangga, Stef menyambut dengan senyuman yang membuatnya tampak semakin cantik di usianya yang tidak lagi muda. Kerutan di wajahnya tidak begitu jelas, karena wanita itu sangat menjaga tubuhnya, terlebih dia adalah seorang dokter.
Walau pada hari-hari sebelumnya Mattea tampak stres dengan ujiannya membuat dirinya jarang beristirahat, maka kini dia tampak bersinar karena ujian yang melelahkan itu sudah berhasil dia lewati.
Thomas datang dari arah luar Mansion dengan pakaian olahraga yang basah oleh keringat bersama dengan Max. Kedua mertua dan menantu itu tampak semakin tampan saat peluh mengkilat yang membasahi tubuh mereka membalut otot-otot tegang itu dengan begitu seksinya.
Max mencium kening Stef sekilas membuat perempuan itu mencebik kesal. Dia yang saat itu sedang membantu pelayan untuk menyiapkan sarapan mendecak kesal, membuat Max terkekeh. Istrinya ini masih saja malu-malu saat Max menciumnya didepan pelayan. Sedangkan pelayan yang melihat hanya memalingkan wajah mereka dan menatap ke arah lain.
Sedangkan kedua pengantin yang sudah menjalani pernikahan selama tiga bulan itu tampak tersenyum melihat kemesraan Max dan Stef. Keduanya sama-sama berharap, supaya rumah tangga mereka seperti kedua orangtua itu.
“Mau aku siapkan air hangat?” Thomas mengangguk mendengar pertanyaan Mattea. Dia melingkarkan tangannya di leher sang istri, lalu membawa Mattea kembali berjalan ke kamar mereka.
Setibanya di kamar, Mattea langsung berjalan menuju kamar mandi, untuk memasukkan air hangat ke dalam bathtub yang akan di gunakan oleh suaminya nanti. Mudah sebenarnya, hanya dengan menekan tombol yang ada di dinding, maka air hangat itu akan keluar untuk memenuhi bathub, dan Thomas pun sebenarnya bisa melakukan itu, tapi Mattea ingin melayani suaminya dengan sebaik mungkin.
“Kita tidak mandi bersama sayang?” Thomas yang mengambil handuk dari dalam lemari, menggoda Mattea membuat perempuan itu menggeleng dengan wajah merona.
“No, aku sudah selesai mandi tadi!” Thomas hanya mengangguk lalu berjalan masuk kedalam kamar mandi.
Selama Thomas mandi, Mattea menyiapkan pakaian untuk suami tercintanya itu. Celana dasar hitam, dengan kemeja lengan panjang berwarna biru Dongker, menjadi pilihannya untuk pagi ini.
Entah kenapa, sekarang Mattea merasa sangat menyukai warna-warna gelap. Dia merasa tenang dengan warna itu.
Setelah cukup lama berada di dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, Thomas keluar dengan menggunakan handuk yang hanya menutupi dari bagian pinggang ke bawah saja. Bagaimana lekukan otot yang tercetak sempurna, dan dada bidang yang biasa menjadi sandaran Mattea itu tampak sangat menggoda untuk disentuh.
Mattea merona melihat suaminya itu. Sudah cukup lama mereka menikah, tapi tetap saja dia merasa malu melihat tubuh suaminya sendiri.
Tampak begitu seksi ... Dan, Errgghh, menggairahkan!
“Kau memikirkan hal mesum sayang?” Thomas yang melihat istrinya menggelengkan kepala tersenyum meledek. Dia suka saat melihat pipi kemerahan itu tersenyum malu padanya.
“No!”
Thomas memakai pakaiannya dengan cepat. Setelah mengantarkan Mattea ke kampus, dia ada rapat pemegang saham bersama dengan Max di kantor. Tentu dia tidak ingin terlambat.
“Ayo....” Thomas memegang pinggul Mattea berjalan keluar kamar.
Mereka memang tetap tinggal di mansion. Karena menurut Thomas, dia akan setiap hari kesini, dan tentunya dia tidak mau melihat sang istri yang kesepian selama dia tidak ada apartemennya.
____
Sebelum turun dari dalam mobil, Thomas memberikan ciuman di bibir untuk sang istri. Wanita cantik yang sudah menjadi milik dia seutuhnya itu merona dengan perlakuan sang suami yang semakin hari semakin manis saja.
“Hati-hati sayang. Jangan nakal, ingat! Ada aku yang selalu mencintaimu.” kecupan di bibir sebagai pemisah keduanya pagi ini. Mattea mengangguk mendengar perkataan laki-laki yang sangat di cintainya itu.
