
Liburan musim semi ini, Stella hanya berdiam diri di rumah. Kehamilannya yang sudah masuk bulan ke tujuh, membuat Arthur semakin protektif pada ibu hamil itu.
Karena kandungan Stella yang sudah besar, perempuan itu bahkan tidak di perbolehkan untuk menginjak dapur, menemani Nemi untuk memasak. Suaminya itu benar-benar! Bahkan, asisten rumah tangganya itu, ikut melarang Stella melakukan hal apapun untuk membantunya.
Seperti siang ini.
“Nyonya, jangan lakukan ini!”
“Nyonya, jangan lakukan itu!”
“Nyonya, biar saja itu di sana!”
“Nyonya, sebaiknya sekarang istirahat saja!”
“Nyonya, jangan capek-capek!”
“Nyonya ... nyonya ... nyonya ....”
Masih banyak lagi Nyonya ... nyonya ... nyonya ... yang membuat Stella benar-benar muak. Wanita itu hanya bisa mendesah berat. Bahkan, Nemi lebih protektif dari suaminya. Cih, wanita tua itu, membuatnya seperti memiliki ibu saja. Hemm, ya, Stella sangat menyayangi Nemi, bahkan sudah menganggap wanita itu sepertinya ibunya sendiri.
“Nyonya ... mau makan lagi?” kini wanita paruh baya itu sedang berdiri di ruang keluarga. Tempat Stella menonton televisi. Ibu hamil tersebut menoleh.
“Aku tidak mau apa-apa sekarang. Kau istirahatlah, Nemi!” Nemi mengangguk. Dia kemudian kembali ke dapur, mengerjakan apa saja yang bisa dia kerjakan. Istirahat baginya tidak mungkin, karena dia bukan wanita yang mudah puas dengan hasil pekerjaannya.
Stella mendesah beberapa kali. Bayi di dalam perutnya bergerak, seperti menendang membuatnya merasa sakit sekaligus geli. Wanita itu tersenyum, dan memegang perutnya dengan lembut.
“Kau sedang apa, Sayang? Sedang bermain kah?” tanya wanita itu bicara pada perutnya. Bayi yang masih di dalam perutnya itu kembali bergerak, mungkin menjawab pertanyaan Stella.
“Hemm, Mami rindu sama Papimu!” ujar Stella. Dia menopang wajahnya dengan tangan kanan. Duduk bersila di atas sofa, sembari menatap televisi dengan tatapan kosong.
“Apa Mami pergi ke perusahaan saja sekarang? Lagipula sudah lama Mami tidak ke sana?” Stella lagi-lagi mengusap perutnya. Dan dia juga mendesah lagi. “Tapi, apa tidak akan apa-apa? Kalau Mami ke sana? Mengganggu Papimu?” heeuhh, berbicara sendiri seperti ini, memang benar-benar menyebalkan.
Stella meraih remote TV, lalu mematikan televisi layar lebar itu. Dia berjalan menuju kamar, mengganti pakaiannya. Hemm, dia memutuskan untuk pergi ke mall saja, daripada pergi ke kantor dan mengganggu suaminya nanti.
Semenjak hamil, Stella lebih suka memakai dress dengan panjang di bawah lutut, itu membuatnya lebih merasa nyaman karena tidak membuat perutnya sesak. Dan dia sekarang juga lebih suka berdandan. Entahlah, hanya ingin terlihat lebih cantik saja, apalagi dengan tubuh bengkak ini.
“Nyonya ... mau pergi kemana?” Nemi si cerewet bertanya lagi. Stella menghela napas kesal. Dia melihat asisten rumah tangganya itu sebal.
“Aku mau ke mall!” ujar Stella ketus.
“Saya akan ikut dengan Nyonya!” ujar Nemi cepat. Dan dengan cepat pula Stella menggeleng. “Tidak! Kau di sini saja!” ujar wanita hamil itu, dan Nemi membalas gelengan Stella dengan kepala yang menggeleng juga.
“Kalau begitu, Nyonya tidak boleh pergi! Tuan Arthur bilang, kalau saya harus ikut dengan Nyonya, kemanapun Nyonya pergi, kalau saya tidak pergi, maka Nyonya juga tidak bisa pergi!”
Stella mengepalkan tangannya. Disini sebenarnya, siapa, sih yang menjadi majikannya? Kenapa sekarang wanita cerewet ini yang mengaturnya? Cih, menyebalkan!
“Baiklah-baiklah! Kau ikut!” ujar Stella mengalah. Nemi tersenyum senang.
