My Devils Husband

My Devils Husband
66. Bos yang menyebalkan



“Maaaxxxx, turunkan aku! Heii, turunkan aku..! heiiiiii.....” Thomas memberontak saat berada dalam gendongan Max. Laki-laki yang akan menjadi ayah itu berputar-putar dengan Thomas yang ada dalam gendongannya. Bayangkan saja seperti apa kedua laki-laki berotot itu dengan tubuh yang saling menempel. Terlihat yang satu sangat menyedihkan, dan yang satunya lagi terlihat sangat-sangat bahagia.


“Hahahah...” David tertawa terpingkal-pingkal melihat hal itu. Begitu juga dengan Stef, dia memegang perutnya yang kram karena terlalu kencang tertawa.


“Dasar Max sialan! Turunkan aku Maaaaax!” teriak Thomas lagi. Setelah itu Max menurunkan laki-laki itu, saat dia ingin menangkap Thomas, laki-laki itu sudah berlari terbirit-birit terlebih dahulu. Dia bersembunyi dibelakang David.


“Hei! Sini kau?!” ujar Max. Tapi Thomas langsung menggelengkan kepalanya tanda tidak mau.


“Astaga, perutku sakit. Hahaha, kau terlihat menyedihkan Thomas,” David masih memegangi perutnya yang terasa sangat terguncang karena tertawa, dia juga menyeka sudut matanya yang terlihat basah karena terlalu kencang tertawa.


“Kalian berdua tertawa karena apa?” tanya Max melongo dengan muka yang sangat menyebalkan menurut Thomas. Laki-laki itu masih merasakan bulu tangannya yang merinding karena perbuatan Max tadi.


“Kau kenapa memeluk Thomas seperti itu Max?” tanya Stef dengan tawa yang masih berderai dari dalam mulutnya.


“Hah?😳”


“Kau..., Kau menurunkan harga diriku Max, Huhuhu,” Thomas berpura-pura mengusap matanya seakan dia seperti orang yang terzalimi lalu menangis. Padahal kan memang dia yang terzalimi. (Awokwok, Author ketawa jahat nih)


“Aku... Aku... Aaaakkkhhh, apa yang sudah aku lakukan? hiiii, astaga, kau...” Max menunjuk pada Thomas.


“Apa?” tantang Thomas yang masih bergidik.


“Kenapa kau memelukku?” tanya Max yang membuat ketiga orang itu melongo.


“Hah?”


“Apa?” tanya Max tanpa rasa bersalah.


“Kau menyebalkan Max, sudah jelas-jelas kau yang memelukku, lalu menggendong aku, dan kau berputar-putar, tapi kini kau menuduhku, kau harus tanggung jawab!” teriak Thomas dengan menggebu-gebu.


“Tanggung jawab apa? Menikahimu? Tidak mungkin, aku masih mau jadi ayah yang lurus untuk anakku nanti!” tolak Max dengan cepat. Stef memijit pelipisnya, dia tidak habis pikir, karena kehamilannya ini membuat Max jadi seperti ini.


“David,” panggil Thomas pada David yang ada didepannya.


“Huum? Apa?” saut David melirik pada laki-laki yang terlihat menyedihkan itu.


“Tolong antarkan aku pulang ke rumah orangtuaku!” ujar Thomas yang membuat David mengernyit.


“Hee?”


“Aku tak sanggup lagi bersama dengan dia David, pulangkan aku ke rumah orangtuaku!”


“Ckckck, memangnya kau istriku?”


“Hee?”


“Jangan drama kalian!” ucap Max kesal.


“Siapa juga yang drama,” delik Thomas cepat.


“Tentu saja kau!”


“Kau lihat sekarang Max, bulu tanganku masih merinding karena ulahmu itu!”


“Itu urusanmu, bukan urusanku!”


“Ckckck...”


Saat mereka sedang asik berbincang, terlihat kepala pelayan mendekat pada mereka.


“Tuan Max, ada seorang laki-laki dan juga perempuan ingin bertemu. Mereka ada di gerbang depan.” ucap Marko memberitahu Max membuat laki-laki itu mengernyit.


