
“Wah benarkah? Apa saat ini nona muda sedang mengidam?”
Pertanyaan yang secara spontan di tanyakan oleh dokter Patricia sontak membuat Mattea maupun Thomas terdiam.
“Eh?” reaksi seperti orang cengo yang di tunjukkan oleh Thomas membuat dokter Patricia tersenyum.
“Saya hanya berpikir, kalau nona muda sedang mengidam. Karena melihat bentuk tubuhnya juga sedikit berubah.” masih dengan senyuman, Patricia menatap kedua orang yang terdiam itu.
“Be—benarkah? Apa perubahan sikap Mattea beberapa hari hari ini, juga ada sangkut-pautnya dengan ini?” Thomas bertanya dengan penasaran. Dia menatap pada Mattea yang hanya diam. Wanita itu tampak seperti berpikir.
“Sayang, aku ingat. Aku sudah telat datang bulan tiga Minggu ini!” jawaban dari Mattea lantas membuat senyuman sumringah terbit dari kedua sudut bibir sang suami.
Thomas menatap pada Patricia.
“Apa kau bisa memeriksanya dokter?” Patricia mengangguk mendengar perkataan Thomas. Dia ikut tersenyum melihat dua pasang orang yang ada didepannya ini.
“Tapi apa aku boleh pesan makanan sekarang? Aku lapar.” Thomas lantas tertawa mendengar perkataan dokter sekaligus mantan kekasihnya itu.
“Tentu, kami akan menunggu. Kita ke rumah sakit bersama!”
.
.
***
.
.
Mattea turun dari dalam mobil yang di bawa oleh laki-laki yang berstatus suaminya itu, diikuti oleh Thomas setelahnya.
Tak lama, mobil Patricia juga tampak mendekat dan parkir di sebelah mobil Thomas. Dokter paruh baya itu keluar dari dalam mobil miliknya.
“Ayo!” Mattea dan Thomas mengekor dari belakang.
Thomas dan juga Mattea di sambut hangat oleh dokter dan juga perawat yang ada di rumah sakit itu. Thomas berhenti di bagian resepsionis.
Setelah mendaftarkan Mattea pada bagian obgyn mereka langsung di antarkan menuju ruangan Patricia tanpa menunggu lama.
Patricia menunggu kedua pasangan itu dengan tersenyum. Dokter kandungan yang membantu Stef melahirkan itu, mempersilahkan Mattea dan juga Thomas untuk duduk di kursi
Dokter Patricia mulai bertanya-tanya kepada Mattea, dan di jawab oleh wanita itu.
Lalu dokter Patricia mengarahkan Mattea pada ruang yang masih berada dalam ruangannya. Ruangan itu di batasi sekat menggunakan gorden.
Disana ada peralatan lengkap yang berhubungan dengan seputar kehamilan.
Mattea berbaring di atas brangkar. Dia menatap Thomas dengan harap cemas. Kedua matanya tampak sangat berharap. Semoga saat ini memang ada seorang nyawa dalam perutnya.
Dokter Patricia mengoleskan gel pada permukaan kulit perut Mattea. Kulit putih mulus itu di tempeli semacam alat yang langsung terhubung dengan monitor.
“Ah, benarkan dugaanku.” Dokter Patricia menatap Mattea dan Thomas tersenyum.
“Kalian lihat, titik kecil sebesar biji kacang itu?” Thomas mengangguk lebih dulu diikuti oleh Mattea yang sedang tersenyum haru.
“Itu calon anak kalian. Usianya baru tiga Minggu. Dan dia juga sehat.” dokter Patricia mengambil tissue dan membersihkan gel yang tadi dia gunakan pada permukaan kulit perut Mattea.
Wanita muda yang baru saja mendapatkan kejutan dengan mengetahui kalau dirinya hamil itu di bantu duduk oleh sang suami.
Thomas memeluk Mattea dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
“Terima kasih sayang, terimakasih. Aku sangat mencintaimu!”
.
***
.
Thomas memutuskan untuk tidak kembali ke kantor. Selama dalam perjalanan pulang, laki-laki itu terus memegang tangan Mattea dengan senyuman yang selalu mengembang di bibirnya yang sensual.
