My Devils Husband

My Devils Husband
Eps 52



Antonio berjalan mendekat pada Henry. Menatap lelaki tersebut dengan tajam.


“Apa maksudmu? Apa kau sudah gila? Dia istriku, dan kau bilang kau mencintainya? Kau sungguh gila!” Antonio mengeluarkan semua isi hatinya. Sedangkan Henry hanya tersenyum mendengar ucapan Antonio.


“Lalu apa masalahnya? Kau tinggal menceraikan dia, dan aku akan menikahi dia!” ucap Henry dengan santainya membuat Antonio benar-benar tidak bisa menahan emosinya.


“Kau...,” Antonio mendekat dan menonjok perut. Henry hingga membuat lelaki tersebut terbatuk.


“Antonio,” ucap Lie berteriak, sembari mencoba untuk membuka pintu mobil tapi tidak bisa karena di kunci oleh Henry.


“Kau berani memukulku?” tanya Henry mendekat pada Antonio.


Antonio berjalan mundur, mendekat pada Jhon yang berada tidak jauh dibelakangnya.


“Kau mau apa?” tanya Antonio was-was.


“Tinggalkan Lie, dan pergi dari sini!” ucap Henry memperingati membuat Antonio kembali geram.


“Apa-apaan kau ini? Dia istriku! Seharusnya kau yang pergi dari hidup kami, rasanya aku sungguh menyesal karena sudah menolong istri dan anakmu saat itu!” ucap Antonio dengan geram, yang membuat Henry harus mengingat kembali periksa berdarah tersebut.


Henry menghantam perut Antonio secara tiba-tiba yang membuat Jhon, Lie dan juga Antonio sendiri merasa sangat kaget.


“Henry! Apa-apaan kau ini? Jangan kau pukul dia!” ucap Lie berteriak, sedangkan Jhon memegangi Antonio.


“Kau sungguh keterlaluan!” ucap Jhon dengan geram.


“Tinggalkan Lie, atau kau ku kirim ke neraka!” Henry berjalan mendekat pada Antonio yang merasa sedikit kesakitan.


“Aku tidak akan pernah meninggalkan dia, apapun yang terjadi!” ucap Antonio dengan tegas.


“Tinggalkan dia, atau kau mati di tanganku!” ucap Henry yang terlihat semakin serius.


“Tidak akan pernah!”


Henry mengeluarkan senjata api yang terselip dibalik pakaiannya, yang membuat Antonio, Jhon dan juga Lie kaget.


“Henry, apa yang kau lakukan? Campakkan senjata itu!” ucap Lie yang masih berusaha untuk keluar dari dalam mobil. Dia pindah untuk duduk dikursi kemudi dan menekan tombol yang ada disana, dan akhirnya bisa.


Lie keluar dari dalam mobil dan mendekat pada Antonio.


“Masuk Lie!” perintah Henry yang dibalas dengan gelengan kepala oleh wanita tersebut.


“Jangan kau sakiti suamiku! Apa kami punya salah padamu?” tanya Lie menatap Henry yang terbahak.


“Iya, kau yang bersalah Lie,” ucap Henry.


“Apa salahku? Biar aku yang menebusnya, tapi jangan kau sakiti suamiku!” ucap Lie menatap Henry serius.


“Salahmu karena sudah membuat aku jatuh cinta, dan salah Dia adalah karena menghalangi aku untuk memilikimu!” lagi-lagi Lie terkejut mendengar perkataan Henry.


“Lelucon apa yang sedang kau mainkan ini?” ucap Jhon yang sedari tadi hanya diam.


“Ini bukan lelucon! Tapi kenyataan!” ucap Henry.


Antonio mendekat pada Henry.


“Apa kau tidak merasa malu pada istrimu di surga sana? Kau melakukan hal yang menyakiti orang lain seperti ini? Bukankah kau mencintai istrimu? Lalu kenapa kau merusak kebahagiaan orang lain? Jika kau tau rasanya mencintai seseorang terlebih itu adalah seorang istri, lalu kenapa kau ingin memisahkan kami?” Antonio bicara panjang lebar membuat Henry terdiam.


“Aku mencintai dia! Tapi dia meninggalkan aku, jadi dia pasti akan rela jika aku menikah lagi.” pemikiran macam apa yang ada di otak lelaki yang bernama Henry Hill ini. Menginginkan orang lain terlebih itu adalah seorang wanita yang sudah bersuami dan menyuruh suaminya untuk meninggalkan wanita tersebut. Sungguh gila! Benar-benar gila.


“Kau benar benar menguji kesabaranku!” ucap Antonio melayangkan pukulan ke wajah Henry yang membuat sudut bibir lelaki itu berdarah.


