
Masih Flashback.
Max berjalan keluar dari rumah sakit. Dia duduk di taman yang ada di sekitar rumah sakit. Menatap pada bunga bunga indah yang bermekaran disana. Taman yang ada disana terawat dengan sempurna. Max menengadah ke atas langit. Dia bertanya pada Tuhan. Kenapa cobaan hidup untuk kedua bayi mungilnya harus sebegini berat. Sudah beberapa hari dilahirkan, tapi belum bisa mendapatkan ASI langsung dari Momy mereka.
Lama disana, hingga ada seseorang juga duduk di bangku yang dia duduki. Ada seorang bayi dalam gendongannya. Bayi perempuan yang cantik.
“Cantik sekali.” laki-laki itu tersenyum pada Max..
“Terima kasih.”
“Siapa namanya?” tanya Max lagi. Sungguh saat melihat bulu mata lentik bayi itu membuat Max tersihir akan pesonanya.
“Auristela.” jawab singkat pria itu.
“Nama yang cantik. Berapa usianya?” tanya Max lagi. Entah kenapa dia merasa begitu tertarik dengan bayi yang ada dalam gendongan pria itu.
“Empat belas hari!”
“Wah, benarkah? Bayiku juga baru berumur empat belas hari!” pria itu mendongak menatap Max.
“Benarkah?”
“Iya, mereka kembar. Tapi saat ini istriku masih belum sadarkan diri!”
“Astaga, apa aku kini sedang bicara dengan pemilik rumah sakit ini?” tanya pria itu terkejut. Dia menatap penampilan Max dari atas sampai bawah. Sungguh elegan.
“Hei, santai saja. Aku disini sebagai pria yang sedang menunggu istrinya terbangun. Bukan sebagai pemilik tempat ini.” Max terkekeh melihat reaksi pria yang ada didepannya ini.
“Santai saja!” ujar Max. “Oh iya, kenapa kau masih disini, bukankah bayi yang berusia empat belas hari seharusnya sudah dirumah saat ini?” sambung Max bertanya. Pria itu hanya tersenyum tipis.
“Seharusnya iya, tapi Tuhan berkehendak lain.” manik mata laki-laki itu berubah sendu. Dia berusaha untuk menampilkan senyuman terbaiknya pada Max, tapi Max tau, itu adalah sebuah senyuman kesakitan.
“Apa maksudmu?”
“Iya, kami akan pulang hari ini. Tapi hanya berdua, karena ibunya sudah tenang disisi tuhan.”
Deg. Max merasa tercekat mendengar perkataan pria itu.
“Ma—maksudmu ibunya sudah meninggal?” pertanyaan Max dijawab anggukan kepala olah laki-laki itu.
“Maaf ... Maafkan aku, seharusnya tadi aku tidak usah menanyakan pertanyaan seperti itu padamu.” Max merasa bersalah karena sudah membuka luka laki-laki itu. Sedangkan pria yang duduk disampingnya itu hanya tersenyum.
“Santai saja Tuan. Saya baik-baik saja.”
“Sekali lagi maafkan aku.” ujar Max yang saat ini masih tidak enak hati. Sedangkan pria itu hanya tersenyum tulus, seakan mengatakan kalau dia sudah tidak apa-apa.
“Oh iya, sudah jam berapa ini?” Max mendongak ke atas, lalu membuka saku celananya untuk mengeluarkan ponselnya. Dia melihat ada notifikasi pesan masuk dari Justin yang mengatakan kalau istrinya sudah sadar dan minta makanan. Max terdiam. Benarkah?
Hingga kesadaran kembali mengambil alih dirinya. Max tersenyum cerah, hingga membuat pria yang duduk disampingnya itu heran.
“Kenapa tuan?” tanya Laki-laki itu.
“Istriku sudah bangun.” ujarnya senang, sedangkan pria yang duduk bersamanya ikut tersenyum senang.
“Benarkah?”
“Iya,”
“Selamat tuan.”
“Terimakasih.” pria itu hanya mengangguk.
Tapi saat dijalan, dia berhenti sejenak lalu mengeluarkan ponselnya.
“Hallo.”
“Iya Tuan?” sambung anak buah Max di seberang sana.
“Kau lihat tadi, aku duduk di taman dengan seseorang bukan?”
“Iya?”
