
Tidak ada cinta tanpa air mata. Karena semuanya butuh perjuangan. Dan tidak ada cinta tanpa balasan, karena hasil dari perjuangan adalah kebahagiaan!
-Ega_Sri
_______
Pagi ini Mattea akan pergi ke kampus bersama dengan supir, karena Matt tidak memiliki jadwal kuliah pagi. Dia akan ke kampus siang hari.
“Daddy, Mommy, aku pergi dulu.” Max dan Stef yang saat ini sedang di meja makan, mengangguk. Mattea mencium pipi kedua orangtuanya sekilas, setelah itu berlari ke depan. Max dan Stef hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan anak gadis mereka itu.
“Apa Matt belum bangun?” tanya Max pada istrinya, karena anak laki-lakinya itu belum datang ke meja makan untuk sarapan.
“Sepertinya belum. Akan aku bangunkan sebentar.” Max mengangguk, lalu dia melanjutkan makannya. Stef berjalan menuju kamar Matt dan membangunkan putranya itu.
“Matt...” Stef mengetuk pintu kamar Matt, tapi belum ada jawaban.
“Matt, kau belum bangun? Momy masuk ya?” masih tak ada jawaban, Stef akhirnya membuka pintu kamar putranya. Tapi dia tidak menemukan Matt disana, tapi terdengar bunyi gemericik air dari dalam kamar mandi.
“Pantas saja dia tidak menjawabku, ternyata dia sedang mandi.” Stef akhirnya memutuskan untuk keluar lagi.
Stef menuruni tangga, dan berjalan kembali menuju ruang makan.
“Bagaimana sayang? Apa Matt sudah bangun?” tanya Max.
“Sudah, dia sedang mandi.”
Mendengar jawaban Stef, Max hanya mengangguk.
“Apa kau ke rumah sakit hari ini?”
“Iya.”
“Baiklah, kita berangkat bersama saja.” Stef mengangguk.
_____
Setelah mengantarkan Stef, Max melajukan mobilnya menuju kantor. Dia sendiri yang menyetir.
Setibanya disana Max memberikan kunci mobilnya pada satpam yang bertugas untuk menyuruhnya memarkirkan mobil Max ke parkiran khusus pemilik perusahaan.
Max langsung berjalan menuju loby kantor. Disana Max disambut dengan sopan oleh resepsionis, Max hanya mengangguk sekilas mendengar sapaan resepsionisnya itu.
“Gila... Tuan Max semakin panas saja sekarang. Meskipun usianya sudah sangat dewasa, tapi dia masih sangat gagah dan juga tampan.” sang resepsionis mengatakan itu pada teman di sebelahnya.
“Hei, jangan bicara macam-macam, nanti kalau ada yang mendengar habislah kau!” teman wanita muda dengan penampilan seksi itu menasihati, membuatnya mengerucutkan bibirnya kesal.
“Ah, andai saja dia belum menikah, pasti aku akan menggodanya.” temannya hanya menghela nafas, lalu menggelengkan kepala melihat kelakuan temannya itu.
Tak lama setelah kedatangan Max, dua wanita itu kembali menyambut kedatangan Thomas.
“Ah, astaga. Apa kantor ini tempatnya pria dewasa panas yang tampan?” resepsionis cantik bernama Charlotte itu kembali memasang tatapan penuh minat pada Thomas. Sedangkan temannya yang bernama Viktoria itu hanya menggelengkan kepalanya.
“Hei, ingatlah pacarmu. Kau sudah punya kekasih! Dia bisa sakit hati kalau mendengar ucapanmu itu tadi!” ujar Viktoria mengingatkan pada Charlotte.
“Di bandingkan pacarku, tuan Thomas lebih dari segalanya Vik. Dan juga tuan Thomas itu masih sendiri, dia juga belum punya pacar! Aku jadi berharap dia mau denganku!” Charlotte memandang punggung Thomas yang lebar dan kekar itu masuk kedalam Lift.
“Tapi dari gosip yang aku dengar, dia tidak mau menikah ataupun menjalin hubungan dengan wanita, setelah dulu pernah bersama dengan wanita bernama Patricia.” Viktoria menjelaskan pada Charlotte, karena temannya itu baru beberapa tahun bekerja disana.
“Iya aku juga dengar itu. Padahal dia satu-satunya pria panas yang masih melajang disini, apalagi tuan David dan tuan Max sudah menikah. Hanya tinggal dirinya saja yang sendiri.” Charlotte memberikan tatapan sedihnya. Dia sangat berharap bisa menjadi kekasih ataupun istri dari pria tampan yang dewasa itu.
“Hei, masih banyak pria tampan yang bekerja disini. Kau jangan salah, sudah kembali bekerja. Kalau saja tuan Max tau, kau baru saja bergosip, habislah kita!”
___
Thomas masuk kedalam ruangan Max. Dia tidak mengetuk pintu terlebih dahulu. Terlihat Max sedang fokus pada kertas yang ada di tangannya.
“Kau serius sekali Max.” Thomas membuka suara, dia duduk di kursi yang berhadapan dengan Max, hingga keduanya duduk berhadapan.
“Ah, kau sudah tiba.” Max menutup berkas yang ada di tangannya. Lalu menatap pada pria lajang di depannya itu.
