
Perjalanan yang panjang dari Indonesia menuju Jerman itu dilalui oleh Matt dengan senyuman bahagia.
Gadisnya sudah kembali. Cintanya pulang. Dan mereka akan segera menikah, dan Matt sangat menantikan itu.
“Kalian mau langsung pulang, atau mau kemana dulu?”
“Aku mau langsung pulang saja Mom, kami lelah,” Ana yang berjalan di dekat Matt langsung menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan sang kekasih.
“Baiklah, ayo ....”
Mereka semua berjalan menuju jajaran mobil yang sudah menunggu di depan bandara. Max dan Stef masuk ke dalam mobil yang berada di urutan nomor dua, sedangkan Matt dan Ana ada di jajaran nomor tiga.
Iring-iringan mobil itu bergerak perlahan meninggalkan bandara setelah para anak buah Max memasukkan barang-barang mereka kedalam bagasi mobil.
“Banyak yang berubah ya, kak?” ucap Ana memecah keheningan ketika dia dan Matt sedang didalam mobil.
Matt menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan Ana.
“Heem,” ujarnya berdehem.
Ana asik melihat-lihat keluar mobil, perubahan kota Frankfurt terlihat jelas baginya. Dia mengabaikan Matt yang tampak fokus dengan ponselnya.
Matt memeriksa ponselnya. Ada beberapa email yang masuk kedalam ponselnya, dan Matt harus mengeceknya satu persatu agar tidak ada yang salah.
Setelah menempuh perjalanan dengan waktu yang cukup lama itu, akhirnya mobil-mobil mahal tersebut tiba di area mansion.
Max beserta yang lainnya keluar dari dalam mobil setelah para pengawal membukakan pintu mobil. Mereka masuk ke dalam mansion setelah Martin membuka pintu utama untuk menyambut mereka.
“Selamat datang, Tuan, Nyonya, Tuan Muda, Nona Ana ....”
Para pelayan yang ikut menyambut mereka menundukkan kepala mereka dengan hormat.
“Dimana Aletta?” tanya Stef melihat kedalam mansion, karena biasanya cucu cantiknya itu akan menyambut kedatangan mereka.
Belum sempat mereka semua menjawab, terdengar suara lengkingan anak kecil yang menggema di lantai granit mansion tersebut.
“Uncle Matt ....” gadis kecil dengan rambut ikal berwarna pirang yang di ikat dengan ekor kuda itu berlari menghampiri Matt. Dengan langkah kecil dan juga rambut yang bergoyang-goyang dia membuat Nanny yang menjaganya ngos-ngosan karena mengejarnya.
Dia mengangkat tangannya pada Matt seperti meminta untuk di sambut. Matt terkekeh geli, gadis itu langsung di tangkapnya dan dia gendong tinggi.
“Aaaa ... Aku terbang,” Max dan Stef terkekeh geli melihat itu. Mereka berjalan menuju ruang keluarga, meninggalkan paman beserta dengan keponakan itu disana. Karena mereka cukup lelah untuk berebut pelukan dengan Matt. Mereka juga menyuruh Nanny untuk mengikuti keduanya.
“Bagaimana kabarmu, princess?” tanya Matt lembut. Dia mencium pipi chubby yang khas bau bedak bayi itu dengan gemas, membuat sang gadis kecil tertawa lebar karena geli.
“Uncle, siapa kakak cantik itu?” bukannya menjawab pertanyaan Matt, gadis kecil itu malah terpaku pada sosok Ana yang ada di belakang Uncle nya. Perhatian Matt teralihkan pada sosok wanita yang berdiri di belakangnya itu.
“Dia Aunty Ana, calon istri Uncle,” jawab Matt membuat Aletta membulatkan bibir tanda mengerti.
“Tidak, aku tidak mau di panggil Aunty, dedek manis, panggil aku Kak Ana, ya?” Ana mendekat pada Matt, dan mencubit gemas pipi gadis kecil yang ada di dalam pelukan laki-laki itu.
Gadis kecil yang bernama Aletta itu menyodorkan tangannya pada Ana pertanda dia mau di gendong orang gadis itu.
“Hai kak, Ana. Aku Aletta,”
Mata bulat kecil itu mengerjap beserta dengan bulu mata lentiknya. Bibir mungil nan tipis itu membentuk sebuah senyuman yang sangat manis.
“Holla, Sayang ....” sapa Ana. Dia mencium Aletta dengan gemas. “Kau sudah besar ya, Sayang. Kau sangat cantik,” ujar Ana memuji Aletta, gadis itu tersenyum mendengar pujian Ana.