Thomas menatap Mattea dengan tatapan yang penuh dengan rasa syukur. Mobil Maserati hitam itu, berhenti di halaman besar mansion. Thomas menghentikannya begitu saja, tanpa membawanya ke garasi besar milik Alexander.
Thomas membukakan pintu mobil untuk Mattea, wanita itu tersenyum dengan semua perlakuan yang diberikan oleh suaminya.
Tatapan penuh cinta dan kebahagiaan itu, membuat Mattea seperti wanita paling bahagia di dunia ini.
“Jack, simpan mobilku!” seorang laki-laki berpakaian hitam, dengan wajah sangar dan berbadan besar mendekat kepada Thomas, dan menerima kunci mobil yang diberikan oleh laki-laki yang menjadi tuannya itu, kepada dirinya.
Jack masuk kedalam mobil, dan membawa mobil Thomas menuju garasi yang ada di samping mansion.
Sedangkan Thomas, laki-laki itu melingkarkan tangannya di pinggang Mattea, dan membawa perempuan itu berjalan menuju pintu utama.
Pintu terbuka, dan Marko menyambut kedua orang itu dengan menundukkan kepalanya.
“Apa kau mau makan lagi, Sayang?” Thomas menatap Mattea yang berjalan di sampingnya.
“Tidak, aku mau istirahat. Aku sangat mengantuk!” Mattea menguap. Dia berjalan menuju tangga yang mengarah ke kamarnya. Sedangkan Thomas mengekor dari belakang.
“Mengantuk? Bukankah kau baru bangun tadi, setelah cukup lama tidur di kamar yang ada di ruanganku?” Thomas mengatakan itu dengan heran. Ini baru beberapa jam, dan dia— sudah mengantuk lagi?
Mattea masuk kedalam kamar besar itu.
“Hemm, tapi aku sudah merasa mengantuk lagi!” jawab Mattea apa adanya. Mulutnya kembali menguap menandakan kalau dia benar-benar mengantuk.
Mattea membaringkan tubuhnya ke atas ranjang, setelah sebelumnya dia membuka sepatu dan meletakkan tas yang dia pakai.
Thomas hanya menghela nafas melihat perlakuan istrinya itu.
Dia mengingat saat tadi Patricia menjelaskan tentang ibu hamil padanya.
“Kau harus selalu bersabar saat menghadapi ibu hamil Thom. Apalagi ini baru trimester pertama. Mattea masih menyesuaikan dirinya atas hormon tubuhnya yang berubah. Dia akan sering mengalami perubahan mood. Oh iya, apa beberapa hari terakhir ini dia mengalami gejala morning sicknes?”
Kedua pasangan yang baru mau memiliki bayi itu, sontak menggelengkan kepalanya.
“Tidak Patrick. Dia tidak mual sedikitpun!”
“Benarkah?” dokter Patricia menatap berbinar.
“Iya, tapi sikap dan emosionalnya berubah-ubah. Apa itu pengaruh dari kehamilan ini juga?”
Patricia mengangguk mendengar perkataan Thomas.
“Iya, itu karena perubahan hormon yang terjadi pada dirinya.”
Thomas menghela nafas saat pembicaraan tadi teringat di kepalanya. Dia menatap Mattea yang sudah mulai memejamkan mata. Secepat itu, dia tertidur? Thomas menggelengkan kepalanya menatap Mattea terkekeh.
Thomas naik ke atas ranjang, lalu mendekatkan tubuhnya pada Mattea. Dia menatap wajah istrinya lama. Menatap manik gelap yang biasanya selalu melihatnya dengan penuh cinta. Memperhatikan hidung mancung mungil itu, dan jangan lupakan, bibir tipis menggoda yang kini sedang menyunggingkan senyumannya walau dalam keadaan terpejam sekalipun.
Mungkinkah wanita itu kini sedang bermimpi?
“Aku mencintaimu melebihi apapun sayang.” satu kecupan mendarat pada bibir tipis sang wanita.
.
***
.
Saat warna kemerahan menghiasi langit sore, Mattea berjalan menuruni tangga mansion dengan cepat. Dia berjalan menuju dapur.
Kakinya yang lincah, kini berjalan menuju lemari es besar yang berdiri tegak di dapur bersih.
Mattea membuka tempat makanan dingin itu, lalu menarik sebuah cup es krim dari sana.
Es krim yang kemarin di borong Thomas itu membuat senyuman Mattea tampak semakin lebar.
