My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
30.



" Janji ya lain kali kamu harus mampir." ucap Elsa.


Grace tidak menjawab iya atau tidak, ia hanya tersenyum.


Elsa keluar dari mobil Grace lalu grace memutar mobilnya keluar dari halaman rumah Elsa.


Saat mobil grace keluar, mobil Daffin masuk halaman.


Daffin bisa melihat mobil grace keluar dari rumahnya namun ia tidak tau itu mobil siapa karena Daffin memang belum pernah melihat seperti apa mobil Grace.


Daffin mengernyitkan dahinya, sebelumnya ia tidak pernah melihat mobil itu berkunjung kerumahnya.


Jika pun itu adalah mobil salah satu temannya, pasti tidak mungkin karena ia tau itu adalah mobil paling mahal dan tidak ada yang mampu membelinya kecuali orang tersebut benar benar kaya.


Daffin melangkahkan kakinya kedalam rumah, ia menghampiri Elsa yang sedang membuat minuman di dapur.


" Tumben sudah pulang sayang? gak ke kantor?" sapa Elsa saat melihat Daffin duduk di meja makan.


" Enggak ma, Daffin capek banget pengen cepet pulang." jawab Daffin sambil meminum Coffe yang di buatkan Elsa.


" Kalau kamu capek istirahat aja, jangan terlalu di forsir, nanti kamu sendiri yang sakit." ucap Elsa diangguki Daffin.


" Tadi tamu siapa ma? Daffin gak pernah lihat mobil itu sebelumnya." tanya Daffin.


Elsa mengernyitkan dahinya namun sedetik kemudian ia menghampiri Daffin lalu duduk didepannya.


" Mama tadi hampir saja di rampok sama preman." ucap Elsa membuat Daffin tersedak dan membulatkan matanya.


" Dirampok? terus gimana? mama gapapa kan? gak luka kan?" tanya daffin dengan raut wajh khawatir.


Ia berdiri menghampiri mamanya lalu memastikan tubuh Elsa tidak terluka sedikitpun.


" Mama gapapa Daffin, dengerin mama dulu dong." ucap Elsa sedikit kesal.


Begitulah Daffin jika terjadi sesuatu dengan mamanya, ia akan sedikit berlebihan.


" Terus gimana?"


" Tadi mama hampir aja dirampok, beruntung ada seorang gadis yang menolong mama.


Dia cantik, baik dan dia juga yang nganterin mama pulang.


Tapi mama gak tega karena sudut bibir dia terluka karena di tonjok sama preman tadi." ucap Elsa.


Raut wajahnya berubah saat mengingat luka di sudut bibir Grace.


" Seorang gadis? siapa?" tanya Daffin.


" Namanya gra----"


" Maaf nyonya saya mengganggu." sahut pembantu memotong ucapan Elsa.


" Ada apa bi?"


" Anu nyonya, di depan ada non angel sama mamanya." jawab pembantu itu.


Elsa mengubah raut wajahnya, ia paling benci jika kedua wanita itu menginjakkan kaki di rumahnya.


" Lanjutkan pekerjaan bibi, jangan buatkan minum." ucap Elsa diangguki si pembantu.


" Kamu masuk ke kamar, biar mama yang menemui mereka." sambungnya pada Daffin.


Daffin mengangguk, ia berjalan menaiki tangga menuju kamar.


Dengan wajah datar, Elsa menemui kedua wanita itu.


" Ada apa lagi kalian kesini?" sahut Elsa menghampiri kedua wanita yang sedang duduk diruang tamu.


" Kenapa tante gitu banget sih sama angel? Angel calon menantu tante loh." ucap Angel menunduk sedih.


" Dalam mimpi saja saya tidak sudi mempunyai menantu seperti kamu." sarkas Elsa menatap tajam Angel.


Rani mengepalkan tangannya, sungguh ia tidak terima atas penghinaan ini.


Namun ia harus sabar, bagaimanapun Angel harus bisa menjadi nyonya di keluarga ini.


" Tante.. apa sih kurangnya angel di mata tante? Angel seperti ini juga gara gara anak tante." ucap Angel menangis.


" Itu kecelakaan bukan sengaja, sekarang cepat katakan apa tujuan kalian kesini?" ucap Elsa tanpa basi basi.


" Kami kesini akan membicarakan tanggal pernikahan Angel dan Daffin." Sahut Rani.


" Kenapa? apa putrimu sudah hamil? secepat itu? Putraku tidak akan mepercepat hari pernikahannya kalau putrimu tidak terbukti hamil." ucap Elsa dengan tegas.


" Tidak bisa begitu, hamil atau tidak Daffin harus segera menikahi Angel.


Dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya." sahut Rani dengan kesal.


" Kalian pikir saya bodoh, besok kita akan ke rumah sakit buat memastikan apa Daffin sudah membobol mahkota berharga milik putrimu." ucap Elsa membuat kedua wanita itu membulatkan matanya dan wajahnya berubah pias.


Elsa tersenyum miring, dugaannya benar, pasti kedua wanita ini hanya ingin menjebak Daffin.