Mattea keluar dari dalam mobil dengan wajah riang. Rona merah masih terpancar jelas di wajahnya. Gadis cantik itu berjalan dengan anggun menuju kelas. Semua mata menatap pada putri satu-satunya kerajaan bisnis Alexander dan Luciano itu. Banyak tatapan yang mereka layangkan. Kagum, iri, dan mencemooh. Dan Mattea tidak menghiraukan hal itu.
Hatinya berbunga-bunga dengan semua perlakuan Thomas padanya hingga dia memilih untuk tidak memperdulikan sekitar. Ayolah, laki-laki panas itu terlalu sempurna bagi Mattea yang sangat mencintainya.
“Hei Atea?!” saat tiba di kelasnya, Stella menyapa dengan wajah riang, senyum terpantri jelas di wajah cantiknya yang menggemaskan. Mattea tersenyum pada gadis yang menyapanya itu. Dan juga membalas senyuman gadis yang sudah pernah menolongnya itu.
“Hii Stella, bagaimana kabarmu?” Mattea duduk di bangkunya, diikuti oleh Stella yang duduk di samping wanita itu. Dua wanita itu bersahabat dekat. Karena kemanapun keduanya pergi pasti akan selalu bersama. Terlebih sebenarnya, Stella bertugas untuk menjaga Mattea.
“Yeah, seperti yang kau lihat, aku sangat baik. Bagaimana denganmu? Apa aku akan segera memiliki keponakan?” mendengar pertanyaan Stella membuat wajah cantik itu memerah malu. Ah, dia memang sudah sangat menginginkan malaikat kecil itu hadir di antara dia dan Thomas. Sebagai pelengkap kisah cinta mereka.
‘Ponakan?’ memikirkan hal itu saja sudah membuat Mattea sudah bahagia. Bagaimana nanti dia dan sang suami memiliki anak yang tampan dan cantik yang mewarisi genetik mereka. Suara tawa mereka akan memecahkan keheningan mansion. Semua pasti akan sangat menyayangi anaknya nanti.
“Doakan saja secepatnya!” senyum simpul dari Mattea membuat Stella terkekeh. Lalu gadis itu menganggukkan kepalanya. Dia akan turut senang jika sahabatnya ini juga senang.
Kelas pertama Mattea di pagi ini sudah selesai. Dia dan Stella berjalan menuju kantin. Mengisi perut mereka dengan makanan yang enak tentunya.
“Apa kau tidak bisa makan dengan pelan Atea?” melihat Mattea yang makan dengan lahap, membuat Stella menggelengkan kepalanya. Kali ini Mattea benar-benar makan dengan lahap sekali dan tidak menghiraukan sekitarnya.
“Heemm, aku sangat lapar Stella. Aku tidak sabar menghabiskan semua ini!” mulut yang penuh berisi makanan itu membuat Stella menggelengkan kepalanya.
Stella hanya terkekeh gemas. Keduanya makan dengan lahap makanan yang sudah di pesan oleh Mattea dengan cukup banyak.
“Pelan lah Atea, kau seperti tidak diberi makan selama satu Minggu saja!” Matteo yang mendekat pada keduanya membuat Mattea menoleh diikuti juga oleh Stella tentunya.
Laki-laki itu tampak sangat tampan dengan kemeja lengan panjang yang di gulung hingga siku, dan juga celana jeans berwarna Dongker membuatnya tampak sangat tampan.
“Diamlah kau Matt, aku lapar, jangan merusak moodku!” Arion dan Erick ikut duduk di samping Matt. Kedua laki-laki itu tampak tertawa melihat Mattea sudah menghabiskan banyak makanannya.
“Ck, kau benar-benar rakus!” walaupun berkata seperti itu, Matteo tetap memberikan air mineral pada Mattea yang tampak kesusahan menelan makanan itu. “Makanya kalau makan jangan terburu-buru seperti itu!” peringat Matteo lagi.
“Kak Matt!” suara cempreng dari gadis bar-bar yang sangat malas untuk Matteo lihat hari ini terdengar di indera pendengarannya. Matteo berdecak kecil saat melihat gadis itu sudah duduk disebelahnya, memaksa Erick untuk pindah ke kursi sebelahnya membuat laki-laki itu ikut kesal dengan perlakuan gadis bar-bar itu.
“Ada apa kau kemari bocah?” tanya Matt dengan kesal. Manik gelap itu menatap Ana tajam, tapi tidak membuat gadis itu takut. Ana sudah terlalu kebal oleh tatapan tajam itu.
