
Jika ini mimpi, Ana sangat berharap kalau dia di kutuk umum menjadi putri tidur saja. Biar dia bisa selalu tersenyum dalam tidurnya karena hal sederhana ini.
Matt dan Ana kini sedang duduk di meja makan. Laki-laki itu menyuapi Ana bubur yang sudah di buatkan oleh bibi Joan.
“Ana sudah tidak mau kak!” Ana merengek karena Matt terus menyuruhnya mengabiskan bubur itu, padahal dia sudah kenyang. Dan ingatkan Matt, kalau gadis itu sakit perut hanya karena makanannya terlalu pedas, bukan karena diare atau sebagainya.
“Sedikit lagi Ana, kau harus cepat sembuh! Habiskan ini, bagaimana kalau nanti kau kurus karena tidak makan? Hah?” Ana hanya menurut saat Matt mengatakan itu. Dia membuka mulutnya lebar-lebar saat Matt kembali menyendok kan bubur dan menyuapi Ana.
Para pelayan yang berkerja di rumah Ana, hanya berpura-pura tidak melihat apa yang dilakukan oleh kedua sejoli itu. Padahal sudut bibir mereka terangkat untuk membentuk sebuah senyuman geli.
Bagaimana tidak? Kini laki-laki batu yang selalu menolak Nona muda mereka, sedang menyendok kan gadis itu bubur, hanya karena dia ada masalah pencernaan. Dan laki-laki itu juga bersikap perfeksionis pada Nona muda mereka, padahal sebelumnya laki-laki itu adalah laki-laki yang cuek dan juga ketus pada Ana.
“Menurutmu, apa mereka berdua sudah jadian?” salah seorang pelayan muda bertanya pada temannya. Dia mengintip Matt yang sedang menyendok kan Ana makan dengan sabar. Dia merasa iri saat melihat itu.
“Aku rasa sudah, karena kalau belum, maka tidak mungkin Tuan muda akan menyuapi Nona muda seperti itu!” temannya menjawab, dan gadis pelayan itu menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan apa yang dikatakan oleh temannya itu.
“Kak, perut Ana kembung. Ana tidak mau lagi!” Ana menutup mulutnya dengan tangan saat suapan terakhir akan mendarat di mulutnya. Matt menghela napas.
“Baiklah,” laki-laki itu memasukkan bubur yang akan di makan Ana tadi kedalam mulutnya, membuat Ana melotot tidak percaya.
“Kak Matt makan sisa Ana, pakai sendok Ana!” ujar Ana dengan histeris. Sedangkan laki-laki itu menatap Ana heran.
“Lalu, apa masalahnya?” tanya Matt acuh. Ana terdiam.
“Makan di sendok yang sama, itu artinya kita secara tidak langsung sudah berciuman kak Matt!” Matt tergelak dengan reaksi Ana yang berlebihan seperti itu.
“Bukankah, kita memang sudah pernah berciuman Sayang? Lalu apa masalahnya?” mendengar perkataan Matt, membuat Ana memerah malu. Gadis itu kembali teringat pada ciuman mereka didalam mobil waktu itu.
“Ish kak Matt!” rutuk Ana dengan menyembunyikan wajahnya. Sedangkan Matteo tertawa melihat Ana yang salah tingkah seperti itu.
“Ya sudah, kau istirahat saja. Aku mau kembali ke kantor!” Ana cemberut mendengar perkataan Matt. Tapi tak ayal dia ikut turun dari kursi dan mengikuti Matt yang berjalan ke kamarnya.
“Kenapa kak Matt tidak disini saja? Ana kan masih sakit!” Ana melipat tangannya di depan dada. Gadis itu menatap Matt kesal.
“Ana sayang, aku tadi hanya izin sebentar pada Uncle Thomas, karena aku cemas mendengar suaramu yang lemah. Makanya aku langsung kemari. Jadi sekarang aku harus kembali ke kantor lagi!” Matt mengusap kepala Ana penuh perhatian. Gadis itu akhirnya mengangguk. Mereka masuk kedalam kamar Ana.
“Jadi, sekarang kau istirahat yang baik. Jangan makan makanan seperti itu lagi! Mengerti?!” Ana seperti anak kecil yang dimarahi, dia mengangguk patuh mendengar pernyataan Matt.
“Gadis pintar. Kalau begitu aku pergi dulu!” sebelum pergi, Matt mencium kening Ana sekilas, lalu berjalan keluar kamar meninggalkan Ana yang masih terdiam kaku dengan apa yang dilakukan oleh laki-laki itu.
“Aaakkhhhh, bahagianya aku...!” Ana berteriak didalam kamarnya. Dia berguling-guling di atas tempat tidur. Wajahnya masih memerah akibat perlakuan Matt tadi.
