
“Adik bayi?” beo Matt. Dia menatap Aletta heran.
“Iya, adik bayi seperti Mommy dan Daddy,” Matteo mengangkat alisnya. Lalu mengalihkan pandangannya pada Ana.
“Tanyakan itu pada Aunty Ana, Princess,” Aletta beralih menatap Ana. Sedangkan gadis itu hanya bisa menyengir, dan menatap Matt tajam.
“Kapan Aunty?” tanya Aletta.
“Kakak, Sayang, bukan Aunty.” Aletta mengerucut bibirnya.
“Kapan Kakak?” tanya Aletta lagi.
Max berdehem, David dan Aira menatap padanya, begitu pula dengan Stef. Setelah itu dia berdiri meninggalkan pembicaraan itu, membuat Ketiganya mengerti, lalu ikut berdiri meninggalkan kedua anak muda itu.
“Kakak?” tanya Aletta lagi.
“Nanti, Sayang. Setelah kami menikah,”
“Kapan kalian akan menikah?”
“Nanti.”
“Iya, aku tau nanti. Tapi nantinya kapan?”
“Iya nanti, Sayang,”
“Ah, sudahlah. Aku malas bicara dengan Aunty Ana.”
Aletta melipat tangannya di depan dada, lalu berjalan dengan angkuh menyusul Opa dan Oma nya.
Sedangkan Matt menatap pada Ana dengan serius.
“Apa?” tanya Ana ketus.
“Jadi, kapan kita akan punya adik bayi, An?”
“Jangan tertular Al, kak!”
“Aku serius, apa kita membuatnya sekarang saja?” Ana bergidik ngeri, lalu menatap Matt horor.
“Dasar mesum!”
Setelah itu Ana berlari menuju kamar tamu, tempat dimana kopernya di letakkan oleh para pelayan tadi. Sedangkan Matt hanya terkekeh geli, dia ikut berdiri dan berjalan menuju kamarnya sendiri di lantai atas.
...*****...
Matt sudah selesai mandi, tubuhnya serasa segar. Dia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, dan memejamkan mata. Sungguh, sebenarnya dia sangat lelah.
Mata Matt terpejam dengan sempurna. Alam mimpi menghampirinya.
Entah sudah berapa lama dia tertidur, tapi dia mendengar ada suara orang yang memanggilnya.
“Kak Matt, bangun ....”
Ana terus menggoyangkan tubuhnya Matt, berharap pemuda itu terbangun.
“Aish, dia ini kebo sekali, sih.” ujar Ana kesal.
“KAK MAATTT ....” Matt langsung terduduk kaget mendengar teriakkan itu.
Dia mengusap telinganya yang berdengung, lalu menatap pada gadis yang tampak tidak bersalah itu dengan kesal.
“Gendang telingaku, rasanya mau pecah, An!” ujar Matt. Sungguh, suara Ana tadi benar-benar membuatnya kesal, dan telinganya masih berdengung hingga sekarang.
“Lagi pula, kak Matt itu susah sekali di bangunkan!” ujar Ana. Dia bersidekap di depan Matt.
Matt meraih tangan Ana hingga membuat gadis itu terkejut, dan jatuh di atas tubuhnya.
“Kak Matt?” ujar Ana terkejut.
“Ada apa, An?” pintu kamar Matt yang terbuka secara tiba-tiba itu membuat keduanya kaget.
Dan Max juga Stef lebih kaget lagi.
“Ana? Kau mau memperkosa, Matt?” cicit Aira di belakang kedua orang tua Matt itu.
“Hah?” Ana langsung terkaget, dia gelagapan dengan wajah yang memerah, lalu bangkit dengan wajah yang memerah.
“Bu—bukan Mom, bukan seperti itu,” ujar Ana gugup, sedangkan Matt tampak santai saja.
“Apa kau mau mewujudkan permintaan Aletta tadi?” tanya David tajam. Ana menggeleng-gelengkan kepalanya cepat.
“Bukan seperti itu Dad, tadi itu tidak sengaja,” Ana berkeringat dingin, menatap Matt dengan tajam, seakan meminta bantuan.
“Apa?” tanya Matt dengan sok polos.
“Bilang pada mereka, aku tidak berbuat begitu!”
“Iya Aunty, Uncle, tadi Ana hampir saja memperkosa aku, untung saja kalian cepat datang,” Matt memperlihatkan wajah orang yang tertindas.
“Ana, aku tau kau sangat mencintai Matt, tapi tidak perlu begini juga, sampai kau harus memperkosanya!” David menatap Ana tajam.
“Tapi Dad, sungguh, aku tidak memperkosa kak Matt, mana mungkin aku memperkosa dia, dia itu laki-laki!” Ana membela dirinya, dia menghunuskan tatapan tajam pada Matt.
“Bohong Uncle, jelas-jelas tadi dia mengancamku, dan berniat untuk memperkosa aku,”
“Kak Matt, jangan fitnah seperti itu!” ujar Ana menatap Matt geram.
“Satu Minggu lagi, kalian menikah!”
...******...
“Dasar kak Matt kurang ajar, berani-beraninya dia memfitnah aku, sungguh ini sangat menyebalkan!” Ana menghentakkan kakinya di dalam kamar.
Tadi David memutuskan sepihak, dan Matt tampak sangat bahagia akan hal itu.
Ana bahkan tidak sadar karena dia masih tidak terima karena di tuduh sudah memperkosa Matt.
“Aku tidak memfitnahmu, Sayang.” Matt masuk begitu saja kedalam kamar Ana.
