
Thomas mendekat pada Max, menatap pada laki-laki yang sedang makan Iga bakar dengan lahap itu.
“Ada apa? Kau mau minta? Tidak bisa!” ujar Max ketus, dia membelakangi laki-laki itu sembari cemberut.
“Hei, buat apa juga aku makan punyamu itu, aku bahkan beli dua porsi iga bakar tadi, gara-gara permintaan anehmu itu!” ujar Thomas dengan kesal. Sedangkan David hanya duduk dan menempelkan kepalanya ke meja makan.
“Lalu kenapa kau mendekat padaku, jika tidak ingin meminta Iga bakar ku?” tanya Max curiga.
Thomas mengeluarkan kantong berisi sesuatu yang dia beli di toko dengan David tadi. Max mengernyit, dia menatap Thomas seakan bertanya, ‘Itu apa?’
“Max, kau cobakan ini pada Stef, jika hasilnya dua garis merah kau harus memberikan aku mobil baru.” ujar Thomas dengan semangat. David langsung mengangkat kepalanya mendengar apa yang dikatakan oleh laki-laki itu.
“Apa katamu?” ujar David tak percaya.
Dia melihat pada isi yang ada dalam kantong itu, lalu mengeluarkannya.
“Benda apa ini?” tanya David dengan lugunya.
“Heee? Kau tidak tau?” ucap Thomas sedikit terkejut, yang hanya dibalas gelengan kepala oleh David, begitu juga oleh Max.
Thomas menepuk keningnya tanda tidak percaya.
“Astaga, jadi selama ini kalian tidak tau apa arti benda ini? Padahal kalian sering berhubungan dengan wanita!” ujar Thomas geleng-geleng kepala.
“Ckckck, heh! Kecilkan suaramu itu, nanti istriku dengar!” ujar Max kesal.
“Ya ... Ya, baiklah. Kalian ini memang bodoh!” ujar Thomas dengan seenaknya. “Bahkan aku yang belum pernah berhubungan dengan wanita pun mengetahui benda ini.” decak Thomas.
“Ya sudah, kalau begitu katakan padaku benda apa ini?” tanya Max lagi. “Dan buat apa juga aku harus memberimu mobil jika tandanya ada dua?” sambung Max bertanya.
“Ini namanya Tespek, untuk tes kehamilan.” ujar Thomas memberitahu.
“Hah? Jadi kau menyuruhku untuk memakai benda ini untuk tes aku hamil atau tidak? Yang benar saja kau Thomas,” geram Max tertahan, sedangkan David hanya tertawa dan geleng-geleng kepala melihat tingkah laki-laki bernama Max itu.
“Ckckck, aku menyuruhmu memberikan pada Stef, bukan untukmu Max, astagaa. Ada apa denganmu? Kenapa kau jadi Lola begini?” ucap Thomas berdecak.
“He'eh? Maksudmu kau menyuruhku untuk mengetes apakah Stef hamil atau tidak?”
“Astaga, Ya tuhan. Ada apa dengan Bos ku ini.” decak Thomas frustasi. Sedangkan David sudah terbahak ditempat duduknya. “Tentu saja untuk Stef, mana mungkin untukmu Max, kau ini kan Batangan, nanti kalau kau hamil anakmu itu lahirnya dimana?” tanya Thomas dengan geram. Dia menatap Max dengan kesal.
“Hehe, kau sih. Aku kan lagi menikmati iga bakar ku, jadi karena enak aku jadi sedikit... Ya begitulah..” ujar Max dengan seenaknya.
“Ya ... Ya, aku tau itu. Kau sedikit miring.” ujar Thomas dengan beraninya. “Ya sudah, nanti kau berikan ini pada Stef, suruh dia mencobanya di pagi hari, kalau hasilnya dua garis merah, maka belikan aku mobil baru.” Thomas menggerakkan alisnya menatap Max.
“Kau sedang mencoba untuk merampokku rupanya ya?” ucap Max, sedangkan Thomas hanya mengangkat bahu acuh.
“Pokoknya belikan aku mobil baru,” Thomas melipat tangannya didepan dada, dia melihat pada Max dengan mengerling.
“Hei, kau bisa mengambilnya sendiri di perusahaan, kenapa kau meminta padaku,” Max mengatakan itu, bahkan laki-laki yang bernama Thomas itu yang mengawasi proses produksi mobil-mobil keluaran perusahaannya, kenapa dia minta mobil luar, aih yang benar saja dia ini.
“Aku bukan mau mobil punyamu Max, aku mau mobil dengan versi yang lain.” ujar Thomas lagi. David melirik pada Thomas seakan bertanya ‘Ada apa dengan kau? Kenapa kau minta mobil?’ dan Thomas yang seperti mengerti dengan isi kepala David hanya mengayunkan tangannya pertanda nanti dia akan menceritakan segalanya, dan David mengerti itu.