Wanita itu duduk di kursi meja makan dengan para pelayan yang sedang bekerja memasak makan malam.
“Apa tidak apa-apa, nona muda memakan es krim sebanyak itu?” pelayan wanita itu menatap Mattea yang hanya tersenyum.
“Tidak apa-apa bibi. Aku sangat menyukai ini!” bibi pelayan itu hanya menganggukkan kepalanya pasrah. Dia kembali bekerja dan berjalan menuju dapur kotor.
“Aku merasa, nona muda seperti seorang wanita hamil!” suara seorang pelayan yang lainnya membuat bibi pelayan yang tadi menghampiri Mattea menatapnya.
“Kenapa kau berpikir seperti itu?” tanya bibi yang bernama Ella itu pada temannya Jeani.
“Aku memperhatikan sikap nona muda sedikit berubah. Apalagi waktu dia menangis dan merajuk pada tuan Thomas.” Ella mengangguk mendengar perkataan Jeani.
“Semoga benar, nona muda sedang hamil. Aku sangat menantikan itu!” ucapan Ella di angguki oleh Jeani. Kedua wanita itu kembali melanjutkan pekerjaannya.
***
Thomas berjalan menuruni tangga, tanpa aba-aba dia berjalan menuju dapur, dan menggelengkan kepalanya melihat Mattea yang sedang lahap memakan es krimnya yang tinggal sedikit.
“Apa kau tidak mau membaginya padaku sedikit sayang?” melihat Thomas yang tiba-tiba berdiri di dekatnya membuat Mattea menoleh.
“Kenapa memanggilku Uncle lagi, sih, sayang?” Thomas duduk di samping Mattea. Wanita itu langsung menyembunyikan cup es krimnya.
“Tidak apa-apa! Aku hanya suka saja, memanggil seperti itu!” Thomas hanya menghela nafas. Terserah bumil saja lah. Dia akan mengiyakan saja, daripada nanti dia bikin masalah?
“Kalau begitu, bagi es krimnya sayang.” Mattea langsung menggelengkan kepalanya.
“No, beli sendiri sana.”
“Aku bisa mengambilnya didalam lemari es!” Mattea menatap Thomas tajam.
“Tidak boleh! Semua itu milikku! Jadi Uncle tidak boleh mengambilnya, awas saja! Lagipula itu pemberian Nicko, aku tidak mau membaginya!”
“Sayang, aku yang menyuruh Nicko membelikan es krim itu untukmu. Lagipula aku ini suamimu sayang!” nada memelas itu tidak dihiraukan oleh Mattea. Wanita itu masih tampak melayangkan tatapan tajamnya membuat Thomas mengurungkan niatnya untuk mengambil es krim yang dia beli. Ingat, dia beli bukan Nicko!
“Tidak mau, pokoknya tidak boleh. Dan juga, aku sekarang mau bertemu dengan paman Nicko, panggil dia kesini!” nada memerintah khas seorang Maxim itu keluar dari seorang Mattea.
“Buat apa sayang? Lagipula dia saat ini sedang sibuk. Aku meninggalkan perusahaan dan tidak kembali lagi tadi, kesana!”
“Hiks... Aku hanya mau bertemu paman Nicko. Kau tidak mau melakukannya untukku? Kau tidak sayang aku lagi Uncle! Hiks...” Mattea menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Thomas yang melihat hal itu langsung kaget.
“Astaga sayang, bukan seperti itu. Baiklah baiklah, aku akan memanggil Nicko kemari. Jangan menangis lagi sayang. Aku menghubunginya sekarang!”
Thomas berjalan menuju telepon rumah yang ada di meja dekat dengan lemari kaca berwarna emas yang ada di sana.
Dia menggunakan telepon rumah karena Thomas tidak membawa ponselnya yang terletak di kamar.
“Halo....”
“Nick, datang ke mansion besar sekarang.” nada memerintah itu membuat Nick yang berada diseberang sana mengernyit.
“Untuk apa ketua?” tanya Nicko heran.
“Lakukan saja apa yang aku perintahkan! Jangan membantah!” nada tegas itu, mau tak mau membuat Nicko mengangguk. Dan mengiyakan perkataan Thomas.
Setelah sambungan telepon itu di putuskan, Thomas kembali menghadap Mattea yang kini sudah selesai memakan es krimnya. Wanita itu duduk dengan menopang dagu.
