
Setelah selesai dengan segala urusan tentang pengiriman barang pesanan (Narkoba) yang diinginkan oleh pemesan Max datang ke apartemen Stef.
Saat berjalan dari loby ke lift Max bertemu dengan Justin.
"Holla Max," sapa Justin tersenyum meremehkan.
"Apa apa?" tanya Max menjawab malas.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Justin berbasa-basi.
"Seperti yang kau lihat, aku baik bahkan sangat baik!" jawab Max, sedangkan Justin hanya diam mendengarkan.
"Aku menginginkan Stef!" Max tidak terlalu terkejut mendengar pengakuan tentang Justin yang menginginkan Stef. Tapi ia terkejut mendengar Justin yang mengatakan dengan terlalu cepat padanya.
"Tak semudah yang kau kira untuk mendapatkan dia!" jawab Max santai.
Sedangkan Justin tersenyum meremehkan.
"Benarkah? Aku akan mendapatkan dia lebih dulu darimu, aku pastikan itu!" Justin berlalu setelah mengatakan hal tersebut. Max terdiam memikirkan sesuatu. "Tak akan aku biarkan kau merebut Rose ku!" Max merenggut geram dalam hati, berjalan masuk kedalam Lift untuk sampai dilantai apartemen Stef.
Berjalan keluar dari lift, begitu sampai didepan pintu apartemen Stef, lelaki tampan itu mengetuk pintu beberapa kali. Terdengar suara langkah kaki berjalan, tak lama tampaklah Stef membukakan pintu berdiri dengan wajah lelah disana.
"Masuklah!" ajak Stef, mereka berdua berjalan masuk, lalu duduk disofa ruang tamu.
"Kau kenapa?" tanya Max memperhatikan Stef.
"Aku lelah," jawab Stef singkat.
"Kau lelah melakukan apa?" tanya Max.
"Aku sudah tidak masuk kuliah beberapa hari, tugasku jadi menumpuk," jelas Stef, sedangkan Max hanya dia mendengar.
"Apa kau perlu bantuan?" tanya Max menawarkan bantuan menatap Stef sembari tersenyum.
"Tidak, aku bisa mengerjakan sendiri," jawab Stef. "Ada apa kau kemari?" sambung Stef bertanya.
"Apa untuk menemui calon istriku, aku perlu ada alasan untuk menemuinya?" tanya Max mengerling menatap Stef yang memerah mendengar kata Istriku yang keluar dari mulut Max.
"Tidak," jawab Stef tersenyum yang juga membuat Max tersenyum.
"Bagaimana kondisi ibumu?" tanya Max melihat kearah pintu kamar Lie yang tertutup.
"Ibuku semakin baik, besok aku akan menemaninya untuk cuci darah lagi," jawab Stef tersenyum karena penyakit ibunya berangsur membaik.
"Syukur lah," jawab Max singkat.
Max terdiam sejenak, ia ragu untuk mengatakan pada Stef bahwa tadi dia bertemu dengan Justin, karena dia juga belum memberitahu Stef bahwa Justin ternyata adalah anak dari Henry Hill pembunuh ayah kandung Stef.
Max takut jika nanti Stef mengetahuinya gadis itu ada dalam bahaya karena Stef pasti akan melakukan balas dendam terhadap pembunuh ayah kandungnya. Walaupun Max tahu bahwa dirinya juga bisa menjaga Stef tapi Max ingin memberitahu Stef jika dia sudah mengetahui apa alasan dari kejadian itu sebenarnya.
"Ya?" jawab Stef melihat Max yang seperti sedang ragu untuk bicara. "Ada apa?" sambung Stef bertanya menatap manik gelap itu.
"Apa jika nanti ada seseorang yang menyukaimu kau akan meninggalkan aku?" pertanyaan Max tentu saja membuat Stef kaget sekaligus bingung.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Stef serius menatap Max yang juga sedang menatapnya.
"Aku hanya bertanya, jawab saja!"
"Tidak!" jawab Stef singkat.
"Kenapa?" tanya Max penasaran.
"Apa aku perlu untuk menjawabnya?" tanya Stef mengerling jahil.
"Tentu saja, ini menyangkut tentang aku yang mencintaimu bahkan dari kau yang baru pandai bicara," Max menjawab Stef serius membuat Stef paham bahwa Max sangat serius dengan pertanyaannya.
"Tidak akan!" jawab Stef menatap Max serius menyelami isi pikiran masing-masing.
"Kenapa?" tanya Max lagi.
"Aku telah menemukan cinta sejatiku, yaitu kamu. Dan aku juga tidak berniat untuk menemukannya lagi, karena aku akan selalu memeluk dan juga menggenggammu selama hatiku berkata kamu yang selalu ini aku nantikan."
"I love you"
"Love you too"
.
.
.
.
.
TBC.
Jangan lupa Tap jempol nya ya😊.
.
.
Love❤️❤️❤️ EgaSri