
Pesta pernikahan megah yang diimpikan olah tuan Putri penguasa bisnis otomotif itu akhirnya di laksanakan juga. Dengan segala persiapan mewah dan megah, membuat pernikahan Mattea ini benar-benar spektakuler.
Mattea menitikkan air matanya di depan cermin, saat melihat wajahnya yang terpantul disana. Cantik, sangat cantik, membuat dia merasa benar-benar seperti seorang ratu.
Kini Mattea dan Thomas hanya perlu duduk di singgasana pelaminan, tanpa mengucap janji lagi, karena mereka sudah mengucapkan janji suci itu beberapa Minggu yang lalu.
Segala persiapan yang dilakukan oleh Stef, benar-benar menakjubkan.
Satu-persatu tamu undangan mulai berdatangan. Semua yang datang adalah, kolega bisnis Max, Thomas, David, dan juga Lucky tentunya.
Pelataran pesta yang bertemakan bunga ini benar-benar membuat siapa saja berdecak kagum.
Max dan Stef menyambut para tamu dengan senyuman kebahagiaan. Lucky dan Masseria juga turut dalam penyambutan. Mereka sudah datang dari Itali dua Minggu yang lalu. Justin juga sudah hadir dengan keluarga barunya, dan datang dari Jakarta beberapa hari setelah Masseria dan Lucky tiba di Jerman.
Mattea yang berdiri di atas singgasananya menatap Thomas dengan senyum takjub. Laki-laki itu benar-benar tampan dengan tuxedo yang digunakan selaras dengan warna gaun miliknya.
“Apa aku sebegitu tampannya sayang?” tanya Thomas dengan senyuman menggoda membuat Mattea merona. Dia menganggukkan kepalanya membenarkan apa yang dikatakan oleh suaminya itu.
“Ah, kau benar-benar menggemaskan baby girl.” Thomas mencium pipi Mattea sekilas, membuat para tamu yang melihat mereka berteriak menggoda membuat Mattea semakin memerah malu.
“Sudah, jangan seperti ini sayang. Aku malu.” Mattea menggigit bibir bawahnya dengan sensual. Membuat Thomas mengerang. Laki-laki itu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia tidak sabar untuk pesta ini segera berakhir.
“Apa kau lelah?” Thomas mengalihkan pembicaraan setelah berhasil menguasai dirinya. Dia menatap ke arah lautan tamu. Sangat banyak, bahkan teman-teman kuliah gadis itu juga ikut datang untuk memberikan selamat. Termasuk Harry yang kini mendekat pada keduanya.
“Bocah ini,” desis Thomas tidak suka.
“Hai Mattea, selamat untukmu ya.” Harry menjulurkan tangannya pada Mattea yang di sambut dengan kesal oleh Thomas membuat gadis itu menahan tawanya.
“Terimakasih, silahkan nikmati hidangannya!” melihat Thomas yang over protective pada Mattea membuat Harry terkekeh.
“Santai saja paman, aku sudah punya pacar sekarang. Jadi kau tidak perlu cemburu.” Harry menarik tangan gadis yang ada di belakangnya untuk berkenalan dengan Thomas dan Mattea.
“Selamat untukmu.” gadis itu mengulurkan tangan pada Mattea yang disambut baik oleh pengantin wanita itu.
“Terimakasih..”
Setelah berbasa-basi sebentar, Harry dan teman Mattea yang lainnya beranjak dari sana. Mereka duduk di kursi meja yang tersedia disana.
“Sayang, apa kau lelah?” Thomas bertanya lagi pada Mattea membuat gadis itu menggeleng.
“No. Lebih baik kita duduk sebentar.”
Disaat Mattea dan Thomas duduk, Matteo berjalan menghampiri mereka. Dia mendekat pada adik kembarnya itu.
“Hei gadis menyebalkan, selamat untukmu!”
“Ck, begitu caramu mengucapkan selamat padaku Matt?” Mattea berdiri, sedangkan Thomas juga ikut berdiri memegangi tangan istrinya itu.
“Cih, sama saja. Yang penting aku mengucapkan selamat untukmu!” Matteo memberikan sebuah kado dengan ukuran yang tidak kecil dan juga tidak besar pada gadis itu membuat Mattea bingung.
