
Saat Arthur sedang mondar-mandir di depan pintu ruang operasi, polisi yang ada di sana berdiri. Mereka berjalan mendekat pada Arthur.
“Tuan, apa sudah menghubungi anggota keluarga yang lain?” Arthur terhenti, dia menghembuskan napas kasar. Bagaimana dia lupa hal ini? Dia harus menghubungi ayah Stella secepatnya.
“Aku lupa, aku akan menghubungi ayah mertuaku dulu!” Arthur mengeluarkan ponsel yang ada di saku celananya. Dan langsung menghubungi ayah Stella.
Pria tua itu sangat terkejut saat mendengar anaknya terjatuh dan mengalami pendarahan. Laki-laki itu mengatakan kalau dia akan segera secepatnya ke rumah sakit.
Arthur menghembuskan napas kasar, dia kemudian juga memberitahu keluarga Alexander, kalau istrinya mengalami suatu insiden dan sedang berada di rumah sakit, dalam ruang operasi.
Arthur kembali duduk di atas kursi tunggu, dua polisi itu masih di sana. Arthur menoleh pada mereka.
“Aku ingin melaporkan cleaning servis yang bekerja di tempat itu, aku ingin dia di tangkap!” dua polisi itu sigap berdiri. Mereka menanyakan hal itu lebih lanjut pada Arthur, laki-laki itu menjawab semua sesuai dengan apa yang ia lihat, dua polisi itu segera berlalu dari sana, laporan secara lisan itu akan segera mereka tindak lanjuti.
Merasa cemas, terus cemas hingga akhirnya Arthur kembali berdiri dan berjalan mondar-mandir di depan pintu ruang operasi. Laki-laki itu tidak dapat memikirkan apapun saat ini, yang ada di kepalanya hanyalah dia berdoa supaya istrinya tidak apa-apa.
Cukup lama setelah itu, ayah Stella tiba di rumah sakit. Pria tua itu berlari mendekat pada Arthur yang sedang berjalan mondar-mandir di sana.
“Bagaimana keadaan anakku, bagaimana dengan cucuku? Bagaimana ini bisa terjadi?” Arthur memegang pundak ayah mertuanya, untuk menenangkan laki-laki itu. Tatapannya penuh dengan rasa bersalah, dan juga khawatir yang sangat besar.
“Stella mengajakku pergi ke tempat senam ibu hamil, setelah senam itu selesai aku menyuruhnya untuk menunggu di ruang tunggu, karena aku ingin pergi ke toilet, tapi saat aku di dalam toilet, dia memanggilku dan aku mendengar teriakannya. Ternyata dia terpeleset karena lantainya masih basah setelah selesai di pel!”
Ayah Stella mendengar itu berusaha untuk menenangkan dirinya. Mata tua itu terlihat berair, Arthur tidak bisa berpura-pura untuk kuat saat ini, karena dia pun tidak kuat menghadapi hal ini.
Kedua lelaki itu menunggu di depan ruang operasi yang masih berlangsung, bahkan sudah mau dua jam, tapi operasi itu belum juga selesai, membuat Arthur menjadi semakin cemas.
Keluarga besar Alexander tiba di rumah sakit. Mereka langsung menuju ruang operasi, seperti yang dikatakan oleh Arthur saat di telepon tadi. Bahkan, Zello yang sedang menggendong Aletta pun, hadir di sana.
“Arthur, bagaimana kondisi Stella?” tanya Stef, penuh dengan raut wajah khawatir. Arthur hanya menggeleng. “Aku belum tau, Nyonya.” jawabnya.
Semua orang yang ada di sana, menunggu dengan harap cemas. Lampu tanda operasi sedang berlangsung, masih menyala.
Arthur benar-benar tidak bisa menahan rasa khawatirnya, laki-laki itu terus berjalan mondar-mandir di depan pintu ruang operasi.
Matt memegang pundak Arthur, mencoba untuk menenangkan pria tersebut. Laki-laki itu melirik Matt sekilas, matanya memerah menahan air yang keluar dari sana.
“Kalau kau ingin menangis, menangis lah, tidak ada orang yang akan menertawakan!” manik hitam itu menyorot Arthur, laki-laki itu masih berusaha untuk menahan tangisnya. Tapi, akhirnya pertahanannya runtuh juga.
