
Para wanita tua yang sedang antusias itu, membuat para lelaki menggeleng kepala. Aira tampak benar-benar bahagia mendengar kabar kehamilan Ana, karena ini adalah cucu pertama baginya. Dan juga Stef, wanita yang memang sudah dulu menjadi nenek itu, ikut sangat bahagia, mendengar kabar, menantunya, ataupun istri dari anak lelakinya kini sedang berbadan dua.
“Daddy gak nyangka, bahkan baru beberapa hari kalian di sana, pulangnya udah bawa oleh-oleh mengejutkan kayak gini aja!” seru David geleng-geleng kepala. Rasanya laki-laki itu sedikit kesal, karena sekarang ternyata dia sudah benar-benar tua.
“Kan bibit punyaku, kualitas premium Dad, limited edition lagi, ya tumbuhnya subur lah!” kelakar Matt membuat David mendengus.
Kini para lelaki sedang berada di dalam ruang rawat Ana. Menemani para wanita rempong yang sedang mengrecoki Ana yang sudah siuman itu.
“Mom, aku tidak mau apa-apa! Jangan tanya yang aneh-aneh lagi, aku cuma butuh istirahat aja!” lama-lama kesal juga Ana jadinya, karena di tanya terus. Mau apa, ingin apa, atau lagi ke ingat apa. Hadeeuhh, melelahkan!
Matt yang mendengar suara Ana yang sudah mulai kesal, menggelengkan kepala. Laki-laki yang sudah menjadi suami Ana itu berdiri untuk mendekati ranjang tempat sang istri kini sedang berbaring kesal.
“Kenapa Sayang? Hmm?” tanya Matt lembut. Ana mendongak ke samping tepat suaminya berdiri.
“Aku bosan, para Mommy ini selalu saja menggangguku, Sayang! Padahal aku tidak apa-apa, cuma butuh istirahat saja!” sungut Ana dengan bibir yang mengerucut lucu. Matt tertawa kecil, dia mengusap rambut Ana dengan penuh kasih sayang.
“Mereka itu perhatian, Sayang. Mereka tidak mau, calon cucu mereka itu kekurangan gizi, jadi sekarang apa kau mau sesuatu?” mendengar perkataan Matt, Ana langsung menggeleng.
“Tidak, aku cuma mau tidur, sebaiknya para orang tua pulang saja, lagipula ini sudah malam, mereka juga perlu istirahat!” Matt membenarkan perkataan Ana. Walaupun sebenarnya sudah sedari tadi dia menyuruh orangtuanya untuk pulang saja, tapi tetap saja para orang tua itu tidak mendengar perkataannya.
“Sudah, sebaiknya kau istirahat saja! Biar mereka tidur disini juga tidak apa-apa! Disini ada ruangan untuk menginap, khusus untuk keluarga kita!” Ana menghela napas. Lalu wanita itu mengangguk. Dia harus banyak istirahat, supaya bayi yang ada didalam perutnya itu sehat selalu, karena saat ini kondisi tubuhnya sedikit lemah karena perjalanan jauh, untung saja kandungannya tidak apa-apa, kalau sampai terjadi apa-apa pada calon bayinya, pasti Ana tidak akan bisa untuk memaafkan dirinya sendiri.
Matt menyelimuti Ana dengan selimut tebal yang memang di sediakan di sana. Dia mengusap lembut kepala Ana yang sudah memejamkan mata itu.
“Terimakasih, Sayang. Sudah mau mengandung anakku, dan juga mencintai aku sebesar yang kau bisa, terimakasih Sayang, kau sudah mau menjadi ibu untuk anak-anakku, aku sangat mencintaimu.” kecupan di kening Ana dapatkan dari Matt, laki-laki itu menciumnya dengan sangat lembut, dalam mata yang terpejam, Ana tersenyum mendengar ungkapan yang membuatnya menjadi sangat bahagia itu.
‘Aku juga sangat berterimakasih, karena kau sudah mau untuk menjadi ayah dari anakku, Kak! Aku sangat mencintaimu.’ kini Ana benar-benar mengantarkan dirinya ke penghujung mimpi, gadis itu tersenyum bahagia.
Matt berdiri menghadap kepada para orang tua.
“Sebaiknya kalian pulang saja. Biar aku yang jaga Ana disini, aku tau kalian juga lelah, kan?” Matt duduk di antara Mommy dan Daddy-nya.
“Kenapa kau ini suka sekali memisahkan aku dan istriku, hah?!” Max mencubit lengan Matt dengan gemas.
