My Devils Husband

My Devils Husband
Eps 47



“Kesalahanmu yaitu telah membuat aku jatuh cinta padamu!” Stef menganga tidak percaya.


“Tindakan apa yang aku lakukan hingga kau jatuh cinta, aku tidak melakukan apapun!” Stef mengelak, sedangkan Justin tertawa.


“Hey, bahkan hanya dengan senyummu saja sudah membuat aku jatuh cinta!” Stef terdiam, lalu menatap Justin dengan mata yang menajam.


“Lalu untuk apa kau menculik ku, aku tau kau pasti punya maksud lain!” Justin tertawa mendengar perkataan Stef, lelaki itu menjalan mendekat sedangkan Stef mencoba berjalan mundur.


“Kau pasti belum tahu nama lengkapku bukan?” tanya Justin yang dibenarkan oleh Stef..


“Siapa kau?” tanya Stef.


“Aku Justin Hill, putra Henry Hill, lelaki yang digoda oleh ibumu!” Stef menganga tidak percaya. Apa apaan ini? Dia diculik oleh anak dari lelaki yang membunuh ayahnya, dan sekarang dia menuduh ibunya menggoda ayahnya. Kurang aja sekali lelaki ini.


“Jaga bicaramu tuan Justin! Ibuku tidak menggoda ayahmu!” Stef bicara dengan nada meninggi, rasa perih yang ada ditangannya kini sudah tidak ia rasakan lagi, hatinya sakit mendengar perkataan Justin, yang menuduh ibunya seenaknya.


“Ibumu yang menggoda ayahku Stef,” Justin tidak terima ayahnya dikatakan seperti itu. Ayah yang selama ini menjadi panutannya, menjadi penyemangat nya, yang melakukan apapun untuknya, disaat ibunya pergi entah kemana dengan alasan yang dia sendiri tidak tahu.


“Kau di bohongi Justin, ibuku tidak menggoda ayahmu!” Stef bicara dengan penuh penekanan membuat Justin terlihat berfikir.


“Tidak! Ibumu yang menggoda ayahku!” Justin bersikeras, karena dari yang didengar ayahnya, bahwa ibu Stef lah yang menggodanya.


Stef semakin emosi mendengar perkataan Justin, “Jika memang ibuku yang menggoda ayahmu, lalu kenapa ayahmu membunuh ayahku?” mata Justin mendelik, menatap Stef dengan terkejut.


“Ayahmu apanya? Jhon adalah ayahmu!” ucap Justin tidak percaya, Stef menghela nafas berat.


“Lepaskan tanganku!” ucap Stef menatap Justin tajam.


“Tidak!” jawab Justin cepat.


“Suamiku akan datang sebentar lagi kesini! Aku yakin itu,” ucap Stef membuat Justin tergelak.


“Dia tidak akan kemari!” ucap Justin yakin, tapi tak lama setelah itu terdengar suara keributan dari luar.


“Itu dia! Dia sudah datang,” Stef tersenyum lebar, sedangkan Justin berjalan kearah pintu, belum sempat dia membuka pintu, pintu itu sendiri terbuka dari luar.


“Max!” Stef menyebut nama Max dengan sangat senang, sedangkan Max menatap tajam pada Justin membuat lelaki itu sedikit menciut.


“Bisa kau jelaskan ini Justin!” Max berjalan kearah Stef, membuka ikatan tali yang mengikat tangan istrinya itu. Sedangkan dari luar masih terdengar suara orang berkelahi, hingga suara orang tumbang satu persatu akhirnya terdengar juga.


Max mendekat kearah Justin, “Mana anak buah kau tadi? Hanya segitu saja sudah tumbang!” Max tersenyum meledek kearah Justin membuat lelaki itu mengepalkan tangannya.


Setelah itu David dan juga Aira datang dari luar, menemui mereka bertiga.


“Kau!” ucap Aira tak percaya, bisa bertemu dengan Justin disini, dan ternyata orang yang menculik bos-nya itu adalah Justin.


“Aira?” tanya Justin tidak percaya.


“Kalian saling mengenal?” tanya David heran.


“Dia kakakku!” ucap Aira singkat.


David menganga tidak percaya mendengar perkataan Aira, pantas saja wanita itu sangat lancar berbahasa Jerman, ternyata dia adik dari lelaki yang menculik wanita dari sahabatnya, tapi kenapa wajahnya seperti khas wanita Indonesia?


David berjalan menjauh dari Aira, mendekat kepada Max, jantungnya berdetak tak karuan, menerima kenyataan tersebut.


“Tenangkan dirimu!” Max bicara berbisik pada David, membuat lelaki itu mengangguk.


“Kenapa kau ada disini?” Justin mendekat kepada Aira, memeluk adiknya itu sesaat.


Anak buah Justin masuk kedalam ruangan tersebut.


“Bos,” ucap salah satu dari mereka dengan nafas terengah-engah. Justin mengangkat tangan, dan menyuruh anak buahnya itu keluar, membuat lelaki yang sudah babak belur tersebut langsung membalikkan badannya untuk berjalan keluar.


“Apa kau tidak merindukan aku?” tanya David berkaca-kaca, Aira adalah adik kandungnya, yang pergi dari rumah karena terlibat percekcokan dengan Henry, Justin sudah mencari dirinya kemana-mana, tapi tidak menemukan adiknya itu, dan ternyata kini mereka bertemu di Indonesia, lebih tepatnya di Lombok.


“Aku merindukan kakak!” Aira kembali memeluk Justin, setelah itu melepaskannya.


“Untuk apa kakak menculik Stef, bukan ibunya yang bersalah kak, tapi ayah!” Aira menjelaskan dengan mata berkaca-kaca, menatap Justin yang mengernyit heran padanya.


