My Devils Husband

My Devils Husband
75. Kebahagiaan



Back to the reality.


Max menggendong Stef menuju kamar mereka, sebelum itu, dia melirik ke arah kamar si kembar terlebih dahulu. Keduanya terdiam ketika kedua anak mereka yang sudah diajarkan mandiri sejak kecil, mereka tertidur dengan tenang dengan ranjang yang terpisah. Nany juga sudah pergi ke kamarnya untuk istirahat.


Malam ini Max akan menghabiskan waktu bersama dengan Stef, ya hanya berdua tanpa ada yang menganggu, ya siapa lagi kalau bukan dua malaikat kecil mereka.


Stef yang kini berada dalam gendongan Max, membuka pintu kamar mereka. Max mendorong pintu dengan kakinya hingga tertutup sempurna dan berjalan menuju ranjang mereka.


Kedua bibir mereka bertautan satu sama lain. Menyesapi setiap rasa yang ada disana. Menjelajahi mulut masing-masing dengan kedua lidah, hingga Max menurunkan Stef secara hati-hati di ranjang yang berukuran king size itu.


“Apa kau mau mengulang malam pertama kita dulu sayang?” tanya Max dengan senyum menggoda. Keduanya kini sama-sama sedang di bakar gairah yang sudah terpancing sejak tadi. Max menatap pada bibir tipis yang menggoda itu. Merasakan bagaimana bibir manis itu bersentuhan dengan bibirnya.


“Apa kau sanggup sayang?” oke, baiklah. Sepertinya Stef memang sangat berani saat ini. Jangan ragukan kekuatan seorang Maxim di atas ranjang, kalau bukan Stef yang nantinya akan KO, maka Max rela tidak menyentuh istrinya itu selama dua hari.


Dua hari? Ya hanya dua hari, kalau lebih dari itu, rasanya Max tidak akan sanggup menahan godaan duniawi itu, apalagi seseorang itu sudah sah menjadi hak miliknya.


“Oo o o, apa kau kini sedang meragukan aku? Apa selama ini kau kurang puas dengan servis ku sayang?” wajah Stef memerah padam mendengar perkataan vulgar suaminya itu. Stef mencubit pinggang Max hingga suaminya itu sedikit mengaduh.


“Heii, kau memerah sayang? Berarti tidak benarkan apa yang aku katakan, jadi kau puas kan dengan servis ku? Jadi jangan meragukan kekuatanku sayang.” Stef melengos membuat Max tertawa. Perlahan tapi pasti, Max kembali mendekatkan bibirnya dengan bibir sang istri. Menyesapi rasa yang tadi juga ia rasakan. Rasa itu tak pernah berubah, tetap sama. Manis.


Stef mulai mengalungkan tangannya pada leher Max, memegang kepala suaminya itu agar tetap bertahan dengan ciuman panas mereka. Keduanya terengah lalu saling tatap beberapa saat, hingga Stef tersenyum menatap manik gelap yang kini juga menjadi warna mata bagi kedua anak mereka.


Ciuman panas itu kembali berlangsung, tangan Max mulai nakal merayapi tubuh sintal istrinya. Membelai dua benda yang menjadi kesukaannya sejak dulu. Desahan tertahan keluar dari mulut Stef membuat Max tersenyum senang. Perlahan tapi pasti dia membuka pakaian Stef hingga istrinya itu polos tanpa sehelai benangpun.


Menatap pada Stef yang menyilang kan tangannya mencoba menutupi area privasi tubuhnya membuat Max terkekeh.


“Jangan ditutupi sayang, aku suka melihatmu yang seperti ini.” rona di wajah Stef semakin menjadi saat kata-kata itu keluar dari mulut Max.


Max juga sudah mulai melecuti pakaiannya satu persatu hingga keduanya sama-sama dalam keadaan polos.


Max mendekatkan dirinya pada Stef, untuk memulai semuanya. Memberikan rasa yang tiada tara nikmatnya bagi mereka berdua. Surga duniawi itu membuat kedua insan yang saling mencintai itu terhanyut dalam aktivitas panas mereka. Bagaimana peluh menetes dari tubuh mereka, membakar kalori yang sedikit, dan membiarkan nafas terengah karena tekanan untuk bisa merasakan surga itu.


Kecupan kasih sayang dan penuh rasa terimakasih Max berikan untuk istrinya. Stef yang kini berada dalam pelukan Max, hanya tersenyum mendengar deru nafas mereka yang sudah mulai normal kembali.