“Kalau begitu saya akan menghubungi sopir yang disiapkan oleh Tuan Arthur untuk bersiap-siap dulu Nyonya!” ahh, kenapa hanya pergi ke mall saja jadi seribet ini, sih? Jangan bilang, kalau nanti ada pengawal juga?!
...***...
Kan ... kan ... ada pengawal! Cih, berapa uang yang di habiskan oleh Arthur untuk menyewa dua orang pengawal ini? Dan juga mobil itu?
“Kau tau kalau kita akan di kawal?” Stella bertanya pada Nemi yang duduk di kursi samping kemudi, sedangkan wanita itu duduk di belakang.
Nemi mengangguk. "Iya Nyonya. Bukan kita, tapi Nyonya saja!" Stella mendengus mendengar perkataan Nemi. Wanita dengan perut besar itu melipat tangannya didepan dada.
“Oh iya, apa Nyonya tidak bilang pada Tuan Arthur kalau Nyonya akan pergi ke mall?” Ah, untung saja asisten cerewet ini mengingatkan Stella. Tapi, tanpa di beritahu pun, Stella yakin kalau suamiku itu sudah tau dari pengawalnya.
Telepon Arthur yang berada didalam saku jasnya berdering. Nama sang istri tertera di sana. Arthur yang sedang berjalan di belakang Matt itu segera meminta izin untuk mengangkat teleponnya. Dan laki-laki yang menjadi boss nya itu mengizinkan.
“Ada apa, Sayang?” tanya Arthur, dengan sedikit memelankan suaranya.
“Aku mau minta izin pergi ke mall!” ujar Stella secara langsung.
Arthur mengangguk. "Aku sudah tau itu, kau mau aku temani?" tanya Arthur. Stella berbinar senang. “Apakah bisa? Bukankah kau sangat sibuk?” Arthur membenarkan perkataan Stella.
“Aku akan mencoba bertanya pada Tuan Matt dulu!” ujar Arthur. Stella yang masih berada di dalam mobil itu mengangguk, walaupun sang suami tidak akan melihatnya mengangguk.
“Baiklah, kalau bisa kabari aku, dan kalau tidak bisa, tetap kabari aku!”
“Baiklah, aku tutup dulu telponnya!”
Setelah itu, sambungan telepon tersebut pun terputus. Arthur segera mengejar Matt yang sudah kembali terlebih dahulu ke ruangan.
Tok ... tok ...
“Masuk!”
Arthur membuka pintu ruangan Matt, laki-laki itu tampaknya sedang fokus dengan kertas yang ada di tangannya.
“Ada apa? Istrimu merengek lagi?” tebak Matt. Tapi sayangnya itu salah, karena kali ini Stella tidak merengek.
“Tidak Tuan. Stella tidak merengek. Tapi, apa boleh saja izin sebentar, untuk menemani istri saya membeli perlengkapan bayi kami?” Matt mendongak. Menatap Arthur yang berdiri di depan meja kerjanya. Terdiam cukup lama, hingga akhirnya mengangguk.
“Baiklah, kau pergi saja temani istrimu itu. Tidak usah kembali ke kantor, aku tau, wanita hamil itu pasti rempong saat memilih barang untuk bayinya?” Arthur menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Melirik Matt yang tidak mempedulikannya itu.
“Saya boleh pergi, Tuan?” tanya Arthur. Matt mengangguk. Arthur tersenyum senang, dia kemudian mengucapkan terimakasih dan berlalu pergi dari sana.
“Huuhh, bagaimana mungkin aku tidak mengizinkan seorang suami dan juga ayah untuk pergi berbelanja membeli perlengkapan anaknya.” desah Matt. Laki-laki itu kembali memfokuskan perhatiannya pada kertas-kertas yang ada di tangannya. Untung saja agenda Matt kali ini sudah selesai, jadi dia bisa melepaskan Arthur pergi dengan mudah.
Arthur keluar dari gedung Alexander Corp dengan langkah lebar. Menuju ke parkiran khusus yang ada di gedung itu.
Menaiki mobilnya, Arthur membelah jalanan kota Frankfurt untuk menyusul istrinya ke mall.
***
Stella duduk di depan stand penjual es krim. Sembari menunggu kedatangan Arthur, yang katanya sekarang sedang ada di jalan.
“Nomi, kau serius tidak mau es krim?" entah sudah berapa kali Stella bertanya, tapi tetap saja jawaban wanita itu adalah gelengan kepala, dan juga kata-kata romantisnya. ‘Tidak usah nyonya, saya sudah terlalu tua untuk makan es krim yang dingin. Gigi saya suka ngilu kalau makan es krim!’ cih, jawaban yang benar-benar menyebalkan.