“Mau menemui orang yang sudah berniat memperkosa aku!” ujar Matt enteng. Ana mendelik tajam.
“Aku tidak memperkosa kak Matt!” ujarnya kesal.
“Sabarlah, Sayang. Kenapa kau jadi marah-marah begini?” tanya Matt heran.
“Aku tidak terima karena di tuduh memperkosa kak Matt!”
“Bukankah itu bagus, karena kita akan menikah sebab itu!”
“Menikah?” beo Ana. Matt mengangguk.
“Astaga, aku bahkan tidak sadar itu tadi.” Ana terkekeh karena kekonyolannya sendiri. Tapi setelah itu dia kembali menatap Matt tajam.
“Ini sungguh buruk sekali, apa-apaan ini. Kita menikah karena aku memperkosa kau, kak? Itu terdengar sangat buruk!” Matt hanya mengangkat bahunya acuh, dia duduk di ranjang.
“Tidak apa-apa sebelum menikah kau ingin memperkosa aku, tapi yang jelas, setelah menikah, aku yang akan memperkosamu!”
...*****...
Setelah marah-marah, Ana tampak sangat bahagia karena akan menikah. Senyumannya begitu lebar, dia sangat menantikan hal itu.
Dia sudah melakukan fitting gaun pengantin bersama dengan Stef dan Mommy nya. Matt tidak bisa ikut, karena sangat sibuk di kantor. Karena pekerjaan yang di tinggalkannya beberapa hari itu menumpuk.
Arthur dan Stella juga tampak sibuk, kedua orang itu seperti anjing dan kucing karena terus saja bertengkar. Apalagi di tambah dengan adanya seorang perempuan yang waktu itu tiba-tiba saja mencegat Arthur membuat Stella kesal entah karena apa.
Gadis itu bahkan menghindari Arthur, membuat laki-laki itu bingung.
“Stella, kau ini sebenarnya kenapa?” tanya Arthur frustasi. Stella benar-benar menghindarinya, bahkan perempuan itu selalu menghindar darinya membuat Arthur benar-benar heran.
“Aku kenapa?” tanya Stella ketus. Dia bersidekap, menatap Arthur kesal.
“Kenapa kau selalu menghindari aku? Apa aku berbuat kesalahan?” tanya Arthur.
“Tidak!”
“Lalu kau kenapa? Kalau aku berbuat salah, katakan! Jangan diam seperti ini!”
“Tapi aku mau seperti ini! Minggir!” Arthur tidak bergeming, dia bahkan menghalangi jalan Stella.
“Arthur, ku mohon minggirlah! Jangan halangi jalanku!”
“Aku tidak mau Stella,. sebelum kau memberitahu alasan kenapa kau marah padaku!” Arthur menatap Stella tajam. Sungguh dia tidak tahan jika seperti ini. Sudah beberapa hari ini dia di abaikan oleh Stella, dan sungguh dia tidak nyaman akan hal itu. Dia lebih suka ribut dengan wanita judes itu daripada di diamkan.
“Arthur, ku mohon, jangan persulit diriku!” Arthur menatap Stella tak percaya. Gadis itu melihatnya dengan mata sendu.
“Stella, katakan padaku, aku ada salah apa? Jangan seperti ini, aku tidak suka seperti ini!” Arthur mengusap rambutnya dengan frustasi.
“Kau tidak salah! Tapi aku yang salah!”
“Apa maksudmu?”
“Aku salah karena aku sudah berani mencintaimu! Maafkan aku, tapi sungguh, ini di luar kendaliku!”
Stella menundukkan pandangannya, dia menatap Arthur sendu. Matanya memerah menahan tangis.
Arthur? Dia tercengang, matanya mengerjap beberapa kali.
“Ka—kau mencintai a—aku?” tanyanya tidak percaya. Dalam kepala yang tertunduk, Mattea mengangguk, dia bahkan tidak berani mengangkat kepalanya, sungguh dia sangat malu.
“Kenapa kau tidak bilang ha? Kenapa kau menyembunyikannya, kenapa kau menyiksaku dengan perasaan yang sama?”
Arthur memeluk Stella dengan erat. Sedangkan gadis itu masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
“K—kau juga me—mencintai aku?” tanya Stella tergagap. Arthur melepaskan pelukannya.
“Aku sangat mencintaimu, Stella.” air mata dari gadis tomboi itu keluar, dia kemudian memeluk Arthur lagi.
“Eheemmm,”
Pelukan itu terlepas, keduanya sama-sama kaget menatap laki-laki yang ada di depan mereka dengan bersidekap dada itu.
“Aku juga sangat mencintai kalian berdua, tapi bisakah kalian lanjut bekerja dengan fokus, dua hari lagi aku menikah, dan kerjaan kita masih banyak!”
Baik Arthur maupun Stella sama-sama memerah malu, keduanya tidak menyangka kalau pembicaraan ini di dengar oleh Matt.
“Maaf Tuan,” ujar Stella dengan menunduk. Begitupun dengan Arthur.
“Kembali bekerja, jangan berpacaran disini!” ujar Matt tegas, lalu meninggalkan keduanya.
“Sudah sana, kau ini membuat malu saja! Jangan ganggu aku!” ketus Stella.
“Hei, siapa yang membuat malu, bahkan Tuan Matt saja tau, kalau kau yang menyatakan cinta padaku!”
“Kauuu ...”
“Apa!”
“Aku membencimu!”
“Aku juga mencintaimu!”
.......
.......
.......
.......
.......
...*****...
...Detik-detik menuju End✌️🥴^_^...