
Seorang gadis cantik mengerjapkan matanya dengan perlahan, menyesuaikan dengan cahaya terang yang masuk dalam panca inderanya. Di meringis saat kepalanya terasa sakit. Dia mencoba untuk bangkit, dan melihat ke sekelilingnya.
Ruangan bernuansa serba putih, yang sangat luas. Bukan ruangan, tapi ini adalah sebuah kamar. Mattea mengerjapkan matanya mencoba untuk mengingat kembali apa yang sedang terjadi dengan dirinya.
Ya, gadis itu adalah Mattea Martha Alexander Luciano, tuan Putri kerajaan bisnis Alexander dan juga Luciano grup.
Mattea mencoba bangkit dari atas ranjang yang kini dia duduki, dia berjalan menuju pintu yang berada cukup jauh dari ranjang itu, karena kamar itu lumayan besar, walaupun tidak sebesar kamar Mattea yang ada di mansion.
Mattea mencoba untuk membuka gagang pintu, tapi terkunci dari luar. Mattea berdecak kesal. Siapa yang sudah berani mengurungnya disini, bukan mengurung, tapi lebih tepatnya menculiknya.
Mattea bukanlah gadis penakut, yang akan menangis meraung-raung jika dalam keadaan seperti ini. Dia mencoba untuk tenang.
Mengingat kembali saat dia yang kala itu baru keluar dari dalam toilet, dia melihat seseorang sedang merapatkan tubuhnya ke tembok untuk menutupi kamera cctv, dan Mattea merasa curiga dengan hal itu. Kenapa siang-siang begini ada orang yang mau menutupi cctv itu? Dan setelah kamera itu tertutup, ada orang lain yang mendekat padanya membuat Mattea semakin curiga dan juga takut.
Lalu tanpa aba-aba, orang itu langsung menutup mulut dan hidung Mattea dengan sebuah sapu tangan yang sudah diberi obat bius agar Mattea pingsan.
Kedua orang itu saling mengangguk, lalu salah satunya memeriksa tas Mattea, dan mematikan ponsel gadis itu. Koridor yang kala itu sedang sepi, memudahkan aksi mereka. Terbilang ekstrim memang, menculik seorang gadis saat masih berada di lingkungan kampus, tapi memang itulah tujuan orang itu.
Mattea menghela nafas, dia berkali-kali menenangkan dirinya, dan meyakinkan dirinya kalau dia tidak akan apa-apa. Tapi, tetap saja, di lubuk hatinya yang terdalam, dia merasa takut, karena kembali lagi, kalau dia tetaplah seorang gadis, atau lebih tepatnya perempuan.
Mattea tidak tau siapa yang mencoba untuk menculiknya, dia terus berjalan di depan pintu mondar-mandir, hingga memberanikan diri untuk menggedor pintu kamar itu, agar orang yang ada diluar sana mendengarkannya dan membukakan pintu untuknya.
Mattea terus berusaha untuk menggedor pintu itu, sampai tangannya terasa perih.
“Heii, siapa diluar. Keluarkan aku dari sini!” Mattea berteriak agar suaranya dapat terdengar dari luar.
“Hei, keluarkan aku dari sini! Siapapun keluarkan aku!” Mattea tampaknya mulai tidak sabar, dia menggedor lebih kencang lagi, hingga akhirnya pintu kamar yang keras itu di buka dari luar.
Di depannya, sedang berdiri seorang laki-laki tampan dan juga gagah. Melihat dari wajah dan postur tubuhnya, laki-laki itu sepertinya hanya beberapa tahun dari atas Mattea. Tapi dia tidak mengenali siapa laki-laki yang ada di depannya ini, sedang menatap dirinya dengan angkuh.
Mattea menghirup udara dengan sengat pelan berusaha untuk terus membuat dirinya tenang.
Lalu gadis itu menatap laki-laki yang ada di depannya itu dengan tatapan tajam. Tajam, sama seperti tatapan Max. Dingin, gelap, dan sangat menusuk.
Bagaimana tatapan tajam itu, dimiliki oleh seorang gadis manis seperti Mattea, membuat laki-laki yang ada didepannya ini menyunggingkan senyum sinis.
“Boleh aku masuk?” tanya laki-laki itu dengan santai. Dia berjalan masuk, tapi melihat Mattea yang sepertinya akan memakan dirinya membuat laki-laki itu kembali menyunggingkan senyum tipis.
Sungguh gadis ini pandai sekali menyembunyikan rasa takutnya. Dia sungguh tenang. Sama tenangnya, saat dia yang kala itu berhadapan dengan Patricia untuk kedua kalinya.
“Bisa kau katakan, kenapa kau membawaku kemari? Oh bukan membawa, tapi menculikku kemari?” nada suara Mattea terdengar sangat dingin. Tatapan matanya seperti sedang menguliti laki-laki yang ada dihadapannya saat ini. Dia memang benar-benar adalah putri dari seorang Maxim Alexander.
“Apa kau tidak mau berkenalan dulu?” laki-laki itu tidak menjawab pertanyaan Mattea. Dia terlihat santai dan tenang, dan bersahabat. Tapi, sebenarnya dia adalah pria yang kejam, dingin, dan tak tersentuh. Senyuman yang dia tunjukkan pada Mattea, adalah senyum palsu, karena dimatanya Mattea melihat banyak sekali kebencian untuknya.