“Apa Daddy lupa, kalau aku ini anakmu, jadi pasti aku duduk di antara kalian!” dengan seenaknya Matt menyandar di sofa, Stef hanya menggeleng kepala gemas.
“David, Aira, ayo, sebaiknya kita pulang saja, kasihan Kevano di tinggal di rumah!”
“Oh, astaga. Aku melupakan bocah bandel itu!” Aira menepuk kening, membuat David terkekeh gemas.
“Iya, sebaiknya kita pulang. Kasihan juga Thomas di mansion, pasti anak perempuanku itu, menindasnya lagi!” Stef terkekeh mendengar perkataan Max.
Setelah perbincangan itu, akhirnya para orang tua mau untuk pulang, kini tinggallah Matt dan juga Arthur disana. Matt keluar, tampak Arthur masih duduk di bangku tunggu sembari memainkan ponselnya, mungkin dia sedang bertukar pesan dengan tunangannya itu, entahlah, Matt tidak mau memikirkannya.
“Arthur ....” Laki-laki tampan dengan perawakan yang menawan itu menoleh pada tuan mudanya. Ia langsung berdiri dan menundukkan badannya.
“Ada yang bisa saya bantu, Tuan muda?” tanya Arthur sopan, Matt menggeleng, laki-laki yang ada di hadapannya ini terlalu formal padanya.
“Sebaiknya kau pulang sekarang. Istirahatlah, aku tau kau juga lelah,”
“Tidak, saya disini saja Tuan muda, menjaga Anda!” Matt menggelengkan cepat.
“Pulanglah, aku tau Stella sekarang sedang kesal padamu, jadi sebaiknya bujuk dia dulu, besok pagi kau bisa kemarin lagi! Dan ini perintah!” Arthur menghela napas, kalau sudah begini dia tidak bisa menolak, dan juga perkataan Matt tadi benar, kekasih tersayangnya sedang merajuk saat ini.
“Baik Tuan muda, kalau begitu saja permisi. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi saya!” Matt mengangguk mengiyakan, kalau bukan menghubungi Arthur, lalu siapa lagi? Tidak mungkin Uncle Thomas kan? Laki-laki tua itu juga sedang ribet karena kehamilan Mattea kali ini, karena wanita itu jadi semakin rewel dan garang, Matt saja tidak dapat membayangkan, kalau Ana nanti seperti itu. Uhh, pasti menyeramkan, cukup Mattea saja yang menyeramkan, Ana jangan.
Arthur berlalu dari hadapan Matt setelah pemuda itu menunduk sebentar, sedangkan Matt kembali ke dalam ruangan Ana, dia berjalan menuju big sofa yang ada di sana, untuk merebahkan tubuhnya. Sebenarnya bisa saja dia tidur di ranjang bersama Ana, tapi Matt tidak mau, takut bisa membuat Ana tidak nyaman nanti.
...****...
Ah, kalau memikirkan tentang itu, Arthur hanya bisa menggelengkan kepalanya, kenapa dulu dia bisa berpikir pendek seperti itu. Untung saja Max dan Thomas memahaminya, dan hanya memberi hukuman kalau dia harus menjadi asisten pribadi Matt saja.
Dan juga, dari menjadi asisten pribadi Matt, ternyata Arthur menjadi tahu, kalau sebenarnya kini Max dan Thomas sedang mengajarkannya memahami segalanya tentang perusahaan, sebelum dia memegang perusahaannya sendiri.
Rasanya, kata terimakasih saja tidak cukup untuk Arthur ucapkan pada laki-laki yang dulu dia benci setengah mati itu, karena ternyata laki-laki itulah yang menjaganya selama ini, kini Arthur menjadi malu sendiri dengan dirinya, bisa-bisanya dia membenci orang yang sudah menjadi malaikatnya.
Akibat terlalu lama mengenang masa lalu, kini ternyata Arthur sudah sampai didepan pintu pagar rumah sang kekasih. Lampunya masih menyala pertanda pemilik rumah masih belum tidur.
Dengan langkah lebar berkeyakinan penuh, Arthur keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju rumah Stella, yang halamannya tidak terlalu luas itu. Sampai di depan pintu, Arthur mencoba meyakinkan diri, lalu mengetuk pintu kayu tersebut dengan sedikit keras.
Mengucapkan kata selamat malam sembari terus mengetuk pintu, hingga akhirnya dia mendengar langkah kaki yang di hentakkan, dan laki-laki itu mengulum senyumannya, karena dia tau betul, langkah kaki siapa itu. Tidak mungkin, kan, langkah kaki calon mertuanya? Karena pria paruh baya itu tidak mungkin menghentakkan kakinya seperti itu.
