
Semburat cahaya mulai terbit di ufuk timur. Hangatnya cahaya mentari tidak mengusik tidur lelap kedua orang yang sedang bergelung di balik selimut tebal. Dinginnya AC membuat tidur mereka menjadi lebih nyenyak.
Peraduan kulit yang sama-sama polos itu memberikan kenyamanan satu sama lainnya. Kulit tipis milik Ana tersingkap karena pergerakan tangannya, hingga rasa hangat c
dari sinar mentari yang mencuri celah di balik gorden besar menembus kulit Ana yang mulus.
Pergerakan Ana yang mencari kenyamanan di dalam pelukan Matteo, membuat laki-laki itu terbangun. Ana mengeratkan pelukannya pada dada bidang Matteo, membuat laki-laki itu menggeram kecil.
Manik mata gelap itu perlahan terbuka. Pemandangan yang dia lihat untuk pertama kalinya saat membuka mata adalah wajah cantik milik Ana, sang istri.
Alis simetris dengan hidung mungil nan mancung, serta bibir tipis yang merekah merah dan sedikit bengkak membuat Matteo tersenyum. Istrinya tampak sangat cantik, saat kedua matanya terpejam.
Cup ....
Ciuman singkat di kening dengan penuh cinta, di dapatkan Ana dari Matt. Cukup lama bibir Matt melekat di kening sang istri, setelah itu baru terlepas. Ana yang tampaknya tidak terganggu sedikitpun itu, membuat Matt tertawa kecil.
Matt bangkit, dia turun dari atas ranjang, lalu mengenakan celana boxernya, setelah itu Matt meraih ponselnya yang terletak di atas nakas di samping tempat tidur.
“Hallo ... Bawakan pakaian untukku dan juga istriku, sekarang!” setelah mengatakan kalimat perintah itu, Matt mematikan sambungan teleponnya. Dia berjalan menuju kamar mandi dengan senyum lebar yang tidak pernah surut dari bibir tipisnya. Sebelum itu, dia mengambil handuk terlebih dahulu.
Cukup lama Matt di dalam kamar mandi untuk berendam, hingga akhirnya dia memutuskan untuk keluar, dengan handuk yang menutupi area pribadinya, yang semalam sudah mendapatkan jatah.
Cukup lama Matt berkaca di depan meja rias, hingga ketukan pintu terdengar oleh telinganya. Matt berjalan dengan santai untuk membuka pintu, di sana ada Arthur yang berdiri dengan tegap.
“Ini, Tuan!” Arthur menyerahkan sebuah paper bag pada Matt, yang di sambut baik oleh laki-laki yang baru menikah tersebut.
“Bagaimana keadaan tunanganmu?” tanya Matt saat mengingat kelakuan menggelikan dari kedua anak buahnya kemarin.
“Ya, dia sudah menerima saya, tapi masih suka marah-marah!” ujar Arthur dengan sedikit mengusap tengkuknya. Matt hanya tergelak. “Ya sudah, kembalilah! Terimakasih!” Arthur mengangguk. Dia berlalu dari hadapan Matt.
Matt mengenakan pakaiannya, kemeja lengan panjang dengan celana jeans, sungguh cocok untuk dirinya.
Melihat Ana yang masih terlelap dengan damai membuat Matt mendekat pada istrinya itu.
“Ana ... Sayang, bangun! Ini sudah menjelang siang!” Matt menggoyang tubuh Ana pelan, hanya sedikit pergerakan yang di tunjukkan oleh wanita itu.
“Apa aku terlalu membuatmu lelah semalam?’ tanya Matt terkekeh pada dirinya sendiri. Dia kembali mencoba untuk membangunkan Ana hingga dengan perlahan, wanita itu membuka mata.
“Morning my wife ....” sebuah kecupan singkat mendarat di bibir Ana membuat kedua matanya terbuka dengan lebar, kaget dengan serangan mendadak tersebut.
“Morning kak Matt!” ujar Ana. Dia mengeratkan selimutnya, lalu mencoba untuk duduk dengan sedikit meringis.
