My Devils Husband

My Devils Husband
Season 2. MatteNa



Thomas mengerjakan pekerjaannya lebih cepat dari biasanya. Karena dia tidak ingin sang istri menunggu lebih lama lagi.


Laki-laki tampan nan gagah itu, merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku karena cukup lama jarinya bermain di atas keyboard laptop. Dan juga, tangannya cukup kebas karena sering memegang pena untuk tanda tangan.


Thomas menatap pada jam tangan mahal yang melingkar dengan gagah di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang, dan itu artinya sudah empat jam dia berkutat dengan komputer dan kertas.


Dengan langkah tegap, Thomas berjalan menuju pintu kamar tidur yang ada di ruangannya itu, untuk melihat apa yang dilakukan oleh istrinya itu didalam kamar.


Thomas menggeleng menatap Mattea yang tertidur dengan posisi kacau. Perempuan itu tidur dengan telentang dan menyilang memenuhi sudut tempat tidur.


Thomas berjalan mendekat. Menatap bibir tipis yang berbalut lipstik lebih gelap itu.


Mattea tampak sangat pulas dalam tidurnya. Bahkan wanita itu tampak seperti orang yang tidak tidur selama beberapa malam membuat Thomas menggelengkan kepalanya.


“Sayang....” Thomas merapikan rambut Mattea yang berantakan. Dia membelai wajah cantik itu dan mencuri sebuah kecupan dari bibir wanita cantik itu.


“Eemmhh,” Mattea bergumam dalam tidurnya. Thomas nampak terkejut karena istrinya itu tidur pulas sekali. Bahkan wanita itu tidak sadar saat Thomas mengecup bibirnya berulang kali.


“Sayang ... Ayo bangun, kita makan siang....” Thomas mengusap lembut pipi Mattea. Wanita cantik itu tampak sedikit terganggu karena Thomas tak henti-hentinya mengusap pipinya.


“Kenapa?” tanya Mattea saat baru saja membuka mata. Suara serak khas baru bangun tidur terdengar jelas keluar dari bibirnya.


“Ayo bangun, kita makan siang. Kau pasti lapar, kan, sayang?” Mattea mendudukkan dirinya di bantu Thomas. Dia menatap pada jam tangan mahalnya.


“Ah, aku ketiduran. Maafkan aku sayang, tidak bisa menemanimu bekerja tadi.” Thomas menatap Mattea dengan heran. Wanita cantik itu tampak menundukkan kepalanya merasa bersalah. Padahal kan, biasanya memang dia tidak pernah membantu Thomas, dan juga Mattea jarang datang ke kantor suaminya itu.


“Tidak apa-apa Sayang. Aku tau kau pasti mengantuk? Ya sudah, kalau begitu ayo kita pergi makan siang sekarang?!” Thomas bangkit dari tempat tidur. Dia menatap Mattea yang masih terduduk.


“Sayang?” tanya Thomas dengan suara lembut.


“Sekali lagi, maafkan aku, ya, Sayang?” Thomas menghembuskan nafas gusar. Dia memberikan senyuman terbaiknya pada sang istri yang kini menampilkan wajah penuh rasa bersalah.


“Tidak usah di pikirkan. Ayo?!” Thomas mengulurkan tangannya pada Mattea. Disambut hangat oleh wanita itu.


Mattea berjalan keluar dari kamar yang tadi menjadi tempat ternyaman baginya untuk membaringkan tubuhnya dan tertidur disana, dengan menggandeng tangan Thomas Mattea berjalan dengan senyuman lebar yang sudah terpantri di wajah cantiknya.


Saat keluar dari ruangannya, Thomas melihat Nicko cepat berdiri dari kursi kerjanya, lalu menunduk pada kedua orang itu.


“Nick, aku pergi makan siang dulu.” Nicko mengangguk mendengar perkataan Thomas. Laki-laki yang menjadi kaki tangan Thomas itu menundukkan kepalanya hormat ketika kedua orang suami-istri itu berjalan melewatinya.


Thomas dan Mattea masuk kedalam Lift khusus. Baik Mattea ataupun Thomas, mereka tidak bersuara sedikitpun. Mereka asik berkeliaran dengan pikiran masing-masing.