“Darimana kau tau?” tanya Justin tidak percaya.


“Aku mendengarnya sendiri dari ayah, dan karena itu juga aku pergi dari rumah!” Aira menatap polos pada Justin, karena apa yang dikatakannya adalah kebenarannya.


Aira keluar dari rumah dengan uang yang dibawanya, mencoba untuk mencari tujuan kemana dia akan pergi, dan seketika itu dia melihat iklan tour ke Lombok di media sosial, dan dia sangat tertarik hingga memutuskan untuk pergi ke Indonesia setelah mengurus segala surat suratnya. Ia belajar bela diri dengan sepenuh hati, karena merasa bela diri sangat perlu untuk menjaga dirinya sendiri, dan dia juga memutuskan untuk bekerja sebagai pelayan untuk bisa terus mengumpulkan uang dan membuka usaha.


“Karena ayah mengancam ku!”


“Astaga, apa apaan ini? Aku dibodohi untuk dia bisa membalas dendam, dan aku hampir saja mencelakai orang yang tidak bersalah!” Justin mengusap rambutnya kasar, lalu menatap kembali kearah Stef dan Max.


“Maafkan aku Stef, aku tidak tahu, aku dibohongi oleh ayahku!” Max dan Stef menatap iba pada Justin yang terlihat sangat tidak baik, sedangkan David masih memperhatikan Aira, menerima semua kenyataan tersebut.


“Tidak apa-apa! Lupakan saja!” Stef bicara lembut membuat Justin semakin merasa bersalah, sedangkan Max yang berada di samping istrinya itu menganggukkan kepalanya.


“Sudah, ini semua terjadi karena kesalahpahaman, jadi lupakan saja!” Max bicara dengan bijak, membuat Stef tersenyum.


“Sejak kapan kau dewasa seperti ini?” tanya Stef dengan senyuman mengejek.


“Sembarangan saja kau ini, aku ini dewasa! Bukan seperti dirimu, dasar bayi besar!” Max membalas Stef bercanda membuat wanita itu mencebikkan bibirnya kesal.


Semua orang yang ada disana tertawa mendengar mereka, termasuk Justin.


‘Sepertinya aku memang harus merelakan Stef, tidak mungkin aku merebut Stef dari Max, aku melihat mereka yang saling mencintai,’ Justin tersenyum pahit menerima kenyataan tersebut, tapi tak urung dia juga bahagia karena kebenarannya terungkap, tinggal dia yang perlu meminta penjelasan dari ayahnya saja.


“Apa kau ingin ikut kami ke hotel?” tanya David membuka suara, Aira menatap David dengan tatapan tak terbaca, dan Justin menyadari itu.


“Aku akan ikut dengan kakakku saja,” ucap Aira menunduk. Sebenarnya dia ingin untuk ikut kembali ke hotel, tapi kini orang yang dijaganya sudah aman, dan akan sangat aman, jadi untuk apa dirinya menjaga Stef lagi, karena yang membuat keributan adalah kakaknya sendiri.


“Tentu saja kami ikut!” jawab Justin yakin, ia memperhatikan raut wajah Aira yang langsung berubah cerah mendengar perkataannya.


“Benarkah kak?” tanya Aira tidak percaya.


“Tentu saja, karena saat ini kebahagiaanmu lebih penting bagiku!” Aira memeluk Justin, membuat lelaki itu tersenyum, begitu pula dengan David, ia senang jika Aira ikut dengannya, lebih tepatnya dengan kakaknya walaupun ini masih sulit dipercaya.


“Sudahlah, ayo kita pergi dari sini!” ucap Max. “Hey kau, lain kali jangan buang waktuku seperti ini lagi, kau ini merepotkan saja!” Justin terkekeh mendengar perkataan Max yang menunjuk kesal padanya.


“Iya baiklah, aku tidak akan mengulanginya lagi!” ucap Justin tersenyum tulus.


“Awas saja jika kau berani untuk berbuat seperti ini lagi, aku potong Kanguru kau sampai habis!” Max mendelik kesal pada Justin, sedangkan Stef merona merah mendengar perkataan Max, karena dia tau betul apa yang dimaksud oleh suaminya itu.


Sedangkan Aira hanya diam melihat mereka, sesekali melihat kearah David yang terlihat sangat tampan saat ini.


“Kanguru apa? Aku tidak punya kanguru disini!” Justin merasa bingung dengan perkataan Max.


“Sudah lupakan saja, kau masih anak kecil jadi tidak akan mengerti!” Justin mendelik kesal mendengar perkataan Max.


“Memangnya dia punya kanguru Max?” kini David yang bertanya.


“Bukan dia saja! Bahkan kau pun memiliki kanguru!” Justin dan David semakin tidak mengerti dengan perkataan Max.


“Tidak usah di pikirkan!” ucap Stef.


“Tapi memang benar aku tidak punya kanguru!” jawab Justin meyakinkan dirinya.


“Kan sudah aku bilang, kau tidak akan mengerti, karena masih anak kecil, jadi jangan dipikirkan!” rasanya Justin ingin sekali menyumpal mulut Max dengan kaus kaki yang digunakannya saat ini. Karena dia merasa sangat penasaran dengan Kanguru yang dikatakan oleh lelaki beristri tersebut.


“Sudah jangan dipikirkan!” ucap Stef mencoba untuk bijak.


“Aku akan mencari tahu sendiri nanti!”


“Aku juga!”


“Terserah kalian saja!”


.


.


.


Maaf ya kalau gak sesuai ekspektasi kalian😁


Author bikin part ini dalam keadaan suasana hati yang gak baik🙃 something problem 🙃


.


.


Love❤️❤️❤️EgaSri