“Kak Matt sudah mandi? Kenapa tidak membangunkan aku lebih dulu?” Ana bersungut-sungut kesal pada Matt, membuat laki-laki itu tertawa kecil.
“Aku tidak tega membangunkanmu, Sayang. Kau tampak sangat lelap, dan juga lelah karena melayani aku semalam!” pipi putih itu merona merah. Ucapan Matt barusan membuat ingatan Ana melayang pada kejadian semalam, sungguh memalukan.
“Ana mau mandi!” Ana mencoba untuk bangkit, dia membalutkan selimut pada tubuhnya, lalu berjalan dengan pelan. Matt yang melihat Ana sering meringis itu menjadi tidak tega. Tanpa aba-aba, dia menggendong Ana ala bridal style menuju kamar mandi, lalu meletakkannya saat sudah berada di tepi bathub.
Ana yang di perlakukan seperti itu hanya tersenyum senang.
“Masuklah, aku akan membawa selimutnya kembali!” Matt memunggungi Ana saat gadis itu masuk kedalam bathtub. Tubuh Ana yang terkena air hangat yang sudah di siapkan oleh Matt itu langsung segar. Matt berbalik, setelah itu dia mengambil selimut yang tadi di bawa Ana lalu meletakkannya di keranjang kotor.
Matt keluar dari dalam kamar mandi, dia berjalan menuju ranjang, untuk membereskan sprei yang tampak berantakan itu.
Bercak noda darah terlihat di sana, Matt tersenyum melihat itu. Dia membuka sprei itu, lalu meletakkannya di atas lantai. Matt berjalan menuju walking closed, lalu mengambil sprei dan juga selimut yang lain.
Dengan telaten, Matt memasang sprei itu dengan rapi, setelahnya dia membawa gulungan sprei kotor itu masuk kedalam kamar mandi, hingga membuat Ana kaget. Hanya sebentar, lalu Matt keluar lagi.
Dan saat di luar, Matt teringat kalau Ana tidak membawa handuk, dia lalu mengambil handuk dan membawanya masuk kedalam kamar mandi.
“Sudah selesai, Sayang?” Ana menoleh pada Matt, lalu mengangguk.
“Keluarlah, bilas dirimu dulu!” Ana keluar dari dalam bathtub saat Matt berbalik memunggunginya. Dengan langkah kecil, Ana berjalan menunduk shower lalu membilas tubuhnya dengan air shower tersebut.
Saat terdengar air shower sudah dimatikan, Matt berbalik menatap tubuh Ana yang polos. Terlihat banyak sekali tanda merah keunguan di seluruh tubuh Ana karena ulahnya.
“Pakailah!” Matt menyerahkan handuk pada Ana dan di terima oleh wanita yang sudah tidak perawan itu dengan senyum malu-malu. Ana membalutkan handuk tersebut pada tubuhnya, lalu Matt mengangkat Ana dan berjalan keluar dari dalam kamar mandi.
“Hari ini aku yang akan melayanimu, Sayang. Karena kau sudah melayani aku semalam!” Ana menyembunyikan wajahnya di dalam dada bidang Matt, karena dia yakin, wajahnya pasti sudah memerah karena mendengar kata-kata dari suaminya itu.
Setelah itu dia mengambil pakaian Ana yang sudah dibelikan oleh Arthur tadi di dalam paper bag.
“Ana bisa sendiri, Kak. Kakak berbalik aja!” Matt menuruti perkataan Ana. Dia berbalik saat paper bag itu sudah berada di tangan Ana.
Ana memakai pakaiannya dengan cepat, meskipun gerakannya masih membuatnya meringis. Gaun dengan lengan pendek dengan panjang di atas lutut itu dikenakan oleh Ana.
Semua pergerakan Ana tadi sebenarnya terlihat dari cermin meja rias oleh Matt, dan Ana tidak menyadari hal itu. Sedangkan Matt mati-matian untuk menahan dirinya supaya tidak berbalik dan menerkam istrinya itu saat ini juga, karena dia masih punya hati untuk tidak menyentuh istrinya pagi ini.