“Kalian juga tidak mau?” tanya Stella pada dua orang laki-laki bertubuh besar yang berdiri tidak jauh dari dirinya. Kedua laki-laki itu langsung menggeleng. Bisa hancur image mereka, kalau ada orang yang melihat mereka makan es krim, dengan tubuh kekar seperti ini.
Stella mendesah pasrah. Inilah bagian yang paling menyebalkan dari kata Menunggu. Cih, sangat membosankan. Sebelas dua belas sama nungguin jodoh kita, yang lagi di jagain orang.
Dari kejauhan, Stella melihat Arthur berjalan cepat ke arahnya. Wanita itu tersenyum antusias. Saat Arthur sudah berada di depannya, wanita itu langsung memeluk suaminya itu.
“Kau tau, aku sangat bosan menunggumu disini!” adu Stella dengan wajah yang— hemm, menggemaskan!
“Tapi, bukannya sekarang laki-laki tampan yang sedang kau tunggu itu, sudah ada di depanmu?” tanya Arthur terkekeh kecil. Stella memukul dada bidang suaminya itu dengan gemas.
“Sudah, ayo! Kita pergi. Kau mau membeli apa, Sayang?” tanya Arthur. Stella tampak sedikit berpikir.
“Perlengkapan untuk bayi kita!” Arthur mengangguk. Dia sudah menebak hal ini sebelumnya, jadi sekarang dia hanya perlu menuruti setiap apa yang diinginkan oleh istrinya itu.
“Ayo. Nemi, ayo. Kalian juga, ayo!” ketiga orang itu mengekor di belakang Stella dan juga Arthur. Mereka naik ke lantai tiga mall megah tersebut. Ada logo perusahaan Alexander di depan mall besar itu, dan sudah Stella tebak, siapa pemilik mall mewah itu.
Kelima orang itu berjalan menuju lantai tiga mall tersebut. Ke toko perlengkapan bayi. Mata Stella berbinar senang saat melihat banyaknya baju-baju bayi aneka ragam bentuk dan rupa disana.
“Arthur, kalau begini aku jadi mau semuanya,” rengek Stella dengan mata penuh binar. Arthur menggeleng. “Yang seperlunya saja, Sayang. Ayo, cepat pilih, mana yang kau mau!” Stella cemberut mendengar perkataan Arthur. Dia berjalan memilih baju-baju menggemaskan tersebut. Ada juga sepatunya, topi, celemek, dan ... masih banyak lagi.
“Warna netral saja, kita pilih warna biru!” ujar Arthur. Dia meletakkan kembali bando yang ada di tangannya.
Stella tersenyum, “Kenapa pilihanmu selalu sama denganku? Memang, ya, kalau seseorang yang mencintai kita begitu dalam, pasti punya pemikiran yang sama seperti kita!” Stella terbahak sendiri dengan perkataannya. Arthur hanya menggeleng sambil tersenyum tipis.
“Nemi, ayo bantu aku pilih-pilih baju bayinya!” Nemi mendekat ke arah Stella, begitu banyak pilihan baju bayi yang membuatnya bingung. Semuanya bagus-bagus dan menggemaskan.
...****...
Stella sekarang sedang duduk di kursi tunggu tempat dia membeli perlengkapan bayi. Wanita itu mengeluh lelah, dan Arthur memakluminya, dengan menyuruh supaya dia istirahat saja.
“Ayo!” ujar Arthur. Dia sudah menyelesaikan semua pembayaran untuk perlengkapan bayinya itu. Dan akan di antarkan ke alamat mereka oleh pemilik toko. Arthur menyuruh Nemi untuk pulang duluan, juga dua orang berbadan besar yang dia sewa sebelumnya.
“Kau tidak pergi ke kantor lagi?” tanya Stella. Arthur menggeleng. “Tuan Matt menyuruhku untuk tidak ke kantor lagi, menemaninya seharian ini!” ujar Arthur. Dia menggenggam tangan sang istri, memberikan senyuman tipis yang membuat Stella ikut tersenyum.
“Bagaimana kalau kita pergi nonton?" tanya Stella. Arthur terdiam sebentar. “Baiklah, ayo!” hemm, apapun untuk ibu hamil ini! Arthur dan Stella naik ke lantai lima Mall, tempat ruang Movie berada.
“Arthur, sana beli minuman, juga popcorn!” Arthur mendesah. Setelah mendapatkan tiket, dia pergi ke tempat penjualan minuman dan juga popcorn.