“Aletta, bawa Uncle dan Bibi-mu kemari, Sayang.”
Suara teriakan Stef menggema, Aletta langsung menepuk keningnya.
“Yes, Oma.” ujarnya. Membuat Matt dan Ana terkekeh melihat kelakuan menggemaskan dari gadis yang berusia empat tahun lebih itu.
“Apa kau kuat membawanya, An?” tanya Matt. Karena bukan apa-apa, tapi berat gadis kecil yang ada di dalam gendongan Ana ini bukan main-main, karena tubuhnya yang gembul.
“Uncle mengatakan kalau aku gemuk?” ujar Aletta menatap Matt dengan tajam. Dia bahkan sampai menunjuk pada laki-laki itu, membuat Matt gelagapan sendiri.
“Bukan begitu Princess, tapi Aunty mu ini tidak kuat seperti Uncle, makanya Uncle tanyakan, kau ini kan tidak gemuk, kau sangat menggemaskan ....” Matt mencubit pipi Aletta dengan gemas, berharap gadis kecil itu tidak marah padanya, karena dia sama dengan Mattea, suka sekali marah-marah kalau ada orang yang mengatainya gendut.
“Kak Matt, jangan panggil Aunty, panggil aku Kakak!” Ana menatap geram pada Matt.
“Aahh, terserah kalian saja, aku capek,” Matt berlalu dari sana meninggalkan kedua perempuan itu.
“Aunty, apa benar aunty tidak kuat, untuk mengendongku?” Aletta bertanya pada Ana dengan polos.
“Sayang, panggil aku Kakak, ya? Aku belum setua itu untuk di panggil Aunty ....” Aletta hanya mengangguk saja.
“Baiklah, tapi aku mau turun,” ujarnya menggeliat di dalam pelukan Ana yang menggendongnya.
“Kenapa?”
“Karena aku takut, nanti kakak akan patah tulang, kan kata Uncle Matt, kakak itu tidak kuat,”
Ana menatap pada Aletta dengan horor.
“Kakak kuat sayang, jadi kau tidak perlu takut. Jangan dengarkan perkataan Uncle mu itu, oke?” Aletta hanya mengangguk.
Ana berjalan menuju ruang keluarga, di sana sudah ada Max, Stef, Matt, dan juga kedua orang tua Ana.
“Mom, Dad ....” ujar Ana. Dia terkejut melihat orangtuanya di sana.
Matt berdiri mengambil alih Aletta dari Ana, tapi gadis kecil itu tidak mau menurutinya, dia berdiri di lantai dan langsung berlari mendekat pada adik laki-laki Ana, Kevano.
“Gadis kecil ini bahkan tidak mau memelukku,” ujar Max dengan wajah yang di buat sedih. Aletta mengerjapkan matanya polos.
“Kak Kev, Al peluk Opa dulu, ya?” izinnya dengan tersenyum manis, pipi bulat dengan mata yang juga bulat itu mengerjap lucu.
Kevano mengusap tengkuknya. Setelah itu dia mengangguk.
Mendapatkan anggukan kepala dari Kevano, Aletta berjalan menuju Oma, dan Opa nya itu, lalu memeluk mereka.
“Kami sangat merindukanmu, Sayang,” ujar Stef mencium cucunya. Aletta menggeliat geliat membuat Stef dan Max terkekeh.
Sedangkan Ana langsung memeluk kedua orangtuanya secara bergantian.
“Kau sudah ingat kami, kan, Sayang?” tanya David hati-hati. Ana mengangguk membenarkan perkataan David membuat laki-laki paruh baya itu menghembuskan napas lega.
“Dimana Mommy-mu Al?” tanya Stef pada Aletta yang tersenyum manis didalam pangkuannya.
“Di kamar bersama dengan Daddy, Mommy tadi muntah-muntah lalu marah-marah pada Daddy,” ujar Aletta menjawab dengan polos, Stef mengerutkan kening tanda tidak paham.
“Apa Mommy-mu sakit?” tanya Stef. Aletta menggeleng.
“No. Kata Daddy itu karena aku akan memiliki adik bayi.” jawab Aletta polos, Max dan Stef membulatkan mata mereka.
“Benarkah?” tanya Stef senang. Aletta mengangguk.
“Hemm, tapi aku tidak suka adik bayi.” Aletta melipat tangannya di depan dada, pipinya mengembung lucu.
“Kenapa begitu, Sayang?” tanya Stef, dia mencium cucunya itu dengan gemas.