Ana menggigit bibir bawahnya saat teringat dengan perhatian yang diberikan oleh Matt tadi.
“Ana mencintai kak Matt! Sampai kapanpun, Ana akan selalu mencintai kak Matt!”
***
“Jadi sekarang kalian benar-benar sudah jadian?” Jinny yang duduk di atas tempat tidur Ana menatap gadis itu tidak percaya.
“Iya, dan dia sangat perhatian padaku Jinn. Aku jadi semakin mencintainya!” Ana memeluk boneka beruang yang berwarna pink yang ada di kamarnya, senyuman tidak henti-hentinya terbit dari sudut bibir gadis itu.
“Aku senang mendengar hal itu. Tapi sekarang yang jadi masalahnya, kau menyuruhku kemari dan menginap di rumahmu hanya untuk mendengarkan kalau kan dan dia sudah jadian? Ana kau tau, aku bahkan membohongi Mommy-ku tadi!”
Jinny menatap Ana dengan kesal. Tadi, sahabatnya itu menelpon mengatakan kalau dia masih mengalami masalah pencernaan. Dan menyuruhnya untuk menemaninya menginap malam ini, di rumah gadis itu.
Dan ternyata Ana membohonginya. Bahkan, sahabatnya itu, tampak lebih sehat dari dirinya sendiri saat ini.
“Ya kan aku mau mengajakmu sekali-kali menginap di rumahku! Lagipula, aku sakit perut itu karena ulahmu juga Jinn!” Jinny mendengus mendengar perkataan Ana.
Baiklah, dia memang salah karena menyuruh Ana untuk makan bakso super hot itu. Tapi kan dia juga ikut makan.
“Iya-iya, baiklah. Oh iya, orang tuamu mana?” sejak Jinny tiba tadi, dia tidak melihat si kecil Kevano, bahkan Mommy Ana juga tidak ada.
“Mereka pergi ke Indonesia, bersama Uncle Max, dan Aunty Stef, untuk menemui Uncle Justin!” Jinny hanya mengangguk mendengar jawaban Jinny.
“Baiklah, jadi apa yang akan kita lakukan sekarang? Aku bosan kalau hanya tiduran di kamar saja!” Jinny menatap ke sekeliling kamar Ana. Begitu luas, bahkan lebih besar dari kamarnya. Ruangan yang didominasi warna pink itu benar-benar menandakan kalau itu adalah kamar Ana.
“Terserah kau saja. Kau bisa melakukan apapun di rumahku!”
“An, bagaimana kalau aku mengajak Rico dan Kelvan, kesini?” Ana menatap Jinny tajam sedangkan gadis yang ditatapnya hanya menggedikkan bahu acuh.
“Kau mau aku di cincang oleh Mommy dan Daddy ku kalau aku membawa teman-teman laki-laki kesini?” Jinny mengerlingkan matanya kesal mendengar jawaban Ana.
“Maka dari itu, kau minta izin dulu Ana. Katakan kalau kau sakit, dan aku menemanimu. Lalu kita berdua bosan, dan mengajak mereka kesini!” Jinny memberengut. Sedangkan Ana terdiam mendengar pernyataan Jinny. Lalu gadis itu mengangguk tanda setuju.
“Oke, aku telpon Daddy dulu!”
Ana meraih ponselnya yang ada di atas nakas. Ponsel mahal dengan keluaran Brand ternama itu Ana tempelkan ke telinganya saat dia menghubungi nomor ponsel sang Daddy.
Perbedaan waktu yang tidak terlalu jauh hanya 5-6jam antara Jerman dan Indonesia memudahkan Ana untuk menelpon sang Daddy.
“Holla Dad....” sapa Ana saat sambungan telepon tersebut tersambung.
“Hallo Baby. Ada apa?” tanya Justin langsung. Laki-laki itu terdengar cemas saat mendengar suara Ana. “Apa kau baik-baik saja di sana sayang? Daddy tidak lama disini!”
Ana terkekeh kecil mendengar suara David yang panik seperti itu.
“Aku baik Dad. Daddy tidak perlu khawatir. Oh iya, Ana mau minta izin pada Daddy.” Ana menggigit bibir bawahnya karena gugup. Dia menatap pada Jinny yang menganggukkan kepalanya memberi semangat, membuat Ana mendengus.
“Izin untuk apa Sayang?” David bertanya tidak sabaran pada Ana.
“Dad, tadi Ana sakit perut....—”
“Apa? Sakit perut bagaimana? Kau makan makanan tidak sehat? Daddy akan memarahi pelayan nanti. Kau tenang sayang....”
