
" Kenapa Zay belum juga ngabarin gue ya?" ucap Grace yang sedari tadi khawatir karena sampai sekarang belum mendapat kabar sama sekali dari Zay.
Padahal papanya bilang jika orang suruhannya sudah bertemu dengan Zay, namun sampai saat ini Zay belum memberinya kabar.
Seperti biasa Grace, Vero dan keempat temennya yang lain berada di Caffe favorite mereka.
" Mungkin dia masih istirahat di apartemen Kiran dan lupa buat ngabarin lo." sahut Grizzele mencoba berpikir positif.
" Gue nyesel napa nyabut kartu sim dia, kalau kayak gini gue juga yang susah. Mana nomor kiran belum bisa dihubungin lagi." gerutu Grace yang mulai sedikit panik.
Sejak tadi Grace mencoba menghubungi nomor kiran namun nomor yang dituju sedang tidak aktif.
" Coba lu minta nomor om Aska sama om reyhan. Pasti dia tau dimana Zay sekarang, kan lu bilang Zay udah dijemput sama tuh orang." sahut Vero, Grace mengangguk paham.
Baru saja Grace mencari nomor papanya, sebuah panggilan dari nomor tidak di kenal masuk kedalam ponselnya.
" Bukankah ini kode telepon negara jerman?" ucap Grace memperlihatkan layar ponselnya pada Vero dan yang lain.
" Iya.. buruan lo angkat." jawab Naya.
" Hallo."
..." Hallo grace, ini gue Zay."...
" ZAYY.. syukurlah lo ngabarin gue, baru aja gue mau telpon papa buat minta nomor om aska. Gimana lo baik baik aja kan?" Ucap Grace dengan perasaan sedikit lega.
..." Gue baik baik aja, tapi--" Zay menggantungkan kalimatnya....
" Tapi apa? kenapa suara lo lemes gini? Kiran maafin lo kan?" tanya Grace beruntun.
..." Kiran mengalami kecelakaan, dan dia ada dirumah sakit sekarang." jawab Zay dengan suara lemas....
" APAA? KIRAN KECELAKAAN? jangan bercanda Zay." ucap Grace dengan keterkejutannya.
Vero dan yang lain pun sama terkejutnya.
" Loudspicker." ucap Vero diangguki Grace.
..." Gue gak bercanda grace, gue lagi dirumah sakit sekarang sama tante Sita dan om Delon." jawab Zay....
" Terus keadaan Kiran gimana Zay? Luka dia bagaimana?" sahut Gibran.
..." Dia terkena Amnesia retrograde, sebagian ingatannya hilang." jawab Zay....
" APA..!!! kompak mereka berenam.
hingga membuat beberapa pengunjung menoleh ke arah meja mereka.
..." Berisik.!! hardik Zay yang mendengar teriakan Grace dan teman temannya....
" Zay bercanda lo gak lucu ya, gue santet lu dari sini." geram Izzam.
..." Gue gak bercanda, dia bahkan gak inget siapa gue." jawab Zay melemas....
" Gue susulin kesana ya, gue tau lo butuh seseorang sekarang." sahut Grace.
..." Gak usah lo di indo aja, gue cuma kasih tau kalau kemungkinan gue sedikit lama disini."...
" Lo sabar ya Zay, gue paham perasaan lo sekarang.
Kita semua disini berdoa supaya Kiran cepet sembuh dan ingatan dia balik lagi." ucap Gibran.
..." Thanks.. gue tutup dulu telponnya....
...Nanti gue hubungin lagi, jaga diri kalian. kalau ada apa apa bubungin gue." ucap Zay....
" Pasti. lu baik baik disana, jaga kesehatan jangan samapi sakit." sahut Vero, setelah itu Zay mematikan sambungan teleponnya.
Grace terdiam, ia ingin sekali menyusul Zay kesana memberi semangat pada saudara kembarnya.
Ia tau bagaimana perasaan Zay saat ini, di tengah usahanya meminta maaf justru kenyataan lebih pahit datang padanya.
" Gue tau apa yang lo rasain, gue yakin Zay pasti bisa melawati cobaannya ini." ucap Naya mengusap punggung Grace.
Grace mengangguk, ia berharap semoga Kiran cepat sembuh dan ingatannya kembali pulih.
Grace memincingkan matanya saat melihat dua orang perempuan yang baru saja memasuki cafe.
Wajah salah satu perempuan itu sangat tidak asing baginya, seperti pernah bertemu tapi dimana?.
Mata grace langsung membulat saat ingat jika salah satu perempuan itu adalah calon istri Daffin alias Angel. Tapi anehnya kali ini angel tidak memakai kursi roda, ia justru bisa berjalan sempurna tanpa bantuan apapun.
Ia juga memakai hak tinggi saat berjalan.
" Cih.. bener bener ular, pantes tante elsa gak setuju." gumam Grace menatap dua wanita yang duduk di meja belakangnya.
" siapa yang lu maksud?" tanya Grizzele.
" ssstt... Nay lu pindah sini, gue duduk disitu." ucap Grace dengan suara pelan.
" Ada apa sih?" sahut Izzam yang tidak mengerti ada apa dengan grace.
" Ssstt jangan kenceng kenceng ngomongnya. Nay buruan." ucap Grace di angguki Naya.
Mereka pun langsung bertukar tempat duduk.
Grace ingin mendengar apa yang sedang di bicarakan oleh Angel dan temannya.
Grace dengan sigap mengeluarkan ponselnya dan mencari aplikasi perekam suara.
