My Devils Husband

My Devils Husband
Season 2. Karena yang menjadi milikku, tetap milikku!



Setelah pulang dari kampus, Thomas mengajak Mattea untuk pergi jalan-jalan ke mall. Mattea mengiyakan, dan dengan senang hati mengikuti Thomas, karena menurutnya ini seperti kencan yang dilakukan oleh pasangan yang pacaran lainnya.


Keduanya tiba di pusat perbelanjaan mewah yang masih menjadi ruang lingkup milik Alexander dan Luciano. Semua orang yang mengenal Thomas, mengangguk hormat pada laki-laki itu, tapi memandang sinis pada Mattea.


‘Apa sekarang tuan Thomas menyukai daun muda?’ salah satu wanita yang berjalan tidak jauh di belakang mereka berdua berbisik pada rekannya. Kedua orang yang di mabuk cinta itu sepertinya tidak terlalu mendengar apa yang dikatakan oleh wanita itu.


“Sepertinya begitu?!” ujar teman wanita itu menanggapi.


“Uncle, kita mau kemana?” sudah lama mereka berkeliling, tapi Thomas belum juga menyatakan apa yang dia cari di mall ini.


“Hemm, entahlah. Aku lupa, mau membeli apa?!” Mattea menatap Thomas dengan kesal. Dia sudah lelah berkeliling mall yang super besar ini, tapi laki-laki dewasa di sampingnya ini, masih belum menentukan apa yang dia inginkan.


“Unclee...?” tanya Mattea, dengan suara yang di tekan. Thomas mengusap tengkuknya yang tidak gatal.


“Iya sayang?” Thomas menjawab dengan sangat lembut membuat gadis itu mengalihkan pandangannya. Kalau saja mereka tidak ada di pusat keramaian, pasti saat ini Mattea sudah mencium bibir manis laki-laki yang ada di hadapannya ini.


“Kau tidak mau membeli pakaian atau yang lainnya?” Thomas bertanya pada Mattea, yang dijawab gelengan kepala oleh gadis itu.


“No! Kalau Uncle tidak mau membeli suatu apapun, ayo kita pulang?!” Mattea sudah jengah rasanya, apalagi dengan pandangan sinis perempuan yang ada di mall ini, memandang dirinya dengan tajam. Mungkin mereka menganggap kalau dirinya adalah ****** yang menggoda laki-laki dewasa seperti Thomas, untuk mendapatkan uang. Padahal, kalau di hitung, uang milik Daddy Mattea lebih banyak dari uang yang dimiliki Thomas.


“Setidaknya beli satu barang untuk dirimu Mattea.” ujar Thomas lagi.


“Aku tidak butuh Uncle, kamarku sudah penuh oleh barang-barang yang dibelikan oleh Daddy!” bukannya sombong, tapi memang begitulah sebenarnya, kalau Mattea tidak kekurangan barang sedikitpun. Walaupun gadis itu tidak berpenampilan glamor seperti gadis lainnya yang memiliki kekayaan sepertinya, tapi semua barang yang digunakan oleh gadis itu, adalah barang-barang berkualitas tinggi dengan harga terbaik.


“Hemm, baiklah, kalau begitu kau tunggu di sini sebentar!”


“Uncle mau kemana?” teriak Mattea saat Thomas pergi begitu saja meninggalkannya tanpa menunggu jawabannya terlebih dahulu.


“Ke toilet ...” teriak Thomas yang semakin menjauh dari sana.


Tanpa menunggu jawaban dari Mattea yang ingin ikut dengannya, laki-laki itu berlari meninggalkan gadis itu disana. Sedangkan Mattea, cemberut melihat Thomas yang sudah lari menjauh.


Gadis itu terus berjalan melihat-lihat toko yang ada disana, hingga dia berhenti di sebuah toko jam mewah yang ada disana. Mattea melihat kedalam etalase toko. Ada sepasang jam tangan yang menurutnya sangat cantik untuk barang cople.


“Bisa aku melihat jam yang itu?” tunjuk Mattea pada jam yang sudah mencuri hatinya itu. Pegawai toko mengangguk, dia mengeluarkan jam yang di tunjuk Mattea. Sembari Mattea melihat jam, pegawai toko itu menilai penampilan Mattea yang menurutnya sederhana tapi menggunakan barang branded.


Dengan menggunakan celana jeans, dengan harga yang wah, dan kemeja jeans dengan rambut di gerai, sungguh sederhana tapi sangat cantik.


“Berapa harganya?” tanya Mattea.


“Sepuluh ribu euro nona.” ujar pegawai toko itu sopan. Sedangkan temannya yang lain menatap Mattea dengan tatapan jijik. Berbeda dengan pegawai yang melayani Mattea, yang menatapnya dengan pandangan kagum.


Mattea mengangguk mendengar perkataan pegawai toko itu.


“Aku beli dua jam ini!” Mattea mengembalikan jam yang dia pegang, dan meletakkannya di atas kaca etalase. Pegawai toko mengangguk.


