
Puncak dari kata cinta adalah, saat kita mengakui bahwa cemburu, ternyata sangat mengesalkan!
-Ega_Sri
_____
Selama dalam perjalanan pulang, Thomas hanya diam saja membuat Mattea bingung.
“Uncle kenapa?” tanya Mattea. Tapi yang ditanya hanya diam saja. Bahkan Thomas tidak menatap sedikitpun pada Mattea yang duduk disampingnya. Membuat Mattea semakin kesal.
“Uncleeee....” Mattea merengek lagi. Akhirnya Thomas melirik padanya.
“Apa?” sahut Thomas datar.
“Uncle kenapa? Kenapa diam saja?” Thomas kembali diam tanpa menjawab pertanyaan Mattea, membuat gadis itu kesal. Dengan beraninya, Mattea mengangkat tubuhnya lalu mencium bibir Thomas sekilas, membuat laki-laki itu kaget. Bahkan dia langsung menepikan mobilnya di pinggir jalan.
“Kau tau Mattea, tindakanmu itu berbahaya!” geram Thomas kesal. Mattea cemberut mendengar perkataan Thomas. Gadis itu menatap Thomas dengan kesal.
“Uncle itu kenapa sih? Kenapa dari tadi mendiamkan aku?” Thomas mengangkat bahunya acuh. Lalu kembali melajukan mobilnya.
“Apa uncle bisu?” tanya Mattea kesal. Lagi-lagi Thomas hanya diam.
“Kalau Uncle tidak mau jawab, maka turunkan aku disini!” Thomas tidak menjawab perkataan Mattea, malahan dia semakin melajukan mobilnya dengan kencang.
“Hiks ... Hiks...” Thomas terkesiap saat mendengar suara tangis dari gadis itu, dia cepat-cepat menghentikan mobilnya di pinggir jalan, lalu meraih tangan mattea.
“Baby girl, kenapa kau menangis?” laki-laki macam apa Thomas ini, sudah tau karena dirinya masih saja bertanya. Seakan ku ingin membenturkan kepalanya ke pintu mobil 😐
Mattea melepaskan kasar tangan Thomas yang meraih tangannya. Thomas mengusap kasar wajahnya. Dia tidak akan sanggup melihat gadis cantiknya ini menangis, apalagi karena dirinya.
“Baiklah ... Baiklah! Aku bicara!” Thomas terdiam sebentar. Mattea masih setia menutup wajahnya dengan telapak tangan. Thomas menghirup udara dengan kasar.
“Aku tidak suka kau dekat dengan Harry!” mata Thomas memandang kedepan. Wajahnya memerah menahan malu, dia memalingkan wajahnya dari Mattea.
Dasar, sudah tua masih saja cemburuan!
Mattea, menghentikan tangisnya. Dia menatap pada Thomas yang menggigit bibir bawahnya. Mendengar alasan Thomas, membuat Mattea rasanya ingin sekali tertawa. Ternyata taktik menangis pura-puranya tadi berhasil juga.
“Tidak suka kenapa?” Mattea menahan geli saat Thomas menatapnya kesal.
Hohoho, manis sekali laki-laki tampan ini jika sedang malu seperti ini, ditambah lagi dia sedang kesal karena cemburu. Bahagianya aku, batin Mattea senang.
“Tidak suka saja!” jawab Thomas ketus. Mencoba untuk menghindari pandangan Mattea, dia kembali melajukan mobilnya menuju mansion untuk mengantarkan gadisnya itu pulang.
“Uncle.. Hemm, apa kau cemburu?” lihatlah wajahnya itu, memerah seperti gadis yang sedang jatuh cinta, hihihi.
Mattea terkikik saat Thomas hanya mengabaikan ucapannya.
“Kau manis sekali kalau cemburu seperti ini Uncle. Harry itu hanya temanku, tidak lebih. Aku juga tidak punya perasaan apapun terhadapnya”
Ya jelas saja kau tidak punya perasaan apapun Mattea, semua orang juga tahu kalau kau cinta mati pada laki-laki yang sedang cemburu ini!
