My Devils Husband

My Devils Husband
MatteNa: Cepatlah sembuh



Mata Ana mengerjap lemah. Dia menatap pada semua orang yang tersenyum karena kesadarannya.


“Matt?” tanya Ana dengan suara yang lirih.


Gadis yang baru berusia sembilan belas tahun itu membuat semua orang yang ada di sana menatapnya heran.


“Ba—bagaimana dengan keadaan kak Matt, Daddy, dia tidak apa-apa, kan? Dia selamat, kan, Dad? Dia tidak meninggalkan Ana sendiri, kan?”


Ana bertanya dengan suara yang lemah. Wajahnya tidak dapat menyembunyikan kalau dirinya sangat memikirkan Matt.


“Kau tenanglah, Sayang. Matt tidak apa-apa, dia selamat. Jadi, sekarang pikirkan kesembuhanmu,” David mengusap kepala Ana yang terbalut perban itu. Sungguh dia sakit melihat kondisi anak gadisnya ini.


“Apa Daddy tidak bohong? Kak Matt tidak apa-apa, kan?” tanya Ana lagi, dia bahkan tidak memikirkan dirinya sendiri.


“Iya, Sayang. Untuk apa Daddy berbohong padamu, Matt benar-benar baik-baik saja!” Ana mengangguk lemah mendengar perkataan David. Dia sangat lega saat mendengar Matt baik-baik saja, karena dia sendiri tahu, sebagaimana mereka saat kecelakaan itu, sebelum kesadarannya menghilang.


Gadis itu, teramat sangat mencintai Matt. Bahkan, dalam tidurnya pun, dia masih mendengar suara Matt yang mengancamnya. Sungguh, dia tidak akan pernah bisa menerima jika laki-laki itu benar-benar menikah dengan perempuan lain.


“Sayang, kau istirahat saja, ya? Biar nanti, saat Matt kesini, kau bisa berbicara dengannya!” Ana mengangguk. Tapi, kemudian dia menatap Aira saat mencerna ucapan Mommy-nya itu.


“Kak Matt menjenguk Ana?” tanya Ana antusias. Aira mengiyakan.


“Calon menantu, kau istirahat sekarang, ya? Supaya nanti bisa memarahi Matt karena lalai menjagamu!” Ana tersenyum tipis mendengar perkataan Max.


“Oke Uncle,” ujarnya tersenyum lemah.


Dokter sudah memeriksa keadaan Ana, dia juga mengatakan kalau keadaan Ana sudah stabil, terlepas dari operasi besar yang dilakukan padanya.


Setelah meminumkan obat pada Ana, semua orang yang menungguinya menyuruh Ana untuk istirahat agar cepat kembali pulih seperti semula.


David, Aira, dan Kevano yang ada di pangkuan David duduk di atas sofa yang ada di ruang rawat besar itu.


“Sayang, sebaiknya kau pulang saja sekarang,” ujar David buka suara, saat Max sudah keluar dari sana, untuk membersihkan tubuhnya di ruang rawat Ana, sekaligus istirahat.


“Aku tidak mau, aku akan menunggui Ana saja disini,” ujar Aira. David menghela napas, lalu menatap istrinya itu dengan serius.


“Sayang, apa kau tidak kasihan dengan Kev? Dia pasti tidak nyaman disini lama-lama. Lagipula Ana sudah sadar, dan kau tidak perlu khawatir lagi,” David menatap Ana yang sedang tertidur dengan tatapan getir.


“Tapi ... aku ingin menunggui Ana disini Sayang,” ujar Aira kekeh.


“Tidak, kau harus pulang. Lalu bersihkan dirimu, lihatlah, kau bertambah kurus sekarang,” Aira mengerucutkan bibirnya saat mendengar perkataan David yang mengejeknya.


“Ayolah, Sayang. Lihatlah Kevan, dia tidak nyaman disini, Ana sudah membaik, biar aku dan yang lainnya yang menjaganya disini!”