Siapa tau Angel akan berkata sesuatu yang akan menjadi bukti kelicikannya.
Mereka bingung namun tetap menurut.
" Lo gak takut ketauhan sama Daffin." tanya Lisa teman Angel karena angel tidak memakai kursi rodanya.
Ia khawatir jika tiba tiba ada Daffin di sekitar sini dan mempergoki angel yang bisa keluar tanpa menggunakan kursi roda.
" Ngapain takut? dia gak akan tau kalau gue ada disini. lagian dia bilang sibuk di kantor." jawab Angel dengan tenangnya.
" Siapa tau dia tiba tiba muncul disini dan memepergoki lu keluar tanpa kursi roda." ucap Lisa.
" Kan gue udah bilang dia lagi sibuk di kantor." jawab Angel. " lagian gue capek pakek kursi roda terus, kalau bukan karena pura pura di depan Daffin dan keluarganya udah gue buang tuh kursi roda." sambungnya dengan kesal.
" Jangan bilang lu juga bohong soal dia udah nodain lu?" tuduh Lisa memincingkan matanya.
" hahahaa.. lu tau aja, ya kali gue ngasih keperawanan gue sebelum kita sah. Bisa di amuk gue sama papa." jawab Angel sambil tertawa.
" Jadi beneran lu belum di apa apain sama Daffin?"
" Belum, malam itu gue cuma nyopotin bajunya doang terus gue tidur di sebelahnya. udah gitu doang.
Tapi paginya gue pura pura nangis kalau dia udah ngapa ngapain gue." jawab Angel.
" Tapi mamanya Daffin ngajak lu ke rumah sakit buat tes keperawanan lu."
" Tenang aja, gue gak akan mau datang kerumah sakit."
" Lu bener bener gila, ngapain sih maksa diri buat di nikahin Daffin, dia nya aja gak cinta sama lo."
" Lu gak tau sekaya apa si Daffin, hanya dengan cara ini agar si Daffin cepet nikahin gue dan gue jadi nyonya besar di keluarga Gunandra." jawab Angel dengan seringainya.
Lisa menggelengkan kepalanya, dari dulu sifat sahabat ya ini tidak pernah berubah, selalu mencari laki laki kaya untuk dijadikan ATM berjalannya.
" Terserah lo, awas kena karma." ucap Lisa memperingati.
" Lo doain gue?" sahut Angel dengan sinis.
Lisa menaikan bahunya acuh.
Grace tersenyum smirk, tidak sia sia ia merekam percakapan Angel dan temannya. Grace tersenyum senang, ia akan memberikan bukti rekaman itu pada Daffin.
Ternyata dugaan tante elsa selama ini benar jika Angel hanya ingin harta Daffin saja dan lebih parahnya Angel membohongi keluarga Daffin dengan pura pura masih lumpuh dan sudah ternoda.
Tak lama Angel dan Lisa keluar dari Caffe, namun sebelum angel benar benar pergi ia memvidio Angel yang sudah bisa berjalan.
" Rasain lu, sebentar lagi kebohongan lu akan terbongkar." guman Grace dengan seringainya.
" sekarang jelasin sama kita, siapa dua wanita tadi dan kenapa lu merekam mereka?" tanya Naya di angguki yang lain kecuali Vero, karena Vero memang sudah tau semuanya.
Grace menceritakan semuanya pada teman temannya.
Mereka setuju dengan apa yang dilakukan Grace, karena jika dibiarkan akan kasihan pada pak Daffin yang harus menikahi wanita ular seperti angel.
" Terus hubungan lo sama pak Daffin gimana?" tanya Grizzele.
" Sudah membaik." jawab Grace tersenyum malu.
" Pantes sekarang senyam senyum mulu waktu kelasnya pak Daffin." cibir Naya.
" Apaan sih, orang gue biasa aja." elak Grace dengan wajah memerah.
" Muka lo aja udah kek tomat busuk, masih mau ngelak." sahut Grizzele, Grace mendengus kesal.
Grace tidak lagi menanggapinya, ia memilih menghubungi Daffin dan memintanya untuk bertemu.
" Kamu dimana?" tanya Grace saat sambungannya terhubung.
..." Di kantor, kenapa? kangen?" jawab Daffin tertawa kecil....
" aku mau ketemu sama kamu, ada yang mau aku tunjukin sama kamu." jawab Grace.
..." Kamu datang saja ke kantor nanti assistenku akan menjemput kamu di lobi." jawab Daffin....
" Baiklah aku akan kesana sekarang." jawab Grace lalu mematikan sambungan teleponnya.
" Mau kemana lu?" tanya Vero mencekal tangan Grace.
" Ketemu sama Daffin, lu pulang aja dulu." jawab Grace sambil memasukkan barang barangnya kedalam tas.
" Dih.. udah bucin ternyata." cibir Naya.
" Jangan malem malem pulangnya." sahut Vero diangguki Grace.
" Kamu kenapa berisik sekali sih sayang, bucin atau enggak itu urusan gue. makanya buruan cari pacar."ucap Grace sambil mencubit gemas pipi Naya.
" Sakit Oneng." kesal Naya melepas tangan grace dari pipinya.
" dah gue berangkat dulu. Bye." ucap Grace lalu pergi meninggalkan Vero dan teman temannya.
Tak lama Vero dan yang lain juga ikut pergi karena sudah terlalu lama di caffe.
.
.
.
.
Angel!! tamatlah riwayatmu 😂