Stella tersenyum bahagia. Dia sangat bahagia saat bisa berjalan berdua dengan suaminya saat ini, menonton, makan bersama, ahh seperti orang berpacaran saja
Arthur dan Stella masuk ke dalam ruang bioskop, dengan dua minuman di tangan Arthur, dan juga dua cup popcorn. Semoga Stella tidak merengek minta lagi nanti.
Film romansa yang di pilih oleh Stella membuat Arthur rasanya mengantuk. Sedangkan wanita yang menjadi istrinya itu tersenyum bahagia, apalagi dengan adegan-adegan yang membuat penonton baper. Stella memegang pipinya sendiri, merasa gemas dengan pemeran utama dalam film tersebut.
“Ah, seharusnya mereka berciuman tadi!” gerutu Stella saat film itu sudah berganti scene. Arthur hanya menggeleng. Stella menggerutu, tapi popcorn yang ada di tangannya tetap masuk kedalam mulut.
“Aahhh, dia itu bodoh atau apa! Sudah jelas-jelas saling mencintai, tapi tidak mau mengaku satu sama lain!” hahhh, menggerutu lagi. Apakah semua wanita yang menonton film romansa seperti itu? Tapi, saat Arthur melirik pada bangku lainnya, tidak ada wanita yang seperti istrinya ini.
Hehe, baiklah, istrinya itu istimewa Arthur!
...***...
“Kita mau kemana lagi?” tanya Arthur. Hari ini dia mau menyenangkan sang istri. Stella diam, mangut-mangut memikirkan kemana lagi mereka.
“Pulang saja! Aku sudah lelah!” Arthur mengangguk. “Tapi, apa kau tidak lapar?” tanyanya.
“Tidak, aku makan di rumah saja. Popcorn milikmu tadi, juga aku yang habiskan!” ujar sang ibu negara. Arthur mendesah. Mereka lalu berjalan menuju basemen yang ada di mall itu, untuk menuju ke mobil yang parkir oleh Arthur.
Mobil hitam mengkilap itu bergerak, meninggalkan kawasan mall elite itu, Stella benar-benar senang hari ini. Hemm, dengan Arthur yang bisa meluangkan waktunya seperti ini saja, sudah membuat Stella bahagia. Musim semi yang indah.
...***...
Arthur berhenti di sebuah rumah besar nan elit, masih di kawasan kota Frankfurt. Stella mengerutkan kening karena bingung, sebab suaminya itu membawa dirinya ke rumah besar yang entah punya siapa.
“Kita mau apa kesini?” tanya Stella, saat Arthur sedang menunggu penjaga untuk membukakan gerbang.
“Kita akan tinggal disini!” ujar Arthur. Stella mendelik tidak percaya. “Jangan berbohong!” ujar wanita itu, Arthur menggeleng. “Aku tidak berbohong!” jawabnya.
Mobil bergerak lagi, Arthur melewati taman air mancur yang ada di halaman rumah megah itu, bahkan hampir sama megahnya dengan mandi keluarga Alexander.
Penjaga yang ada di rumah itu, membukakan pintu mobil untuk kedua tuan mereka. Stella masih tercengang dengan rumah mewah yang ada di hadapannya. Bergaya modern, hemm, selera ia sekali.
“Ayo!” Arthur membawa Stella berjalan menuju pintu utama, tangan wanita itu dia genggam. Senyum tipis terbit di wajahnya saat melihat wajah bengong sang istri, ketika Nemi keluar dari dalam rumah itu, untuk menyambut mereka.
“Kau tau ini, Nemi?" tanya Stella mendelik sinis. Nemi hanya tertawa canggung. “Iya, Nyonya!” ujar wanita itu. Dia membawa Stella dan juga Arthur untuk masuk lebih dalam lagi ke rumah itu.
“Nemi, kau yakin bisa membereskan semuanya sendiri?” tanya Stella. Wanita itu mengangguk yakin. “Yakin, Nyonya. Asal ada tambahan bonus!” Arthur tertawa mendengar perkataan wanita itu. Dia menggelengkan kepalanya dengan tersenyum tipis.
“Ayo, kita ke kamar bayi yang sudah aku siapkan!” Arthur dan Stella berjalan menuju lantai dua, tempat kamar mereka dan juga calon bayi.
Arthur sudah mempersiapkan semua ini dengan matang. Kalau dia tinggal di apartemen terus, lalu bayi mereka akan di letakkan dimana? Sedangkan kamar yang satunya lagi sudah di tempati oleh Nemi, dan juga lantai apartemen yang tinggi membuat Arthur merasa tidak nyaman. Maka dari itu dia memutuskan untuk pindah rumah, saat kandungan Stella masuk bulan ke tujuh.