“Hemm,” jawab Thomas singkat.
“Oh Uncle, percayalah, Harry itu hanya temanku. Aku tidak menyukai dia!”
“Kau memang tidak menyukainya girl, tapi dia menyukaimu!” mendengar perkataan Thomas lagi-lagi Mattea rasanya ingin sekali tertawa, tapi dia tahan, karena dia tidak mau Thomas semakin marah dan mendiaminya. Dia sangat senang di cemburui seperti ini, rasanya sangat membahagiakan.
“Uncle ...” kini Mattea menatap pada Thomas. Mobil memasuki area mansion. Penjaga membukakan pintu gerbang. Mobil mewah itu berhenti dengan cantik di depan pintu utama mansion keluarga Alexander Luciano itu.
“Uncle...” panggil Mattea lagi. Menahan Thomas agar tidak langsung membuka pintunya. Dia menatap Thomas dengan serius.
“Apa Atea?” tanya Thomas. Dia diam, saat Mattea menahan tangannya sewaktu mau membuka pintu mobil, dan menghadapkan tubuhnya agar berhadapan dengan gadis itu.
“Percayalah padaku Uncle. Aku tidak menyukai Harry. Harusnya kau tau siapa laki-laki yang paling aku cintai di dunia ini setelah Daddy dan Matt! Laki-laki itu Uncle, jadi tidak mungkin bagiku untuk menyukai Harry ataupun laki-laki lain, dan aku juga tidak punya waktu untuk itu, karena waktuku habis untuk mencintaimu!”
Thomas rasanya ingin sekali mencium bibir gadis yang ada didepannya ini. Darimana dia mendapatkan kata-kata yang mampu membuatnya semakin mencintai gadis kecil ini.
“Kau sedang merayuku Atea?” Mattea kesal mendengar pertanyaan Thomas. Dia memukul lengan laki-laki itu dengan cukup keras, tapi bukannya merasa sakit, Thomas bahkan merasa geli. Tangan mungil Mattea, bukanlah tandingan bagi tangannya yang kuat dan gagah.
Alih-alih mencium Mattea, Thomas hanya membawa gadis itu kedalam pelukannya.
“Aku tau girl. Mungkin tadi aku hanya tidak bisa mengendalikan rasa cemburuku saat laki-laki itu mengatakan kalau kau teman dekatnya. Apalagi dia tadi terlihat tidak percaya saat aku mengatakan kalau aku ini calon suamimu.”
“Calon suami?” tanya Mattea yang langsung melepaskan pelukan Thomas. Laki-laki itu menganggukkan kepalanya.
“Eemmm, kapan uncle mau menikahiku?” Mattea menggigit bibir bawahnya yang tipis itu, membuat Thomas rasanya ingin sekali mengecap bibir manis yang pernah membuatnya gila itu.
“Kau kan tau Atea, usiaku sudah tidak muda lagi, jadi secepatnya aku akan melamarmu pada Max, mungkin sebelum kau wisuda, karena aku tidak mau, gadis kecilku ini di ambil oleh laki-laki lain, yang tidak sebanding denganku!”
Awalnya Mattea sangat senang mendengar perkataan Thomas. Tapi saat mendengar akhir dari kata-kata laki-laki itu membuatnya memberengut.
“PD nya kau Uncle,”
“Hahaha, harus sayangku. Kalau tidak, bagaimana mungkin kau akan tergila-gila padaku. Iyakan sayang?” Thomas mengedipkan mata genit pada Mattea, persis seperti yang gadis itu lakukan padanya pagi tadi. Setelah itu, dia membuka pintu mobil dan keluar dari sana, meninggalkan Mattea yang tertawa kesal padanya, membenarkan apa yang dikatakan laki-laki itu.
Thomas berjalan mengelilingi mobilnya, lalu membukakan pintu untuk Mattea.
“Aku harus kembali!” Mattea mengerucutkan bibirnya lucu.
“Kenapa tidak disini saja? Sampai besok, atau seterusnya?!” Thomas terkekeh mendengar perkataan gadis itu.
