
Pagi-pagi sekali, Arthur sudah selesai dengan segala kegiatannya. Dia keluar dari kamar tamu mansion besar Max, membuat Max dan Stef heran. Begitupun dengan Mattea dan Thomas.
“Arthur, kau menginap disini?” tanya Max saat mereka duduk di meja makan. Laki-laki itu mengangguk.
“Kapan kau kesini Ar? Semalam setau kami kau tidak kesini?” tanya Stef yang juga heran.
“Benar Nyonya, saya kesini tengah malam, atas permintaan tuan muda!” walaupun bingung, tapi kedua orang tua itu tidak bertanya lebih lanjut.
“Memangnya, ada apa, kenapa Matt menyuruhmu untuk kesini tengah malam?” tanya Mattea buka suara, sembari menyuapi anak perempuannya dengan perut yang sudah membesar.
“Entahlah Nona, saya juga tidak mengerti, tapi ini tentang ngidamnya Nona Ana!” tidak mungkin, kan, Arthur mengatakan kalau Ana mengajaknya untuk tidur bersama semalam? Terlebih lagi itu karena mengidamnya Ana. Mau di taruh dimana mukanya? Yang ada, nanti dia mendapat bogeman mentah dari Max. Hihi.
Saat sarapan itu sedang berlangsung, Ana dan Matt turun dari kamar mereka menuju ruang makan.
Tampak sekali, wajah Matt yang pucat dan tidak berseri, sangat berbanding terbalik dengan wajah Ana yang terlihat bersinar dan sangat bersemangat.
“Ada apa, Boy?” tanya Max heran, saat Matt duduk di meja makan bergabung bersama dengan mereka, dan juga bersama Ana tentunya. “Kau terlihat tidak sehat?!” sambung Max lagi. Sedangkan anak laki-lakinya itu hanya menggeleng dan menghembuskan napas lelah.
“Itu karena kak Matt sangat bersemangat, Dad!” ujar Ana menyela. Matt langsung menutup mulut istrinya itu dengan cepat. Semua orang bingung dengan ucapan Ana, kecuali Arthur tentunya, karena dia sudah mengira hal apa yang terjadi dengan boss nya itu.
“Bersemangat karena apa, An?” tanya Stef heran.
“Bukan apa-apa, Mom. Aku semalam hanya bersemangat karena Ana mengidam, dan ya begitulah,” yang ada didalam pikiran Max, Stef, Thomas, dan Mattea saat ini adalah Matt yang terlalu bersemangat untuk memenuhi keinginan ngidam Ana. Misalnya menginginkan makanan yang susah di dapat, mungkin?
“Oh, kalau seperti itu, kau memang harus selalu siap Matt, dan juga bersemangat tentunya untuk memenuhi keinginan istrimu. Jangan sampai keinginan Ana tidak terpenuhi, karena itu biasanya bisa membuat ibu hamil sedih dan juga anakmu ileran,” jelas Thomas. Tentu saja dia sudah mengalami hal itu, harus memenuhi keinginan Mattea yang aneh-aneh. “Jadi, Ana minta makanan apa, Matt?” sambung Thomas lagi.
“Tidak mungkin, kan, aku bilang kalau Ana memakan dan menghabisiku di ranjang sampai pagi? Bisa jatuh harga diriku, karena kalah dari wanita hamil ini?!” Tentu saja Matt tidak akan mengatakan hal itu. Uhh, sudah cukup semalam dia dibuat Ana tidak berkutik, dan sekarang jangan lagi.
“Tidak minta apa-apa, Uncle. Hanya makanan biasa saja!” jawab Matt. Ana melayangkan tatapan kesalnya karena suaminya itu berbohong.
“Bukan itu Uncle, aku semalam ingin ——uummm,” Matt langsung membekap mulut Ana yang mengeluarkan suara. “Sayang, aku hampir lupa, bukankah tadi kau ingin sarapan di restoran biasa tempat kita makan, ayo sekarang kita pergi!”
Tanpa menunggu jawaban dari Ana, Matt menggenggam tangan halus itu.
“Mom, Dad, semuanya aku pergi dulu. Tadi Ana bilang dia ingin sarapan diluar!” Matt menatap pada mereka yang heran itu. “Arthur, setelah selesai, segera susul aku ke kantor!” sambung Matt. Arthur mengangguk mengiyakan, sedangkan yang lainnya hanya geleng-geleng kepala saja.