Arthur bersandar di dinding, tangan kanannya mengusap air mata yang dengan berani lolos dari matanya. Laki-laki itu benar-benar tidak bisa mengendalikan diri.
“Kenapa operasinya lama sekali?!” bentak Arthur tidak sabaran. Laki-laki itu sudah sangat khawatir dengan kondisi istrinya, bahkan dokter pun, tidak kunjung keluar.
Pintu ruang operasi yang tertutup selama hampir tiga jam itu, akhirnya terbuka. Dokter keluar dari sana dengan wajah lelah, dan juga rasa bersalah.
“Dokter, bagaimana keadaan anak dan istriku?” tanya Arthur langsung. Dokter itu menghela napas berat. Dia memegang pundak Arthur dengan penuh simpati.
“Anak Anda selamat. Dia berjenis kelamin perempuan. Tapi karena dia lahir prematur, maka saat ini dia sedang berada di dalam inkubator.” dokter itu menatap Arthur yang sedang menghela napas lega. Tenggorokannya terasa tercekat saat akan mengatakan kalimat selanjutnya.
“Lalu, bagaimana dengan keadaan istriku?” tanya laki-laki muda itu. Dokter laki-laki yang sudah cukup umur itu, lagi-lagi menghela napas berat.
“Maaf, karena istri Anda mengalami benturan yang cukup kuat, dia mengalami pendarahan berat. Dia banyak kehilangan darah, hingga kami tidak bisa menyelamatkannya!” dokter itu menjelaskan dengan satu tarikan napas.
Duarr....
Arthur terhuyung mundur ke belakang, tangannya yang semula berada di pundak dokter itu terhempas. Matanya menatap nanar ke arah dalam ruang operasi itu.
Jadi ... apa ini? Apa maksudnya?
Mata yang semula menatap penuh khawatir itu, berlinang air mata, mulutnya kelu untuk bicara.
“Kau jangan bicara omong kosong, dokter!” suara teriakan ayah Stella membuat Arthur sadar, ini nyata. Laki-laki tua itu meraih kerah baju dokter laki-laki tersebut, membuat Max langsung bergerak dan menghentikannya.
“Tahan emosimu, dia tidak bersalah!” ujar Max. Ayah Stella menatap ruang operasi itu dengan tatapan yang sangat menggenaskan.
“Ini tidak mungkin! Ini benar-benar tidak mungkin! Kau jangan membual dokter! Jangan membohongiku!” desis Arthur dengan suara berat. Laki-laki itu kemudian menatap dokter itu dengan pedih.
“Aku bicara kebenaran, Tuan Arthur. Nyonya Stella mengalami pendarahan berat, dia kehabisan banyak darah. Untung bayi kalian selamat, meskipun kondisinya sangat lemah!”
Arthur mengepalkan tangannya. Wajahnya memerah menahan air mata. Laki-laki itu mendobrak paksa ruang operasi, melihat istrinya yang berbaring di sana dengan wajah pucat.
Arthur berdiri di ujung brankar. Matanya menatap nyalang pada perawat yang sedang membersihkan Stella.
“Pergi kalian!” desis Arthur dengan suara yang dingin. Dengan langkah yang gemetar, Arthur mendekat pada sisi brankar operasi itu. Perawat yang tadi di sana menyingkir, mereka memahami kondisi yang di alami oleh laki-laki itu.
“Sayang ....” Arthur menggenggam tangan dingin nan pucat itu. Menjadi bukti, kalau perempuan yang sedang berbaring dengan tenang ini, benar-benar kehilangan banyak darahnya.
“Sayang ... kau bilang kau akan menjaga anak kita bersama denganku! Tapi ... tapi sekarang kenapa kau meninggalkan aku lebih dulu! Kau pembohong besar, Sayang!” Arthur meninggikan suaranya. Napasnya memburu naik turun, perawat yang mengawasi dari bilik di sebelah, hanya bisa diam. Ini adalah saat dimana paling menyedihkan bagi mereka, karena merasa tidak berguna sebab tidak bisa menyelamatkan nyawa orang lain.