Suara mobil yang berhenti didepan mansion menarik perhatian Mattea. Wanita itu berjalan mendekat pada pintu utama. Disana, sudah ada Max dan Stef yang berjalan masuk kedalam mansion yang sudah disambut oleh Marko.
“Hei princess,” Mattea memeluk Daddy-nya dengan erat secara tiba-tiba membuat laki-laki yang menjadi ayahnya itu kaget, begitupula dengan Stef. Kedua orangtua itu menatap anak perempuan mereka dengan menggelengkan kepalanya.
“Wah, sang putri saat ini dalam mode manja.” Mattea cemberut mendengar perkataan Max. Tapi tetap tak melepaskan pelukannya.
“Apa hanya Daddy saja? Mommy tidak mendapatkan pelukan?” Mattea langsung beralih memeluk Stef, membuat kedua laki-laki yang berdiri disana terkekeh.
Kedua orang ibu dan anak itu berpelukan cukup lama. Masih dalam keadaan berdiri disana.
Kini saat mereka masih berada di dekat pintu utama mansion, terdengar suara mobil mendekat dan berhenti di depan rumah besar itu. Tak lama, pintu di buka oleh Marko dan berdirilah Nicko disana.
Laki-laki itu melangkahkan kakinya dengan tegap lalu berjalan mendekat sembari menunduk hormat pada keempat orang yang dia hormati itu.
“Cepat sekali kau sampai Nick?!” Nicko menunjukkan senyum tipisnya karena mendengar pertanyaan Thomas.
“Kebetulan tadi saya sedang dalam perjalanan pulang Ketua. Jadi tidak butuh waktu lama untuk sampai disini, karena jalannya searah.”
Thomas mengangguk mendengar perkataan Nicko.
Setelah itu, Mattea melepaskan pelukannya dari Stef, lalu memeluk Nicko dengan erat membuat mereka semua yang ada disana melihat dengan kaget terkecuali Thomas yang sudah menyiapkan mental sebelumnya.
“Maaf nona. Ada apa? No—” Nicko terdiam saat melihat Thomas yang meletakkan jarinya di mulut seakan mengatakan kalau Nicko dilarang banyak bicara.
Max dan Stef menatap Mattea heran.
Dan setelah itu, mereka mendengar suara tangis Mattea dari dalam pelukan Nicko, membuat laki-laki itu kelabakan.
“Nona? Maaf, apa saya melukai nona? Nona—”
“Sayang....” Thomas menarik Mattea dari dalam pelukan Nicko dengan hati-hati.
“Kenapa sayang? Apa yang membuatmu menangis?” Nicko menatap mereka yang ada disana dengan takut. Dia tidak tau apa yang terjadi dengan Mattea. Dan juga dia tidak tau kenapa wanita itu menangis saat dalam pelukannya.
“No....” Mattea menggelengkan kepalanya membuat Nicko lega. Dia mengusap ingusnya dengan baju tanpa rasa malu.
“Lalu kenapa kau menangis sayang?” Stef bertanya pada anak perempuannya dengan lembut.
“Mom, paman Nicko, sangat wangi. Aku mau wangi seperti dia mom.”
“APA?!”
***
Kini kelima orang itu sedang duduk di sofa ruang keluarga. Max dan Stef tak henti-hentinya tersenyum dan mengucapkan syukur saat Thomas dan Mattea mengatakan kalau sang tuan putri satu-satunya itu sedang mengandung.
Stef memeluk Mattea beberapa kali, dan juga mencium puncak kepala wanita itu.
“Selamat untukmu sayang, semoga calon cucu Mommy, sehat selalu. Kau tidak boleh capek-capek sayang!” Mattea hanya menganggukkan kepalanya saat mendengar perkataan Stef. Lalu wanita itu melepaskan pelukan Stef, dan duduk mendekat pada Nicko.
“Nona muda? No—nona....” Nicko tak dapat berbuat banyak saat Mattea kembali memeluknya.
“Itu keinginan bayinya Nick, kau sabarlah!” walaupun kesal tapi Thomas tetap berusaha bersabar.
Dia kesal karena Mattea lebih menyukai aroma orang lain daripada dirinya sendiri.
