
Mattea turun dari kamar bersama dengan Thomas, dengan wajah yang merona. Thomas yang melihat itu terkekeh gemas. Mereka baru bisa turun setelah beberapa lama di kamar semenjak siang.
Mattea yang awalnya tidur siang, membuat Thomas ikut tidur di sampingnya. Tapi wanita cantik itu, tidurnya jadi terganggu karena aktifitas tangan sang suami yang tidak dapat di kondisikan.
Tangan kekar itu merayap tak tau tempat membuat manik gelap milik Mattea terpaksa harus terbuka karena terganggu oleh aktivitas itu.
Dan aktivitas yang dimulai Thomas itu, berakhir dengan pergulatan ranjang yang membuat Mattea terus mendesah dibawahnya. Thomas tersenyum puas untuk itu.
“Bisa kau lihat jam Mattea?” Matteo menatap Mattea dan juga Thomas dengan kesal. Mereka adalah orang yang terakhir datang ke meja makan, membuat semuanya menunggu.
Wajah cantik pemilik manik gelap itu merona membuat semua yang ada di meja makan tersenyum kecuali Matt tentunya.
“Kak Matt, gak boleh seperti itu! Kakak harusnya mengerti dengan mereka. Kan mereka itu pengantin baru!” Ana yang memaksa untuk duduk di samping Matt membuka suara, membuat semua orang menatap padanya dengan terkekeh.
“Tau apa kau bocah?!” Matteo menyentil kepala Ana dengan pelan membuat gadis itu mendelik.
“Kak Matt tidak boleh menyentilku!” ujar Ana dengan tangan berlipat di dada. Gadis itu cemberut membuat alis Matt terangkat.
“Kenapa?” tanya Matt acuh.
“Kenapa tidak kak Matt cium saja?!” bisikan lembut dengan suara menggoda itu membuat Matt melayangkan tatapan tajamnya, tapi orang yang dia tatap memperlihatkan wajah polos nan menawan membuat laki-laki itu menggeram.
“Jangan mimpi kau bocah, lap ingusmu dulu, baru bicara tentang ciuman!” Ana menatap tidak terima pada Matt membuat laki-laki menaikkan bahu acuh.
“Aku tidak punya ingus. Cihh, kak Matt sepertinya belum pernah berciuman ya?” Ana menatap tajam Matt untuk mencari jawaban, dia ingin mengetahui ini. Apakah laki-laki idaman didepannya ini sudah pernah berciuman? Kalau sudah dengan siapa? Biar dia habisi gadis itu! Berani-beraninya dia mencuri ciuman laki-laki yang seharusnya menjadi miliknya ini.
“Memangnya kau pernah berciuman?” bukannya menjawab pertanyaan Ana, Matt malah melemparkan pertanyaan itu membuat pipi gadis itu memerah, Matt menatap Ana dengan heran.
“Sekarang belum, tapi nanti pasti aku akan berciuman. Dan aku mau berciuman dengan kak Matt!” bisikan dari gadis bar-bar itu membuat Matt menatapnya kesal.
Kedua orang itu tidak menyadari kalau tingkah mereka yang berbisik-bisik seperti itu menarik perhatian semua orang yang ada di meja makan, menatap mereka dengan heran.
“Bangun, ini sudah malam bocah. Jangan bermimpi kau!” desis Matt membuat Ana hanya menggedikkan bahu acuh.
“Apa yang kalian bicarakan? Kenapa berbisik-bisik?” David menatap Ana dan Matt dengan penasaran. Apa yang di katakan oleh gadis kecilnya itu kepada keponakannya, hingga membuat pria itu menggeram.
“No Dad, kami hanya membicarakan kak Matt yang menembak ku untuk jadi pacarnya!” Ana mengatakan itu dengan sangat percaya diri membuat semua orang menatap terkejut pada keduanya.
“Uhuk ... Uhuk...”
Ana menyerahkan segelas air pada Matt yang tersedak. Laki-laki itu meraih gelas yang disodorkan oleh Ana secepatnya, dan meneguknya hingga tandas.
“Kita baru saja berciuman kak Matt!” mata Matt melebar mendengar perkataan Ana. Lalu dia menoleh pada gelas yang ada di genggamannya mengikuti pandangan mata Ana, yang menatapnya dengan senyuman yang menurut Matt sangat menyebalkan, tapi terlalu sayang untuk di lewatkan.