Lalu Mattea mengeluarkan dompetnya, dan mengambil salah satu kartu kredit limited edition disana. Kartu pemberian Daddy-nya. Setelah itu dia duduk di kursi yang disediakan untuk pelanggan toko jam tersebut, sembari menunggu jam yang dia pesan selesai di bungkus, dan menunggu sertifikatnya.


Sudah lama Mattea menunggu, tapi Thomas belum juga kembali. Jam yang tadi di pesannya sudah ada dalam tas kecil yang bertuliskan merek toko tersebut.


Karena sudah bosan menunggu, Mattea akhirnya memutuskan untuk menyusul Thomas ke toilet yang ada dilantai tempat tadi mereka berpisah. Tapi saat ada disana, dia yang sudah menunggu cukup lama, tapi Thomas tidak kunjung keluar, akhirnya memutuskan untuk bertanya.


“Hemm, permisi tuan, apa masih ada orang didalam?” tanya Mattea, pada laki-laki yang baru saja keluar dari toilet itu. Laki-laki itu menggeleng.


“Tidak nona, didalam kosong. Tidak ada siapapun?!” setelah mendengar yang di ucapkan laki-laki itu, Mattea mengucapkan terimakasih.


Laki-laki itu pergi dari sana meninggalkan Mattea yang bingung. Gadis itu memutuskan untuk pergi dari sana, mencari Thomas lagi.


Sudah lelah berkeliling, tapi orang yang di cari tidak juga ketemu, hingga Mattea memutuskan untuk naik lagi ke lantai yang paling atas mall tersebut.


Saat sudah menginjakkan kakinya disana, dan mencari kesana kemari, dia melihat Thomas sedang berbicara dengan seorang wanita dengan seorang anak laki-laki disana.


“Uncle...” Mattea menghampiri Thomas dengan senyuman, sebelum senyuman itu luntur karena melihat siapa yang berbicara dengan laki-laki itu.


“Hai baby..” sapa Thomas, sedangkan perempuan yang berbicara dengan laki-laki itu hanya menatap Mattea dengan tersenyum.


“Maaf, aku menganggu!” ujar Mattea. Dia merasakan dadanya bergemuruh, dan rasa takut menghampiri dirinya. Takut kalau Thomas akan pergi darinya, dah berpaling pada wanita yang ada di depannya ini.


“Siapa dia Thomas?” tanya perempuan itu dengan suara yang menurut Mattea sangat lembut, membuatnya ingin sekali memaki wanita ini.


“Mattea..” jawab Thomas singkat. Sedangkan Patricia tampak terkejut mendengarnya.


“Nona Mattea,” ujar Patricia tersenyum. Dia tersenyum manis pada gadis itu.


“Iya, dokter Patricia..” jawab Mattea terbata. Gadis cantik itu, menatap pada Thomas yang tampak biasa saja, dan tenang-tenang saja.


“Apa ini anak anda dokter?” tanya Mattea pada dokter Patricia, dan menatap pada anak laki-laki yang berdiri di samping wanita itu. Dokter Patricia mengangguk.


“Iya,” jawab Patricia. Dia menatap pada Thomas membuat Mattea meremas tangannya gusar.


“Anak manis.” jawab Mattea dengan senyum manisnya, sedangkan anak itu hanya diam saja, tanpa menjawab perkataan Mattea.


“Dimana suami dokter?” tanya Mattea. Dia melihat pada reaksi Thomas yang memalingkan wajahnya ke arah lain, membuat Mattea rasanya ingin sekali menangis.


“Kami sudah berpisah, nona Mattea.” mendengar jawaban Patricia membuat Mattea semakin gusar.


“Baiklah, kalian bicara saja! Aku permisi!” tanpa menunggu jawaban dari kedua orang itu, Mattea pergi dari sana dengan perasaan yang tidak dapat di jelaskan.


Sedangkan Thomas, saat dia hendak mengejar Mattea, tangan laki-laki itu ditahan oleh Patricia.


“Bisa lepaskan tanganmu?” tanya Thomas dingin. Patricia seakan sadar dengan apa yang dia lakukan, perempuan itu langsung melepaskan tangan Thomas yang dia pegang. Lalu menundukkan kepalanya.


“Ya, kita bisa bertemu kembali nanti!” Patricia mengangkat kepalanya, lalu menatap Thomas dengan berbinar senang.


“Benarkah?” tanyanya antusias.


“Ya, dengan kau sebagai tamu undangan dari pernikahanku!” mata yang tadinya memancarkan kebahagiaan, kini langsung sirna dan berganti dengan pancaran kekecewaan.


“Kau akan menikah?”


“Hemm!”


“Dengan siapa? Apa kau sudah melupakan kenangan kita?”


“Kenangan apa Patricia? Kenangan rasa sakit, karena kau menghianati aku, dan meninggalkan aku lalu menikah dengan laki-laki lain?”


