My Devils Husband

My Devils Husband
58. Kau kenapa Max?



Thomas kembali dengan satu kotak masker dengan bahan terbaik di tangannya, lalu meletakkan diatas meja Max. Dan tentu saja lelaki tampan pemilik manik gelap itu langsung membuka dan mengenakannya.


“Kau ini sebenarnya kenapa Max?” tanya David yang terlihat fokus pada laptopnya. Max menghembuskan nafas, lalu kembali mengetik sesuatu pada laptopnya, mengerjakan pekerjaan yang tentunya berkaitan dengan masalah yang terjadi pada perusahaannya.


“Entahlah, aku tidak tau! Yang jelas aku tidak suka bau kalian,” Max menjawab sembari tetap terus mengetik laptopnya. Thomas ikut duduk di dekat David dan juga memeriksa laptop yang juga ada disana.


“Aku rasa kau harus pergi ke dokter Max,” tutur David, Max mendelik. Sedangkan Thomas ikut membenarkan perkataan David.


“Aku tidak sakit, memang kalian saja yang bau!” balas Max.


“Terserah kau saja!” ucap David akhirnya.


“Sudah-sudah! Sebaiknya kita pikirkan solusi dari masalah ini!” ucap Thomas menengahi, David dan Max menganggukkan kepala mereka.


“Menurutmu, apa kita akan bisa mengatasi masalah ini?” tanya Thomas saat mengingat masalah yang kini di hadapi oleh perusahaan Alexander Corp. Max menatap Thomas, begitupula dengan David.


“Aku yakin kita pasti bisa, lagi pula merk mobil kita juga sudah mendunia, aku yakin ini pasti bisa kita stabilkan lagi.


“Aku juga berharap seperti itu, tapi ini bukan jumlah yang sedikit,” David ikut menyahuti, “Kita akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memperbaiki ini semua,” sambung David lagi. Thomas mengangguk, melirik Max yang fokus pada laptopnya.


“Kita tambah pegawai, dan juga mesin produksi. Aku juga ingin kau mencari tahu, kenapa semua ini bisa terjadi, Thomas. Karena selama ini barang produksi kita terjamin kualitasnya, dan tidak pernah bermasalah sedikitpun, aku jadi berpikir bahwa ada seseorang dibalik ini semua,” Thomas mengangguk dengan sigap menyanggupi ucapan Max, lalu mengambil ponselnya yang berada disaku celananya lalu menekan nomor ponsel seseorang dan beranjak dari sana.


“Max, kau yakin ada seseorang yang merusak alat produksi kita?” tanya David yang mengalihkan pandangannya dari laptop yang ada didepannya. Max memijit pangkal hidungnya merasa bahwa dia juga bingung dengan masalah yang terjadi ini, tapi hati kecilnya memang berkata seperti itu.


“Aku tidak tau, tapi jika memang ini sampai terjadi, aku tidak akan pernah mengampuninya.” Max berkata dengan serius


“Kau katakan pada Bianca untuk menyuruh staf kantor untuk berkumpul, aku akan mengumumkan sesuatu yang penting,” David terdiam, lalu menatap Max heran.


“Kenapa harus aku? Bukankah kau Bos-nya?” Max mendelik.


“Lakukan saja, aku kurang suka padanya. Tanyakan pada Thomas! kenapa dia menerima wanita itu,” David berdecih, membuat Max menggedikkan bahunya.


“Dia menyukaimu,” Max terbahak membuat David mendelik.


“Memangnya siapa yang tidak akan menyukaiku? Jika kau jadi wanita kau pasti juga akan menyukai aku,” David berdecih, lalu berdiri meninggalkan Max yang terbahak.


“Aku menyesal mengatakan itu Max,” David keluar dan mengatakan apa yang disuruh oleh Max tadi.



Max pulang ke Mansionnya cukup larut, masalah yang terjadi benar-benar menguras pikiran juga tenaganya. Ia tidak habis pikir, kenapa masalah ini bisa terjadi, tubuhnya benar-benar sangat lelah.


Lie dan Jhon berada di apartemen, sedangkan Stef berada di Mansion suaminya bersama dengan Masseria dan juga Lucky.