“Kau mencari masalah denganku!” ucap Henry menatap tajam Antonio.


“Hey, apa-apaan kalian ini.” ucap Jhon menyela perdebatan diantara keduanya.


“Hey kau!” tunjuk Jhon pada Henry, “Apa kau tidak punya pekerjaan lain, selain merebut istri orang? Kenapa kau mau merusak kebahagiaan orang lain demi kebahagiaanmu sendiri? Kau taukan kalau mereka saling mencintai? Lalu kenapa kau mau jadi perusak hubungan mereka?” Jhon mengeluarkan kata-kata keramatnya membuat Henry terdiam.


“Aku hanya menginginkan Lie.” ucap Henry yang membuat emosi Antonio kembali meledak.


Antonio kembali memukul wajah Henry yang membuat lelaki itu terhuyung kebelakang. Dan senjata api yang tadinya ada di genggaman Henry tertarik pelatuknya hingga menembak Antonio yang berada didepannya tepat di perut lelaki tersebut.


Lie memekik kaget saat Antonio kehilangan keseimbangan dan terhuyung. Jhon menangkap Antonio.


Sedangkan Henry menatap kearah tangannya.


“Aku.., A-aku seorang pembunuh.” tangan Henry bergetar hebat, keringat dingin mengucur ditubuhnya. Dia menatap darah yang keluar dari perut Antonio yang membuat Phobia nya kembali timbul.


“Aku pembunuh?” tanya Henry pada dirinya sendiri.


Sedangkan Lie sudah menangis memeluk Antonio dan menatap Henry tajam.


“Apa kau puas tuan Henry? Kau puas karena sudah menyakiti suamiku? Kau benar-benar keterlaluan!” Lie memeluk Antonio, sedangkan Henry berlari menuju mobilnya dan mengemudikannya dengan cepat.


“Heiii..., kau membawa anakku!” Lie berteriak.


Belum selesai masalah yang datang, kini lelaki itu membawa pergi anaknya.


“Ayo kita bawa Antonio ke rumah sakit Lie!” ucap Jhon yang diangguki oleh Lie.


“Tidak usah!” ucap Antonio dengan suara yang terputus-putus. “Bawa aku ke Gereja!” ucap Antonio yang membuat Lie dan juga Jhon heran.


“Tidak Antonio, aku akan membawamu kerumah sakit!” ucap Lie yang dibalas gelengan kepala oleh suaminya itu.


“Bawa aku ke Gereja!” Lie pasrah mendengar perkataan Antonio.


Jhon dan Lie mengangkat Antonio untuk masuk kedalam mobil, dan meletakkannya di jok belakang mobil dengan paha Lie sebagai bantalan kepala Antonio.


“Bagaimana dengan putra kita Antonio? Dia membawa Justin pergi!” ucap Lie menangis sesenggukan. Melihat suaminya terbaring sakit tak berdaya dan anaknya lelakinya yang dibawa pergi membuat ini adalah sebuah kesialan terbesar bagi Lie.


“Dia akan baik-baik saja! Aku tau, dia akan menyayangi Justin seperti putranya sendiri!” Lie merasa heran dengan perkataan Antonio.


“Kau merelakan anakmu yang dibawa pergi oleh baj*ngan itu?” ucap Lie geram jika mengingat lelaki yang bernama Henry Hill itu.


“Aku hanya mengatakan apa yang aku pikirkan, aku tau dia menyayangi Justin!”


“Kenapa kau menyuruh kami untuk membawamu kesini, harusnya kita ke rumah sakit untuk menyembuhkan lukamu!” Lie menangis yang membuat Antonio tidak tega.


Antonio bersusah payah menjangkau pipi Lie dan mengusapnya dengan sayang.


“Aku mencintaimu!” hanya itu yang diucapkan oleh Antonio sebagai jawaban dari pertanyaan Lie.


“Ayo kita masuk!”


Lie dan Jhon membawa Antonio untuk masuk kedalam Gereja. Disana ada pastor yang sedang berdoa.


“Pastor,” ucap Antonio memanggil dengan nada berat. Lantas saja pastor tersebut menoleh dan berjalan menuju kearah mereka bertiga.


“Kau kenapa? Kau terluka! Kenapa tidak membawanya ke rumah sakit?” tanya pastor tersebut.


“Aku ingin kau menikahkan mereka berdua!” Lie dan Jhon kaget mendengar perkataan Antonio.


“Apa-apaan kau Antonio!” ucap Jhon geram. “Mana mungkin aku menikahi istrimu!” Jhon menatap Antonio geram dengan perkataan sahabatnya itu.


“Aku mohon Jhon, aku ingin kau menikahi Lie!” ucap Antonio memohon dengan nada suara yang rendah. Sakit yang kini ia rasakan, terasa sangat menyakitkan.


