
“Sayang ....” panggilan dengan nada memelas itu terus di abaikan oleh Stella, membuat Arthur pusing sendiri.
Setelah pulang dari kantor, laki-laki yang menjadi tunangan Stella itu mengajaknya untuk pulang bersama karena Matt sudah pulang terlebih dahulu, dan dia bisa bebas. Tapi, saat mereka sedang dalam perjalanan pulang, Arthur menghentikan mobilnya di tepi jalan, karena gadis itu terus mengabaikannya. Bukan saat di mobil saja sih, sebenarnya. Karena saat masih bekerja tadi pun, dia di abaikan juga.
“Stella ... Sayang, jangan seperti ini, dong!” Arthur sudah mulai kesal sendiri saat Stella terus mengabaikannya. Tatapan tajam itu kini sudah tidak membuat Arthur tertekan lagi, dia kembali membalas tatapan tajam Stella dengan kesal.
“Jangan seperti ini apa, maksudmu?” tanya Stella. Arthur hanya bisa menghela napas. Dia melirik Stella yang tampak masih marah itu. Kenapa, hanya karena masalah yang sepele, gadis itu jadi marah seperti ini padanya? Apa dia sedang PMS? Oh, bahaya ini.
“Kenapa kau marah, hanya karena aku memuji Amanda? Dan juga, kenapa aku tidak boleh marah, saat kau memuji Tuan muda Matt?! Sungguh, aku tidak mengira, hanya karena aku ingin membalas candaanmu, kau jadi seperti ini padaku! Jujur aku kecewa, Stella. Kau terlalu egois! Mementingkan perasaan sendiri!”
Tanpa mendengar jawaban Stella, Arthur kembali mengemudikan mobilnya, dan menyalakan radio, untuk mendengarkan siaran, lumayan agar dia tidak terlalu kesal.
Bagaimana dengan ekspresi Stella? Gadis itu terhenyak karena mendengar perkataan Arthur. Dia menatap Arthur sekilas, lalu setelahnya dia melirik kearah keluar mobil. Stella mencengkram kedua tangannya erat.
Dia egois?
Mobil yang dikendarai Arthur, berhenti didepan pintu gerbang rumah Stella, Arthur keluar untuk membuka pintu mobil untuk sang kekasih. Stella keluar saat Arthur membuka pintu untuknya.
“Terima—”
“Aku pulang dulu!” sebelum Stella selesai mengucapkan kata terimakasihnya, Arthur sudah memotong terlebih dahulu, dan laki-laki itu cepat-cepat berjalan masuk kedalam mobil yang dibawanya, tidak menghiraukan Stella sedikitpun.
Dia berhak marah, kan? Dan bukan dia yang memulai kan? Hanya karena memuji orang lain, mereka jadi seperti ini. Kekanak-kanakan sekali menurut Arthur, dan dia yang menjadi korbannya disini.
Stella melangkahkan kakinya dengan gontai menuju pintu rumah. Tangan lembutnya merogoh tas untuk mencari kunci rumah yang memang selalu dia bawa, jaga-jaga kalau ayahnya tidak ada di rumah.
Stella melemparkan tubuhnya pada ranjang Queen size yang ada di kamarnya. Manik matanya menatap ke arah langit-langit kamar.
“Aku memang egois!” gumamnya pelan.
“Terlalu mencintai membuatku egois!”
Gadis itu bangkit dari atas tempat tidur, dia berjalan menuju kamar mandi. Mengganti sepatunya terlebih dahulu, dan melepaskan semua pakaiannya dan masuk kedalam bathub.
Memikirkan kembali kata-kata Arthur tadi, membuat Stella merasa bersalah. Dia merasa masih menjadi seorang bocah. Kekanak-kanakan sekali.
“Tahan ... sebentar lagi!”
...****...
Sedangkan Arthur, kini laki-laki itu memilih untuk pulang ke apartemennya sendiri. Ya, laki-laki itu tinggal di apartemen, bukan di rumahnya yang dulu. Karena dia merasa, kalau rumahnya terlalu jauh dari kantor, dan pekerjaannya sangat tidak mungkin untuk jauh-jauh dari kantor.