“Ya seperti yang kau lihat. Jadi kau mau membicarakan apa?” tadi Thomas di hubungi oleh Max untuk langsung datang ke kantor untuk berbicara dengannya. Padahal sebenarnya Thomas mau melakukan transaksi pagi ini, tapi Max mengatakan kalau yang ingin dia bicarakan ini sangat penting, hingga Thomas menundanya.
Iya, kini Thomas yang memegang kendali pada Black Devils, walaupun sesekali Max dan juga David turut turun tangan bila ada sesuatu yang mendesak ataupun darurat.
Jika mereka masih ikut dalam dunia hitam itu, maka keselamatan keluarga mereka akan terancam. Maka dari itu kini semua kendali ada pada Thomas, meskipun begitu laki-laki itu masih menganggap kalau Max lah pemimpin mereka.
“Apa kau yakin tidak mau menikah?”
Thomas menghela nafas mendengar pertanyaan Max. Entah sudah keberapa kalinya pertanyaan ini keluar dari mulut Max, mungkin sudah tidak terhitung lagi.
“Kau sudah tau jawabannya Max!” Thomas menjawab dengan malas.
“Apa kau yakin?”
“Tentu saja.”
“Bagaimana kalau ada wanita yang sangat mencintaimu dan ingin bersama denganmu, apa kau masih tetap tidak mau?”
“Max, kau tau seberapa banyak wanita yang mau denganku. Bahkan mereka secara terang-terangan merayuku dan melemparkan tubuh mereka padaku, tapi aku tidak mau Max. Kau sangat paham akan hal itu.” Thomas mulai bosan dengan pertanyaan Max ini. Bukannya dia sombong tapi memang begitu keadaannya.
“Tapi ada seseorang yang sangat mencintai kau Thomas!” Max merasa kesal dengan keras kepala laki-laki yang ada di hadapannya itu.
“Siapa?” tanya Thomas dengan malas.
“Mattea!”
“APAAA...?” Thomas sangat terkejut mendengar pernyataan Max.
“Haha, kau kalau bercanda jangan kelewatan Max!” Thomas tertawa meledek Max. Karena menurutnya itu sangat tidak mungkin.
“Dan itu tidak mungkin Max!”
“Aku tidak bercanda Thomas! Aku serius.” tatapan mata Max yang tajam saat mengatakan itu membuat Thomas tergagap. Dia sangat tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh laki-laki yang sangat di hormatinya ini.
“Ta—tapi ... Tapi bagaimana bisa? Usianya sangat jauh berbeda denganku Max. Aku bahkan sudah menganggapnya seperti anakku sendiri. Tidak mungkin dia mencintai aku! Rasanya itu pasti sama seperti rasa dia padamu.”
“Tapi aku melihat sendiri tatapan matanya pada kau Thomas. Bagaimana binar matanya melihat kau dengan cinta, dan juga tatapan kecewanya saat kau mengatakan tidak mau menikah dan dekat dengan wanita manapun. Aku tau itu. Aku adalah Daddy-nya, jadi aku tau bagaimana perasaan anak perempuanku itu!”
Max mengatakan itu dengan sangat serius. Thomas terdiam di tempatnya.
“Sudah Max. Aku tau ini tidak benar. Jangan katakan ini lagi. Aku sangat menyayangi putrimu seperti putriku sendiri. Bagaimanapun aku sudah menganggapnya seperti anakku sendiri, jangan pernah katakan hal ini lagi. Kau sudah tau, walau bagaimanapun aku tidak mau menikah!”
Thomas tetap tegas pada pendiriannya, Max hanya menghela nafas lelah.
“Tapi bagaimana dengan putriku Thomas. Dia sangat mencintai kau!” sebagai seorang ayah, tentu saja Max sangat memikirkan perasaan putrinya.
“Sudah Max, aku tau dia masih labil. Dan rasanya itu pasti sama seperti rasanya padamu. Dia pasti juga menganggap aku seperti Daddy-nya sendiri. Aku tau dia tidak mencintai aku, karena katanya dia punya orang yang dia cintai!”
“Astaga Thomas. Orang yang dia cintai itu kau!”
“Sudah, jangan bahas ini lagi. Aku harus kembali, karena ada transaksi hari ini!”
“Heii, transaksi seperti apa yang kau lakukan pagi-pagi begini?”
“Mereka menginginkannya pagi ini, supaya tidak banyak yang curiga, dan aku pikir benar juga, karena biasanya transaksi seperti itu, dilakukan malam hari. Aku mau merasakan sensasi yang berbeda Max!”
“Aku harap kau tidak tertangkap, karena aku tidak mau putriku menangis dan memohon padaku untuk menolong kau terbebas!”
“Itu tidak akan terjadi!” Thomas bangkit dari duduknya, lalu berjalan keluar dari sana.
Max hanya menatap kepergian Thomas dengan helaan nafas gusar.
“Mattea, perjuanganmu sepertinya sangat berat nak. Kau harus memecahkan batu besar yang ada dihatinya agar kau bisa masuk kesana. Dan membuat dia mencintaimu sepertinya itu sangat sulit!”
Sedangkan Thomas keluar dari ruangan Max dengan perasaan yang tidak menentu.
“Baby Girl. Kalau yang dikatakan oleh Daddy mu itu benar, aku harap kau segera menghilangkan rasa itu, karena kau tau, aku tidak akan mungkin untuk membalasnya girl.”
______
Sebenarnya aku tuh greget banget sama Thomas 😬Maapin aku yah, Atea;)
Ku menangiiiisss melihat like yang semakin berkurang 😭😭