“Kalau Thomas dibelikan mobil baru, aku juga mau.” ujar David yang juga tidak ingin kalah. Dia berfikir, seperti ada sebuah misi yang sedang dijalankan oleh Thomas, jadi David juga ingin itu, agar semua semua masalah ini cepat selesai.
“Heeh? Enak saja, kenapa aku jadi rugi sebanyak itu hanya karena benda kecil ini?” ujar Max menatap Keduanya tajam. Lalu kembali melirik pada tespek yang ada di genggamannya.
“Max... Itu karena dengan benda ini kau jadi tau, kau akan punya anak atau tidak,” ujar David pelan, seperti adegan slowmotion yang diangguki oleh Thomas.
“Ohhh... Aku mau punya anak ya?” tanya Max mengangguk-angguk.
“Hooh, benar...”
“AAPAAA...?”
____
Max berdiri menunggu Stef yang keluar dari dalam kamar mandi menunggu hasil dari benda kecil yang dia beli hampir seharga sepuluh milyar itu. Ah, kedua laki-laki brengsek itu benar-benar memorotinya.
Lama Max berjalan-jalan didepan kamar mandi, dan akhirnya istri kecilnya itu keluar dengan benda yang ada ditangannya. Dia menatap Max polos.
“Mana hasilnya? Aku mau lihat.” ujar Max dengan tidak sabaran. Stef menyerahkan benda itu pada Max, dan laki-laki itu menerimanya.
“Garisnya cuma satu.” ujar Max mencobakan senyumnya pada Stef.
“Maafkan aku Max,” ujar Stef menunduk. Laki-laki itu memeluk istrinya dengan sayang.
“Tidak apa-apa.” ujar Max menenangkan.
“Ya sudah, ayo kita kebawah. Mengatakan pada dua laki-laki sialan itu, kalau benda ini hanya menampilkan satu garis saja,” ujar Max. Stef hanya mengangguk. Dia tahu kalau suaminya ini sebenarnya kecewa dengan hasil tespek yang dia cobakan itu, tapi Max masih mencobakan senyumnya.
Max dan Stef berjalan kebawah. Para pelayan sudah menyambut mereka berdua, sarapan juga sudah terhidang di meja makan. Disana juga ada David dan Thomas yang duduk dengan senyuman termanis mereka.
Max berjalan mendekati kedua laki-laki itu.
“Bagaimana Max?” tanya Thomas yang tampak sangat penasaran.
“Hanya garis satu.” ujar Max datar. Dia duduk di meja makan dengan Stef disebelahnya.
“Hah?” ujar David dan Thomas bersamaan. Kedua laki-laki itu saling tatap seakan tidak percaya.
“Kau pasti bohong.” ujar Thomas tidak percaya.
“Untuk apa aku berbohong? Aku juga sangat menginginkan dia hadir diantara kami.” ujar Max dengan suara yang sedikit parau. Stef memegang lembut tangan suaminya itu.
“Ahh... Gagal sudah.” ujar Thomas.
“Kau ini, hanya memikirkan mobil saja.” ujar Max melirik kedua laki-laki itu ketus.
“Mana..? Aku mau lihat hasilnya.” ujar Thomas.
“Ada di dalam kamarku, di atas meja.” ucap Max acuh. Dia melirik tidak berselera pada makanan yang ada didepannya.
“Baiklah, kau tunggu disini, biar aku lihat. Aku tau kau pasti bohong.” ucap Thomas. Laki-laki itu lalu berdiri dari duduknya, dan berjalan ke lantai atas menuju kamar max dan juga Stef.
“Terserah kau saja. Yang penting aku tidak bohong!” ucap Max.
Thomas masuk kedalam kamar Max, dia mengambil benda kecil itu, dan melihatnya.
“He'eh?” ucap Thomas terkejut. Dia berjalan keluar dari kamar Max lalu pergi menuju meja makan.
“Maxxxx,” ujar Thomas kesal dengan berteriak membuat mereka yang ada diruang makan terkejut.
“Uhuk... Uhukk..,” Max tersedak saat meminum kopinya.
“Apa-apaan kau Thomas!” ujar Max kesal
“Kau mau membohongiku ya?” tanya Thomas menyelidik.
“Heh? Enak saja, untuk apa aku membohongimu?” ucap Max tidak terima.
“Tapi ini buktinya? Kau bohong, ini ada dua garis merah Max.” kali ini Stef lah yang tersedak.
“Makanya hati-hati sayang,” ucap Max khawatir.
“Mana, aku mau lihat.” ucap Stef, Thomas lantas menyerahkan pada Stef. Dan benar disana ada dua garis merah yang membuat Stef langsung berbinar dan memeluk Max.
“Habislah kau Max. Berikan aku dan David mobil baru!” ucap Thomas dengan seenaknya.
“Heh? Kau hamil Stef?”
“Iya Max.”
“Owhh.. baiklah!” ucap Max menganggukkan kepalanya. “Hah? Apa?”
“Apa?”
“Ka-kau hamil?”
__________