“No sayangku, ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan, jadi aku tidak bisa berlama-lama disini.” meskipun kesal, tapi Mattea tetap menganggukkan kepalanya.
Thomas mencium kening Mattea sekilas, membuat penjaga yang ada disana, memalingkan wajahnya melihat pemandangan yang sangat langka itu.
Thomas masuk kedalam mobil, meninggalkan Mattea yang memerah malu karena ulahnya. Gadis itu menatap pada penjaga.
“Diam kalian!” gertaknya sebelum berlari masuk kedalam. Sedangkan penjaga hanya tertawa geli melihat tingkah nona muda itu.
Thomas melajukan mobilnya menuju ke kantor. Ada sesuatu yang ingin dia tanyakan pada Max.
Hari yang sudah mulai petang itu, menjadi akhir bagi seluruh karyawan, karena itu tandanya mereka akan pulang, dan mengistirahatkan tubuh yang sudah lelah bekerja seharian ini, untuk bisa kembali bangkit besok dan mengais rejeki.
Berbeda dengan mereka, Thomas malah datang ke kantor dan menemui Max dalam ruangannya. Rupanya laki-laki yang menjadi ayah dari gadis yang dicintainya itu, juga sedang bersiap pulang.
“Max...” tanpa mengetuk pintu, Thomas masuk kedalam ruangan Max.
“Hemm?” dehem Max menyahuti panggilan Thomas.
“Aku masih penasaran padamu, kenapa menyuruh aku untuk mengawasi Mattea, bukankah ada supir dan juga Matteo?” Thomas duduk di sofa yang ada disana. Sedangkan Max juga bangkit dan berjalan menuju sofa, ikut duduk disana.
“Apa yang kau rasakan saat tadi menjemput Mattea?” bukannya menjawab, Max malah memberikan pertanyaan pada Thomas.
“Tidak ada!” jawab Thomas. Sedangkan Max tersenyum meledek.
“Kau yakin? Bukannya kau tadi cemburu?” Max terkekeh menatap Thomas yang kesal padanya.
“Katakan saja intinya Max, jangan bertele-tele!” Thomas merasa malu saat mengakui kalau dia cemburu didepan ayah gadis cantiknya.
“Aku tidak bisa jelaskan sekarang. Tapi, nanti kau pasti akan paham dengan sendirinya!” Max semakin membuat Thomas penasaran.
“Sesuatu yang buruk?” Max mengangguk.
“Sudahlah, aku mau pulang. Istriku sudah menunggu!” Thomas mengerling kesal pada Max.
“Max, tunggu dulu, darimana kau tau, tadi aku cemburu?” tiba-tiba Thomas teringat hal itu. Dia kepikiran, darimana Max tau kalau dirinya tadi cemburu. Apa laki-laki didepannya ini, memata-matai dirinya dan Mattea?
“Kau pikir, aku akan melepaskan putriku begitu saja, Thomas? Sebelum kau menikahi dia, maka Mattea masih tanggung jawabku. Aku selalu mengawasi dia, bahkan aku juga tau disaat dia yang dengan berani mencium mu!”
“APAA...?”
“Berhati-hatilah, kalian dalam pengawasanku!” Max menepuk pundak Thomas sekilas, sebelum dia meninggalkan laki-laki itu dengan wajah yang memerah.
“Sialan kau Max!”
_____
Thomas menyeduh susu panas buatannya, dengan duduk di kursi meja makan. Pelayan yang bekerja di apartemennya sudah kembali pulang. Karena mereka datang pagi-pagi sekali untuk membereskan semuanya, dan malamnya pulang ke rumah masing-masing. Dan rumah mereka juga tidak berada jauh dari kawasan apartemen elit tempat Thomas tinggal.
Thomas mengingat semua yang sudah terjadi dalam hidupnya. Bagaimana dulu dia hidup dengan terlunta-lunta tidak jelas, hingga akhirnya bertemu dengan Max. Dan pria dewasa itu mengajaknya untuk bergabung dengan kelompok yang diberi nama Black Devils itu.
Bahkan Max, juga mengajarkannya cara berbisnis, hingga kini dia memiliki perusahaan sendiri, dan itu juga berkat campur tangan Max.