Ana meringis mendengar reaksi yang ditunjukkan oleh Daddy- nya itu. Inilah yang Ana takutkan. Bahkan, saat bibi Joan ingin memberitahu pada David saat Ana sakit tadi, dia langsung melarang wanita paruh baya itu untuk memberitahu Daddy-nya.
“No Dad. Ana tidak apa-apa. Ana sudah sembuh sekarang. Dan Ana tadi sudah menelepon Jinny untuk datang kemari, menemani Ana. Tapi kami bosan kalau hanya berdua saja, jadi apa boleh Ana mengajak Rico dan Kelvan juga kesini?”
“Rico dan Kelvan, temanmu itu?” nada suara David sudah mulai tenang, mendengar anaknya sudah sembuh.
“Iya Dad. Apa boleh mereka menginap disini. Lagi pula kamar di rumah kita banyak Dad. Pelayan dan penjaga juga banyak. Jadi tidak mungkin mereka melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.”
David terdiam sebentar. Ana sudah gugup mendengar jawaban yang akan diberikan oleh Daddy -nya itu. Sedangkan Jinny yang menempelkan telinganya di dekat ponsel Ana pun ikut gugup.
“Ya sudah, tidak apa-apa. Tapi kalian tetap harus menjaga batasan. Ingat itu ya Baby!” walaupun David tidak dapat melihatnya mengangguk, tapi Ana tetap menganggukkan kepalanya dengan senyum yang merekah. Sedangkan Jinny sudah berjingkrak-jingkrak senang dengan menahan suara di atas tempat tidur Ana.
“Iya Dad. Kalau begitu, Ana putus telponnya. Daddy juga selamat bersenang-senang di sana. Love you Dad.”
“Love you too Baby.”
Ana berteriak senang saat sambungan telepon itu terputus. Sedangkan Jinny langsung menyambar ponselnya untuk menghubungi Rico dan juga Kelvan tentunya.
“Ini akan jadi hari yang menyenangkan!”
*****
Jinny berlari menuruni anak tangga saat mendengar suara klakson mobil dari arah luar. Dan penjaga yang sebelumnya sudah diberitahu oleh Ana kalau ada temannya yang akan datang, langsung membukakan gerbang saat dia mengenali mobil Rico.
Mobil yang dikemudikan oleh Kelvan itu berhenti sempurna didepan pintu utama rumah Ana yang megah. Kedua laki-laki itu turun dari dalam mobil.
“Holla Honey....”
“Cih, menyebalkan!” Ana dan Kelvan mendengus saat melihat kemesraan kedua pasangan itu, membuat keduanya tertawa.
“Makanya, cepat cari pacar Van, biar kau tidak iri lagi melihat kami!” Jinny memanas-manasi Kelvan membuat laki-laki itu merenggut. Sedangkan Ana dan Rico hanya tersenyum melihat hal itu.
Mereka berjalan beriringan masuk kedalam rumah Ana. Ana langsung mengantarkan kedua laki-laki itu kedalam kamar tamu.
Setelah itu mereka keluar, dan berjalan menuju ruang keluarga Ana yang luas.
“Rumahmu besar sekali An!” ujar Rico membuka suara. Sedangkan Ana hanya tersenyum.
“Rumah kak Matt dua kali lebih besar dari ini!” ujar Ana. Ketiga orang itu langsung membayangkan sebesar apa rumah laki-laki yang sangat di cintai oleh Ana itu.
“Jadi, apa yang akan kita lakukan di rumah sebesar ini?” Kelvan membuka suara. Ketiga orang itu terdiam.
“Bagaimana kalau kita nonton saja?” usul Ana setelah cukup lama terdiam.
“Nonton dimana? Aku bosan dengan siaran televisi lokal!” ujar Jinny.
“Kita ke Movie room saja. Disana ada bioskop mini!” Jinny yang mendengar hal itu langsung berbinar senang.
“Kenapa kau tidak bilang dari tadi sih An?” ujar Jinny. Dia bangkit dan berjalan meninggalkan ketiga orang itu.
Ana melongo melihat Jinny yang berjalan lebih dulu.
“Memangnya dia tahu dimana ruangannya?” tanya Ana pada Rico dan juga Kelvan. Kedua laki-laki itu lantas menggelengkan kepala mereka.
“Ana, dimana ruangannya?” teriak Jinny yang membuat Ana tertawa lebar.
Ana bangkit dari duduknya, dan berjalan menghampiri Jinny, sedangkan Rico dan Kelvan hanya mengekor dibelakang.
“Makanya, kalau tidak tahu itu, jangan sok tau Jinn!” Ana meledek Jinny membuat gadis itu mendengus kesal.
Ana berjalan menaiki tangga menuju lantai dua. Ketiga orang itu mengekor dibelakang. Ana berjalan berbalik arah dengan kamarnya, terus berjalan hingga sampai di pojok. Dan ada sebuah pintu di sana.