Mattea melangkahkan kakinya keluar dari dalam lift. Tangannya masih memeluk lengan Thomas dengan Posesif seakan enggan melepaskan, dan juga dia seperti memperlihatkan kepada semua orang, kalau dia adalah pemilik raga dan juga hati bos tempat mereka bekerja itu. Semua karyawan yang bekerja di perusahaan Achilles grup itu menunduk ketika kedua orang berkuasa itu lewat di depan mereka.


Mattea memicing menatap Thomas membuat laki-laki menatap penuh tanya. Dia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kantor. Semua karyawan wanita masih belum berganti pakaian. Karena Thomas memang menyuruh mereka untuk berganti nanti setelah jam makan siang.


Baiklah, sepertinya sang ibu negara akan marah lagi karena karyawannya masih memakai pakaian yang lumayan terbuka itu. Tapi bukankah Mattea tau? Jika tidak akan semudah itu untuk langsung menyuruh mereka berganti pakaian? Dan lagipula ini belum selesai jam makan siang.


“Maaf sayang, mereka akan ganti pakaian setelah jam makan siang. Nicko sudah membereskan semuanya.” Thomas memberikan senyuman terbaiknya pada sang istri, membuat Mattea mengangguk mendengar perkataan suaminya itu.


Semua karyawan wanita menatap berbinar senyuman Thomas. Sangat jarang laki-laki itu tersenyum seperti itu, membuat mereka dapat melihat seberapa besar cinta Thomas untuk istrinya.


Tadi Thomas sudah menghubungi resepsionis kantor untuk menyuruh satpam mengeluarkan mobilnya dari parkiran di basemen.


Kini Maserati hitam mengkilap itu sudah berdiri gagah di depan loby. Satpam yang tadi mengambil mobil Thomas juga sudah membukakan pintu untuk kedua orang itu.


“Terimakasih.” untuk sesaat laki-laki berpakaian seragam satpam itu tertegun, lalu dia menganggukkan kepalanya pada Mattea yang tadi mengucapkan terimakasih.


Thomas dan Mattea keluar dari area kantor. Thomas menjalan mobilnya menuju sebuah restoran seafood yang cukup terkenal disana.


Karena tadi sang ibu negara meminta mereka untuk pergi ke restoran seafood. Thomas hanya mengangguk saja mengiyakan permintaan Mattea, dia tidak membantah sedikitpun. Lebih baik iyakan, daripada nanti wanita itu menangis lagi? Karena sepertinya mood wanita cantik yang menjadi istrinya itu, akhir-akhir ini sepertinya tidak bagus.


Thomas memesan sebuah ruangan VVIP untuk dia dan Mattea supaya makan dengan tenang, tapi wanita itu menolak. Dia lebih memilih untuk duduk di bangku pojok dekat dengan jendela, dengan alasan supaya dia bisa melihat pemandangan di luar.


Seorang pelayan menghantarkan buku menu pada kedua orang itu. Mattea mengambil buku yang berisi daftar makanan yang tersedia disana dan membacanya.


“Aku mau kepiting, cumi bakar, dan tiram.” Mattea menatap pada pelayan yang mencatat pesanannya. “Ah tambah, satu lagi, aku ingin tumis udang!” sambung Mattea menatap buku menu yang ada di tangannya dengan berbinar.


“Apa itu tidak terlalu banyak, Sayang?” Thomas menatap Mattea heran. Karena semua makanan yang dipesan oleh istrinya itu adalah makanan berlemak. Dia tidak mau nantinya wanita itu akan merengek padanya dan mengeluhkan soal berat badannya yang naik.


“Tentu saja!” ujar Mattea dengan sangat yakin.


“Benarkah?” tanya Thomas seakan tidak percaya dengan kata-kata wanita itu.


“Minumannya Tuan, Nona?!” pelayan yang sedari tadi menyaksikan percakapan kedua laki-laki dan wanita itu akhirnya bersuara.


“Jus melon!” selalu itu. Apapun makanannya, jika Mattea makan di luar, maka minumannya adalah jus melon. Buah manis dan juga harum itu membuatnya benar-benar ketagihan.


“Sayang? Mau memesan apa?” Mattea bertanya pada Thomas. Lalu laki-laki itu melihat pada menu yang ada didalamnya.