“Dasar gadis kecil bar-bar!” Matt kembali melayangkan jitakan pada kening gadis itu membuat semua orang yang ada di meja makan menatap mereka dengan heran.
“Kalian ini membicarakan apa sih?” tanya Stef akhirnya buka suara.
“No Aunty ..” Ana menjawab takut saat manik mata Matteo menatapnya dengan sorot mengancam. Seakan mengatakan kalau dia tidak boleh asal bicara lagi.
“Atea, apa kau mau pergi untuk bulan madu?” semua orang yang ada di meja makan menatap Max yang bertanya seperti itu pada anak gadisnya. Dia mengatakan itu dengan serius.
Mattea menatap Thomas seakan meminta jawaban
“Sepertinya di tunda dulu Max, karena sebentar lagi Mattea akan ujian.” Max mengangguk mendengar perkataan Thomas. Benar juga, sebentar lagi anak perempuannya itu dan juga anak laki-lakinya akan mengikuti ujian semester.
“Oh iya Ana, nanti mau kuliah dimana sayang?” Stef menatap Ana, senyuman gadis itu merekah lalu menatap Matt, membuat laki-laki itu was-was. Dia menebak, pasti gadis bar-bar ini mengikutinya. Dan Matt sangat yakin untuk itu.
“Di kampus Kak Matt, Aunty.” perasaan tidak enak langsung menyerang Matt, dia menatap gadis itu kesal. Kan, benar dugaannya. Pasti gadis itu tidak akan melepaskan dirinya nanti. Matt tidak dapat membayangkan hari-harinya yang suram hanya dengan membayangkannya saja.
“Wow, dengan jurusan yang sama?” tanya Stef lagi. Dia menatap Ana yang mengangguk mendengar pertanyaannya. Gadis kecil di depannya ini, sepertinya benar-benar sangat menginginkan putranya.
“Heem Aunty.”
Perbincangan saat makan malam itu melebar kemana-mana. Mattea tersenyum senang, karena tidak ada yang menggodanya lagi. Dia menatap pada Thomas yang duduk di sampingnya. Dia sangat bahagia, karena mulai dari saat ini, dia bisa makan malam seperti ini untuk seterusnya dengan suaminya yang tampan itu.
Setelah makan malam yang hangat itu, seluruh keluarga berpindah ke ruang keluarga. Mereka berbincang cukup lama di ruang keluarga, dan setelah cukup lala Thomas mendekat pada Mattea.
“Sayang, aku ada urusan keluar sebentar. Tidak apa-apa kan?” duh, suami siapa sih ini. Pertanyaan lembut Thomas mau tak mau membuat Mattea mengangguk. Laki-laki dengan tingkah manis di depannya ini memang benar-benar membuatnya jatuh dalam pesonanya yang mematikan.
“Jangan lama-lama!” cicit Mattea dengan senyuman malu-malu membuat Thomas terkekeh gemas.
Thomas mencium kening Mattea sekilas. Lalu berpindah ke pipinya, membuat wanita itu semakin merona.
“Tidak akan lama sayang. Tapi kalau kau mengantuk, tidur saja lebih dulu. Tidak usah menungguku!” Mattea mengangguk membuat Thomas tersenyum. Setelah itu dia berlalu dari sana. Melihat Thomas yang sudah pergi, Mattea memutuskan untuk kembali ke kamar.
Thomas akan pergi ke markas sebentar, untuk mengecek sesuatu. Max dan David tidak ikut, karena ini sudah sepenuhnya menjadi tugas Thomas.
Tapi tetap saja, kedua laki-laki itu akan mengecek kerja anak buah yang berada di bawah Thomas. Karena saat ini, Thomas sudah tidak sendiri lagi. Dia mempunyai istri, dan Max juga David sangat memahami pengantin baru itu.
Menggunakan Ronge rover miliknya, Thomas melesat meninggalkan area mansion. Dia menatap pada jam yang ada di pergelangan tangannya.
Baiklah, baru jam delapan, tidak apa untuk bermain sebentar kesana untuk memastikan semuanya berjalan lancar. Dia tidak ingin, semua yang sudah dilakukannya sia-sia. Terlebih banyak anak buahnya yang berkorban dan masuk kedalam dunia hitam itu. Melindungi dengan nyawa mereka sendiri.
Bangunan usang yang terlihat tidak terawat dari luar itu menyambut kedatangan Thomas.