“Kau memberikan aku kado? Dan sebuah kado yang kecil?” Thomas tergelak mendengar apa yang diucapkan oleh istrinya itu. Itu tidak kecil sekali, tapi dasar Mattea saja yang menyebalkan.
“Kau ini, seharusnya kau berterimakasih padaku Mattea, karena aku memberikanmu kado!”
“Hei, kado apa yang sekecil ini? Bahkan kolega Daddy saja memberikan aku sebuah kado yang mahal, dan kau— apa ini, kecil sekali!” walaupun meledek kado dari saudara kembarnya itu, tapi tetap saja Mattea menerimanya.
“Itu benda yang sangat berbahaya kak Atea!” suara Kunti kecil yang berada di belakang Matt itu membuat ketiga orang itu menoleh.
“Benda berbahaya apa Ana?” tanya Mattea penasaran. Dia hendak membuka kado yang ada di tangannya itu tapi di tahan oleh Matt.
“Jangan kau buka disini, di kamar kalian saja nanti!” ujar Matt yang di angguki oleh Thomas, membuat Mattea memerah.
“Dan kau bocah, apa yang kau tau tentang itu?!” Matteo menatap Ana yang berdiri di sampingnya. Gadis manis itu hanya menunjukkan deretan giginya yang putih lalu berbisik pada Matt.
“.....”
“Benarkan?” tatapan menggoda dari Ana membuat Matt kesal.
“Kau mengintip? Darimana kau tau benda itu?” tanya Matteo dengan telinga yang memerah.
“Tentu saja. Kalau kak Matt nanti mengajakku 'itu' setelah kita menikah nanti, tentu saja aku harus memakainya bukan?” Ana benar-benar membuat Matteo kesal. Laki-laki itu menatap Thomas dan Mattea dengan telinga yang memerah, mencoba untuk mengabaikan gadis kecil yang ada di sampingnya ini.
“Kau...” desis Matt kesal.
“Apa yang kalian bicarakan? Kenapa berbisik-bisik disini?” Mattea yang sedari tadi menatap kedua orang itu akhirnya bertanya. Sedangkan Thomas hanya tertawa kecil, melihat kedua keponakannya itu. Yang satunya acuh, dan yang satunya berisik. Pas sekali!
“Sudah tidak apa-apa. Aku hanya perlu membersihkan otak gadis ini sebentar. Aku pergi dulu!” Matteo menarik tangan Ana dengan kesal. Membuat semua orang menatap padanya.
“Kak Matt mau mengajak aku pacaran ya?” Ana yang berada dalam genggaman tangan Matt bersuara menggoda membuat Matt bertambah kesal.
“Aih, gadis ini!”
“Aku izin pada Daddy dulu kak Matt!” Ana mencoba untuk menahan tangan Matteo, tapi terasa sia-sia.
“Kalau kak Matt tidak membawaku pacaran, lepaskan tanganku!” Matteo membawa Ana keluar dari area gedung tinggi yang menjadi tempat pesta Mattea. Tidak banyak orang diluar sini, karena semua orang sedang ada di pesta.
“Kak Matt, lepaskan. Jangan pegang tanganku, nanti kak Matt suka lagi denganku!” ucapan Ana Akhirnya membuat Matteo menghentikan langkah kakinya. Dia menatap Ana dengan tajam, sedangkan gadis yang menjadi biang masalah itu, hanya tersenyum manis.
“Heh? Apa kau bilang?” tanya Matteo ketus, dia melepaskan tangan yang tadinya dia gunakan untuk menyeret Ana keluar dari gedung megah itu.
“Iya, karena suka itu datangnya dari tangan yang bergandengan, lalu baru ke hati!” entah kosa kata dari mana yang didapatkan oleh gadis unik yang barbar ini, membuat Matteo semakin kesal.
“Gadis gila! Asal kau tau, suka itu datang dari mata baru turun ke hati!”
“Astaga kak Matt, itu untuk kata-kata cinta, bukan suka!”
“Apa bedanya?”
“Aku pernah dengar, kalau cinta itu datangnya dari mata turun ke hati. Atau jangan-jangan kak Matt sudah cinta ya denganku?” Ana menatap Matteo yang menggeram kesal. Dia mengedipkan matanya genit, membuat Matteo sedikit salah tingkah.