“Hohoho, ada apa ini? Hei, princess. Kenapa kau memeluk paman Nick, seperti itu?” Matteo yang tiba-tiba sudah berada di dalam mansion mendekat pada Mattea.
“Diam kau!” cemberut Mattea. Sedangkan laki-laki itu terkekeh dan melihat ke arah Thomas yang sedang tersenyum masam.
“Lihatlah wajah suamimu Atea, Uncle Thomas harus banyak bersabar ya, kalau menghadapi wanita bar-bar seperti dia!”
Mengucapkan kata bar-bar membuat Matteo teringat pada gadis kecilnya yang sedikit berubah, membuat senyuman menghilang.
“Kurang ajar kau! Aku tidak bar-bar!” Mattea bangkit, dan melemparkan bantal sofa pada Matt membuat Nicko menghembuskan nafas lega. Laki-laki itu sedari tadi menahan nafasnya saat wanita yang dicintai oleh ketuanya itu memeluk dirinya dengan erat.
.
**
.
Makan malam telah usai. Semua orang mengucapkan syukur atas kehamilan Mattea saat ini. Wanita itu sangat bahagia, karena dikelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayangi dirinya.
Mattea merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Diikuti oleh Thomas yang mendekap erat tubuhnya.
Mattea menghadap Thomas. Wajah mereka yang hampir bersentuhan itu membuat Mattea tersenyum begitu juga dengan Thomas.
“Aku sangat bahagia sayang.” mata tajam itu benar-benar menunjukkan binar bahagia. Thomas mengatakan dengan binar kebahagiaan yang tidak pernah padam dimatanya. Kejutan yang diberikan oleh Mattea sungguh membuatnya sangat bahagia.
“Terimakasih, Sayang. Karena kau sudah mau untuk mengandung anakku. Terimakasih karena kau sudah mau mencintai aku setulus ini. Aku sangat bahagia karena mendapatkan wanita sesempurna dirimu Sayang. Terimakasih ... Terimakasih Sayang....”
Thomas mendaratkan ciuman bertubi-tubi di kening, pipi, dan terakhir bibir wanita itu.
Mattea tersenyum melihat Thomas yang menatapnya dengan penuh cinta. Wanita itu sangat bahagia karena bisa memiliki Thomas.
Dulu, sebelum dia bisa menaklukkan laki-laki dingin di depannya ini, Mattea selalu berharap kalau Tuhan mau untuk mengabulkan do'anya.
Dia berdoa kalau Thomas mau meliriknya sebagai wanita dewasa. Sebagai wanita yang sebenarnya, bukan gadis kecil yang selalu merengek perhatiannya.
“Aku yang berterimakasih padamu sayang. Karena kau sudah mau menerima aku dengan semua kelabilan ku ini, dengan semua kekurangan yang aku miliki. Kau tau, aku merasa seperti wanita yang paling bahagia di dunia saat ini. Aku sangat mencintaimu, dan akan selalu mencintaimu!”
Thomas terharu mendengar kata-kata istrinya. Laki-laki itu memberikan ciuman di bibir Mattea, lalu dia membuat jarak hingga kepalanya mendekat pada perut Mattea.
“Holla Baby. Bagaimana kabarmu? Cepatlah besar dan tumbuh dalam perut Mommy. Kami semua yang menyayangi menantikan hari kau lahir. Jadi, tumbuhlah jadi janin yang kuat dan sehat. We love you!”
Mattea terharu saat Thomas mengecup perutnya yang masih rata. Lama laki-laki itu mengecupnya, dan setelah itu dia mendekat pada Mattea.
“Aku mencintaimu Mattea, sangat! Dan akan selalu mencintaimu!”
“Begitupula denganku!”
*End.......
🤣
Gatau ding.
Maap keun diriku ini, kalau punya banyak salah ya kawan-kawan semua. Maap juga kalau ceritanya menurut kalian kurang bagus, dan endingnya yang seperti ini.
Ente semua kan tau, kalau akutuh, tipe orang yang ga mau banyak konflik dan berbelit-belit 🥴Aku maunya, chapter-nya dikit aja. Males kalo pake Pelakor-pelakoran segala.
*
**Und los geht's, die MatteNa-Geschichte.
Hoffe euch allen gefällt diese Geschichte.
Ich liebe Sie alle. Ich liebe dich. Mwwwaaahhhh😚😚***