Beberapa orang berpakaian hitam dengan tubuh tegap menunduk tak kala laki-laki itu melangkahkan kakinya masuk kedalam bangunan yang menjadi tempat perkumpulan kelompoknya. Kemewahan langsung terasa saat langkah kaki itu memasuki semakin dalam tempat yang dipijak nya.
Ada sofa yang lumayan banyak di ruang tengah, dan juga lemari minuman dingin di sudut ruangan. Bar yang lumayan besar akan terlihat saat kita semakin masuk kedalamnya. Semua fasilitas mewah itu di buat supaya semua yang berjaga disana juga mendapatkan kesenangan.
Thomas disambut oleh Nicko, lalu seakan tau, laki-laki itu langsung mengarahkan Thomas pada jalan menuju ruang bawah tanah.
Segala jenis senjata dan amunisinya berada dalam peti besi yang terletak disudut ruangan yang gelap. Dan juga tas-tas yang berisi barang yang akan mereka jual juga sudah siap bersedia disana.
Ruangan sembab itu berfungsi untuk tempat penyimpanan senjata. Lemari berisi senjata tajam dan juga senjata api itu tampak mengagumkan di setiap sudut. Dengan lemari besi kuat yang menyimpannya.
“Apa kau yakin, transaksi kali ini, kita tidak akan di intai polisi yang berjaga di pelabuhan itu?” Thomas mendekap tangannya di dada, menunggu apa yang akan di katakan oleh Nicko. Dia menatap pada peti-peti yang ada disana. Peti-peti itu tentunya berisi senjata yang akan diselundupkan tengah malam nanti.
“Tidak ketua. Karena Austin sudah membayar mereka untuk tutup mulut, dan memilih area lain untuk jadi rute patroli mereka.” Thomas mengangguk mendengar perkataan Nicko.
“Ah iya, bagaimana dengan bocah itu. Apa dia membuat masalah lagi?” Thomas bertanya sembari mendekat pada peti-peti besi itu. Dia melihat barang yang ada didalamnya, setelah itu mengangguk.
“Berapa semua ini?” tanyanya terlebih dahulu sebelum Nicko menjawab pertanyaannya yang pertama tadi.
“Dua ribu ketua.” Thomas mengangguk mendengar perkataan Nicko.
“Dan untuk Austin, aku sudah membereskannya. Dia saat ini sedang bersama dengan Stella, mereka sudah lebih dulu berada di pelabuhan. Gadis itu sangat bisa di andalkan!” Nicko berkata dengan bangga. Dia tersenyum tipis membuat Thomas ikut menyunggingkan senyum tipisnya.
Setelah melihat-lihat semuanya, Thomas berjalan kedepan untuk keluar dari ruangan itu. Nicko menutup pintu, lalu mengekor dibelakang Thomas, menyusuri lorong yang diterangi penerangan minim itu.
“Apa dia menyusahkan gadis itu?” Nicko tampak terkekeh sebentar, sebelum wajahnya kembali datar.
“Ya begitulah. Mereka setiap hari bertengkar. Aku rasa mereka akan berjodoh nanti!” Thomas ikut tertawa mendengar perkataan Nicko. Dia sudah membayangkan bagaimana kedua orang keras kepala itu saat berdebat.
“Bukankah gadis itu, sama hari lahirkan dengan istriku?” mendengar perkataan Thomas, Nicko menganggukkan kepalanya.
Thomas melirik pada jam yang ada di tangannya. Ternyata sudah cukup lama dia keluar.
“Apa sekarang anda merindukan nona muda?” perkataan Nicko membuat Thomas terkekeh.
“Ya begitulah. Gadis itu selalu membuatku rindu. Makanya kau menikah, agar kau tau bagaimana rasanya merindukan istrimu sendiri!” mendengar perkataan Thomas, Nicko hanya menunjukkan senyumannya.
“Baiklah, untuk transaksi kali ini aku tidak bisa ikut. Aku percayakan semuanya padamu. Dan berhati-hatilah!” Nicko mengangguk mendengar perkataan Thomas. Laki-laki itu menepuk pundak Nicko dua kali, Setelah itu berjalan keluar. Nicko ikut berjalan keluar untuk mengantarkan laki-laki itu menuju mobilnya. Semua yang berpakaian hitam tetap tadi, menunduk tak kala Thomas melewati mereka
“Selamat bersenang-senang ketua!” mendengar kata-kata Nicko, Thomas tertawa. Lalu dia mengangkat tangannya, dan masuk kedalam mobil. Nicko menundukkan kepalanya. Setelah mobil Thomas menghilang dari pandangan matanya dia berbalik.