“Karena aku mencari kak Matt makanya aku kemari!” bibir tipis yang mengerucut itu membuat Arion dan Erick gemas. Sedangkan Matteo tampak selalu kesal saat bertemu dengan gadis bar-bar itu.
“Hei gadis, apa kau tidak lelah mengejar laki-laki batu ini?” tanya Erick yang membuat Matteo mendelik padanya. Sedangkan Mattea, Stella dan Ana terkekeh mendengar perkataan pria itu.
“Lelah? Lelah untuk apa? Aku tidak lelah untuk mengejar kebahagiaanku.” manik tulus itu membuat Arion dan Erick kagum.
Kedua laki-laki itu tau bagaimana perjuangan Ana saat mengejar Matteo. Laki-laki yang bahkan tidak melirik padanya sedikitpun.
“Bagaimana kalau kebahagiaanmu tidak bersama dengan pria kutub ini?” kini Mattea yang bertanya. Dia sudah menghabiskan makanannya, begitu pula Stella.
“Maka akan aku jadikan, diriku sebagai pusat kebahagiaannya!”
.
.
___
Saat akan pulang Mattea sudah di jemput oleh Thomas. Laki-laki itu selalu siap siaga jika itu menyangkut istrinya membuat cinta yang dimiliki oleh Mattea semakin besar untuk dirinya.
“Sayang....” saat dalam perjalanan pulang, Mattea memegang lengan Thomas yang sedang menyetir, membuat laki-laki itu menaikkan alisnya tanda bertanya.
“Bisa kita berhenti sebentar di depan supermarket itu?” mata memelas yang Mattea perlihatkan membuat Thomas tidak tahan untuk menolak.
“Mau beli apa sayang?” Mattea yang sedang melepas setbel itu menoleh pada sang suami yang masih setia dengan duduknya di kursi kemudi.
“Aku mau es krim.” jawab Mattea dengan suara yang berbinar.
“Hah? Es krim?” tanya Thomas heran.
“Iya, aku ingin itu. Tunggu saja disini, aku tidak akan lama.” Thomas mengangguk mendengar perkataan istrinya itu. Dia menatap Mattea yang membuka pintu mobil, lalu berlari kecil menuju pintu masuk supermarket itu.
Cukup lama Thomas menunggu, hingga orang yang ditunggu itu keluar dengan cemberut. Melihat istrinya yang cemberut seperti itu membuat Thomas kaget, lalu cepat-cepat keluar dari dalam mobil.
“Kenapa sayang?” tanya Thomas mendekat, sedangkan Mattea langsung menangis kencang melihat Thomas mendekat padanya.
“Aku tidak punya uang untuk membayar es krimnya. Mereka tidak memperbolehkan aku beli es krim itu, huuaaaaaa....” Mattea menangis didalam pelukan Thomas membuat laki-laki itu bingung. Apa katanya? Tidak punya uang?
“Hah?”
“Sayang ... Aku tidak punya uang ....” rengek Mattea dengan mengusap ingusnya yang keluar dengan menggunakan baju Thomas membuat laki-laki itu langsung membelalak kaget.
“Astaga ... Sayang, ada tisu di dalam!” Thomas sedikit menaikkan suaranya saat berkata seperti itu pada Mattea, membuat wanita itu menatapnya dengan manik yang berkaca-kaca.
“Kau memarahi aku Uncle?” tanyanya dengan wajah sendu membuat Thomas langsung merasa bersalah. Istrinya benar-benar aneh hari ini.
“Eh?”
“Huuaa... Daddyyyyy....” Mattea berteriak lalu berlari masuk kedalam mobil Thomas, duduk di kursi kemudi. Membuat laki-laki yang menjadi suaminya itu berdiri bingung.
“BYE!”
“Eh? Mattea ... Sayang, astaga! Kenapa dia itu? Kenapa aku di tinggal begitu saja?! ****!” Thomas mantap nyalang mobilnya yang sudah dibawa kabur oleh sang istri. Laki-laki itu mengusap rambutnya kasar, dan berdecak kesal.
Thomas merogoh ponsel yang ada dalam saku celananya. Dia menghubungi Nicko.
“Nick, jemput aku!”
.
____
“Apa sebaiknya ketua membelikan es krim itu? Mungkin saja nona muda masih menginginkan es krim nanti!” Nicko yang baru saja turun dari dalam mobil, mengingatkan Thomas. Dia masih tidak menyangka, kenapa nona mudanya seperti ini. Kalau dia tidak memiliki uang, kenapa tidak mengatakan pada Thomas? Bukankah laki-laki itu suaminya?