“Kepiting saos saja.” pelayan itu menganggukkan kepalanya. Setelah dia mengulang kembali membacakan apa yang di pesan oleh kedua orang itu, dia beranjak dari sana untuk memberikan catatan itu pada koki yang bekerja di dapur.


“Sayang, apa tidak apa-apa kau memakan banyak makanan berlemak?” Thomas bertanya sekali lagi pada Mattea, sedangkan wanita itu menganggukkan kepalanya cepat.


“Baiklah, awas saja kalau tidak habis nanti!”


Setelah cukup lama menunggu, makanan pesanan mereka akhirnya datang, dan makanan yang mengunggah selera itu dihidangkan di meja yang cukup lebar yang kini mereka tempati. Mattea menatap makanan yang ada di depannya dengan mata yang berbinar membuat Thomas menggelengkan kepalanya.


“Genieße das Essen.” dua orang pelayan yang mengantarkan pesanan kedua orang itu menganggukkan kepalanya hormat.


“Dankeschön.” balas Mattea dengan tersenyum.


Wanita itu dengan tidak sabar memakan kepiting yang berukuran cukup besar itu dengan sangat lahap. Dia memecahkan cangkang kepiting itu dengan sebuah sendok dengan memukulnya cukup kuat membuat Thomas tertawa, lalu Mattea memakan daging kepiting yang terasa manis itu dengan sangat lahap.


Bahkan saos kepiting lezat itu membuat area sekitar bibirnya kotor. Thomas menggelengkan kepalanya, lalu mengusap bibir Mattea dengan tisu. Laki-laki itu ikut memakan kepiting miliknya dengan cukup lambat. Sedangkan Mattea sudah hampir selesai, dan kini wanita itu tampak ingin memakan cumi bakar yang tampak sangat menggoda di matanya.


“Nanti jangan merengek padaku, kalau berat badanmu naik Sayang!”


“Tidak akan!”


.


.


***


.


.


Matteo berjalan keluar dari dalam kelasnya bersama dengan Arion dan Erick. Ketiga laki-laki itu berjalan menuju kantin. Kelas mereka pagi ini telah usai.


Matteo duduk di sebuah meja kosong disana diikuti oleh Arion dan Erick.


“Matt, boleh ikut bergabung?” Stella yang juga baru sampai di kantin menghampiri ketiga laki-laki itu. Dia sudah mencari meja kosong, tapi nihil. Tidak ada, karena saat ini sudah istirahat makan siang, dan semua mahasiswa saat ini pasti sedang mengisi perut mereka di kantin.


“Ya ... Duduklah! Kau sendiri?” Matteo menatap Stella yang hanya berdiri sendiri. Gadis itu duduk berhadapan dengan Erick.


“Benarkah? Bukannya tadi dia berangkat dengan Uncle Thomas dari rumah?” Stella hanya menggedikkan bahunya. Dia tidak mengatakan pada Matteo kalau saudari kembar laki-laki itu memaksa Thomas untuk mengijinkannya untuk membolos. Dan tentu saja Stella sudah tau hal ini.


“Baiklah, kalian mau pesan apa?” ketiga orang itu mengatakan apa yang mereka inginkan pada Arion. Setelah mendengar semua yang mereka inginkan, Arion pergi untuk memesankan makanan untuk mereka semua.


Saat kembali ke meja tempat mereka duduk, Matteo menatap Ana yang berjalan bersama dengan Arion membawa nampan berisi makanan untuk membantu pria itu. Gadis cantik bar-bar itu tersenyum manis pada Arion yang membuat laki-laki memalingkan wajahnya.


“Boleh aku bergabung?” tanya Ana dengan senyuman manisnya. Erick dan Stella mengangguk, sedangkan Matteo hanya diam saja mengabaikan gadis itu.


Mengabaikan Matteo yang diam, Ana memilih untuk duduk di samping Arion, membuat laki-laki itu mengusap tengkuknya tidak enak menatap Matteo.


“Kenapa tidak duduk di dekat Matteo saja An?” Ana hanya tersenyum pada laki-laki itu, dan memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Arion.


Arion, Erick, dan Stella tentu saja heran melihat tingkah Ana yang menurut mereka, sedikit berubah dan juga sedikit— dingin.


