My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
99.



Rencana...


.


.


.


.


.


Sudah seminggu ini Grace bekerja di Kafe, dan seminggu itu pula Daffin dan Zay sering sekali menemui Grace di tempat kerja atau rumah yang kini Grace tempati.


Meskipun medan yang dilalui tidaklah mudah, Daffin rela demi menemui kekasihnya.


Untuk Hari ini Daffin memberi tahu Grace jika dirinya tidak bisa datang menemuinya karena akan menjalankan misi yang sudah mereka rencanakan sebelumnya.


Mereka akan memancing Angel dan membuat Angel mengakui perbuatannya. Karena ia dan Grace sangat yakin jika dalang di balik kecelakaan yang dialami Grace adalah Angel.


Selama ini yang menjadi musuh Grace adalah Angel, jadi kemungkinan besar Angel lah dalang dari ini semua.


Saat ini jam menunjukkan pukul 17.00 sore, Daffin mengambil ponselnya dan akan menghubungi Angel.


" Bisa kita bertemu?" ucap Daffin saat angel mengangkat panggilannya.


" Kamu ngajak aku ketemuan?" tanya Angel di seberang sana dengan wajah terkejut dan tidak percaya.


" Iya, kamu bisa kan?"


" Pasti.. aku pasti bisa. Kita ketemu dimana?" ucap Angel dengan antusias.


" Temui aku di club yang saat itu kita bertemu." ucap Daffin.


" Baiklah aku akan segera kesana." ucap Angel lalu Daffin mematikan sambungan teleponnya.


Angel melompat kegirangan, ini adalah kali pertamanya Daffin memintanya untuk bertemu.


Ia segera menuju lemari dan mengganti pakaiannya.


**


Sementara itu Daffin menghubungi Zay dan memintanya untuk datang ke apartemennya.


Ia akan meminta bantuan Zay untuk menjalankan rencana ini.


Karena bagaimanapun rencana yang akan dilakukannya ini sedikit membuatnya beresiko jika ada yang melihatnya.


Tak lama setelah Daffin menghubunginya, Zay datang seorang diri dengan jaket dan masker yang menutupi wajahnya.


" Lu yakin dengan rencana lu bang?" tanya Zay yang sudah duduk di sofa tamu.


" Yakin, itulah gunanya gue ngajak lu buat nemenin gue." jawab Daffin , Zay manggut manggut.


" Soal Grace?"


" Dia cuma tau kalau gue mau ngejebak Angel, tapi cara yang gue pakek dia gak tau."


" Kalau dia tau gimana? bisa ngamuk entar."


" Itu urusan belakangan, yang penting kita jalani dulu. Dan yang paling pentingnya jangan sampai Grace tau." ucap Daffin namun sedetik kemudian ia menatap Zay dengan tatapan Aneh.


" Bukannya gak ada yang tau kalau Grace masih hidup? kalau dia tau, bearti lu yang bilang sama dia." ucap Daffin membuat Zay memutar bola matanya malas.


" Lu Dosen tapi bodohnya lu pengen gue pupuk deh, Lu kira Grace gak akan tanya gimana cara yang lu lakuin? Grace terlalu cerdik untuk lu bohongin bang." ucap Zay menatap Daffin malas.


" Iya juga sih, yaudah lah yang penting kita jalani dulu. Siapa tau berhasil yekan." ucap Daffin dan Zay mengangguk pasrah.


Toh ini semua juga demi Grace segera balik sama keluarganya.


" Yaudah lu tunggu bentar, gue mau siap siap dulu." ucap Daffin diangguki Zay.


Baru beberapa langkah Daffin berjalan, ia bebalik menghampiri Zay yang hendak menelpon istrinya.


" Pesanan yang gue minta udah lu beliin kan?" tanya Daffin membuat Zay mengurungkan niatnya untuk menelpon Kiran.


" Udah aman sama gue. Sekarang lu buruan siap siap, gue mau nelpon bini gue dulu." ucap Zay.


" Mentang mentang punya bini, sombong amat lu." ucap Daffin dengan sinis lalu ia berbalik arah menuju kamar.


Zay hanya menaikkan bahunya acuh lalu kembali menghubungi istrinya.


***


Disisi lain Devano, El, Nathan, Freya dan Rissa kini sedang nongkrong di Kafe tampat Grace bekerja.


Kelima remaja itu mencoba Kafe yang baru baru ini viral di media sosial.


Devan yang awalnya ogah ogahan, akhirnya terpaksa ikut karena Freya yang memintanya.


" Mbaakk..!!" panggil Nathan pada salah satu pelayan yang tak lain adalah Grace.


