
Sebulan setelah kepergian Olivia, kini kabar duka menyelimuti keluarga besar Wijaya.
Oma Opa dari Arland, Luna dan Alan meninggal dunia secara bersamaan.
Tiga puluh menit setelah sang Oma dinyatakan meninggal, sang Opa tak sadarkan diri dan akhirnya meninggal.
Kabar mengejutkan itu di berikan oleh Arland saat keluarga besar wijaya tengah berkumpul di rumah utama.
Tanpa mengulur waktu, mereka langsung bersiap siap malam itu juga.
" Siapkan pesawatnya, kita akan pergi ke London saat ini juga." ucap Ricko melalui sambungan telepon dan setelah mengatakan itu, ia mematikan sambungan teleponnya.
" Sudah jangan menangis, ini semua sudah Takdir Allah." ucap Ricko mengusap punggung istrinya.
Biarpun Rio dan Sinta adalah mertua dari Nadia, namun Nadia sangat menyayangi mereka seperti orang tuanya sendiri.
" Semua sudah siap pa, kita berangkat sekarang." ucap Reyhan diangguki Ricko.
Reyhan terus merangkul Luna yang sedari tadi menangis. Kepergian oma opa nya begitu membuatnya terpukul, Oma opa yang selalu memberikan kasih sayangnya tanpa membeda bedakan satu dengan yang lain, selalu menuruti apa yang diinginkan cucu dan cicitnya. Sekarang justru pergi meninggalkan semua orang yang menyayanginya.
Begitupun dengan Grace, Zay, Devan, Vero dan juga Elvano, mereka bahkan belum sempat bertemu dengan Kakek nenek buyut mereka.
Bahkan Grace yang selalu meminta ke London untuk menjenguk keduanya selalu tertunda karena kesibukan kuliah dan lain hal.
Gadis itu teramat bersalah karena belum sempat menjenguk keduanya saat sedang sakit.
Semua orang kini sedang menuju bandara dengan diantar sopir pribadi masing masing.
Grace yang satu mobil dengan Zay dan yang lain hanya menatap luar jendela dengan air mata yang masih membasahi pipinya.
Bahkan dering ponselnya berbunyi ia abaikan begitu saja, hingga Zay yang duduk di sebelah Grace mengangkat panggilan itu.
" Hallo bang?" Sapa Zay karena yang menelpon Grace adalah Daffin.
" Zay? Grace kemana? kenapa ponselnya ada di kamu?"
" Grace ada di sebalahku, kita semua sedang menuju Bandara untuk pergi ke London."
" London? tolong berikan ponselnya pada Grace."
" Bang Daffin." Zay memberikan ponselnya pada Grace.
Grace menghapus air matanya, lalu menerima ponsel itu.
" Ada apa?." ucap Grace dengan suara seraknya.
" Kamu gapapa?" tanya Daffin saat mendengar suara Grace yang sepertinya habis menangis.
" Aku gapapa? Kakek nenek buyutku meninggal, jadi malam ini aku pamit pergi ke London."
" Aku turut berduka cita, kamu dan keluarga hati hati. Kabari aku jika udah sampai sana." ucap Daffin.
Ia juga cukup terkejut mendengar kabar duka dari keluarga Wijaya.
" Hm. Aku tutup dulu telfonnya. Nanti aku kabari lagi jika udah sampai."
" Baiklah, kamu yang sabar ya. Jangan nangis lagi."
" Iyaa.. yaudah assalamualaikum."
" Waalaikumsalam."
Grace menyimpan kembali ponselnya dalam tas dan bersama itu mobil sudah berhenti di Bandara.
Semua orang turun dengan membawa koper mereka masing masing lalu naik kedalam pesawat dan tak lama pesawat itu lepas landas.
Butuh waktu 16 jam perjalanan akhirnya pesawat itu sampai di Heathrow International Airport.
Semua orang turun lalu menuju mobil jemputan yang sudah menunggu kedatangan mereka.
Butuh waktu sekitar 45 menit, mobil yang mereka tumpangi sudah tiba di rumah Duka.
Semua turun dari mobil dan langsung masuk kedalam.
Sengaja kedua jenazah itu belum di makamkan karena menunggu keluarga dari Indonesia.
" Abang.." isak Tangis Luna kembali pecah saat melihat Arland menyambut kedatangan mereka.
" Sabar ya dek, kita semua udah kehilangan oma dan opa." ucap Arland memeluk dan mengusap punggung Luna.
Ia tahu, disini yang paling kehilangan adalah Luna. Karena sejak dulu Luna lah yang paling dekat dengan Oma opanya meskipun Arland yang tinggal bersama Keduanya.
Luna melepas pelukannya lalu menghampiri kedua jenazah Oma opanya, ia duduk bersimpu di samping jenazah keduanya dan air matanya kembali menetes.
" Oma Opa kenapa tega banget ninggalin kami semua?" Luna memeluk tubuh Opanya dengan lelehan air mata yang membasahi pipinya.