" Sekarang kalian keluar dari rumah saya, dan temui saya besok di rumah sakit Pelita harapan.


Saya tunggu jam 10.00 pagi." Ucap Elsa lalu meninggalkan kedua wanita itu dengan wajah panik.


" Gimana ini ma? kalau kita ketahuan gimana?" tanya Angel dengan paniknya.


" Kamu tenang saja, lebih baik kita pulang dulu.


Kita pikirkan dirumah." ucap Rani lalu mendorong kursi roda Angel.


***


Sementara itu Grace baru saja tiba dirumah.


Ia melangkahkan kakinya masuk kedalam lalu menghampiri Zay dan Vero yang berada diruang tengah.


" Darimana saja?" tanya Zay saat Grace mendaratkan bokongnya di sampingnya.


Ia mrebahkan tubuhnya dengan berbantal paha Zay.


" Bibir lu kenapa Grace?" tanya Vero saat melihat luka di sudut bibir Grace.


Zay menunduk melihat bibir grace yang memang terluka.


" kenapa?" ulang Zay sambil menekan luknya.


" isshhh.. sakit bego." ringis Grace sambil menyingkirkan tangan Zay dari bibirnya.


" jawab."


" Tadi gue nolongin ibu ibu yang mau di rampok." jawab Grace.


" Lain kali hati hati, kalau sampai mama papa tau udah pasti tuh preman di cari ama mereka." ucap Zay.


" Ya mau gimana lagi, orang tiga lawan satu pasti sedikit banyak pasti ada lukanya lah."


" Yaudah mandi sana, habis itu kita makan malam." ucap Zay sambil mengangkat kepala Grace.


" Devano sama elvano dimana?" tanya Grace karena ia tidak melihat kedua anak itu.


" Dikamar, biasa main game." sahut Vero.


" Panggil mereka nanti kita makan malam sama sama." ucap Grace diangguki keduanya, setelah itu Grace ke kamar untuk membersihkan diri.


***


Grace melangkahkan kakinya kedalam kelas, hari ini suasana hatinya sudah membaik.


Ia tidak peduli jika nanti akan bertemu Daffin, toh sampai kapan ia harus menghindar? karena menurutnya menghindar bukan jalan untuk menyeleseikan sebuah masalah.


Grace mendudukkan bokongnya disamping Naya yang sedang memejamkan matanya.


Gadis itu tersentak kaget saat Grace dengan keras meletakkan tasnya.


" Bisa pelan dikit gak sih kalau naruh tas? kaget gue njir." kesal Naya.


" Udah waras Grace?" sahut Grizzele yang duduk di belakang mereka.


" emang gue sakit?"


" Kemaren kan lu sedikit kurang waras." sahut Naya.


" Sialan lo."


" Btw itu bibir kenapa?" tanya Naya saat melihat luka di bibir grace.


" Ditonjok preman."


" Serius iih.."


" Gue serius elah, lu kira gue bohong gitu?"


" Kok bisa? sahut Grizzele.


" Kemaren gue nolongin ibu ibu, jadinya gue yang kena." jawab Grace.


Belum sempat Naya dan Grizzele menjawab ucapan Grace, Daffin sudah masuk kedalam kelas.


" Pagi semuanya."


" Pagi pak."


Daffin mengedarkan pandangannya, tatapannya bertemu dengan Grace yang menatapnya datar.


Tapi ada satu yang menganggu pengelihatannya yaitu sudut bibir grace yang terluka.


" Baiklah kita mulai materi hari ini." ucap Daffin lalu menerangkan semua materinya.


Dua jam berlalu akhirnya Daffin mengakhiri pelajarannya.


" Bisa bicara sebentar?" ucap Daffin mencegah Grace yang hendak keluar kelas.


" ada apa?" tanya Grace menoleh ke arah Daffin.


" Saya mau bicara sama kamu, sebentar saja " ucap Daffin.


" 5 menit."


" Tidak bisa disini Grace, kita perlu bicara berdua." ucap Daffin


" Bapak mau menikah kan? jadi tidak sepantasnya kita bicara berdua, kalau mau bicara silahkan bicara disini saja."


" Grace saya mohon untuk kali ini saja, berikan saya kesempatan untuk menjelaskan semuanya sama kamu."


" Apa yang perlu dijelasikan sih pak? Bapak gak perlu buang buang waktu bapak buat jelasin apa apa ke saya."


" Grace saya mohon, setelah kamu mendengar penjelasan saya, terserah kamu kalau kamu mau menjauhi saya."


Grace bingung, apa ia harus mengikuti Daffin atau tidak.


Disatu sisi ia ingin mendengarkan apa yang ingin dijelaskan daffin dan di satu sisi ia masih enggan untuk berbicara empat mata dengan Daffin.


Grace menghela napasnya dalam, ia menatap Daffin lalu mengangguk.


" Saya tunggu kamu di ruangan saya." ucap Daffin diangguki Grace.


.


.


.


.


Sorry di bab ini masih seputar Grace dan Daffin.