
Aira dan juga Justin kembali ke hotel tempat Max, Stef dan juga David menginap. Max juga ingin mengatakan pada orang tua mereka bahwa ia dan Stef sudah berdamai dengan Justin.
Meraka masuk kedalam mobil yang terpisah, Max, Stef dan David berada dalam satu mobil, sedangkan Justin dan Aira berada dalam satu mobil yang lain terpisah dengan mereka.
“Apa kau senang tinggal disini Aira?” tanya Justin pada Aira yang bersandar dipundaknya. Aira mendongak sekilas lalu kembali melihat lurus kedepan.
“Iya kakak, aku senang tinggal disini!” jawab Aira, Justin menghembuskan nafas kasar.
“Apa kau tak ingin kembali ke Jerman?” tanya Justin. Aira hanya terdiam, tak menjawab pertanyaan Justin.
“Apa yang kau pikirkan? Kau ingin kembali ke Jerman?” tanya Justin.
“Entahlah, aku masih bingung saat ini!” jawab Aira.
“Bingung kenapa?” tanya Justin.
“Aku nyaman disini kak, tapi aku juga rindu negaraku!” jawab Aira akhirnya.
“Kalau begitu, ayo kita kembali ke Jerman saja, rasanya kakak sangat beruntung datang ke Negara ini, bisa menemukan dirimu disini!” Justin mengusap kepala Aira dengan sayang, lalu mencium pucuk kepalanya dengan sayang.
“Iya kakak!” jawab Aira akhirnya. “Aku juga senang bertemu dengan kakak disini, tapi malah dalam kondisi seperti ini!” Aira menatap Justin tajam akan kelakuan kakak lelakinya itu.
“Hehe, kakak 'kan tidak tau, kalau ternyata ayah membohongi kakak!” ucap Justin yang di benarkan oleh Aira.
“Aku juga saat pertama kali mendengar ayah mengatakan hal tersebut sangat tidak menduga bahwa ayah sejahat itu!” Aira menatap Justin yang menatap lurus kedepan.
“Huum, kita perlu penjelasan dari ayah!” ucap Justin mengepalkan tangannya.
Lama waktu berlalu, akhirnya mobil yang beriringan tersebut tiba di parkiran Hotel.
“Aku tidak yakin kau bekerja disini!” ucap Justin menatap Aira meledek, melihat hotel yang kini dipijaknya itu.
“Enak saja, aku bekerja disini sudah lumayan lama,” ucap Aira.
“Iya iya, tapi setelah ini kau akan ikut kakak ke Jerman!” ucap Justin yang diangguki oleh Aira. Justin dan Aira menyusul Max, Stef dan David, mereka berjalan beriringan.
“Kau ingin pesan kamar Just?” tanya Max.
“Just?” ucap Justin bertanya.
“Sudah, aku ingin memanggilmu Just, saja!” ucap Max yang mendapat delikan tajam dari lelaki tersebut.
“Enak saja kau ini!” ucap Justin tidak terima.
“Suka sukaku!” ucap Max seenaknya.
“Terserah kau saja,”
“Kenapa kalian jadi bertengkar seperti ini?” tanya Stef menatap keduanya mendelik sebal.
“Tidak! Kami tidak bertengkar!” ucap Max yang di angguki oleh Justin.
“Terserah!” ucap Stef merasa kesal. “Jadi, kau ingin memesan kamar Justin?” sambung Stef bertanya, yang diangguki oleh pria tampan tersebut.
“Biar aku saja yang memesankan!” ucap Aira pada mereka semua.
“Akan aku temani!” ucap David cepat, yang dibalas anggukan kepala malu-malu oleh Aira.
“Terserah kalian saja!” ucap Justin menatap Aira dan juga David.
“Ayo!” David dan Aira beranjak dari sana. Setelah Justin terlebih dahulu memberikan kartu tanda pengenal pada adiknya itu.
“Ayo, aku akan menemanimu untuk menemui orang tua Stef!” ucap Max yang diangguki oleh Justin.
“Semoga mereka memaafkan aku!” ucap Justin berjalan meninggalkan tempat yang tadi menjadi titik mereka berdiri.
Mereka bertiga berjalan menuju kamar orang tua mereka masing-masing, memastikan apakah mereka ada disana.
Tok... Tok...
Max mengetuk pintu kamar orangtuanya, sedangkan Stef mengetuk pintu kamar orangtuanya juga.
“Kau...,” ucap Masseria menunjukkan jari telunjuknya didepan wajah Justin.
“Maaf Bibi,” ucap Justin menundukkan kepalanya dengan penuh rasa bersalah.
Setelah itu pintu kamar Lie dan juga Jhon terbuka, mereka berdua berjalan mendekat dan juga sama terkejutnya seperti Masseria dan Lucky tadi saat melihat Justin.
“Kau..,” ucap Lie kaget, melihat Justin ada didepannya.
“Maafkan aku Bibi,” ucap Justin menundukkan kepalanya lagi, memohon maaf pada Lie.