Aira menghela napas. Dia tidak bisa memaksakan dirinya, karena dia juga harus memikirkan Kevano, anak laki-lakinya yang masih balita.


“Baiklah,” David tersenyum senang saat mendengar perkataan Aira.


“Kita titipkan Ana pada Max, setelah itu aku akan mengantarmu pulang,” Aira mengangguk setuju dengan perkataan David.


Dia mulai mengemas barang-barang yang akan dia bawa pulang. Sedangkan David keluar untuk mencari Max yang ternyata sedang tertidur di sofa besar yang ada di ruang rawat Matt.


Rasanya David tidak tega saat melihat raut wajah Max yang begitu lelah. Bagaimana tidak lelah, laki-laki itu terus berjaga beberapa malam, untuk menjaga Matt dan Ana, juga Mattea di lantai atas. Meskipun anak buahnya sudah tersebar di beberapa titik, tapi Max tetap tidak bisa memejamkan matanya.


Makanya, saat Ana dan Matt yang sama-sama sudah sadar, membuat pikirannya tenang, dan bisa terlelap dengan damai.


David merogoh sakunya, lalu menelpon Thomas.


“Hallo ...?” tanya Thomas di seberang sana.


“Hallo Thomas, bisakah kau menjaga Ana sebentar, aku mau mengantar Aira pulang dulu,” ujar David langsung mengutarakan niatnya.


“Iya, bisa. Lagipula, aku dan Mattea sebentar lagi akan turun, untuk melihat kondisi mereka,” David menghela napas lega mendengar perkataan Thomas.


“Baiklah, kau cepatlah ke bawah, aku akan pulang sebentar,” ujar David.


“Oke,”


Sambungan telepon itu terputus. David kembali ke ruang rawat Ana.


“Ayo, Sayang.” ujar David pada Aira yang sudah tampak siap.


“Dimana Max?” tanya Aira saat melihat ke belakang, tapi tidak ada yang masuk menyusul suaminya itu.


“Max sedang tertidur di sebelah, mungkin dia sangat lelah. Kau tenang saja, sebentar lagi Thomas akan bersama dengan Mattea.


Mendengar jawaban David, membuat Aura tenang.


David mengambil alih Kevano yang tadi di gendongan Aira, lalu mereka keluar dari ruang rawat Ana.


*****


Matt terjaga karena mendengar suara yang agak berisik di dalam ruang rawatnya. Perlahan, manik gelap itu membuka matanya dan mencari asal suara.


“Atea?” tanya Matt dengan suara serak. Merasa namanya di panggil, Mattea menoleh, dan dengan perlahan berjalan mendekati Matt dengan menggendong bayi yang ada di dalam dekapannya.


“Matt, kau sudah bangun?” tanya Mattea, dia duduk di kursi yang ada di samping ranjang Matt.


“Yeah, seperti yang kau lihat,” ujar Matt. Lalu matanya beralih pada bayi mungil kecil yang sedang menutup matanya itu.


“Holla, keponakan Uncle?” sapa Matt terkekeh. Bayi mungil yang masih merah itu menggeliat didalam pelukan Mattea seakan sedang merespon sapaan Matt.


“Atea, maafkan aku karena harus kecelakaan di hari kau melahirkan.” ujar Matt dengan tatapan sendu. Seharusnya, dia juga harus ikut saat masa-masa sulit adiknya itu.


“Hei, kenapa kau berkata seperti itu? Semua ini sudah kehendak Tuhan, jadi kau tidak boleh bicara seperti itu lagi,” ujar Mattea mendengus.


“Maafkan aku karena belum bisa mengendongmu Baby Girl,” kini tatapan mata Matt menatap keponakannya dengan berbinar.


“Oh iya, siapa namanya?” tanya Matt. Mattea menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Matt.


“Astaga, kau belum memberikannya nama?” tanya Matt. Lagi-lagi Mattea menggeleng.


