
Akhirnya kini mereka sampai di sebuah rumah yang cukup besar. Mattea langsung turun dari mobil dan berjalan menuju pintu utama, lalu memencet bel.
Ting nong.
Setelah beberapa saat, akhirnya pintu terbuka. Nampak kepala pelayan yang membukakan pintu. Pelayan itu mempersilahkan mereka semua untuk masuk.
Max, Stef, dan kedua anak kembarnya berjalan masuk.
Terlihat David nampak dari arah belakang.
“Max..?” sapa David pada Max. Mereka bersalaman dengan gaya pria sebentar, lalu David membawa mereka semua untuk duduk disofa yang ada disana.
Mungkin karena mendengar suara bel, Aira turun dari lantai dua.
Benar, Aira adalah istri David yang dia nikahi tiga tahun setelah Stef melahirkan. Kenapa lama sekali? Karena David perlu meyakinkan diri, karena trauma yang pernah dihadapi dan juga percintaan kelam masa lalu.
Trauma apa? Hehe, tenang saja, bakal kejawab kok di season dua ini😁Dan apa yang membuat David sangat hormat dan menyayangi Max, juga bakal kejawab di season dua ini. Oke sayang-sayangku semua? 😚
“Hallo aunty, dimana Ana dan Kevan?” tanya Mattea cepat, saat Aira duduk disofa bersama mereka.
“Ada di kamar mereka sayang. Aunty akan ambil Kevan dulu di pengasuh.” Aira bangkit kembali menuju kamar anak bungsunya Kevano, yang masih balita itu.
“Aku ikut.” Mattea berdiri, mengikuti Aira. Sedangkan Matteo hanya melirik sekitar, mencari keberadaan Ana.
“Bagaimana kabarmu David?” Max membuka pembicaraan dengan sahabatnya itu. Sedangkan Stef juga memutuskan untuk ikut bersama dengan Aira ke kamar Kevano.
“Seperti yang kau lihat, aku sangat baik,” David menjawab seadanya, sesuai keadaanya saat ini. Tak lama setelah itu, terdengar suara mobil mendekat dan berhenti di depan rumah.
“Ah, itu dia.” David heran menatap Max.
“Dia siapa?” tanya David.
“Siapa lagi kalau bukan perjaka tua sahabatmu itu!” ujar Max tertawa. Sedangkan David ikut tertawa mendengar perkataan sahabatnya itu. Dia tau siapa yang di maksud oleh Max, siapa lagi kalau bukan Thomas.
“Hei kalian,” tanpa di bukakan pintu, Thomas menyelonong masuk begitu saja kedalam rumah David, lalu duduk di sofa yang ada disana.
“Mana istrimu Thomas?” tanya Max meledek membuat Thomas mendelik kesal.
“Sialan kau Max!” jawab Thomas kesal.
“Hahaha...” David dan Max tertawa bersamaan membuat laki-laki yang masih sangat tampan itu tampak sangat kesal.
“Hei, berhentilah kalian tertawa! Kalian sungguh menyebalkan!” Thomas menyandarkan tubuhnya pada sofa, dia menatap ke lantai atas.
“Hei Boy, bagaimana kuliahmu?” tanya Thomas pada Matteo yang sedari tadi hanya diam
“Ya begitulah Uncle, membosankan.” Matteo menjawab dengan seadanya, membuat Thomas mengangguk.
“Apa kau sudah punya pacar?” tanya Thomas lagi.
“No, aku tidak minat untuk berpacaran.”
“No.” jawab Matteo singkat.
“Hei boy, seharusnya kau punya pacar, kau punya wajah yang tampan, dan aku yakin banyak gadis yang tergila-gila padamu!” Thomas menjangkau pundak Matteo, lalu menepuknya beberapa kali.
“Uncle, gadis yang menyukaiku memang sangat banyak, tapi aku hanya merasa tidak tertarik saja dengan mereka.” Thomas mengangguk lagi.
“Heii, tunggu dulu. Kau tidak menyukai gadis? kau menyukaii...?!” Matteo mencebik kesal mendengar perkataan Thomas.
“Uncle aku masih normal.” Thomas menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Max dan David hanya tertawa mendengar percakapan mereka.
Terlihat Aira, Mattea, Stef dan juga Ana berjalan mendekat pada mereka. Dengan Kevano yang saat ini berada dalam gendongan Stef.
“Thomas, jangan memikirkan Matteo, tapi pikirkan dirimu sendiri, kenapa masih melajang sampai saat ini!” mendengar perkataan Max, Thomas hanya mengerling kesal.
“Aku tidak berniat menikah Max, jangan tanyakan itu lagi!”
Mattea terdiam di tempatnya mendengar perkataan Thomas. Matanya menatap dengan tatapan yang tidak terbaca pada pria dewasa didepannya itu.
“Thomas, hidup itu terus berjalan. Bukalah lembaran baru. Aku juga ingin melihatmu bahagia dengan wanita yang kau cintai.” Max menatap pada Thomas dengan tatapan yang serius. Di matanya terlihat ketulusan saat mengatakan itu. Thomas hanya menghela nafas.
“Tapi Max, aku sungguh tidak tertarik untuk menikah!” jawaban Thomas yang kekeh pada keputusannya itu membuat Max dan David menghela nafas dalam.
“Kenapa begitu uncle?” tanya Mattea mendekat pada laki-laki itu.
“Hei princess.” Thomas tersenyum pada keponakan perempuannya yang cantik itu.
“Kenapa Uncle tidak mau menikah?” tanya Mattea lagi, mengabaikan sapaan Thomas. Dia duduk disamping Thomas.
“Karena menurutku itu tidak penting Atea.” Thomas menjawab enteng, tanpa melihat reaksi gadis kecil yang ada di sampingnya itu.
Ada kekecewaan dalam matanya saat Thomas mengatakan hal itu.
“Memangnya kenapa Girl? Kau jangan menyebalkan seperti Dady mu itu ya, yang terus saja menyuruh Uncle untuk menikah.” Thomas tertawa melihat Max menatapnya kesal. Sedangkan Mattea hanya diam saja.
“Padahal Max benar Thomas, kau seharusnya menikah!” ujar Stef ikut setuju dengan perkataan suaminya, Max, David dan Aira mengangguk mendengar perkataan Stef. Sedangkan Thomas hanya menghela nafas.
“No Stef. Untuk saat ini aku rasa tidak, tapi aku tidak tau jika nanti!”
“Uncle, apa jika nanti ada wanita yang benar-benar mencintai uncle, apa uncle mau menikah dengannya?” Thomas terdiam mendengar pertanyaan Mattea.
“Bagaimana jika aku tidak menyukai wanita itu?” Matteo balik bertanya, menatap pada wajah gadis kecil yang dulu selalu di timangnya itu.
“Bagaimana kalau dia berusaha untuk membuat Uncle jatuh cinta padanya?” Thomas terdiam. Begitupula dengan semua orang yang ada disana. Hanya Matteo yang sesekali melihat pada gadis manis di dekat Momy nya itu.
“Entahlah, mungkin aku akan mempertimbangkan. Tapi aku rasa tidak mungkin.” Mattea hanya terdiam. Dia tidak bertanya lagi. Tapi tatapan matanya masih tertuju pada pria dewasa di sampingnya itu. Pria dengan pesona yang mendebarkan.
Uncle, setidaknya buka hatimu untukku sedikit saja. Lihat aku. Aku sudah dewasa sekarang. Aku bukan gadis kecil lagi Uncle. Apa kau tidak tertarik sedikitpun denganku? Apa kau masih melihat aku sebagai gadis kecilmu yang dulu?