“Sayang ... Ayo bangun, aku akan membelikanmu alat tembak terbaru. Aku tidak akan pernah melarang mu lagi, bahkan aku akan meminta langsung pada Tuan Max, senjata paling canggih yang dia punya! Tapi kau harus bangun, supaya aku memiliki alasan untuk memintanya!”
Wajah damai dengan senyuman menawan itu semakin dingin. “Sayang ... aku bilang bangun! Apa kau tidak mendengarku?” suara Arthur perlahan berubah semakin besar. “Kau tidak mendengarkan aku, ya? Apa kau tuli?” suara besar dengan nada marah itu tidak membuat tubuh Stella bergerak sedikitpun.
“Aku tidak percaya ini! Kau menjadi pembohong besar! Kau benar-benar pembohong Stella!” Arthur berteriak histeris. Semua orang yang menunggu di luar terkejut.
Ayah Stella, Max, Matt dan Thomas masuk kedalam sana. Para wanita menunggu di luar, bahkan Aletta memeluk leher Zello dengan kuat.
“Ayo kita ke taman, Letta. Kondisi di sini sedang tidak baik!” gadis kecil itu mengangguk. Zello dan Aletta segera berlalu dari sana.
Matt berusaha memegang tangan Arthur yang terus meninju dinding ber cat putih itu. Bahkan permukaan dinding yang datar itu, terlihat berubah warna menjadi merah.
“Arthur, tenangkan dirimu!” Matt memegang pundak Arthur untuk menghentikan pria itu.
“Bagaimana aku bisa tenang Matt! Istriku sudah berbohong padaku! Dia membohongiku! Dia bilang, kalau dia akan selalu menemani aku sampai tua! Dia bilang kami akan membesarkan anak kami bersama-sama sampai dia dewasa. Tapi dia benar-benar pembohong Matt! Dia pembohong! Dia meninggalkan aku sendiri di sini, dia ... dia pembohong!” Arthur berteriak dengan histeris. Suaranya menggema di dalam ruang operasi itu. Hanya ada mereka di sana, di dalam ruangan yang menjadi saksi bisu, saat Stella menghembuskan napas terakhirnya.
“Kau tidak boleh mengatakan hal itu Arthur. Dia tidak meninggalkanmu sendirian! Dia memberikanmu putri kecil!” Arthur terdiam. Tangannya yang tadi berusaha lepas dari genggaman tangan Matt, perlahan melemah.
Bahkan, ayah Stella sendiri pun tidak tahan saat melihat menantunya hancur seperti itu. Dia menatap anaknya dengan sendu. “Kenapa aku selalu kehilangan wanita yang aku cintai, dengan cara seperti ini?” desisnya dengan suara yang rendah, pelan tapi penuh dengan kepedihan.
“Kau tidak boleh seperti ini, demi bayi kalian! Kau harus kuat Arthur!” Thomas memegang pundak Arthur. Laki-laki itu terdiam dengan kepala yang menunduk dalam. Akhirnya, isakan tangis itu lolos dari mulut Arthur.
“Tapi, kenapa dia harus pergi dengan cara seperti ini? Apa dia membenci anak kami, sehingga dia tidak mau melihatnya dulu?” Arthur benar-benar terisak. Laki-laki itu menyeka air mata yang keluar dari sudut matanya.
“Bukan seperti itu, Arthur. Karena dia sangat menyayangimu dan juga anak kalian, makanya dia seperti ini. Dia adalah seorang wanita yang sangat hebat, memberikanmu seorang putri yang sangat cantik!”
***
Dokter dan perawat melanjutkan membersihkan tubuh Stella. Arthur di bawa oleh Matt menuju ruang bayi. Untuk melihat putri kecilnya yang sedang berada di ruang inkubator.
Laki-laki itu melihat pada banyak boks bayi yang ada di dalam ruangan itu. Matanya menatap pada satu arah, tempat bayinya tertidur dengan lelap di sana.
Namanya dan juga Stella tertulis pada data bayi itu.
“Kau lihatlah dia, aku akan menunggu kau disini!” Matt menepuk pundak Arthur beberapa kali.
Arthur kemudian masuk kedalam ruangan tersebut, dan mendekat pada anaknya. Wajahnya yang penuh dengan raut kesedihan itu, menatap anaknya dengan senyum miris.