“Aku berniat untuk menyuruhmu memberikannya nama, jadi nama apa yang pantas untuk putri kecilku ini menurutmu?” Matteo menatap Ana berbinar.


“Kau menyuruhku untuk memberikannya nama?” tanya Matt antusias. Bahkan dia sedikit menggerakkan kakinya yang membuat laki-laki itu langsung mengaduh.


“Makanya, jangan terlalu senang. Kau harus memperhatikan kakimu!” ujar Mattea. Matteo yang sedang terbaring dengan punggung yang sedikit bersandar itu hanya terkekeh.


“Baiklah, ternyata cerewetmu itu tidak hilang, ya, walaupun kau sudah melahirkan,” ujar Matt tertawa.


“Sialan kau, Matt,” ujar Mattea.


“Oh iya, jadi kau mau memberikannya nama apa?” tanya Mattea lagi.


Disaat itu Thomas yang baru saja dari ruang rawat Ana menatap istri dan keponakannya itu.


“Uncle, apa tidak apa-apa kalau aku yang memberikannya nama? Kan, kalian yang membuatnya,” ujar Matt bertanya pada Thomas, sedangkan Mattea melebarkan matanya saat mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut Matt.


“Hei, kau sudah memikirkan untuk membuat anak lagi? Benar-benar!” Mattea mendengus, membuat Thomas tertawa.


“Ayo Matt, apa namanya untuk anak cantikku ini?” tanya Thomas tidak sabaran.


Matt tampak berpikir sejenak. Sungguh dia tidak mempunyai persiapan untuk memberikan nama keponakannya ini, karena dia mengira kalau Mattea dan Thomas lah yang memberikannya nama.


“Aletta Queenby Achilles.”


Mattea mendongak menatap Matt, setelah itu dia tersenyum.


“Bagus, nama yang cantik untuk anakku yang cantik,” ujar Mattea, sedangkan Thomas tersenyum.


Matt menatap bayi kecil yang ada dalam gendongan Mattea.


“Hai Baby Aletta ....” ujar Matt tersenyum.


“Hai Uncle, Matt.” ujar Mattea dengan suara yang mirip dengan anak kecil.


“Apa kalian akan pulang sekarang?”


Pertanyaan itu keluar dari dalam mulut Max yang baru bangun. Mattea menoleh pada Max.


“Iya, Dad. Soalnya tidak baik, kalau Baby Aletta lama-lama disini,” ujar Mattea. Max hanya mengangguk.


“Pulanglah, Mommy sudah pulang terlebih dahulu tadi, untuk menyambut kedatangan cucunya yang cantik ini,” Matt melihat pada bayi kecil itu.


“Baiklah, Dad. Kami pulang sekarang saja, karena sepertinya Aletta tidak nyaman jika terlalu lama tidur di gendong,” Max mengangguk.


“Oh iya, Max. Tadi David sudah pulang, dia menitipkan Ana padamu sebentar, lagipula Ana sedang tidur,” celetuk Thomas yang membuat Matteo sedikit kaget.


“Ana sudah sadar Uncle?” tanya Matt, Thomas mengangguk mendengar perkataan Ana.


“Aku mau melihatnya, Dad.” ujar Matt pada Max, membuat laki-laki paruh baya itu menghela napas.


“Dia masih istirahat, Matt. Kau jangan mengganggunya!” ujar Max.


“No, aku mau melihatnya, Dad. Bawa aku ke sana.” Max menghela napas, setelah itu dia menatap Thomas dengan tajam.


“Aku hanya memberitahu,” ujar Thomas yang langsung merasa Max kesal padanya.


“Cih ....” ujar Max.


Setelah itu, Max mengambil kursi roda yang tadi di pakai oleh Matt, di bantu oleh Thomas, kedua laki-laki itu memindahkan Matt ke atas kursi roda. Sedangkan Mattea sudah berjalan terlebih dahulu keluar.