Matt berbalik saat Ana kini sedang mengeringkan rambutnya. Dia hendak berdiri tapi di tahan oleh Matt yang langsung menggendongnya menuju meja rias.
Ana di dudukkan oleh Matt dengan hati-hati.
“Kak Matt, jangan seperti ini. Ana tidak lumpuh, Ana masih bisa berjalan!” ujar Aja dengan bibir yang mengerucut lucu. Matt hanya terkekeh kecil, tanpa menghiraukan perkataan Ana.
...*****...
Kini Ana dan Matt sedang memakan sarapan yang sudah disiapkan oleh pelayan. Mereka duduk di meja makan yang ada di sudut dekat jendela kaca besar.
“Kak, kapan kita pulang?” saat mereka sudah selesai makan, Ana bertanya. Mereka berdua kini sedang duduk di atas tempat tidur dengan memakan camilan. Ana terus saja merasa lapar, entah karena apa.
“Nanti, Sayang!”
“Nanti kapan?”
“Setelah kita bersenang-senang disini!”
“Ana mau pulang, Kak!” rengek Ana. Dia tidak betah berada di dalam kamar besar ini, hanya makan, dan menonton televisi saja.
“Bagaimana kalau kita jalan-jalan?” tanya Matt. Ana langsung menegakkan badannya, lalu menatap Matt dengan antusias.
“Mau, ayo kak!” Matt hanya menghela napas. Lalu dia ikut beranjak mengikuti langkah Ana yang terseok-seok.
“Kau yakin akan pergi? Dengan langkah yang seperti itu?” Matt cukup menyesal karena menawarkan Ana jalan-jalan tadi.
“Tidak, nanti kak Matt tinggal gendong Ana saja!”
...***...
Dengan senyuman yang mengembang, Ana berjalan dengan menggenggam tangan Matt erat. Dia dan Matt pergi ke taman bunga, banyak bunga-bunga indah disana. Ana menyerahkan ponselnya pada Matt, lalu meminta suaminya itu untuk memotretnya.
Dengan berbagai pose yang menurutnya cantik, Ana tersenyum bahagia.
“Sayang, kita pulang saja, ya?” tanya Matt saat sudah lelah menuruti istrinya yang tampak sangat bahagia itu.
“Tapi pulang ke rumah, ya? Aku merindukan Aletta!” Matt mengangguk. Ana terus menggenggam tangan sang suami, dan berlalu dengan senyuman.
Ana masuk kedalam mobil. Dia duduk di samping Matt yang mengemudi. Matt hanya tersenyum tipis melihat senyuman istrinya itu.
Jalanan kota Frankfurt yang tidak pernah lengang, menemani perjalanan mereka berdua.
Cukup lama mereka berada di jalan, hingga akhirnya mobil Matt memasuki area komplek mansion Max, hingga akhirnya pagar besi tinggi itu ada di hadapan mobil Matt.
Matt menekan klakson beberapa kali hingga gerbang tinggi besar otomatis itu terbuka, Matt melajukan mobilnya kembali, lalu berhenti di depan pintu utama mansion.
Ana dengan langkah pelan keluar dari dalam mobil Matt, laki-laki itu menggenggam tangan Ana lalu masuk kedalam mansion saat kedatangan sudah di tunggu oleh Martin.
Semua orang sedang berada di mansion, mereka sepertinya memang sengaja menunggu kedatangan kedua pengantin baru itu.
Raut kebahagiaan tidak surut dari wajah semua orang. Baik Max, Stef, David, Aira, Thomas, Mattea dan tentunya Matt dan Ana.
Semua orang berbahagia. Tentu saja, bahkan Justin, Aira, Jenita juga ada di sana. Tidak ada akhir yang buruk bagi orang yang mau meraih kebahagiaan. Cinta itu selalu ada. Di setiap hati manusia.
...****...
Kisah Ana dan Matt cukup sampai disini. Karena puncak dari semuanya sudah selesai, mungkin ada beberapa extra part, tapi ntah lah, aku ga tau 🦋 Terimakasih untuk semuanya 😗
Stella ma Arthur ntah gimana🐱