Ana membuka pintu itu, dan masuk kedalamnya. Dia menghidupkan lampu, membuat ruangan yang tadinya gelap itu, kini menjadi terang.
“Waahh, ini mengagumkan!”
****
Ana berjalan menuruni tangga. Tujuannya saat ini adalah dapur. Ketiga temannya tadi saat ini sedang menikmati tontonan mereka, jadi dia berniat untuk mengambil camilan dan juga minuman.
Ana membuka kulkas besar yang lebih tinggi dari dirinya. Dia mengambil beberapa botol minuman bersoda dari sana. Lalu meletakkannya di atas meja.
Ana juga membuka lemari yang ada di dapur. Banyak makanan ringan yang tersimpan didalamnya. Ana mengeluarkan cukup banyak makanan itu, dan mengumpulkannya di atas meja.
“Biar bibi bantu Nona.” bibi Joan yang datang dari arah dapur kotor membantu Ana mengangkat makanan-makanan itu.
“Terimakasih Bi, bantu Ana membawanya ke Movie room.” Bibi Joan mengangguk. Dia berjalan terlebih dahulu diikuti oleh Ana di belakang.
“Tuan muda?” bibi Joan tiba-tiba berhenti, dan memanggil seseorang yang membuat Ana mendongak.
“Kak Matt?!” ujar Ana kaget.
“Bibi lanjut saja mengantarnya Nona?” bibi Joan berusaha untuk menghindar dari kedua orang itu. Ana mengangguk mempersilahkan.
Ana hanya memegang dua botol minuman dingin di tangannya. Dia mendekat pada Matt.
“Kak Matt, kenapa tidak memberitahu Ana, kalau kakak kemari?” Ana menatap Matt yang sudah berganti pakaian dengan pakaian santai. Bukan pakaian kerja seperti yang digunakan oleh laki-laki itu saat dia ke rumah Ana tadi siang.
“Iya, Uncle David meneleponku, kalau teman-temanmu kesini, jadi dia menyuruhku untuk datang kesini, dan menemani kalian!”
Ana menggigit bibirnya saat mendengar jawaban Matt. Dia tidak berpikiran seperti itu. Dan juga, dia tidak mengajak kekasihnya itu untuk datang kesini, malah Daddy -Nya yang menelpon Matt untuk meminta tolong padanya.
“Ana minta maaf kak Matt. Aku lupa memberitahu kak Matt tadi!” Matt menggeram marah saat Aja mengigit bibirnya seperti itu. Dia mengepalkan tangannya kesal.
“Jangan gigit bibirmu Ana!” desis Matt dengan suara tajam. Ana mendongak menatap Matt yang lebih tinggi darinya.
“Kenapa?” tanya Ana polos. Matt hanya menghela napas saat melihat Ana yang bertanya seperti itu.
“Jangan gigit bibirmu. Aku tidak tahan jika kau terus menggigit bibirmu Ana.” mata Ana membulat saat mendengar perkataan Matt. Dia ingat, kalau laki-laki itu juga pernah melarangnya untuk itu.
“Tapi Ana suka seperti ini?” ujar Ana dengan senyuman menggoda. Bahkan botol minuman soda masih dia genggam dengan baik.
“Lupakan! Ayo, aku antar kau ke atas!” Ana terkekeh kecil saat melihat wajah Matt yang kesal. Dia mengikuti Matt yang sudah berjalan terlebih dahulu di depannya.
“Kau tidak boleh meminum minuman itu! Perutmu masih terluka!” Matt memperingati Ana yang mengekor dibelakangnya. Sedangkan Ana hanya mengangguk patuh.
“Iya kak!” ujar Ana lemah.
“Dan satu lagi, kau tidak boleh dekat dengan teman laki-lakimu itu!”
“Laki-laki mana?”
“Menurutmu?”
“Kelvan?”
“Entahlah, aku tidak tahu namanya?”
“Kak Matt cemburu?” Matt yang berjalan didepan Ana berhenti. Membuat gadis itu menabrak punggungnya yang kokoh.
“Ih kak Matt, hidung Ana sakit!” Matt tidak mempedulikan Ana.
“Apa kau cemburu saat aku dekat dengan perempuan lain?” Matt membalikkan pertanyaan Ana.
“Ya tentu saja Ana cemburu!” ujar Ana ketus.
“Sudah tau jawabannya?”
“Ya. Kak Matt cemburu!”
“Gadis pintar!” Matt mengusap puncak kepala Ana. Membuat gadis itu mendengus.
“Untuk mengatakan cemburu saja, dia masih berbelit-belit. Dasar Matt batu!” rutuk Ana mendengus.
.
.
.
.
.
____