“Untuk apa kita berkenalan, karena aku yakin, kalau kau sangat mengenalku, kalau tidak, mana mungkin aku ada disini, di kamar ini bersama denganmu bukan?” penyikapan Mattea yang santai membuat laki-laki menyunggingkan senyumnya. Mattea benar-benar mengagumkan.
Bukan hanya cantik, pintar di akademik, tubuh yang proporsional, ternyata dia adalah wanita yang tenang dan tidak mudah terpancing.
“Hahaha, kau benar sekali! Apa kau takut?” laki-laki itu berjalan duduk di ranjang. Sebenarnya, Mattea tidak merasa kalau dia seperti di culik, karena saat ini dia masih bebas untuk bergerak kemanapun. Bahkan laki-laki yang ada didepannya ini tidak menyiksanya. Jangankan menyiksa, menyentuh pun tidak! Tapi dia tidak tau nanti! Karena itu semua bisa saja berbalik.
“Sebenarnya tidak. Tapi untuk membuatmu bahagia, maka akan aku katakan, kalau aku sedikit takut!”
Mendengar kata sedikit yang diucapkan Mattea, laki-laki itu hanya menatap dalam. Dia mengepalkan tangannya, merasa gadis di hadapannya itu seperti sedang mengejek dirinya.
Bagaimana perempuan secantik ini, bisa di didik dengan sangat baik oleh Max agar tidak terpancing atau terpengaruh dengan keadaan. Tenang, sangat tenang, seperti yang Mattea lakukan beberapa hari yang lalu.
Gadis dihadapannya ini sangat mengesalkan. Tapi laki-laki itu masih menampilkan senyuman palsunya.
Dia memang sudah mengambil resiko untuk menculik Mattea, dan dia sangat tau bagaimana nasibnya nanti jika Max berhasil membekuknya, dan dia ingin menambah kemarahan Max dengan menyakiti gadis yang menjadi putri mahkota ini, karena baginya itu sangat menyenangkan, dan membuatnya puas. Tapi, tentu saja itu nanti, setelah perbincangan ini berakhir.
Dia memang ingin balas dendam, baik menggunakan fisik, ataupun dengan menyakiti mental gadis itu.
Melihat laki-laki yang ada didepannya itu hanya diam, Mattea kembali menatapnya dengan tajam.
“Apa yang kau pikirkan! Sebaiknya kau lepaskan aku sekarang, karena aku yakin, Daddyku saat ini pasti sedang mencariku!”
“Apa menurutmu aku menculikmu hanya untuk di kurung disini sebentar lalu melepaskanmu?” laki-laki itu mulai memancarkan aura gelap. Dia mampu membuat Mattea untuk sesaat merasa takut dan tertekan. Tapi gadis itu berusaha untuk menormalkan ekspresinya kembali.
“Siapa kau? Kenapa kau menculikku?” laki-laki yang tadi dengan senyum ramah dan hangat, kini berganti dengan senyuman menyeringai yang menyeramkan. Mattea bergidik ngeri saat laki-laki itu menatapnya tajam.
“Bukankah katamu tadi, kita tidak perlu berkenalan?” Mattea mundur kebelakang beberapa langkah untuk menjauh dari laki-laki yang semakin mendekat padanya itu.
“Ku tanya sekali lagi, kenapa kau menculikku?” Mattea rasanya ingin lari dari laki-laki yang semakin dekat dengannya ini. Bahkan kini tubuhnya sudah menyentuh tembok. Mattea merutuki dirinya, saat aura yang di tunjukkan oleh laki-laki yang ada didepannya semakin tajam dan kuat.
Laki-laki itu tersenyum sinis pada Mattea.
“Balas dendam!” jawaban yang singkat, tapi mampu membuat Mattea bergidik.
“Apa salahku? Hingga kau mau membalaskan dendam padaku?” Mattea bertanya seperti itu, karena dia sangat yakin kalau sebelumnya dia tidak pernah bertemu dengan laki-laki tampan ini.
“Bukan kau Mattea, tapi Daddymu!” Mattea tersenyum pahit saat mendengarnya.
Tapi setelah itu, dari pintu kamar yang tidak tertutup, muncul laki-laki dengan pakaian yang serba hitam. Dia terlihat mendekat pada Laki-laki yang hanya diam itu, seperti ingin memberitahu sesuatu.
“Apa?” tanya Laki-laki itu dengan dingin.
“Mereka sudah mulai bergerak, banyak kemungkinan, sebentar lagi mereka akan menemukan kita!”
Mendengar apa yang dikatakan oleh laki-laki berpakaian hitam di dekat laki-laki tampan dan dingin itu, membuat Mattea tersenyum. Daddy dan Uncle-nya pasti sedang mencarinya saat ini.
Laki-laki itu mengangguk sekilas.
“Aku ingin kau mempersiapkan segalanya dengan sangat baik! Dah hentikan mereka!”
Setelah pembicaraan itu, laki-laki yang menyandera Mattea itu kembali menatap tubuhnya dengan marah.
“Siapa kau?” tanya Mattea sekali lagi. Melihat apa yang kini dia pijaki, membuat Mattea tahu kalau laki-laki yang ada didepannya saat ini bukanlah orang biasa.
“Austin Halmington!”
“Hah?”
“Namaku nona. Austin Halmington!”
_______
Aku ga berani minta dukungan!😐