Dengan muka kesal, seseorang menyambut kedatangan Arthur. Dan wajah yang tampak kesal itu, jadi semakin kesal saat melihat Arthur berdiri di sana.
“Tidak menerima tamu!” ujar Stella ketus, perempuan itu hendak menutup pintunya kembali, tapi langsung di hadang oleh Arthur.
“Sayang ... Maafkan aku, heii ....” Arthur langsung meraih tangan Stella, tapi gadis itu menatapnya galak.
“Sayang, maafkan aku. Aku bukannya mau mengabaikanmu, tapi situasi sangat tidak memungkinkan!” jelas Arthur. Iya, salahnya juga sih. Karena tadi terlalu panik, dia mengabaikan telepon dari sang kekasih. Dan saat dia ingin menelpon Stella kembali, ponsel gadis itu malah tidak aktif.
“Tidak mendengar penjelasan apapun!” ckckck, masih marah rupanya. Arthur menggeleng gemas.
“Aku minta maaf, Sayang. Tadi aku terlalu panik, Nona muda pingsan saat di bandara, jadi aku langsung membawanya ke rumah sakit, dan terpaksa mengabaikan teleponmu!” Mata Stella menatap Arthur nyalang.
“Nona Ana sakit apa? Kenapa?” tanya Stella terkejut. Kini tatapan gadis itu tidak horor lagi, dia menatap Arthur cemas.
“Nona Ana sedang hamil, jadi saat di bandara dia pingsan karena kelelahan, jadinya aku dan Tuan Matt langsung panik, maafkan aku Sayang ....” Stella membawa Arthur untuk duduk di kursi yang tamu yang ada di terasnya. Gadis itu menatap Arthur gemas, dan juga sedikit bersalah, karena sudah mengabaikan telepon dari tunangannya itu.
Wajah lelah itu membuat Stella merasa bersalah, pasti laki-laki itu sepulang dari rumah sakit, langsung menemui dia disini, uuhhh, laki-laki ini benar-benar membuat Stella jatuh hati, lagi ... lagi dan lagi.
“Sayang ... Maafkan aku, aku tidak tahu tadi, lagipula kau tidak memberitahuku!” bibir pink cerah itu mengerucut lucu. Hoho, masih tidak mau di salahkan rupanya. Tapi tak apalah, yang penting sekarang gadis cantik yang ada di sampingnya itu kini sudah tidak marah lagi.
“Tidak apa, jadi sekarang tuan putriku, sudah tidak marah lagi?” tanya Arthur gemas, Stella menggeleng. Arthur mencubit pipi Stella pelan.
“Baiklah, aku akan pulang sekarang. Ini sudah larut!” Arthur melihat pada jam tangannya, ya ini sudah cukup larut.
“Apa kau sudah makan?” tanya Stella memicingkan mata. Melihat Arthur yang menggaruk tengkuknya, membuat Stella yakin kalau laki-laki itu pasti belum makan, karena memikirkannya. Dan itu membuat Stella merasa bersalah lagi, karena sudah bersikap kekanak-kanakan.
“Ayo makan dulu, aku masak banyak tadi, dan masih ada sisa. Aku akan hangatkan dulu!” tanpa ba-bi-bu, Stella langsung menarik tangan Arthur bangkit dan membawanya masuk kedalam rumah.
“Apa ayahmu tidak akan marah?” tanya Arthur pelan, Stella menggeleng.
“Mungkin ayah sudah tidur, sudah kini kau duduk dulu disini, aku siapkan makanannya sebentar!” Arthur duduk manis di atas kursi meja makan, laki-laki tampan itu menatap Stella kagum. Bagaimana perempuan itu menyiapkan semuanya dengan sigap, mungkin karena hidup tanpa seorang ibu, membuat Stella menjadi gadis yang mandiri dan bisa segalanya.
Makanan yang sudah di hangatkan itu, Stella hidangkan di depan Arthur. Laki-laki itu menatapnya dengan berbinar.
“Terimakasih, Sayang!” ujar Arthur sebelum memakan makanannya, Stella mengangguk malu.
“Habiskan, aku tidak mau menjadi janda sebelum menikah karena kau mati duluan!”
“Astaga Sayang, kau menghancurkan hatiku, sadis sekali kau ini!”
...****...
Makasih buat yang masih mau baca cerita recehan aku ini, ya^_^ Lopeyu buat kalian semua:*