Menempelkan sidik jarinya di dekat pintu, akhirnya pintu apartemennya terbuka. Ya, hanya dengan menempel sidik jari, saja karena apartemen Arthur ini didesain dengan tipe smart lock.
Arthur langsung berjalan menuju kamarnya, dengan melepaskan sepatunya terlebih dahulu, dan melepaskan jas dan juga kemejanya, dia duduk di tepian ranjang.
“Aku yakin, kau akan menyadari kesalahanmu, Sayang!” batin Arthur.
...****...
Tidur nyenyak Arthur terganggu saat mendengar suara teleponnya berdering. Nama Matteo terpampang jelas di sana.
“Ha—halo?” sapa Arthur dengan suara serak.
“Hallo, Arthur, apa aku mengganggu?” tanya Matt. Ingin sekali rasanya, Arthur menjawab ‘Iya’, tapi sungguh, lidahnya harus berbohong.
“Apa kau bisa datang ke mansion? Ana sedari tadi merengek terus meminta untuk bertemu denganmu!” ada nada kesal yang Arthur tangkap saat Matt mengatakan itu, laki-laki itu menghela napas. Apalagi yang bisa dia katakan selain, ‘Baiklah?’ tidak adakan?
“Baik Tuan muda, setengah jam lagi, saya tiba di sana!”
Setelah mengucapkan kata terimakasih, panggilan telepon tersebut pun terputus. Dengan menggunakan celana jeans panjang, dan juga baju kaos polo dengan jaket denim, Arthur keluar dari apartemennya dan menyambar kunci mobil sebelumnya terlebih dahulu.
Arthur berjalan keluar dari dalam lift, lalu menuju mobilnya yang ada di basemen. Laki-laki itu dengan cepat melajukan mobilnya membelah jalanan kota Frankfurt untuk sampai di mansion Max. Beginilah dia, akan melakukan pekerjaannya dengan sebaik mungkin, supaya dia bisa menebus kesalahannya dulu, kepada keluarga konglomerat yang sudah menolongnya itu.
Klakson mobil Arthur berbunyi dua kali, dan pintu gerbang pun terbuka, karena sebelumnya Matt sudah mengkonfirmasi kedatangan Arthur pada penjaga. Dengan langkah lebar Arthur keluar dari dalam mobil.
“Mari Tuan, Tuan muda sudah menunggu!” sapaan seorang penjaga sift malam menyambut kedatangan Arthur. Laki-laki itu mengangguk dan mengikuti langkah laki-laki itu masuk kedalam mansion.
Saat mereka berjalan menuju ruang keluarga, di sana ada Ana yang sedang duduk di sofa bersama dengan Matt. Tidak ada orang lain, hanya mereka berempat di sana. Penjaga yang mengantarkannya, Matt, Ana dan Arthur sendiri. Bagaimana tidak, kini sudah lewat tengah malam, dan juga hampir pagi, pasti semua orang sudah terlelap dengan mimpi mereka masing-masing.
“Tuan muda, Tuan Arthur sudah sampai?!” kedua orang itu mendongak, Arthur berdiri kaku didepan mereka. Ana yang mendengar nama Arthur disebut, langsung mendongak menatap laki-laki itu dengan berbinar. Arthur yang melihat itu langsung merasakan perasaan tidak enak.
“Semoga saja Nona muda tidak berlaku aneh-aneh!” Batin Arthur cemas. Melihat raut wajah Matt yang kesal, dia yakin pasti akan ada sesuatu yang tidak terduga akan terjadi.
“Arthuuurrrrr ....” Ana langsung berlari menuju Arthur dengan senyuman selebar daun kelor. Arthur menatap Ana ngeri. Benarkan, firasatnya.
“Anaaa ....” ujar Matt dengan suara yang ditekan. Ana yang sedang bergelayut manja di lengan Arthur itu mengabaikan perkataan sang suami. Wanita itu masih sibuk mengendus-endus aroma tubuh Arthur. Arthur yang diperlakukan seperti itu hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, kalau saja dia tidak mengingat kalau wanita yang ada didepannya ini adalah Nona mudanya, dan juga wanita hamil, pasti dia sudah langsung menendang wanita itu jauh-jauh dari sisinya.