Inilah kebahagiaannya saat ini. Memiliki dua orang anak yang cerdas, dan juga tampan, serta sehat membuat Stef merasa kalau Tuhan sungguh baik padanya.


Kehidupan dia yang dulunya penuh drama dan rahasia kini mengantarkan dirinya pada kehidupan yang akan selalu dia syukuri setiap waktunya.


Memiliki seorang suami yang sangat mencintainya, membuat Stef merasa menjadi wanita paling beruntung saat ini. Kini tujuan hidup Stef hanyalah untuk melayani suaminya dengan sepenuh hati, dan juga merawat kedua anak mereka dengan penuh kasih sayang dan perhatian. Anak-anak yang dia lahirkan dengan bertaruh nyawa, anak-anak yang akan sangat dia sayangi hingga kapanpun, selama dia masih bernafas.


“Ayo tidur sayang.” suara Max membuat Stef mendongak, menatap pada manik gelap kesukaannya itu yang menatapnya penuh dengan kelembutan. Stef mengangguk lalu mengeratkan pelukannya pada suaminya itu. Mereka berdua tersenyum dalam tidur mereka.


Tapi tentu saja setelah mereka selesai melakukan aktivitas panas tadi, pakaian yang tadinya terlepas sudah terpasang kembali di tubuh mereka, karena tidak ada yang mustahil. jika saja nanti kedua malaikat kecil mereka datang dengan tiba-tiba pagi-pagi sekali untuk membangunkan keduanya.


_____


Kedua orang tua yang masih terlihat menahan kantuk itu hanya tersenyum.


“Morning baby. Kalian sudah bangun?” tanya Max berusaha bangun. Sedangkan Stef tetap berbaring. Badannya serasa remuk. Sungguh dia sangat menyesal saat menantang Max semalam.


“Yes Dad. Kalau kami belum bangun, bagaimana mungkin kami membangunkan kalian pagi ini.” Matteo menjawab, membuat Max terkekeh gemas. Anak laki-lakinya itu memang pandai sekali menjawab perkataannya.


“Baiklah ... baiklah, maafkan Dady. Apa kalian sudah mandi?” tanya Max lagi.


“Yes. Kami mandi bersama nany.” ujar Mattea yang menjawab.


“Oh good. Kalian pintar sekali. Sini berikan Dady ciuman.” Max mendekatkan diri pada Matteo yang ada di dekat Stef. Tapi anak itu tampak menjauh darinya.


“No. Tidak boleh, Daddy bau, dan Daddy belum mandi!” Stef yang sedari tadi hanya tersenyum menyimak obrolan mereka hanya bisa terkekeh mendengar perkataan putranya itu.


“Oh my god. Dady tidak bau, come on baby, kiss me please.” Max memohon lagi pada Matteo, sedangkan Mattea hanya tertawa kencang karena dia sudah di cium berkali-kali oleh Dady nya itu.


“No Dad, tidak boleh.”


Mendapat penolakan terus menerus dari putranya membuat Max cemberut membuat ketiga orang tersayang yang ada di dekatnya itu tertawa lepas. Max bahagia dengan apa yang kini dia rasakan.


Kebahagiaan memang akan selalu datang pada semua orang, baik itu melalui penderitaan terlebih dahulu atau memang saat mereka sudah merasakan kebahagiaan itu dari mereka dilahirkan. Kini perjalanan panjang penuh liku dan drama air mata dengan segala rahasia yang dulu Stef jalani mengantarkan dirinya pada kebahagiaan tiada akhir.


Tapi sesungguhnya ini bukan akhir dari segalanya, karena perjalanan hidup mereka akan semakin panjang. Akan semakin berliku kalau saja mereka tidak mampu menentukan jalan mana yang akan mereka tempuh dengan tepat.


Terlebih ada dua malaikat kecil yang baru saja memulai perjalanan kehidupan manusia mereka. Masih banyak cerita tentang lika-liku yang akan mereka jalani nantinya.


“I love you so much baby.”


_____


Uhhhhhhh, deg-degan aku tuh😬


*Oh iya, saya juga mau nanya, itu sehabis baca kasih like kan yah? Ya di kasih dong ya?


Aamiin, semoga ga ada yang lupa ya buat kasih jempolnya 🙂 Soalnya viewer nya Alhamdulillah, tapi like nya Astaghfirullah 🙂


Kemarin kaget, pas ada yang kasih Vote, walaupun hanya dua orang. Makasih ya buat kalian🥰 Se-sederhana itu memang membuat saya bahagia, iya sederhana sekali kan?🙂*