“Bersiaplah, kita ke pelabuhan sekarang! Bawa perlengkapan kalian, jangan sampai membuat Ketua menjadi cemas.” semua orang yang mendengar perintah Nicko langsung menganggukkan kepala mereka.
Sedangkan kini, Thomas sedang dalam perjalanan pulang menuju mansion. Laki-laki itu kini sedang membayangkan wajah istrinya yang sedang terlelap di ranjang.
Mengingat pergulatan mereka tadi siang, membuat tubuh Thomas merasa panas. Gadis yang dulu dia jaga seperti anaknya sendiri itu, kini benar-benar sudah berubah menjadi seorang wanita dewasa.
Tidak mau berfantasi lebih liar lagi, Thomas memacu mobil hitam mengkilap itu untuk membelah jalanan kota Frankfurt menuju mansion, dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan sang istri. Ternyata rindu semenyenangkan ini.
____
Mattea duduk di tepi ranjang, sembari membaca buku yang dia bawa dari perpustakaan pribadi yang ada di lantai bawah mansion. Gadis itu membolak-balikkan buka yang cukup tebal itu, tapi dia tidak fokus sama sekali dengan apa yang dia bawa, dan juga dengan tulisan yang ada di buku itu.
Dia melirik pada jam yang ada di dinding, ini sudah jam sepuluh malam, kemana suaminya itu pergi?
Karena memang dia tidak bisa fokus dengan buku yang ada di tangannya, Mattea meletakkan buku itu secara asal di atas meja balas yang ada di samping tempat tidurnya.
Dia berjalan menuju balkon kamar, untuk melihat pada taman yang ada di bawah balkon itu, dan juga kolam renang besar disana.
Dinginnya udara malam tak membuat Mattea meninggalkan area balkon yang menenangkan itu, sebelum sebuah tangan kekar menghangatkannya.
“Kau bisa masuk angin jika berlama-lama disini dengan pakaian yang terbuka seperti ini sayang.” terpaan nafas Thomas yang hangat membuat tengkuk Mattea merinding. Dia berbalik menatap suaminya yang tampak masih sangat tampan itu.
“Dari mana saja? Aku menghawatirkanmu!” bibir yang cemberut itu membuat Thomas tiba-tiba mengecupnya. Manik gelap milik Mattea melebar kaget, setelah itu pipinya merona karena tindakan tiba-tiba suaminya yang menyebalkan itu.
Mattea memukul dada bidang Thomas dengan tenaga yang menurutnya cukup keras, tapi bukannya malah merasa kesakitan, Thomas malah tertawa dan menangkap tangan itu, lalu membawanya pemiliknya kedalam pelukannya.
“Apa kau merindukan aku? Bahkan aku baru pergi dua jam, dan kau sudah merindukan aku?” nada meledek itu membuat Mattea mengerling kesal didalam pelukan Thomas.
“Tidak! Aku tidak merindukanmu!” Thomas terkekeh mendengar perkataan Mattea.
“Benarkah?” tanyanya dengan mata yang tidak percaya.
“Tentu saja!” ujar Mattea dengan sangat yakin.
“Tapi aku merindukanmu sayang!” tanpa aba-aba, Thomas langsung menggendong istrinya itu ala bridal style, membuat wanita itu memekik kaget, lalu mengalungkan tangannya pada leher suaminya itu.
“Aku sangat merindukanmu sayang, bahkan selama aku keluar tadi, pikiranku hanya kau!” kata-kata itu membuat Mattea memerah, dan Thomas sangat menyukai wajah istrinya yang seperti itu. Sangat cantik!
“Gombal!”
“Aku serius, untuk apa aku berbohong. Bahkan di setiap detik aku merasa selalu merindukanmu!”
“Cih....” Mattea memalingkan wajahnya ke arah lain.
Thomas membaringkan istrinya di atas ranjang dengan perlahan. Laki-laki itu memperlakukan Mattea dengan sangat lembut. Manik abu-abu itu menatap manik gelap Mattea dengan pandangan berkabut.
Perlahan bibir sensual itu mendekat pada bibir tipis milik sang istri. Mengecupnya dengan cukup lama.
“Aku menginginkanmu lagi sayang!”
_____
Aku nulis ini terburu-buru 😭Maapin ya, mood ku terlanjur ancur nih gara-gara kemarin 😔