Matt berjalan cepat meninggalkan meja makan, membuat Ana kesal.
“Kak! Aku tidak minta makan diluar!” ujar Ana ketus. Matt tidak menjawab, dia sangat mengantuk saat ini, dan juga lelah, jadi dia menyuruh supir untuk mengantarnya dengan membawa salah satu mobil koleksi keluarga itu.
“Kita bicara nanti!” Ana hanya melipat tangannya kesal.
...***...
Setelah selesai sarapan di restoran yang diinginkannya, Matt membawa serta Ana ke kantornya. Untung saja wanita itu tidak memakai piyama tidurnya tadi, kalau tidak, habislah Matt saat ini Ana maki-maki.
“Kak, kenapa membawaku kesini?” ujar Ana kesal. Padahal tadi, gadis itu sudah membayangkan, akan pulang dan tiduran sampai sore di kamarnya, Karena sebenarnya tubuhnya juga lelah, tapi memang, ternyata realita tak seindah ekspetasi.
“Tentu saja untuk menemaniku bekerja, Sayang!” Ana hanya mendengus kesal, karena suaminya itu bertindak semena-mena padanya! Hancur sudah bayangan bayangan indah yang sudah di susun tadi.
Kini kedua orang itu berjalan melewati karyawan yang menatap keduanya dengan kagum. Ana tersenyum manis pada mereka semua, melupakan perdebatannya dengan Matt. Dia juga melingkarkan tangannya di lengan Matt, membuat kedua orang itu benar-benar menjadi pusat perhatian. Matt hanya diam saat karyawannya menyapanya, berbeda dengan Ana yang membalas setiap sapaan itu dengan senyumannya.
“Wah, ternyata istri Tuan Matt, sangat cantik, ya?”
“Lihatlah, rambut pendeknya itu membuatnya terlihat imut,”
“Pantas saja tuan Matt sangat tergila-gila padanya!”
“Dan, nona muda juga terlihat sangat ramah!”
“Beruntungnya, nona muda mendapatkan Tuan muda Matt!”
Bisik-bisik itu terdengar setelah Ana dan Matt masuk kedalam lift.
“Ikut aku!” ujar Matt. Dia membuka pintu ruangannya dan menyuruh Ana untuk duduk di sofa yang ada di sana.
Matt menyuruh Stella untuk membacakan jadwalnya hari ini, dan menyuruhnya untuk membatalkannya. Karena dia tidak akan fokus jika nanti bekerja dengan kondisi mengantuk. Stella hanya bisa mengiyakan.
Arthur dan Stella keluar dari ruangan Matt saat laki-laki itu sudah menyuruh mereka keluar.
“Ana, aku mau istirahat dulu, kau mau ikut?” tanya Matt. Ana mengangguk cepat. Ana mengikuti Matt yang berjalan menuju sebuah pintu yang satu warna dengan dinding ruangan itu. Dan ada kamar di sana, dengan sebuah lemari juga tentunya.
Sebenarnya, Ana sangat bersyukur, karena kehamilannya tidak membuat repot. Dia tidak mengalami morning sicknes, dan juga ngidam yang terlalu aneh. Dia hanya ngidam selalu ingin melihat laki-laki tampan, seperti Arthur contohnya?
Ana membaringkan tubuhnya di samping Matt yang sudah terlebih dahulu merebahkan tubuhnya di sana. Tentunya dengan membuka Jas dan kemejanya terlebih dahulu.
Sedangkan diluar, Stella hanya bisa menghela napas mendengar suara klien Matt yang merasa tidak terima karena laki-laki itu membatalkan janji temu sepihak. Memang ini sudah menjadi tugasnya, dan Stella sangat kesal akan hal itu. Kalau saja dia tidak menjaga nama baik perusahaan, sudah dia maki-maki klien kurang ajar itu. Arthur yang melihat Stella menghela napas kasar itu, dari meja kerjanya hanya abai. Dia sedang berusaha untuk membuat wanita itu mengerti dirinya.
Setelah cukup lama, akhirnya Stella selesai dengan semua tugas-tugasnya, dan juga sudah menyusun ulang jadwal Matt kembali. Dia menopang tangannya melihat Arthur yang juga terlihat fokus pada berkas-berkas yang ada di tangannya.
