My Devils Husband

My Devils Husband
22. Telepon



Malam ini Stef sedang bersantai di kamarnya, setelah merawat ibunya tadi ia bisa tenang setelah ibunya tidur karena besok ada jadwal cuci darah.


Ia sedang melihat artikel dari ponselnya, tak lama setelah itu ada telepon masuk dari nomor yang tidak dikenalnya. Stef ragu untuk menjawab atau tidak, tapi ragunya dikalahkan oleh rasa penasaran, ia pun mengangkat telepon itu.


"Hallo" sapa Stef pada orang yang diseberang sana.


"Holla rose," jawab orang tersebut yang ternyata adalah Max.


"Max?" tanya Stef.


"Ya ini aku!" jawab Max.


"Aku kira siapa, nomormu tidak terdaftar didaftar kontakku!" jawab Stef.


"Tentu saja, aku kan baru menghubungimu sekarang!" jawab Max.


"Ya kau benar!" jawab Stef. "Ada apa kau menghubungiku" sambung Stef.


"Tidak ada apa-apa!" jawab Max yang membuat Stef kesal.


"Jika tidak apa-apa untuk apa kau menghubungiku?" tanya Stef gemas.


"Aku hanya merindukanmu!" jawab Max singkat membuat Stef merona.


"Apa apaan kau ini, baru tadi siang kau menemuiku tapi kini kau sudah menggombal lagi!" ucap Stef menyembunyikan senyumannya.


"Aku bicara fakta, aku benar benar merindukanmu!" ucap Max jujur. Entahlah, kini dia seperti ingin melihat Stef setiap saat, setiap waktu. Benar benar bucin!


"Benarkah, kau membuatku terharu," ucap Stef meledek Max. Seorang Maxim Alexander Luciano merindukan seorang gadis, jika saja David mendengar ucapan Max pasti dia tidak akan percaya sama sekali jika yang mengatakan itu adalah seorang Maxim.


"Ah sudahlah, kau ini membuatku kesal saja!" ucap Max merajuk. Max sudah mengatakan yang sejujurnya tapi Stef malah meledeknya.


"Ternyata orang sepertimu bisa merajuk juga," ledek Stef yang membuat Max gondok.


"Jadi ada apa kau menghubungiku?" sambung Stef bertanya.


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin bertanya apa saja yang kau lakukan hari ini!" ucap Max memancing karena tadi dia dapat laporan dari anak buahnya yang memantau Stef bahwa tadi Stef bertemu dengan Justin yang membuat Max khawatir hingga dia menambah anggota untuk menjaga Stef.


"Aku tidak melakukan apa-apa, hanya mengurus ibu dan pergi ke supermarket, lalu..." jelas Stef menggantung.


"Lalu apa?" tanya Max lagi karena dia sudah tahu apa yang akan dikatakan oleh Stef.


"Aku tadi tidak sengaja bertemu dengan Justin," jawab Stef jujur yang membuat Max tersenyum senang.


"Benarkah?" ucap Max berpura pura seperti orang yang belum tahu.


"Iya, sudahlah jangan kau bahas dia lagi!" ucap Stef jengah.


"Kenapa?"


"Kau ini," ucap Max tersenyum yang juga membuat Stef tersenyum.


"Jangan tersenyum!" ucap Max yang membuat Stef mengernyit.


"Kenapa kau tahu aku sedang tersenyum?" tanya Stef penasaran.


"Tentu saja aku tahu!" jawab Max.


"Ya...ya kau memang tau segalanya!" ucap Stef mengerling kesal.


"Kau harus tahu satu hal rose!" ucap Max serius, mendengar Max yang serius membuat Stef juga ikut mendengar serius.


"Apa?"


"Aku sudah mencintaimu sejak awal!" ucap Max serius yang membuat Stef tersenyum.


"Aku tau," jawab Stef singkat.


"Dan kau mungkin bertanya kenapa tidak ada orang lain dihatiku setelah kepergianmu dulu!" ucap Max membuat Stef membenarkan ucapannya.


"Ya kau benar! Kenapa?" tanya Stef.


"Tentu saja alasannya kamu yang sudah lebih dulu mengisi hatiku!" kata kata Max tentu saja membuat Stef serasa melayang, bagaimana tidak? Di cintai sebegitu besarnya oleh Max membuat Stef merasa seperti wanita yang sangat beruntung didunia.


"Max," ucap Stef singkat.


"Ya?" tanya Max.


"Aku membutuhkanmu!" ucap Stef singkat.


"Kau butuh apa?" tanya Max serius.


"Aku membutuhkanmu karena kau membuatku tersenyum bahkan saat kau tidak ada disampingku! I Love You"


"I Love You To"


.


.


.


.


.


Love❤❤❤EgaSri