Max berjalan bersama dengan Marko menuju pintu gerbang. Dia berjalan agak jauh, karena jarak pintu gerbang dengan pintu utama lumayan jauh. Saat tiba disana dia melihat ada Justin dan juga Aira disana.


Laki-laki yang menjadi kakak Stef itu tampak terlihat sangat kesal, karena penjaga di gerbang menahannya. Sedangkan Aira hanya terlihat acuh saja melihat kakaknya itu mencak-mencak seperti itu.


“Kau..., kenapa kau lama sekali? Hah?” ucap Justin kesal.


“Ya mana aku tau kalau kau kesini, lagian kau tidak memberitahuku!” jawab Max.


“Marko, bawa mobil dan juga barang-barang mereka kedalam. Mereka adalah kakak Stef!” ujar Max membuat laki-laki itu mengangguk.


“Jalan saja!” ujar Max pada Justin dan Aira.


Max, Justin dan juga Aira berjalan menuju pintu utama mansion megah itu. Pilar-pilar utama yang menjulang tinggi tampak sangat mengagumkan. Justin mengikuti langkah Max yang berjalan menuju ruang makan.


“Kakak....,” pekik Stef saat melihat kakak laki-lakinya itu datang bersama dengan temannya Aira. Sedangkan David terdiam melihat Aira saat ini ada didepannya.


“Hei Baby,” sapa Justin pada Stef. Dia langsung memeluk adiknya itu membuat Max mendelik kesal padanya.


“Lepaskan!” ujar Max. Tapi laki-laki itu tidak melepaskan pelukannya dari Stef.


“Heh! Aku baru sampai, dan aku mau memeluk adikku, kenapa kau jadi seperti ini.” ucap Justin kesal. Sedangkan Max hanya mengerucutkan bibirnya kesal.


“Oh iya Stef, kau terlihat semakin tembem saja, dan juga terlihat semakin gemuk,” ujar Justin dengan jujurnya. Dia mencubit pipi Stef gemas.


“Benarkah?” tanya Stef.


“Hooh, tanyakan saja pada Max.” ucap Justin. Lalu Stef melirik pada suaminya itu.


“Benar Max? Aku terlihat gemuk?” tanya Stef. Sedangkan Max dengan bodohnya menganggukkan kepalanya membuat Stef cemberut.


“Huuaaa....” tangisan Stef membuat kedua laki-laki itu kaget. Sedangkan David, Thomas, dan juga Aira hanya menghela nafas melihat drama yang ada didepan mereka itu.


“Aku gemuk? Huaaaa, aku gak mau gemuk,” ucap Stef yang membuat Max kelabakan.


“Heeh, sayang. Kau tidak gemuk!” ucap Max membuat Stef mengeluarkan tatapan lasernya pada suaminya itu.


“Aku benar. Kau tidak gemuk, hanya terlihat berisi saja.” ucap Max, laki-laki itu menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali. Bingung mau menjawab apa supaya tidak membuat istrinya itu tidak sedih.


“Apa bedanya Max, tetap saja aku gemuk!” ucap Stef mengerucutkan bibirnya.


“Beda sayang. Kalau gemuk itu untuk orang yang tidak hamil, tapi kalau berisi itu untuk orang hamil. Karena kau hamil, dan anak kita sehat jadi kau terlihat berisi.” ucap Max menjelaskan dengan kata-kata yang dia buat sendiri.


“Heeh? Begitukah?” tanya Stef.


“Iya Sayang, karena kamu sekarang lagi hamil, makanya terlihat berisi.” ucap Max, Stef hanya mengangguk-angguk. Baiklah, ternyata dia tidak gemuk, dan hanya berisi saja.


“Apa yang kalian bicarakan ini? Stef, kau hamil?” tanya Justin pada adiknya itu. Sedangkan Stef menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan pertanyaan kakaknya itu.


“Hah? Benarkah?” tanya Justin lagi. Dan lagi-lagi Stef mengangguk membuat kakak laki-lakinya itu langsung memeluk sang Adik dengan senang.


“Aih, sebentar lagi aku akan memiliki keponakan, tapi aku sendiri masih belum mempunyai pasangan.”


“Lalu apa bedanya kau dengan kedua laki-laki tua itu!” ucap Max menunjuk pada David dan Thomas.


“Cih, dasar Bos menyebalkan!”


________