Jantung Grace berpacu lebih cepat saat melihat segerombolan remaja yang tak lain adalah adik, sepupu dan temannya yang lain.


Mata Grace tiba tiba memanas, ia sangat Rindu dengan adik dan sepupunya itu. Ingin sekali ia memeluk tubuh Devan untuk melepaskan rindu yang selalu ia tahan.


" Grace, tolong kamu layani mereka." ucap Nella menepuk bahu Grace.


" Iya."


Grace berjalan perlahan menuju meja Devan, dengan kepala menunduk ia menunggu Devan dan teman temannya menyebutkan pesanan yang akan mereka inginkan.


" Silahkan, mau pesan apa?"


Devan yang sedari tadi diam, namun tiba tiba matanya menatap pelayan itu saat mendengar suaranya.


Suara itu? gue kek gak asing sama suara itu? d-dan wajah dia? kenapa dia mirip sekali sama kak Grace? apa mungkin dia beneran kak Grace?" gumam Devan dalam hati, namun ia melihat name tag di dadanya bertuliskan nama Sesilia. dan itu artinya dia bukan Grace.


Sama halnya dengan Devan, El juga menatap lekat wajah Grace yang semakin menunduk.


Ia juga berrpikiran sama dengan Devan, Suara dan wajah pelayan di depannya ini sangat tidak asing.


" Baiklah tunggu beberapa menit, pesanan kalian akan saya buatkan." ucap Grace setelah Freya menyebutkan pesanan mereka.


" Lu mikirin apa yang gue pikirin kan?" Devan menatap El dan di balas dengan anggukan.


" Apa mungkin dia orang yang sama?" tanya Devan membuat ketiga orang temannya mengernyit bingung.


" Lu berdua ngomong apaan dah? kalau mau pakek kode kodean gak usah disini anjir. Gue kagak ngerti." sahut Nathan sedikit kesal.


" Kalian gak ngerasa kalau suara dan wajah pelayan tadi mirip kak Grace." ucap Devan membuat ketiga temannya membulatkan matanya.


Mereka terlalu fokus dengan buku menu nya sehingga tidak memperhatikan suara dan wajah pelayan tadi.


" Lu serius? mungkin cuma mirip doang. Kalau kak Grace masih hidup kenapa dia gak pulang kerumah aja, kenapa harus kerja jadi pelayan disini?" sahut Rissa.


" Gue belum tau pasti dia kak Grace atau bukan. Tapi gue lihat name tag dia tadi namanya Sesilia bukan Graciella." ucap Devan.


" Tapi nama mereka hampir mirip Dev." sahut Freya.


" Iya, lu bener. Coba nanti gue tanya sama dia." ucap Devan.


Dalam hatinya, ia berharap sekali jika pelayan itu adalah kakaknya Grace.


Bahkan jantung Devan berdetak lebih cepat kali ini, ia seakan menemukan titik terang tentang kasus hilangnya Grace.


*


Disisi lain Grace izin ke toilet, ia kembali menangis saat melihat wajah wajah yang ia rindukan muncul di hadapannya.


Ia tidak menyangka jika akan bertemu Devan dan el disisni.


" Maafin kakak yang belum bisa mengaku di hadapan kaliaan." Grace terisak kecil. Sungguh ia ingin memeluk tubuh Adiknya itu, meskipun mereka sering bertengkar tapi dirinya sangat menyayangi adiknya itu.


" Kakak janji setelah ini selesei, kakak akan kembali kerumah." ucap Grace.


Ia membasuh wajahnya setelah itu keluar dari toilet.


Grace membawa nampan yang berisi pesanan Devan dan teman temannya.


Ia menghela napas panjangnya sebelum mengantar pesanan itu.


" Silahkan." ucap Grace setelah menaruh gelas dan piring itu diatas meja.


" Tunggu." cegah Devan, membuat Grace terhenti.


" I-iya, ada apa ya?" Grace berbicara dengan gugup. Ia takut Jika Devan mengenalinya.


" Apa kakak adalah--"


" Mbak." teriak pengunjung lain.


Dengan cepat Grace menoleh kearah orang yang memanggilnya dan menganggukkan kepalanya.


" Maaf, saya tinggal dulu." ucap Grace lalu pergi meninggalkan meja devan dengan perasaan lega.


" Tapi kak--"


" Sabar dulu dev, kita cari bukti lagi nanti." ucap El dan Devan kembali duduk.


Ia terus menatap punggung Grace dan ia meyakini jika pelayan itu adalah kakaknya.


.


.


.


.


🌻