“Maaf nona muda, ada apa, ya?” tanya Arthur dengan suara yang selembut mungkin, membuat Ana tambah berbinar senang. Matt yang mendengar hal itu hanya mendengus.
“Ana! Sudah, kan tadi perjanjiannya hanya memeluk saja, dan sekarang lepaskan Arthur!” terlihat jelas di mata Arthur, kalau saat ini laki-laki yang menjadi Boss nya itu sedang kesal. Dan juga, istrinya yang tampak sangat bahagia saat memeluknya.
“Kak Matt, aku masih mau memeluk Arthur. Arthur, bagaimana kalau kau tidur di kamarku?” tanya Ana polos.
“A—APAAAA?” Matt dan Arthur saling pandang, lalu kedua orang itu menatap Ana yang tampak biasa saja.
“Apa maksudmu, Sayang? Bukankah tadi kau bilang, hanya memeluk Arthur saja? Lalu kenapa menyuruh dia untuk ke kamar kita?” Arthur benar-benar dalam kondisi yang sulit. Di satu sisi, dia sangat ingin pergi dari sana sekarang juga, tapi di sisi lain, dia juga tidak berani untuk bergerak. Bahkan otaknya serasa buntu saat ini.
“Tapi kan, Kak! Aku itu lagi ngidam anak kamu, memangnya kak Matt mau, anak kita nanti ileran?” Ah, bulu mata lentik dengan rambut pendek itu benar-benar terlihat menggemaskan.
“Ana, bukankah ada aku? Kenapa juga anak kita itu meminta hal yang aneh-aneh? Kenapa dia tidak meminta dipeluk oleh Daddy-nya seharian saja. Aku pasti tidak akan menolak, Sayang?”
“Tidak tau! Mungkin dia mau mewarisi ketampanan Arthur, atau mungkin dia ingin jadi istri Arthur saat besar nanti. Kita tidak tau dia laki-laki atau perempuan, tapi satu yang aku yakin, pasti anak kita nanti akan mirip Arthur!”
Bisa bayangkan, bagaimana ekspresi wajah Matt saat ini? Kalau di gambarkan seperti di dalam komik, laki-laki itu kini sedang menatap Ana dengan wajah yang memerah menahan amarah, dengan hidung kempas-kempis dan telinga yang mengeluarkan asap. Arthur yang melihat Matt yang seperti ingin menelannya hidup-hidup, hanya bisa menelan Saliva kasar.
“Aku yang membuatnya susah payah, siang malam, dan kau seenaknya bilang kalau dia akan mirip Arthur? Ana, kau sungguh membuat aku merasa dijatuhkan di jurang yang dalam dengan luka yang menganga lebar! Hiks ... hiks,” Ana kalang kabut, dia langsung berlari memeluk Matt yang sedang mengusap air mata buayanya itu. Ana langsung memeluk Matt erat.
“Kak Matt, maafkan Ana. Ana tidak akan melakukan itu lagi! Ana janji, dia tidak akan mirip siapapun selain kak Matt!” Ana membawa Matt kedalam pelukannya untuk meredakan tangis laki-laki itu.
Arthur yang melihat drama calon orang tua baru itu langsung tersadar, saat melihat lambaian tangan Matt. Laki-laki itu menyuruhnya untuk pergi dari sana, dan menunjuk kamar tamu. Sekarang Arthur mengerti, kalau kini Matt sedang mengelabui Ana. Laki-laki itu dengan langkah seribu, langsung beranjak dari sana dan berjalan tanpa suara, menuju kamar tamu yang biasa dia tempati saat menginap di mansion besar tersebut.
“Hiks ... Ana, aku benar-benar hancur karena kau!” Air mata buaya itu keluar lagi, membuat Ana merasa sangat bersalah.
“Kak, ayo kita tidur. Kita bikin anak sampai pagi, supaya anak kita mirip kak Matt, dan tidak mirip Arthur, ayo kak!”
...****...
...Ngaco ya? Iya sih, maaf ya^_^ Aku usahain susah payah ini, soalnya mataku ga bisa liat layar lama-lama:-(...