“Selamat datang di dunia ini, Sayang.” bayi mungil itu menggeliat kecil. Matanya di beri penutup supaya menghalangi pijar lampu dalam inkubator tersebut, tapi gerakan tangan mungilnya membuat Arthur tersenyum sekilas.
“Kau pasti sangat cantik. Seperti ibumu!” Arthur tersenyum lagi. “Maaf karena aku menyambutmu dengan keadaan yang seperti ini,” Arthur rasanya ingin sekali menggenggam tangan kecil itu.
“Sayang ... maafkan ayah karena tidak bisa menjaga ibumu dengan baik,” senyuman penuh kepedihan itu muncul lagi. Bayi mungil itu sepertinya terlelap lagi. Tubuhnya yang kecil membuat Arthur tersenyum miris.
“Maaf karena sudah membuatmu melihat dunia ini lebih cepat dari yang seharusnya.” laki-laki itu benar-benar berusaha untuk menguasai dirinya z agar terlihat baik-baik saja di depan putri kecilnya itu.
“ATHANASIA HALMINGTON.” Arthur terkekeh kecil, “Atha, kau tau? Bahkan Ayah tidak memberitahukan namamu itu pada ibu, saat dia selalu bertanya tentang nama yang akan Ayah berikan padamu nanti. Seandainya Ayah memberitahukan padanya, pasti dia tidak akan penasaran!” mata itu kembali memerah, karena menahan air mata.
“Sayang ... cepatlah tumbuh. Ayah akan menjagamu dengan nyawa Ayah sendiri. Kau satu-satunya hartaku yang paling berharga di dunia ini. Ayah akan memberikan semua cinta untukmu, Athanasia.” Arthur menatap bayi merah itu dengan penuh cinta.
“Atha, maaf Ayah harus pergi. Ayah mau membawa ibumu pulang dulu. Kau tunggu Ayah disini, ya. Ayah akan menjemputmu lagi. Dan setelahnya kita pulang bersama!” Arthur memberikan senyuman pedihnya pada bayi mungil itu. Dia segera berlalu dari sana, sembari menyeka air matanya yang menetes tidak tahu diri.
Arthur kembali dari ruang bayi. Matt mengikuti dari belakang. Sedangkan Max, Thomas dan juga ayah Stella sudah berada di ruang jenazah. Stella akan di makamkan sore ini, di samping makam ibunya.
Dengan langkah kaki yang bergetar, Arthur berdiri di dekat peti jenazah Stella. Laki-laki itu sedang berusaha untuk mengendalikan diri, ini merupakan hari terberat untuknya.
Sekuat apapun Arthur untuk mencoba kuat, maka sekuat itu juga, air matanya mencoba mendobrak pertahanannya. Arthur benar-benar tidak bisa menerima ini semua, kenapa waktu ini tibanya terlalu cepat.
Ayah Stella berusaha untuk mengendalikan dirinya, laki-laki tua itu benar-benar sulit untuk menerima semua ini, tapi dia tidak bisa berkata apa-apa. Semuanya adalah ketentuan Tuhan.
Kolega bisnis Max juga sudah tau berita ini. Bahkan orang-orang di Halmington juga tau. Nyonya besar Halmington Group, meninggal hari ini setelah melahirkan. Mulianya wanita itu, surga adalah tempat yang paling layak baginya.
Peti itu di masukkan kedalam Ambulance, yang langsung mengantarkan ke kediaman Arthur. Max menyuruh seseorang untuk menjaga Atha di rumah sakit, rombongan itu bergerak pelan meninggalkan rumah sakit. Aletta dan Zello berada di mobil yang berbeda. Kedua orang itu tidak banyak bicara, mengerti dengan situasi
Arthur duduk di samping peti istrinya dalam diam. Tatapan laki-laki itu kosong. Dia tidak pernah menyangka, hari ini akan terjadi secepat ini. Arthur benar-benar belum bisa menerima semua ini. Semuanya terlalu mengejutkan.
“Stella, aku harap aku bisa menjalani hidup ini dengan baik setelah kau tidak ada di sampingku. Aku akan merawat anak kita dengan baik.”
****
🥀🥀