“Thomas, aku minta maaf, aku tidak bermaksud seperti itu!” Patricia mencoba untuk meraih tangan Thomas, tapi di hempaskan oleh laki-laki itu.


“Sudah diamlah, aku tidak mau mendengar penjelasanmu! Aku permisi!”


“Thomas....”


Tanpa menghiraukan Patricia yang berteriak memanggilnya, Thomas berlari dari sana mengejar Mattea.


“Maafkan aku baby girl...”


Thomas menuruni eskalator yang ada disana dengan tergesa-gesa. Dia tau, pasti Mattea sudah berpikiran yang tidak-tidak padanya, menyangkut dengan pertemuan tak sengaja nya dengan Patricia tadi.


“Oh baby girl, dimana kau?” Thomas sudah tiba di lantai dasar, tapi dia tidak juga menemukan Mattea. Laki-laki itu pergi ke basemen mall tersebut, dan melihat apakah Mattea ada di mobil.


Gadis yang dicarinya itu, juga tidak ada disana.


Thomas mengeluarkan ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Mattea, tapi ponsel gadis itu tidak aktif.


“Oh baby girl, dimana kau?” Thomas semakin frustasi, dia sangat cemas dengan gadis itu. Thomas menyugar rambutnya kasar, lalu dia teringat dengan penjaga di mansion.


Thomas menghubungi penjaga mansion untuk menanyakan apakah Mattea sudah pulang, tapi penjaga mengatakan kalau Mattea belum kembali.


“Baiklah, kalau begitu, jika nanti Mattea sudah kembali, hubungi aku lagi?!” ujar Thomas dengan nada panik.


“Baik tuan.” jawab penjaga dengan sigap, dia tidak ingin banyak bertanya pada Thomas, karena mendengar nada panik dari laki-laki itu.


Thomas kembali mencoba untuk menghubungi Mattea, tapi ponsel gadis itu masih belum aktif. Thomas mencoba untuk kembali masuk kedalam mall, mencari Mattea lagi disana, dan berharap gadisnya itu masih ada di dalam mall.


Thomas jadi menyesal karena sudah mengajak Mattea untuk datang ke mall ini.


Harusnya dia sendiri saja yang datang ke mall ini, dan membeli barang itu, untuk menjadi kejutan bagi Mattea.


“Astaga baby girl, dimana kau?” kini Thomas semakin sadar dengan perasaannya. Rasa takut kehilangan membuatnya tak akan melepaskan Mattea, dia akan memperjuangkan gadis kecilnya itu.


Masih berputar-putar dalam mall, tapi Thomas masih tidak menemukan Mattea. Dia duduk di sebuah kursi tunggu yang ada disana.


“Uncle..” seseorang menepuk pundaknya membuat Thomas kaget. Dia membalikkan badan, dan terlihat Mattea sedang berdiri didepannya dengan senyum lebar yang menenangkan.


“Baby girl?” Thomas langsung membawa Mattea kedalam pelukannya. Menciumi wajah gadis cantik itu, membuat Mattea terkikik geli sekaligus malu, melihat banyaknya tatapan orang padanya.


“Uncle, kau kenapa?” tanya Mattea gemas.


“Aku sudah mencari mu kemana-mana baby girl, kemana saja kau? Kenapa meninggalkan aku begitu saja?” Mattea tersenyum senang melihat Thomas yang sangat mencemaskan dirinya.


“Aku hanya pergi ke bawah sebentar uncle, untuk menenangkan diri. Setelah itu aku kembali lagi ke tempat kita bertemu dengan dokter Patricia.” Thomas menatap Mattea dengan tatapan tidak percaya.


“Menenangkan diri untuk apa?” tanya Thomas bingung.


“Tentu saja untuk bertemu lagi dengan dokter mantanmu itu,” Thomas mengerling malas pada Mattea.


“Aku sudah tidak punya perasaan apapun padanya Mattea?!”


“Memang Uncle tidak, tapi dia iya!”


“Tapi aku tidak peduli!”


“Aku tau!”


“Jadi apa yang kau katakan padanya saat aku sudah turun tadi?” Thomas sangat penasaran dengan apa yang sudah dilakukan oleh gadis menggemaskan yang ada didepannya ini. Dia yang sudah seperti orang gila karena mencarinya, dan kini gadis yang dia cari berdiri di depannya dengan perasaan tidak bersalah sedikitpun.


“Ya tentu saja, aku menyuruh dia untuk menjauhi uncle, karena Uncle akan menikah denganku!” jawab Mattea dengan penuh percaya diri.


“Benarkah? Kau seberani itu?” tanya Thomas tidak percaya.


“Tentu saja! Aku tidak mau, orang yang sudah sangat lama aku perjuangkan, direbut begitu saja oleh orang yang sudah menyakitinya. Aku tidak akan sebodoh itu Uncle, karena yang sudah menjadi milikku tetap menjadi milikku. Dan orang lain tidak boleh memilikinya!”


___


Dukungannya sayangku 😍


Follow aku yah😂