“Selamat makan?!” Ana tersenyum riang, lalu mulai memasukkan bola-bola bakso besar yang masih panas itu kedalam mulutnya sebelum dia meniupnya terlebih dahulu agar bakso panas itu tidak terlalu membakar mulutnya. Dia bersikap biasa saja pada Matteo membuat suasana sedikit canggung, karena biasanya gadis itulah yang membuat ulah dan dia selalu bisa menghangatkan suasana.


Ana memakan makanannya dengan lahap, diikuti yang lainnya. Begitu juga dengan Matt. Laki-laki itu memilih untuk mengabaikan perubahan sikap Ana, yang berbanding terbalik dengan hari kemarin. Dalam hening, laki-laki itu diam-diam melirik Ana yang tampak sangat jelas dari tadi mengabaikannya.


Ana benar-benar menghabiskan makanannya dengan cepat, lalu menoleh pada Arion dan yang lainnya.


“Terimakasih ya, sudah mengizinkan Ana bergabung makan disini. Ana pergi dulu, biar Ana yang bayar makanan kakak-kakak semua!” Ana bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju kasir. Sebelum berjalan, dia melayangkan senyumannya pada Arion, Erick, dan juga Stella.


“Tidak usah! Aku bisa membayar makananku sendiri!” Matteo mencegah Ana yang akan membayar makanannya. Tangan gadis cantik itu tertinggal di udara saat akan mengeluarkan uangnya.


“Tidak apa-apa kak. Biar Ana yang bayar.” walau Ana mengatakannya dengan sopan, tapi terdengar dari nada bicara gadis itu, dia berucap dingin membuat Matteo heran.


“Aku bisa sendiri!"


“Biar Ana, lagipula aku yang sudah menumpang duduk bersama kalian. Biar Ana yang bayar semuanya!” Ana masih kekeh pada pendiriannya.


Matteo menatap gadis yang ada di depannya ini dengan wajah tanpa ekspresi. Memikirkan, apa yang sudah dia lakukan hingga membuat sikap gadis cantik itu berubah begitu drastis padanya.


“Apa aku berbuat kesalahan?” tanya Matteo akhirnya. Dia tidak dapat menyembunyikan rasa penasarannya karena perubahan drastis yang ditunjukkan oleh Ana padanya.


Sedangkan Arion, Erick, dan Stella menatap kedua orang itu dari tempat duduk yang mereka tempati tadi.


“Menurutmu, kenapa Ana berubah? Bukankah kemarin dia masih bersikap hangat pada Matt?” Erick berbisik pada kedua orang yang ada di depannya itu.


“Entahlah, tapi aku rasa mungkin saja Ana mulai sedikit lelah untuk mengejar laki-laki batu itu. Atau mungkin, Matteo melakukan kesalahan yang membuat gadis itu marah?!” Arion memberikan pendapatnya, sedangkan Erick diam memikirkan apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu, lalu membenarkannya.


“Kesalahan apa?” tanya Erick setelah cukup lama terdiam.


“Ya mana aku tau! Dasar kau ini!”


“Tapi sikap Ana benar-benar berubah. Dia menatap Matteo dingin, apa mungkin dia kesal ya, sama Matt?” Stella ikut menimpali perbincangan kedua laki-laki itu.


“Hemm, itu juga yang aku pikirkan tadi.” Erick yang menjawab.


“Tapi menurutku, saat ini Ana sedang berusaha untuk menjauhi Matteo.” Erick dan Stella mengangguk mendengar perkataan Arion.


Dilihat dari tatapannya, kini Ana menatap Matteo dingin. Mereka juga tidak tau, apa yang sudah membuat Ana seperti itu.


“Jawab Ana, apa aku berbuat kesalahan?” Matteo menatap Ana dengan tajam. Manik gelap itu mencari pancaran mata penuh cinta yang selalu dia lihat di kedua mata gadis itu selama ini. Tapi, kini pancaran cinta itu sudah hilang, berganti dengan tatapan dingin yang tentunya membuat Matteo heran.


“Berbuat kesalahan apa kak? Kakak tidak salah sedikitpun!” Ana mengucapkan dengan tenang. Sebuah senyuman tersungging di bibirnya seperti mengatakan kalau dia tidak berbohong.