" Baru bulan lalu kita tertawa, bercanda dan makan bareng disini, kenapa sekarang kalian ninggalin kita semua? Oma kemarin tanya anak anak Luna kan? ini sekarang mereka udah disini, mereka disini untuk bertemu kalian. Sekarang ayo bangun, mereka juga rindu sama kalian." Luna terisak menatap wajah Oma Opanya.
Terakhir kali mereka semua berkumpul saat lebaran tahun lalu dan setelah itu Grace dan saudaranya yang lain tidak pernah berkunjung kesini lagi, kecuali para Orang tua yang bulan Lalu kesini saat Kakek neneknya jatuh sakit.
" Aku mohon bangunlah, aku rindu sama kalian." Grace menundukkan kepalanya dalam, ia menangis terisak dan memeluk tubuh jenazah.
Zay menarik Grace kedalam pelukannya, ia tau jika saudara kembarnya ini tengah emosional.
Satu per satu dari mereka mengucapkan kalimat perpisahan untuk kakek nenek mereka dan setelah itu kedua jenazah itu di berangkatkan ke TPU menggunakan mobil ambulans.
***
" Selamat jalan Oma, Opa. Terimakasih atas semua yang oma dan opa berikan pada kami. Terimakasih sudah menjadi Oma dan Opa terbaik untuk kami.
Luna akan selalu merindukan kalian, semoga kalian tenang di alam sana. Jangan khawatir, Luna dan reyhan akan menjaga anak anak dengan baik, begitupun dengan bang arland dan juga Alan." ucap Luna mencium batu Nisan yang bertuliskan nama keduanya.
" Oma dan Opa adalah orang yang baik, insya allah surga tempat kalian." sahut Alan yang juga mencium kedua batu nisan itu.
Sebuah kematian yang sudah di takdirkan, tidak akan kembali dengan sebuah kesedihan dan air mata. Memang mengikhlaskan seorang yang sangat di sayangi adalah hal yang paling sulit yang di ajarkan dari Allah untuk kita. Saat ini, hanya doa yang bisa kita jadikan sebagai jalan untuk mendekatkan diri dan memohon kemudahan dari-NYA atas segala musibah yang sedang kita alami saat ini.
Setelah satu persatu dari mereka mengucapkan kalimat terakhir dan salam perpisahan, semua orang kembali ke rumah.
**
" Kamu istirhat ya sayang, aku tau kamu capek banget." ucap Reyhan saat melihat wajah Luna yang terluhat sangat Lelah.
" Nanti aja, aku masih mau disini." jawab Luna tersenyum manis.
" Kita makan dulu saja gimana? bibi sudah menyiapkan makanan untuk kita semua." sahut Febby diangguki semuanya.
" Kalian makan saja dulu, Grace mau ke kamar." ucap Grace yang sudah berdiri.
" Kamu gak makan sayang?" tanya Reyhan dibalas gelengan oleh Grace.
" Grace belum laper, nanti kalau laper Grace akan ambil sendiri. Grace mau ke kamar aja."
" Yasudah, kamu istirahat saja dulu. Nanti kalau laper kamu minta sama bibi.", ucap Reyhan diangguki Grace.
Grace berjalan menaiki tangga menuju kamar yang biasa dia tempati.
Ia membuka pintu kamar itu lalu berjalan menuju balkon kamarnya.
Grace mengeluarkan ponsel lalu menghubungi kekasihnya. Namun sayang, sudah 3 kali panggilannya tidak dijawab oleh Daffin.
" Astaga aku lupa, dia pasti udah tidur." gumam Grace saat mengingat perbedaan waktu antara London dan indonesia yang lebih cepat 6 jam untuk indonesia.
Grace menaruh ponselnya lalu menyenderkan kepalanya di punggung sofa.
Matanya kembali berkaca kaca saat mengingat kenangan manis bersama kakek neneknya.
Masih tidak menyangka jika tahun lalu adalah terakhir kalinya ia dan kakek neneknya bercanda. Dan sekarang di pertemukan kembali dengan keadaan yang berbeda.
Dering ponsel milik Grace berbunyi membuat Grace membuyarkan lamunannya, ia mengambil ponselnya dan ternyata Daffin sedang menghubunginya melalui video call.
" Hai..." sapa Daffin yang sepertinya baru bangun tidur.
" Kebangun ya?" ucap Grace, ia tertawa kecil saat melihat muka bantal kekasihnya.
" iyaa.. gimana kamu disana?" Daffin mendudukkan tubuhnya dan bersandar pada headboard ranjang.
Seperti biasa, ia tidur tanpa menggunakan atasan.
" Baik baik saja, itu kamu pakek baju dulu napa." ucap Grace karena malihat tubuh Daffin tanpa baju.
" Biarin, kan gak ada yang lihat."
" Aku yang lihat."
" Ya kan ini nanti juga punya kamu." ucap Daffin seketika membuat wajah Grace bersemu merah.
" Apaan sih." Grace memalingkan wajahnya.
Berbincang dengan kekasihnya membuat Grace sedikit melupakan kesedihannya.
Beruntung laki laki itu selalu menghiburnya, menemaninya meski perbedaan waktu yang lumayan lama.
.
.
.
.
Maaf Baru sempet update, lagi sedikit kurang enak badan 🙏🏻