My Devils Husband

My Devils Husband
63. Menunggu pulang



Stef menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Dia menatap langit-langit kamar. Max belum tampak batang hidungnya. Dia yakin, kalau saat ini suaminya itu sedang berada di kantor.


Karena, kalau Stef perhatikan, akhir-akhir ini tampak ada yang sedikit berbeda dengan Max. Dan Stef tahu, kalau kini ada suatu masalah yang sedang dihadapi oleh suaminya itu.


Stef bangkit untuk menuju kedalam kamar mandi. Untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai berdandan Stef keluar dari kamar. Dia menuju ke dapur. Dia sana dia melihat kepala koki sedang bersiap untuk memasak makan malam.


“Ada yang bisa saya bantu Nyonya?” tanya Kenzo pada majikannya itu.


“Kau mau memasak apa untuk makan malam?” tanya Stef duduk di kursi yang ada didekat meja di dapur. Kenzo terlihat berfikir sejenak.


“Saya berencana untuk memasak stek, Falshcer hase, apfelstrudle.” Kenzo mengatakan makanan yang akan dia masak.


“Kenapa banyak sekali?” tanya Stef heran.


“Tadi Tuan Max, menghubungi saya. Katanya dia mau memakan semua makanan itu Nyonya. Atau mungkin Nyonya ingin sesuatu yang lain?” tanya Kenzo. Stef langsung menggelengkan kepalanya tanda tidak menginginkan apapun lagi.


“Baiklah Nyonya, saya permisi untuk memasak dulu.” ujar Kenzo pamit untuk segera memulai kegiatan memasaknya.


“Aku akan membantumu.” ujar Stef yang langsung membuat Kenzo melotot kaget.


“Haha, jangan Nyonya. Saya masih sayang dengan nyawa saya dan juga pekerjaan saya. Jadi sebaiknya Nyonya menunggu saja. Biar saya yang memasak semuanya.” ujar Kenzo dengan tawa yang sedikit dipaksakan. Bagaimanapun juga dia masih ingin bekerja disini karena Max menggajinya sangat besar untuk menyiapkan segala jenis makanan yang di hidangkan di mansion besar ini.


Dan jika dia membiarkan Stef untuk ikut membantu dia memasak, pastinya Max akan marah nanti. Dan Kenzo tidak ingin itu terjadi.


“Aih... Kau tenang saja. Pasti Max tidak akan marah, karena dia pasti akan senang kalau aku yang memasakkan makan malam untuk dirinya.” ujar Stef yang masih kekeh dengan apa yang diinginkannya itu. Tapi tetap saja Kenzo menggeleng.


“Maaf Nyonya, tapi sebaiknya saya sendiri lah yang nanti mendengarkan izin yang keluar dari mulut tuan Max, karena saya tidak ingin mengambil resiko.” ujar Kenzo dengan menjawab sedikit takut.


“Aih, ini menyebalkan. Baiklah baiklah, aku akan melihat dari sini saja. Kau cepat selesaikan masakanmu.” ujar Stef menumpukan tangannya ke pipi. Dia memperhatikan Kenzo yang dengan sangat piawai memasak masakannya.


Karena terlalu bosan menunggu, akhirnya Stef memutuskan untuk pindah menuju ruang keluarga. Dia duduk di sofa yang ada disana dan menyalakan televisi.


Merogoh pada kantung celananya, Stef mengeluarkan ponsel dari sana. Dia melihat pada layar ponselnya dan tidak ada notifikasi disana. “Apa kau benar-benar sibuk Max?” batin Stef kesal karena tidak mendapatkan pesan singkat dari Max.


Entah film apa yang ditonton oleh wanita itu, dia pun tidak terlalu memperhatikannya karena sedari tadi dia hanya berbaring saja dan memainkan ponselnya.


★*★


Pelayan di rumah Max tidak berani untuk membangunkan Stef yang terlelap di sofa karena menunggu suaminya itu. Mereka saling pandang, takut jika nanti mereka mengganggu tidur Stef.


“Selamat datang Tuan.” para pelayan menyambut kedatangan Max.


“Dimana Stef?” tanya Max berdiri didepan mereka. Kepala pelayan yang ada disana menjawab.


“Nyonya tertidur di sofa tuan.” jawabnya.


Max berjalan menuju ruang keluarga, dia menatap pada sofa yang disana ada Stef yang sedang terlelap.


“Kenapa kalian membiarkan dia tidur di sofa?” tanya Max menatap mereka semua dengan tajam.


“Maaf Tuan, tadi saya melihat nyonya tidur dengan sangat nyenyak, dan saya tidak berani untuk membangunkan nyonya.” jawab kepala pelayan yang bernama Marko itu.


Max berjalan mendekat tanpa menjawab perkataan Marko, dia menatap pada Stef yang memang terlihat sangat nyenyak dalam tidurnya.


“Apa dia sudah makan malam?” tanya Max lagi. Marko menggeleng.


“Belum Tuan, tadi Nyonya menunggu tuan pulang,” ujar Marko jujur. Max menghela nafas.


“Dasar istriku keras kepala.” Max mencium kening Stef.


“Ya sudah, siapkan makan malam untuk David dan Thomas, aku akan membawa Stef ke kamar. Kalian makan duluan saja.” semua pelayan kembali bergegas untuk menyiapkan makan malam untuk David dan Thomas.


Sedangkan kini Max mengangkat Stef dengan hati-hati berjalan menuju kamar mereka.


“Kau semakin berat sayang.” ucap Max tersenyum. Karena dia merasa Stef lebih berat dari biasanya. Wajah istrinya itu terlihat lebih berisi saat ini.


Max meletakkan Stef dengan hati-hati di ranjang mereka. Istrinya itu menggeliat, tapi tetap melanjutkan tidurnya. Membuat Max semakin gemas dengan istri kecilnya itu.


Max berjalan menuju ke kamar mandi setelah tadi dia membuka sepatunya dan menggantinya dengan sandal kamar. Max membuka pakaiannya lalu berjalan menuju bathtub. Ia mengisi air hangat pada bathtub tersebut. Setelah dirasa cukup, ia masuk kedalamnya.


Max agak lama berendam, menenangkan pikirannya yang sedikit kacau saat ini.


Setelah cukup lama, akhirnya Max keluar dari dalam Bathtub. Ia menggunakan handuk sebatas pinggangnya lalu berjalan keluar dari kamar mandi menuju walk in closed yang ada disana. Max mengambil salah satu baju santai yang ada disana, dan mengenakannya. Setelah itu ia berjalan keluar dari kamar karena saat ini Stef masih terlelap indah, dan Max tidak ingin menganggu istrinya itu.


________