Lampu ruangan tengah sudah dimatikan, pertanda semua orang sudah berada didalam kamar masing-masing. Max memijit pangkal hidungnya, lalu menaiki tangga untuk sampai dikamar dia dengan Stef.


Ceklek ..


Max membuka pintu kamar dengan pelan, melihat apakah Stef sudah tidur atau belum. Ternyata istrinya itu memang sudah tidur.


Max berjalan menuju ka tempat tidur lalu menyelimuti Stef yang selimutnya sudah tampak tidak berdaya dikakinya.


Max menyambar handuk yang berada didalam walk in closed, dan masuk kedalam kamar mandi, melepaskan pakaiannya lalu mengisi bathtub dengan air hangat dan masuk kedalamnya. Merilekskan tubuhnya dengan aroma Mawar dari sabun yang dia gunakan.


Max menyandarkan tubuhnya di tepian dinding bathtub, dan memejamkan matanya.


Stef menggeliat dalam tidurnya, lalu membuka mata. Melihat jam yang tergantung di dinding kamar, dan ia merasakan bahwa ruang yang ada disampingnya kosong, pertanda Max tidak ada disana. Stef merasa sesak, lalu dia turun dari tempat tidur berjalan terburu-buru masuk kedalam kamar mandi yang kebetulan tidak dikunci oleh Max.


“Aakkhhh,” Stef terkejut melihat Max yang tertidur disana, sesak yang tadi dia rasakan seketika hilang. Akibat teriakan Stef, Max akhirnya terbangun dan terkejut.


“Astaga sayang,” Max berdiri, sedangkan Stef yang melihat Max berdiri dengan tubuh polosnya kembali menjerit.


“Akkhhh, tutupi Max, astaga kau ini, tutupi!” Max tergelak, lalu membilas tubuhnya dengan air shower. Lelah yang tadi dia rasakan kini hilang berganti semangat untuk menjahili istrinya ini.


“Kau yakin, tidak mau melihatnya?” tanya Max menggoda, Stef membuka matanya sedikit mengintip Max yang sudah melilitkan handuk di tubuhnya menutupi area privasinya.


“Kau! Keluar sana, aku ingin buang air kecil!” Stef bicara tegas, menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah, padahal dia melihat itu setiap hari, tapi tetap saja dia merasa malu.


“Yakin? Apa kau tidak mau mencobanya dulu?” tanya Max lagi. Stef memukul tangan Max lalu mendorong lelaki itu keluar dari kamar mandi. Max tergelak lalu berjalan keluar dan memakai pakaiannya


“Aku menunggumu keluar sayang,” teriak Max yang kembali membuat Stef memegang dadanya dengan wajah yang memerah.


.


.


.


.


.


Selamat hari raya Idul Fitri, Mohon maaf lahir dan batin ya Readers semua🥰. Maafin kalau author ada salah-salah kata sama kalian semua🥺🤧


Author juga manusia biasa yang punya khilaf😗.


Jadi mohon di maafkan ya kalau ada salah satu kata dari ketikan jari author ini yang menyakiti kalian semua. Mohon maaf lahir batin🙏🙏


Buat yang gak bisa mudik, harap bersabar, ini ujian 😅


Semoga Pandemi Corona ini cepat pergi dan berlalu dari negara dan juga bumi tercinta kita ini. Aamiin. Dan kita semua selalu dalam kondisi yang baik, dan sehat-sehat saja.


Dan kita bisa berkumpul lagi dengan keluarga masing-masing 🥰 Aamiin.


Dan buat yang gak dapat THR, harap bersabar ini ujian😂kali aja kalian semua ada yang mau ngasih Author THR👉👈😗


Berharap boleh kan ya😂🤣 Asal jangan ngerapin yang gak mungkin terjadi, misalnya ngarepin dia yang udah pergi untuk kembali ke pelukan kita😂🤣


Udah, pokoknya intinya, Author minta maaf kalau ada salah, meskipun Author gak tau punya salah apa, pokoknya minta maaf aja dulu, kali aja ada dapat THR kan yak😂🤣


Salam Sayang EgaSri 🥰