“Lalu kenapa kau bersikap dingin padaku?” Matteo masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh gadis itu. Bukan apa-apa, tapi dia melihat Ana benar-benar berubah padanya.


“Bersikap dingin? Tidak kak Matt, sikapku selalu seperti ini!” Ana masih membantah, dia tertawa canggung tapi masih tetap tidak bisa mengubah tatapan Matteo yang tajam padanya.


“Tidak Ana. Biasanya kau tidak menatapku seperti ini!”


“Ya sudah, kalau begitu kak Matt lupakan saja tatapan mataku dulu. Dan kak Matt harus terbiasa untuk melihat tatapanku yang seperti ini.” Ana mengatakan dengan sangat tenang. Dia menatap kedua manik gelap itu, seakan mengatakan kalau dia baik-baik saja, dan tidak berubah sedikitpun.


“Kenapa Ana?”


Ana hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Matt.


“Sudah, biar Ana yang bayar.” Ana menyerahkan pecahan uang 100 euro pada penjaga kantin. Setelah itu, dia memberikan senyuman terbaiknya pada Matteo sekilas.


Tanpa menunggu uang kembaliannya, Ana berjalan begitu saja meninggalkan Matteo yang masih terdiam disana.


Ana berjalan meninggalkan Matteo yang masih menatap langkahnya dengan tatapan tidak terbaca.


Gadis itu menahan debaran jantungnya, dan mengalihkan pandangan matanya ke arah lain, menyembunyikan matanya yang memerah.


‘Maaf kak Matt. Dulu aku memang selalu bertingkah konyol untuk mengejarmu dan juga sangat mencintaimu, tapi dengan melihat kejadian kemarin, aku tau. Kau memang tidak akan pernah untuk memandang sedikitpun padaku! Rasaku tidak akan pernah berubah kak, cinta ini tetap untukmu. Yang berubah hanyalah ragaku yang tidak akan lagi menatapmu dengan tatapan yang sama, tapi satu yang aku dapat aku pastikan, aku tidak akan pernah berhenti untuk mencintaimu!’


Dan disinilah, awal kisah MatteNa dimulai!


****


Mattea menatap sisa makanan yang ada didepannya dengan tersenyum puas. Perutnya terasa sangat kenyang. Begitu banyak makanan yang masuk kedalam perutnya.


“Aku tidak percaya, kalau kau menghabiskan semua makanan ini sayang?!” Thomas menggelengkan kepalanya menatap pada piring kosong yang ada di depannya. Hanya ada kulit tiram, dan juga kulit kepiting disana sebagai bukti kalau wanita yang ada didepannya ini benar-benar menghabiskan semua makanannya.


“Apa sebanyak itu aku makan?” tanya Mattea akhirnya. Sedangkan Thomas hanya menganggukkan kepalanya.


“Permisi, apa aku bisa ikut duduk disini, tidak ada meja kosong disini?” Mattea dan juga Thomas menatap pada orang yang baru saja menghampiri mereka berdua.


Patricia berdiri disana dengan senyum canggung.


“Silahkan Dokter!” Mattea mempersilahkan dengan senyum ramah. Dengan kaku Patricia duduk di kursi tengah-tengah, antara Thomas dan Mattea. Karena meja itu berbentuk persegi, Thomas dan Mattea duduk berhadapan dan Patricia di tengahnya.


“Maaf aku terpaksa duduk disini, karena sudah penuh. Disini ramai sekali!” masih dengan senyum kaku Patricia memberikan alasan.


“Tidak apa-apa dokter, ini memang sudah waktu jam makan siang, makanya restoran ini ramai. Makanan disini sangat enak.” Mattea berucap dengan berbinar, membuat Thomas terkekeh.


“Lihatlah, dia menghabiskan semua ini sendiri!” Thomas menggelengkan kepalanya menatap sang istri yang kini sedang cemberut padanya. Sedangkan Dokter Patricia hanya tersenyum dan terkekeh geli menatap kedua orang yang ada didepannya itu.


“Wah benarkah? Apa nona muda sekarang sedang mengidam?”


“Eh?”


“Hah?”


.


.


****


Hayoloh, gimana tuh?


Gatau, aku masih bayi, masih polos😗