“Kenapa kau ada disini? Kau mengikuti kami?” tanya Jhon menatap Justin.
“Maafkan aku,” ucap Justin dengan suara serak. “Aku tidak tau kalau ternyata ayahku sangat jahat seperti itu, karena dia menceritakan hal yang lain padaku, maafkan aku, sungguh aku tidak tau sama sekali!” Max menyentuh pundak Justin untuk menenangkan pria tersebut.
“Sebaiknya kita bicara di kamar saja!” Lucky menengahi percakapan tersebut, lalu membawa mereka masuk kedalam kamarnya.
“Jelaskan!” ucap Jhon dengan nada tegas.
“Dulu ayah selalu bilang padaku bahwa kalian adalah orang jahat yang membuat ibuku pergi dari rumah, ayah bilang kalian yang merusak kebahagiaan kami, hingga dendam itu mulai merasuki aku. Aku mencari tahu tentang kalian semua, juga adikku yang ikut-ikutan pergi dari rumah, dan ayah bilang itu semua juga gara-gara kalian!” Justin mengambil nafas panjang, lalu menatap orang-orang yang ada disana satu-persatu.
“Maafkan aku bibi Lie, aku sungguh tidak tahu kalau ternyata ayahku lah yang membunuh ayah Stef, dia tidak pernah mengatakan hal tersebut padaku, dia hanya bilang bahwa aku harus membalaskan dendam pada kalian.” Lie mendekat pada Justin. Lelaki tampan itu sudah siap sedia dengan apa yang terjadi padanya.
Tapi, hal yang tidak pernah diduganya sama sekali terjadi dilakukan oleh Lie. Wanita paruh baya tersebut memeluknya, menangis didada bidang Justin.
“Bibi! Kenapa Bibi menangis?” tanya Justin tak enak hati, tapi ia tetap membalas pelukan wanita paruh baya itu.
“Putraku!” ucap Lie yang membuat Justin, Max, dan Juga Stef sangat kaget, sedangkan Masseria, Lucky dan Jhon hanya melihat pertemuan antara ibu dan anak tersebut.
“Apa?” tanya Justin tak mengerti.
“Apa kau tidak memperhatikan wajah kau dan Stef yang memiliki kemiripan?” tanya Lie menatap Keduanya bergantian.
“Apa?” tanya Justin makin tak percaya.
“Apa maksud ibu?” tanya Stef mendekat pada Lie.
“Dengarkan aku!” ucap Lie menatap kedua anaknya itu.
“Justin, aku adalah ibu kandungmu! Kau putra pertamaku dengan Antonio.” Lie menatap Justin dalam, akhirnya setelah sekian lama permasalahan akan balas dendam ini bisa terungkap.
“Dulu kau dan Max bermain bersama karena kita tinggal di rumah tuan Lucky, karena ayahmu adalah seorang bodyguard.” Stef dan juga Justin makin tidak percaya dengan ini semua. Apa apaan ini? Jadi selama ini, rasa Justin pada Stef hanya sebatas Kakak pada adiknya?
“Saat itu, lelaki yang kau panggil ayah itu bersama anak-anak dan istrinya sedang bermain disekitar taman, tapi Naas. Salah satu anaknya yang seumuran denganmu meninggal bersama dengan istrinya, karena kecelakaan.” Lie menjelaskan dengan air mata berlinang, mungkin ini sudah saatnya kebenaran ini terungkap, begitu pikir Lie.
“Tapi.., bagaimana mungkin ini bisa terjadi?” tanya Justin tidak percaya menatap Lie dengan lekat.
“Stef, ibu pernah bilang padamu bahwa Henry Hill jatuh cinta pada ibu pada pandangan pertama bukan?” tanya Lie yang dibalas anggukan kepala oleh Stef.
“Iya ibu!” ucap Stef yang sudah menitikkan air matanya di pelukan Max.
“Nah, disaat itu! Henry Hill tidak terima istrinya meninggal ditempat, begitu juga dengan putranya, dia menganggap Ibu adalah istrinya dan jatuh cinta pada ibu,” ucap Lie terputus dan meneteskan air mata.
“Tapi, kenapa bisa dia jatuh cinta pada ibu?” tanya Stef.
“Karena saat itu ibu dan ayahmu yang menolong istri dan anaknya, karena kami tidak tahu kalau ternyata yang kecelakaan itu adalah istri dan anak dari Henry Hill, musuh tuan Lucky, majikan ayahmu!” Lie menatap Keduanya.
“Tapi.., tapi aku punya seorang adik!” ucap Justin saat mengingat Aira.
“Iya, Henry memiliki anak perempuan, yang sangat cantik, apa kau tidak pernah bertanya kenapa kalian tidak mirip?” tanya Lie pada Justin, yang dibalas gelengan kepala oleh lelaki tersebut, karena jika dilihat dari sisi manapun, memang mereka tidak mirip, Aira mempunyai wajah khas orang Indonesia.
“Karena kalian berbeda ibu, karena istri Henry adalah orang Indonesia, bernama Maira!”
.
.
.
.