Dan disaat dulu dia terpuruk karena di tinggalkan oleh Patricia, Max dan David lah, yang menghiburnya, hingga dia kembali melanjutkan hidup. Ditemani oleh gadis kecil yang selalu membuatnya tersenyum dan tertawa.
Tapi siapa sangka, sekarang dia malah jatuh cinta pada gadis kecil itu. Gadis yang sudah dia anggap seperti anak sendiri. Dia yang awal mulanya tidak mau untuk memiliki komitmen menikah, kini malah merasa sangat ingin menikahi gadis kecil itu.
“Setidaknya aku tidak akan membuatmu kecewa dalam urusan cinta baby girl. Karena aku tau bagaimana rasanya dikecewakan oleh orang yang kita cintai!”
Thomas bangkit dari duduknya, setelah menghabiskan susu yang tadi dia minum. Akibat kebiasaan Mattea yang selalu minum susu saat akan tidur, Thomas jadi ikut-ikutan suka minum susu sebelum tidur, karena itu membuatnya rileks dan cepat tertidur.
____
“Apa Mattea belum bangun?” tanya Thomas pada Marko. Laki-laki itu menggeleng.
“Lalu kenapa kau tidak membangunkannya?” tanya Thomas kesal.
“Saya sudah menyuruh pelayan yang lain tuan, tapi nona muda tidak mau bangun.”
Thomas menghela nafas, setelah itu dia berjalan menuju kamar Mattea di lantai atas, meninggalkan Marko yang masih berdiri disana.
Thomas mengetuk pintu kamar Mattea. Tapi tidak ada jawaban. Setelah itu dia memutuskan untuk membuka pintu kamar Mattea, dan terkejut melihat isi kamar gadis itu.
“Dia begadang?” melihat banyaknya bungkusan makanan ringan yang berserakan disana, dan pelayan belum membereskannya, membuat Thomas menghela nafas.
“Baby girl, bangun...” Thomas menarik pelan selimut yang membungkus tubuh Mattea seperti kepompong. Tapi gadis itu tidak bergerak sedikitpun.
“Baby girl, bangun. Apa kau tidak ke kampus hari ini?” Mattea hanya bergumam tidak jelas membuat Thomas semakin kesal. Dia sudah terlambat karena harus mengantar Mattea ke kampus, lalu kini dia semakin terlambat karena gadis itu ternyata belum bangun dari tidurnya.
“Mattea, bangun!” dengan sekali hentakan keras, selimut yang digunakan Mattea, terbuka dan Thomas sangat terkejut saat melihat apa yang seharusnya tidak dia lihat itu.
“Matteaaaaa.....” mendengar suara keras Thomas membuat gadis itu terduduk cepat, dengan kepala yang sempoyongan dia menatap Thomas dengan wajah yang memerah didepannya
“Apa Uncle?” tanya Mattea yang masih belum sadar dengan apa yang terjadi pada dirinya.
“Gunakan pakaianmu cepat!” setelah itu Thomas keluar dari kamar Mattea tanpa mengatakan apapun setelahnya. Sedangkan gadis itu langsung tersadar dengan apa yang terjadi pada dirinya.
“Aaakkkhhhhhh.....”
_____
Thomas berjalan menuju dapur. Dia mencari Marko.
“Iya tuan?” tanya Marko saat sudah berada di depan Thomas.
“Apa kau yang selalu membangunkan Mattea?” mendengar pertanyaan Thomas, Marko menggeleng cepat.
“Tidak tuan, biasanya nyonya Stef, atau pelayan perempuan!” Thomas bernafas lega mendengar perkataan Marko. Setelah itu dia mengangguk dan pergi dari sana, menuju kamar tamu yang biasanya dia gunakan jika menginap di mansion Max.
“Kenapa dia tidur hanya menggunakan pakaian dalam saja, dasar gadis nakal!” Thomas berjalan menuju kamar mandi, dan menuntaskan apa yang sudah seharusnya dia tuntaskan.
_____
Dukungannya sayangku 😍