“Ternyata aku memang egois! Arthur pantas untuk marah padaku!” batinnya. Stella mengumpulkan keberaniannya untuk berdiri dan berjalan menuju meja kerja Arthur.
“Arthur ....” tampaknya wanita itu terlihat malu-malu saat mendatangi Arthur duluan, terlebih respon laki-laki itu terlihat menyebalkan dimatanya. Pliss lah, dia sudah menurunkan egonya untuk mendatangi Arthur duluan, inikah balasan laki-laki itu?
“Tahan Stella, tahan! Setidaknya sampai kalian baikan, dan kau bisa menghajarnya setelah ini!”
Tentu saja kalimat itu tertahan di dalam pikiran Stella.
“Sayang ... Aku mau minta maaf, jangan marah lama-lama dong,” sebenarnya Stella juga jijik mendengar suaranya yang mendayu-dayu seperti itu, tapi apa boleh buat, demi kesejahteraan bangsa dan negara, maka ini harus dilakukan.
Krik ... krik...
“Sayaaang, ayolah. Aku minta maaf, aku mengaku salah. Aku tau, aku terlalu kekanak-kanakan. Aku terlalu cemburuan, aku minta maaf, Sayang ....” kini, Arthur mengangkat pandangannya, menatap lekat manik mata milik Stella yang tampak bersungguh-sungguh itu. Dan juga, rasanya Arthur ingin tertawa, mendengar suara imut-imut jijay kekasihnya itu.
“Sayangg, ayolah. Aku minta maaf, tolong maafkan aku, ya?” mata bulat dengan bulu mata lentik itu mengerjap-ngerjap lucu. Sebenarnya Arthur sudah tidak tahan lagi untuk langsung memeluk sang kekasih, tapi dia harus tahan dulu agar tidak mudah luluh secepat itu, dia ingin melihat sejauh mana usaha kekasih galaknya itu.
“Kau sudah sadar dimana kesalahanmu?” tanya Arthur dengan suara yang dibuat sedingin mungkin, agar terlihat keren sedikit lah.
Sedangkan Stella sedikit merinding mendengar suara yang dirindukannya itu. Lalu dia mengangguk cepat.
“Iya, aku minta maaf, Sayang. Aku tau aku egois, aku sudah menyalahkanmu, padahal aku yang memulainya terlebih dahulu. Aku tidak akan begitu lagi, aku tau kau pasti sangat menyayangi aku kan? Dan tidak akan suka dengan resepsionis jelek itu, kan? Aku tau kau tidak akan suka padanya, karena aku ini sangat cantik, iya, kan, Sayang?”
Arthur memutar bola mata jengah mendengar kata terakhir dari kekasihnya itu, yang sayangnya sangat benar sekali.
“Minta maaf dengan benar!” ketus Arthur. Kata-kata terakhir Stella, membuat kalimat permintaan maafnya menjadi ambyar.
“Sayang, ayolah?! Aku tidak bisa berkata-kata manis!” ujar Stella dengan mengerucutkan bibirnya.
“Baiklah, kalau begitu permintaan maaf, di TOLAK!” tekan Arthur yang membuat Stella kesal. Gadis itu menatap Arthur dengan tatapan setajam silet, lalu menarik dasi yang Arthur kenakan dan mengangkatnya membuat laki-laki itu berdiri dari duduknya.
“Hei, kau mau apa? Jangan pakai kekera——ummbb ....”
Mata Arthur melotot sempurna, kalimatnya terhenti saat bibir tipis itu bertemu dengan bibirnya. Cukup lama ciuman kaget itu berlangsung, hingga Stella yang kehilangan napas melepaskannya terlebih dahulu. Ck, sok-sokan mencium duluan, tapi soal ciuman saja masih ambyar, heuuhhh. Author KE-CE-WA!!
“Hei, mana bisa begitu?” ucap Arthur dengan napas yang masih memburu.
“Masih tidak mau memaafkan aku, Sayang?!” tanya Stella dengan wajah yang sudah Semerah tomat. Uuhh, dia sangat malu saat ini.
“Permintaan maaf diterima, kalau kau mengulangi ciumannya lagi!”
“Cih, jangan mengambil kesempatan dalam kesenangan!”
...****...
...See you next time!^_^...