“Antonio, kau sungguh sudah gila!” ucap Lie menatap suaminya itu tidak percaya.


“Tidak! Aku masih waras, dan aku ingin kalian menikah sebagai permintaan terakhirku!”


★‡★


Lie menangis tersedu-sedu saat setelah selesai pemberkatan, Antonio menghembuskan nafas terakhirnya.


Lelaki yang dia cintai menghembuskan nafas terakhir di pangkuannya. Sedangkan Jhon kini masih menatap tak percaya pada Antonio yang terbaring kaku di pangkuan Lie, wanita yang baru saja melakukan janji suci dengannya.


“Benar-benar sulit dipercaya!” ucap Antonio.


“Ayo kita bawa dia pulang, untuk segera dimakamkan!” Lie hanya mengangguk mendengar perkataan lelaki yang baru saja menjadi suaminya itu. Tenaganya sudah habis terkuras karena menerima kenyataan ini.


Anaknya dibawa pergi tanpa bisa ia tahan, suaminya meminta dirinya untuk menikahi lelaki yang menjadi sahabatnya, setelah itu lelaki yang ia cintai menghembuskan nafas terakhir di pangkuannya.


Ini adalah hari terberat yang dilalui oleh Lie. Sungguh dia tidak menduga sedikitpun bahwa semua ini akan terjadi di hidupnya.


Rasanya Lie ingin memutar kembali waktu, agar ia tidak berurusan dengan lelaki yang bernama Henry Hill itu.


Lie menangis meneteskan air matanya sejadi-jadinya. Jhon yang melihat hal itu hanya bisa diam.


Dia hanya bisa memaklumi apa yang kini Lie rasakan, disuruh menikah dengan orang yang tidak ia cintai, lalu lelaki yang menjadi pemilik hatinya meninggal dipangkuannya.


“Ayo Lie!” ucap Jhon.


Jhon dan Lie membawa Antonio untuk pulang ke mansion Lucky.


★‡★


Terkejut? tentu saja Lucky dan Masseria terkejut saat Lie yang tiba-tiba pulang dengan membawa jasad Antonio.


“Apa-apaan ini?” tanya Lucky kaget, “Kenapa Antonio bisa seperti ini?” sambung Lucky lagi.


“Mana Justin?” tanya Masseria.


Sedangkan Max dan Stef kini ada di kamar mereka, ditemani oleh Jhon.


“Ayo kita makamkan.” ucap Lie tanpa menjawab pertanyaan dari kedua suami istri tersebut.


★‡★


Keesokan harinya, Lie menceritakan semuanya pada Masseria dan juga Lucky tentang semua yang terjadi, termasuk juga dia yang sudah menikah dengan Jhon.


Kaget? Tentu saja suami istri tersebut kaget.


Tak percaya? jelas saja. Siapa yang akan percaya dengan semua kenyataan yang terjadi secara tiba-tiba ini.


“Aku masih sulit untuk percaya!” ucap Lucky yang diangguki oleh Masseria.


“Kau saja tidak percaya, apa lagi aku!” ucap Lie menatap keduanya dengan tatapan sendu.


“Lalu bagaimana dengan Justin?” tanya Masseria yang merasa cemas dengan anak lelaki yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri.


“Aku akan mencarinya!” ucap Lucky.


Lalu tak lama setelah itu, handphone Lie berdering tanda ada pesan masuk.


“Siapa Lie?” tanya Masseria yang dijawab gelengan kepala oleh Lie.


“Aku tidak tau!” ucap Lie, lalu membuka pesannya.


‘*Jika kau tidak ingin terjadi apa-apa dengan anakmu, jangan cari dia! Jangan laporkan pada polisi, jangan menyuruh orang untuk melacaknya, atau kau tau sendiri akibatnya. Kau tau kan kalau aku tidak main-main dengan kata-kataku? jadi jangan pernah coba-coba untuk mencari kami, karena itu akan percuma dan sia-sia. Jika kau melakukannya, maka nasib putramu akan sama seperti suamimu!


Tapi kau tenang saja, aku akan merawat dia seperti anakku sendiri jika kau tidak mengusik kami, dan jika dia dewasa nanti aku akan menyuruh dia untuk menemuimu, tapi dalam urusan yang berbeda.


Dan kau harus pergi dari kota Milan secepatnya, jika kau ingin anakmu selamat. Ingat jangan mencari kami, atau anakmu taruhannya.’


Henry Hill*.


Flashback off.


.


.


.


.


Sebenarnya ini sampai 3k kata buat chapter hari ini, tapi karena author ngerasa itu panjang banget, jadi author bagi jadi dua Chap.😊


Love❤️💓❤️ EgaSri