“Ah iya, kau benar!” Thomas membenarkan perkataan Nicko, membuat laki-laki itu mengangguk.
Thomas berjalan masuk kedalam supermarket yang tadi dimasuki oleh Mattea. Matanya menatap banyak varian es krim dalam kotak pendingin itu.
Dia bingung, mau membelikan Mattea yang mana. Harusnya dia ikut ketika wanita itu masuk untuk membeli es krim itu tadi. Dan pasti dia tidak akan mengalami hal yang seperti ini.
“Aku mau semua es krim itu! Kau bawa ke mansion. Aku tidak tau rasa apa yang diinginkannya oleh gadis kecilku itu!” akhirnya Thomas memutuskan untuk memborong semua es krim itu, sedangkan Nicko yang mendengarnya hanya menganggukkan kepala saja.
“Baik ketua!”
Thomas menunggu di mobil ketika Nicko masih berada di dalam supermarket untuk menyelesaikan pembayaran es krim yang dia borong tadi.
Laki-laki itu masih berfikir, kenapa hanya gara-gara es krim, semuanya jadi ribet seperti ini.
“Huh....” Nicko duduk di kursi kemudi, lalu menjalankan mobilnya membelah jalanan kota Frankfurt.
“Aku sudah menyuruh pihak supermarket itu untuk mengantarkan ke mansion ketua!” Thomas hanya menganggukkan kepala mendengar perkataan Nicko.
.
____
“Sayang....” Thomas masuk kedalam kamar yang dia tempati bersama dengan Mattea. Matanya menatap ke sekeliling kamar, tapi tidak ada wanita cantik itu disana. Dia juga berjalan menuju balkon, tapi tidak ada.
“Kemana dia? Bukankah mobil yang dibawa Mattea tadi sudah ada di garasi?” Thomas berjalan menuju kamar mandi, juga tidak ada Mattea disana. Tas gadis itu ada di dalam walk in closed membuat Thomas mendesah lega.
Laki-laki tampan yang dewasa itu kembali berjalan menuju lantai dasar. Tadi sewaktu dia turun dari mobil Nicko, laki-laki itu langsung berlari menaiki tangga menuju kamar mereka, dan ternyata sang istri tidak ada disana.
Thomas mencari ke setiap sudut ruangan tapi masih tidak ada, hingga dia berjalan menuju dapur, dan mendengar suara tawa Mattea disana, dan laki-laki itu langsung menghembuskan nafas lega saat melihat wanita yang membuatnya cemas itu sedang tertawa bersama dengan pelayan.
“Sayang?” Thomas berdiri di ujung meja makan menatap Mattea yang sedang menikmati es krimnya dengan lahap. Bahu pria itu rasanya mau merosot saat melihat tatapan tak berdosa yang dilayangkan oleh sang istri.
“Sayang? Sudah pulang?” Mattea berdiri dan mengangkat cup es krim yang sedang dia nikmati itu, lalu mendekat pada Thomas dah mengecup singkat pipi pria itu.
“Kemana saja sih? Aku rindu?” suara manja yang mendayu itu membuat Thomas rasanya ingin sekali terbang dari sana. Bukankah tadi, wanita yang ada di depannya ini yang meninggalkan dirinya di depan supermarket sendiri? Dan sekarang, lihatlah tatapan tak berdosa itu, seakan membuat Thomas rasanya ingin sekali mengangkat tubuh mungil itu lalu membawanya ke kamar mereka. Eh?
“HAH?”
“Kenapa lama sekali?” bibir yang mengerucut lucu itu membuat Thomas heran.
“Bukanya kau yang meninggalkan aku di supermarket tadi sayang?” geraman tertahan dari suara Thomas membuat Mattea mendongak dengan mata yang berkaca-kaca.
“Kau ... Kau mau memarahi aku?” manik gelap itu menatap Thomas dengan pedih, membuat laki-laki itu kalang kabut.
“Ti—tidak sayang ... Bukan seperti itu!” melihat muka Mattea yang semakin memerah membuat Thomas semakin bingung. Sedangkan para pelayan yang melihat kedua suami istri itu hanya tersenyum.
“Sayang ... Bukan seperti itu, aku tidak marah! Astaga.”
“Sayang ... Kau tidak mencintai aku lagi ya?”
“Haaahhhh? Ya tuhan, kenapa ini?”
.
.
____
Setelah season ini end, aku bakal fokus ke Matt and Ana. Mungkin mulai bulan depan.😷