“Kau suka?” kamar bayi yang mempunyai pintu penghubung dengan kamar kedua orangtuanya itu membuat Stella tersenyum. Dia menatap Arthur dengan penuh kebahagiaan. Arthur kah yang sudah menyiapkan ini semua?
“Aku sangat suka. Terimakasih, Sayang.” kecupan di pipi Stella berikan. Laki-laki itu tersenyum, membalas senyuman sang istri.
“Ayo mandi dulu, nanti kita tata ruangannya. Aku tau kau gerah, kan?" tanya Arthur Stella mengangguk.
Hari yang memang sudah sangat sore itu, dimanfaatkan oleh Stella untuk mandi secepatnya. Dia benar-benar ingin menata ruangannya untuk bayinya bersama sang suami.
Arthur mandi setelah Stella, tadi dia harus memeriksa pesan yang masuk kedalam ponselnya, jadi ia tidak bisa mandi bersama dengan sang istri.
Kedua suami istri yang sudah segar itu, menata kamar bayi mereka dengan senyuman sumringah. Stella sangat bahagia saat melakukan hal ini.
“Aku sangat senang hari ini!” ujar Stella setelah dia dan Arthur menyelesaikan pekerjaan menyenangkan itu.
“Hemm, kau harus memberikan aku hadiah untuk hal ini!” ujar Arthur dengan tersenyum jahil. Wanita itu memukul lengan sang suami dengan pelan. “Apa yang kau inginkan?” tanya Stella dengan mata yang menggoda. Arthur tertawa melihat tingkah istrinya itu.
“Kita makan malam dulu, oke?!” Stella mengangguk. Dia mengikuti langkah kaki Arthur yang berjalan di depannya.
Di ruang makan yang lebih besar daripada saat di apartemen, tampak Nemi sedang menata makanan yang sudah dia masak.
“Silahkan, Tuan, Nyonya!” ujar wanita itu. Stella dan Arthur duduk di kursi meja makan, mereka melirik Nemi membuat wanita itu sedikit gugup.
“Ayo, kita makan bersama!” ujar Stella. Nemi langsung menggeleng. “Saya belum lapar, Nyonya!” ujar wanita itu, menolak ajakan Stella.
Stella memicingkan matanya, membuat wanita itu sedikit gugup. “Sungguh Nyonya, saya belum lapar. Nanti kalau saya lapar, saya bisa makan sendiri!” Stella menghela napas pasrah. Akhirnya ibu hamil itu mengangguk juga.
...***...
“Kau suka rumahnya?” Arthur dan Stella kini berada di atas ranjang, Arthur membelai rambut pirang sang istri dengan penuh kasih sayang. Laki-laki itu tersenyum karena Stella memeluknya.
“Aku suka, sejak kapan kau membeli rumah itu?” tanya Stella. Masih memeluk Arthur, tidak mendongak sedikitpun. Dengan posisi seperti ini, membuat Stella merasa sangat nyaman, dan juga hangat.
“Hemm, sudah cukup lama.” ujar Arthur singkat.
“Kenapa kau tidak mengajakku?” tanya ibu hamil itu, Arthur menggeleng pelan. “Bisa ribet nanti!” ujarnya dengan terlalu jujur, Stella memukul dada bidang itu dengan pelan, bibirnya mengerucut sebal.
“Kau ini benar-benar tidak asik!” ujar Stella ketus. Arthur tertawa lebar. Istrinya itu semakin cantik saat merajuk seperti ini.
“Tapi ini semua sesuai dengan seleramu, kan?” tanya Arthur dengan menaikkan alisnya menggoda. Wanita itu mengangguk malu.
“Kita istirahat sekarang. Aku tau kau lelah!” Arthur menyelimuti tubuhnya dan juga tubuh sang istri, mendekap ibu dari calon anaknya itu dengan erat. Ciuman lembut di kepala Stella, membuat wanita itu tersenyum.
“Tapi, bagaimana dengan hadiahmu?” tanya Stella. Arthur terkekeh gemas.
“Kapan-kapan saja!” ujar laki-laki itu.
Stella dan juga Arthur, tidur dalam kehangatan malam. Di balik selimut tebal nan lembut, Stella memeluk suaminya dengan erat, memejamkan mata dengan wajah penuh senyuman. Laki-laki penuh kejutan ini, membuat Stella benar-benar bahagia hari ini.
Apalagi yang lebih membahagiakan, dari pada saat kita merasa sangat dicintai oleh orang yang kita cintai? Itu benar-benar sangat membahagiakan.
“Terimakasih untuk cintamu yang besar untukku, Sayang!”
****
😆 Membosankan\=_\=