Max mendorong kursi roda Matt, senyuman di wajah Matt tidak surut sedikitpun. Dia sangat bahagia saat mendengar kalau Ana sudah sadar.


“Ckck, rupanya kau memang tidak akan melepaskan aku untuk orang lain, An.” ujar Matt menggelengkan kepalanya. Dia masih tidak menyangka karena tidak beberapa lama setelah dia mengeluarkan kata-kata ancaman itu, Ana tersadar.


Matt melihat pada wajah pucat yang terbaring di atas brankar. Meskipun tidak sepucat sebelumnya, tapi tetap membuat Ana tampak cantik di mata Matt.


Laki-laki itu menggenggam tangan Ana yang tidak diberikan infus, membuat gadis yang sedang terbaring itu mengerjakan matanya karena merasa sedikit terganggu.


“Kau membangunkannya, Matt,” desis Mattea di samping Matt. Sedangkan laki-laki itu hanya mengangkat bahu acuh, karena memang ini yang diinginkannya.


“Hai, Sayang ....” sapa Matt saat mata Ana benar-benar sudah terbuka dengan sempurna.


Ana mengernyitkan keningnya saat mendengar sapaan Matt. Lalu dia memalingkan wajahnya ke arah Matt.


Wajah yang semulanya pucat itu langsung berbinar senang saat melihat Matt.


“Kak Matt?” ujar Ana antusias, bahkan dia melupakan sedikit rasa sakitnya saat kepalanya bergerak.


“Iya, ini aku, Sayang,” ujar Max tersenyum.


Rasanya, Matt ingin sekali untuk membawa Ana kedalam pelukannya. Membenamkan wajah gadis cantik itu di dadanya.


Tapi apa daya, sungguh untuk mengangkat kakinya pun, rasanya Matt tidak sanggup.


“Apa kak Matt masih merasa sakit?” ujar Ana.


Matt tertegun. Bahkan, disaat seperti ini pun, gadis cantiknya ini masih memikirkannya. Bahkan Ana tidak mempedulikan perban yang membalut kepalanya, membuat Matt semakin jatuh cinta berkali-kali padanya.


“Aku sudah sembuh, Sayang. Aku sudah tidak sakit lagi, harusnya kau pikirkan kesehatanmu sendiri, jangan terus memikirkan aku,” ujar Matt.


Max, Mattea, dan Thomas memilih untuk keluar dari ruang rawat Ana itu, untuk memberikan waktu bagi kedua orang itu untuk saling bicara.


“Aku baik-baik saja Kak, bahkan setelah melihat Kak Matt, aku menjadi semakin baik.” ujar Ana tersenyum. Bibir yang pucat dan sedikit kering itu, tersenyum tulus pada Matt.


“Ana, kalau kau terus seperti ini, bagaimana mungkin aku tidak akan semakin jatuh cinta padamu, An.” ujar Matt. Tangan Ana masih didalam genggamannya.


“Kan, memang begitu seharusnya. Supaya Ana tidak jatuh cinta sendiri,” ujar Ana. Matt terkekeh.


“Kau tidak jatuh cinta sendiri Sayang, karena aku pun sangat mencintaimu.”


Ana tersenyum bahagia.


“An, cepatlah sembuh. Karena kita akan menikah setelah kau sembuh!” Ana terkejut mendengar perkataan Matt.


“Kak, Ana seperti pernah mendengar kata-kata ini,” ujar Ana.


“Iya, aku mengatakannya tadi, dan sekarang!” ujar Matt.


“Benarkah?” tanya Ana.


“Hemmm ... Jadi, cepatlah sembuh, lalu kita menikah!”


“Bukan Ana kak, tapi kita yang cepat sembuh.”


“Iya, kita.”


.......


.......


.......


.......


...****...


Happy reading.


Mampir juga dong, ke Novelku di sebelah 😂Ramein dong😂Klik Ava-ku yah😍


Hayo, siapa kemarin yang udah suuzon sama aku, kan udah aku bilang, aku tuh ga jahat😭