“Nanti kalian tidak sayang padaku lagi, dan kalian hanya akan sayang pada adik bayi.”
Mata bulat itu memerah karena hendak menangis, Max tertawa gemas. Dia lalu mengambil alis Aletta dari Stef.
“Siapa yang bilang seperti itu, hemm?” tanya Max dengan lembut dengan mengusap kepala Aletta dengan sayang.
“Teman-temanku di sekolah,” ujarnya.
“Itu tidak mungkin, Sayang. Kami sangat menyayangimu, mana mungkin kami tidak sayang padamu. Kami akan menyayangi kau dan adik bayi secara bersamaan.”
“Benarkah?” tanya Aletta tidak percaya, Max mengangguk.
“Baiklah, aku juga akan menyayangi adik bayi ....” gadis kecil itu turun dari pangkuan Max lalu berlari menuju tangga membuat Stef berteriak cemas. Tapi tidak di hiraukan oleh cucunya itu. Sedangkan Nanny mengikuti langkah kecil itu dengan ikut berlari juga.
Sedangkan kini Ana sedang memeluk adik laki-lakinya, melepaskan kerinduan mereka.
“Ih, kak An. Jangan peluk aku, aku sudah besar,” Ana melepaskan pelukannya dari Kevano lalu menjitak kepala remaja itu.
“Apa kau tidak merindukan aku?” tanyanya cemberut. Kevano menggelengkan kepalanya.
“Isshhh....”
...*****...
“Mommy, Daddy ....” pintu kamar Mattea terbuka dengan lebar. Dia yang kini sedang duduk di atas tempat tidur menoleh kaget pada Aletta, begitu pula dengan Thomas yang duduk di sofa. Sedangkan Nanny langsung menutup pintu kamar itu setelah Aletta masuk kedalamnya.
“Ada apa, Sayang?” tanya Mattea lembut. Aletta mendekat pada kedua orangtuanya itu.
“Maafkan aku, ya, Mom, Dad.” jari jemari mungil milik Aletta saling bertautan. Kepalanya menunduk karena takut.
“Ada apa, Sayang?” tanya Thomas heran. Dia baru saja membantu Mattea yang terus saja muntah-muntah.
“Mom, Dad, maafkan aku. Karena aku kemarin sempat membenci adik bayi, aku sayang pada adik bayi, Mom, Dad.”
Mattea tertawa gemas.
“Sini peluk Mommy dulu,” Mattea menyodorkan tangannya pada Aletta, agar anak gadis kecilnya itu mendekat padanya.
Aletta berjalan mendekat, lalu langsung memeluk Mattea dengan erat.
“Tidak apa-apa, Sayang. Jadi, sekarang Al janji akan sayang pada adik bayi, kan?” tanya Mattea setelah dia melepaskan pelukan mereka.
Aletta mengangguk dengan semangat.
“Lalu kapan adik bayi akan lahir, Mom?” tanyanya.
“Masih lama, Sayang. Delapan bulan lagi,” bibir mungil itu mengerucut lucu.
“Kenapa lama sekali?” ujar Aletta kesal.
“Karena memang lama, Sayang,”
“Isshh, aku kan ingin main dengan adik bayi secepatnya,”
“Sayang,” Thomas hendak mendekat, tapi langsung berhenti karena mendapat tatapan tajam dari Mattea.
Laki-laki itu kembali duduk.
“Al, tidak mau peluk Daddy?” tanya Thomas dengan memelas.
Aletta turun dari ranjang, lalu berlari memeluk Daddy-nya. Sedangkan Thomas membisikkan sesuatu pada Aletta.
“Benarkah, Dad?” tanyanya berbinar senang. Thomas menganggukkan kepalanya dengan semangat.
“Baiklah, aku akan kebawah dulu,” Aletta berlari menuju pintu, dan membantingnya membuat Thomas dan Mattea bergidik.
“Apa yang kau bisikkan padanya?” tanya Mattea ketus.
“Rahasia!” ujar Thomas, sedangkan Mattea menatapnya horor.
Aletta menuruni tangga dengan cepat. Dia berjalan mendekat pada orang-orang yang masih berkumpul di ruang keluarga.
“Uncle ....” ujarnya berteriak, dan berlari pada laki-laki itu.
“Hati-hati Princess, nanti kau jatuh,” ujar Matt dengan mengelus dada.
“Uncle, kapan Uncle dan Kak Ana akan memberikan aku adik bayi seperti Mommy, dan Daddy?”
“Eh?”
.......
.......
.......
.......
...*****...
Maaf kalau membosankan dan tidak jelas.✌️