“Periksa latar belakangnya, cari tau tentang dia. Beri dia jalan kemanapun dia mau! Kau paham dengan apa yang aku maksud?”
“Paham Tuan!”
“Bagus!” setelah itu sambungan telepon pun terputus. Max berjalan menuju kantin, setelah mendapat apa yang dia mau, lalu laki-laki itu melangkahkan kakinya dengan penuh semangat menuju lift untuk bisa sampai dilantai tempat istrinya dirawat.
Max membuka pintu ruang rawat istrinya dengan perasaan campur aduk. Antara senang dan tidak percaya. Dia memutar kenop pintu, lalu mendorongnya perlahan. Hingga suara gelak tawa Stef terdengar di indera pendengarannya. Max menghembuskan nafas penuh kelegaan.
“Max?” Stef yang melihat Max tegak berdiri didekat pintu itu lantas tersenyum sumringah saat melihat suaminya disana. Max langsung berjalan menuju tempat Stef kini terduduk. Di atas brankar rumah sakit. Max memeluk istrinya itu erat.
“Kau—kau suka sekali membuat aku takut Stef!” ujar Max disela-sela pelukan mereka. Sedangkan Stef hanya tersenyum didalam dada bidang Max.
“Tapi aku kan sudah bangun sekarang. Apa kau tidak bahagia?” tanya Stef menggoda suaminya itu.
“Pertanyaan macam apa itu? Aku yang paling bahagia saat kau tersadar disini!” ujar Max penuh kesombongan.
“Cih! Bahkan saat aku sadar, aku tidak melihatmu disampingku!” Stef melengoskan kepalanya berpura-pura merajuk pada suaminya itu.
“Maafkan aku, aku hanya kesal saja, karena kau tidak bangun-bangun juga. Jadi aku ancam, dan ternyata saat kau pergi kau malah terbangun!”
“Maafkan aku sayang. Tapi mimpiku terlalu indah untuk aku tinggalkan!”
“Aku tidak suka kau bermimpi lama seperti itu lagi!”
Max kembali memeluk Stef, membuat para penonton yang sedari tadi menyaksikan mereka hanya mendengus geli.
“Cih, lebay sekali!” ujar Justin kesal.
“Hei kalian bertiga, temani aku keluar. Disini hawanya terlalu panas untuk kita berempat!” Justin menunjuk pada David, Thomas, dan juga Aira. Sedangkan para orang tua hanya terkekeh geli melihat perlakuan Justin.
“Cih, keluar saja kau sana. Menganggu saja!” Justin semakin mendekus kesal mendengar perkataan Max. Justin berjalan keluar diikuti oleh tiga orang Jomblo seperti dirinya di belakang.
“Apa kalian sudah makan?” tanya Justin. Ketiganya serempak menggelengkan kepala.
“Baiklah, kita ke kantin rumah sakit saja.” Max dan Thomas berjalan dahulu didepan, sedangkan David dan Aira mengekor di belakang. Hubungan keduanya tampak lebih dekat semenjak mereka lebih sering di rumah sakit, walaupun sesekali harus ke kantor untuk mengecek kondisi kantor selama Max tidak dapat kesana, tapi masih memantau lewat laptop.
Justin duduk di bangku kantin bersebelahan dengan Thomas. Sedangkan Aira dan David duduk berhadapan dengan kedua laki-laki itu.
Justin memesan makanan. Sebenarnya bisa saja mereka meminta pelayan atau petugas rumah sakit untuk mengantarkan makanan untuk mereka ke kamar Stef, tapi rasanya untuk saat ini tidak mungkin melihat bagaimana Max yang terlalu bucin pada istrinya itu.
Saat keempatnya sedang asik menyantap makanan, terlihat dokter Patricia juga sedang memegang tadah berisi makanan mencari tempat duduk. Lantas Thomas langsung berdiri dan memanggil dokter cantik itu.
“Dokter, mau makan?” tanya Thomas basa basi. Dokter Patricia langsung mengangguk dan berjalan mendekat pada laki-laki itu.
“Cih, kenapa aku merasa seperti obat nyamuk saat ini?” batin Justin tersenyum kecut pada dirinya sendiri.
_______
Bwleee, kasian lu Jones. Udah gw kasih Dede gemes satu malah lu jutekin, harusnya tuh lu bersyukur Ama gw Justin 😌🙄