
Matahari sudah mulai menampakkan dirinya di ufuk timur, cahaya hangatnya menyinari dan memberikan semangat baru bagi seluruh manusia, mereka beraktifitas seperti biasanya , mulai dari membuka toko, gerai, dan juga ke kantor. Ada juga ibu rumah tangga yang menyiapkan segala sesuatu untuk suami dan anak-anaknya.
Tapi itu semua tidak berlaku bagi dua insan manusia yang masih bergelung didalam selimut sembari berpelukan itu tidak ada salah satu dari mereka yang membuka matanya.
Bagaimana tidak, mereka baru saja tidur selama lima jam, Max terus saja membuat Stef kewalahan, lelaki itu terus saja meminta lagi, lagi dan lagi pada Stef. Kekuatan Max di ranjang benar-benar tidak bisa diragukan.
Suara dering ponsel Max membuat pemilik manik gelap yang masih terpejam itu merasa terganggu. Perlahan ia membuka mata, lalu langsung melihat pada wajah wanita yang masih menutup mata itu, yang kini sudah menjadi milik dia seutuhnya.
Pipi kemerahan itu terlihat sangat indah di pagi hari. Perlahan Max membuka selimut dan menyingkirkan tangannya yang memeluk Stef, lalu duduk dan membungkuk untuk meraih ponselnya dan juga celana pendeknya yang tergeletak tak berdaya dilantai, setelah itu ia langsung mengenakannya, Max berdiri lalu berjalan menjauh dari ranjang untuk menjawab telepon itu.
"Ada apa?" tanya Max langsung pada orang yang ada di seberang sana yang ternyata adalah David.
"Apa kau baru bangun?" tanya David.
"Iya, ada apa? Kenapa kau menggangguku pagi—pagi begini?" ucap Max ketus, karena David sudah mengganggunya pagi—pagi sekali menurutnya. Sungguh ia masih sangat mengantuk dan juga lelah.
"Pagi kau bilang? Hei, buka jendela kamarmu, lihatlah matahari sudah tinggi mengintip kalian berdua," ucap David kesal. Lantas saja Max menoleh pada jam yang tergantung di dinding. Matanya langsung melotot melihat jam tersebut, lalu ia juga melihat kearah jendela kaca yang terhalang gorden yang menampilkan siluet cahaya matahari disana.
Astaga, ini sudah pukul sembilan pagi, ucap Max dalam hati.
"Ya ..., Ya, ada apa? Kenapa kau meneleponku?" tanya Max lagi. Terdengar diseberang sana David menghela nafas.
"Nyonya Lie masuk rumah sakit," ucap David memberitahu membuat Max terkejut. Yang benar saja, baru kemarin ibu mertuanya itu menghadiri acara pernikahannya di Garena tanpa resepsi, tapi kini David malah mengatakan kalau Lie masuk rumah sakit.
"Apa?" tanya Max dengan suara yang tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"Ya, nyonya Lie masuk rumah sakit," jawab David dengan nada yakin, membuat Max tahu bahwa lelaki itu tidak main-main dengan ucapannya.
"Kenapa kau tidak memberitahuku? Kenapa bisa dia masuk rumah sakit?" tanya Max kesal bercampur panik. Apa yang akan dia katakan pada Stef nanti jika wanita itu bangun dan tiba-tiba ia mengatakan pada Stef bahwa Lie masuk rumah sakit. Max tidak bisa membayangkan raut wajah Stef nanti, pasti istrinya itu akan sangat terkejut dan terpukul, juga akan menyalahkan dirinya sendiri.
"Iya, dia baru masuk rumah sakit pagi ini, sepertinya dia kelelahan kemarin, karena orang yang melakukan cuci darah tidak bisa untuk terlalu kecapean," ucap David menjelaskan panjang lebar, karena itu ya g dia tahu dari yang dikatakan oleh dokter yang menangani Lie. "Cepatlah kau kemari!" sambung David akhirnya.
"Baiklah, aku akan membangunkan Stef dulu," ucap Max singkat membuat David terkejut.
"Astaga, apa kau membuatnya terlalu lelah semalam? Ck, kau ini," ucap David berdecak sembari meledek Max. Tapi dibiarkan saja oleh lelaki yang bernama Max tersebut, karena dia lebih khawatir dengan kondisi ibu mertuanya.
"Ck, pokoknya kau urus segala sesuatu tentang ibu mertuaku, pastikan pada dokter untuk selalu memantau kondisinya, aku dan Stef akan langsung kesana," ucap Max panjang lebar, yang dibalas anggukan oleh David meskipun Max tidak melihatnya.
"Baiklah,"
Lalu sambungan telepon itu terputus. Lantas Max berbalik menatap ranjang, ia kaget karena melihat Stef yang sudah terduduk mengerjapkan matanya disana.
"Cepatlah bersiap," ucap Max tanpa menjawab pertanyaan Stef.
"Aku bertanya, siapa yang sakit Max?" ucap Stef bersikeras.
"Nanti akan aku beritahu," jawab Max singkat yang memutuskan untuk tidak mau memberitahu Stef saat ini membuat Stef mengerling kesal.
Max berjalan ke arah Stef. "Apa masih terasa sakit?" tanya Max membuat pipi wanita yang kini sudah tak perawan itu menjadi memerah.
"Sedikit," cicitnya.
"Apa kau perlu bantuan?" tanya Max pada Stef yang mencoba berdiri tapi ia langsung terduduk dan mendesis menahan rasa sakit akibat perbuatan Max semalam.
"Tidak perlu," jawab Stef tersenyum malu.
"Tidak usah malu, aku suamimu, dan aku juga orang yang sudah membuatmu menjadi seperti ini!" ucapax panjang lebar.
"Gendong," ucap Stef dengan nada suara manja.
"Astaga, jangan menggodaku dengan suara seperti itu," ucap Max.
"Siapa yang menggodamu? Aku tidak menggodamu," ucap Stef tidak terima.
"Ya sudah, ayo cepat! Kita akan pergi ke rumah sakit pagi ini," ucap Max mengalihkan pembicaraan.
"Baiklah,"
.
.
.
.
TBC.
Love❤️❤️❤️ EgaSri.