“PD sekali kau bocah!” desis Matteo sebelum meninggalkan Ana yang tergelak.
“Hei, kenapa sekarang kak Matt meninggalkan aku. Kak Matt tunggu!” Ana mengejar Matt sembari tertawa.
.
.
__
.
.
Kembali lagi pada dua pengantin bahagia ini.
Waktu pesta yang hampir berakhir, dan para tamu yang juga sudah mulai pulang, akhirnya membuat Mattea mengucap syukur.
Dia sangat lelah hari ini, harus berdiri berjam-jam untuk menyalami para tamu yang seperti tidak ada habisnya. Memasang wajah untuk selalu tersenyum. Bahkan dia merasa kakinya sedikit lecet akibat terlalu lama berdiri.
“Sayang, kalian kembali ke kamar saja, biar Mommy dan Daddy yang urus semuanya disini. Kasian sekali putri cantikku ini. Lagipula tamunya sudah mulai pulang.” Stef mengusap pipi anak gadisnya dengan lembut, yang mendapat anggukan kepala dari Mattea.
“Yes Mom, aku sangat lelah hari ini. Tamu kalian banyak sekali!” Max terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh putri cantiknya itu.
“Ya sudah, kalian kembali ke atas.” Max menyerahkan sebuah kartu pas pada Thomas. Dan laki-laki itu tahu, kamar mana yang akan dia tuju bersama dengan Mattea.
Kedua pengantin baru itu, akhirnya pergi dari sana. Mattea menggandeng tangan Thomas dengan erat. Dia benar-benar lelah. Apalagi ini sudah lumayan larut, membuatnya benar-benar ingin segera bertemu dengan kasur.
Mattea dan Thomas masuk kedalam Lift. Mereka akan naik ke lantai tertinggi gedung hotel milik Luciano grup ini.
Setelah pintu lift berdenting, Mattea dan Thomas keluar dari dalam lift, dan berjalan menuju pintu kamar satu-satunya yang ada disana.
Setelah Thomas menempelkan Card pass nya, pintu kamar itu akhirnya terbuka.
Mattea menatap ke sekeliling kamar besar itu. Ruangan yang didominasi oleh warna putih dan merah itu membuat Mattea terkesan. Bunga mawar yang berserakan membuat pipi gadis itu merona, memikirkan apa yang akan dia dan Thomas lakukan malam ini.
Mattea melepaskan tangan Thomas yang dia genggam tadi, lalu berjalan menuju ranjang. Kamar presiden suite ini benar-benar mewah, dan juga dekorasi yang indah.
Ranjang king size itu, akhirnya diduduki oleh Mattea. Ada lemari pendingin, televisi yang besar, sofa yang juga empuk disana. Dan juga ada sebuah ruangan disana, yang Mattea yakini itu adalah walk ini closed. Ada gorden besar yang tergantung di sebelah sudut, yang Mattea yakin, itu adalah jendela ke balkon.
“Apa kau suka dekorasinya sayang?” tanya Thomas dengan nada menggoda. Dia mendekat pada Mattea yang sudah memerah. Isi kepala gadis itu saat ini sudah tercemar. Banyak pikiran tentang yang iya-iya, yang kini sedang ada di kepalanya.
“Aku suka.” cicit Mattea dengan suara kecil, membuat Thomas terkekeh.
“Mau mandi bersama?” goda Thomas lagi. Dia sangat suka melihat pipi gadis kecilnya itu yang merona.
Tanpa menjawab Thomas, Mattea langsung berdiri dan mengangkat gaunnya yang panjang dan berlari menuju kamar mandi, membuat Thomas tergelak.
“Sayang, aku rasa kalau kita mandi berdua, pasti akan lebih cepat. Ayo buka pintunya!” Thomas berteriak dari luar.
“Dasar Uncle mesuuummmmmm!”
“Hahaha...”
.
.
___
Mau scan malam pertama ga nih?😂
Aku sanggup gak ya🥴
Bonus part ini, jangan lupa dukungannya ya, walaupun gak sesuai dengan bayangan kalian😂