
Jerman...
Sementara itu disebuah Apartemen, sepasang suami istri itu baru saja selesei melepaskan rasa rindu yang cukup lama mereka pendam. Zay yang tak membiarkan Kiran istirahat barang satu menitpun, mereka terus melakukannya hingga Zay cukup merasa puas dan istrinya yang sudah lemah tak berdaya.
( gak usah di bayangin. awas aja kalian. hhh )
Zay menompang kepalanya dengan satu tangan dan menatap istrinya yang tengah terlelap. Ia menyampirkan anak rambut istrinya itu ke belakang telinga, lalu diusapnya pipi itu dengan lembut dan penuh sayang.
Rasa rindu yang cukup lama ia pendam kini terbayarkan dengan menatap wajah cantik istrinya. Ia benar benar berjanji setelah pendidikan Kiran selesei, ia tidak akan hidup berjauhan lagi dengan istrinya. Dan setelah pendidikan Kiran selesei, ia akan memikirkan untuk segera mempunyai momongan.
___
" Kamu udah jadi milik aku seutuhnya, aku gak akan ngebiarin laki laki lain mendekati kamu." gumam Zay sambil menatap lembut wajah damai istrinya.
Zay mengecup kening istrinya lalu memunguti pakaian yang tergeletak di lantai, kemudian memakainya.
Ia berjalan keluar kamar dan menelfon Meysa untuk datang ke Apartemennya.
" Kesini sekarang." ucapnya dengan singkat lalu mematikan sambungan teleponnya.
Tak lama kemudian terdengar bel pintu Apartemen berbunyi, Zay berjalan santai kearah pintu lalu membukanya.
" Ada yang bisa saya bantu tuan?" ucap Meysa dengan sopan.
" Pastikan laki laki yang mendekati istriku tadi tidak lagi mendekatinya. Aku tidak ingin mendengar laporan ada laki laki yang mendekati istriku lagi. Jika sampai itu terjadi, kau yang akan menanggung akibatnya." ucap Zay membuat wanita itu menelan ludahnya susah payah.
Bukan hal sulit untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh Zay, karena biasanya dirinyalah yang selalu membuat jarak aman antara Kiran dan teman laki lakinya. Namun cara bicara Zay yang dingin membuat dia bergidik ngeri, karena apa yang sudah Zay ucapkan adalah sesuatu yang harus di lakukan tanpa salah sedikitpun.
" Baik tuan. Saya akan lebih berindak tegas pada teman laki laki nona." ucap Meysa tanpa ragu sedikitpun.
" Selama ada aku disini, kamu boleh berlibur. Gunakan waktumu untuk menikamati suasana di kota ini. Tapi jika aku membutuhkan sesuatu, kau harus datang dengan cepat." ucap Zay, Meysa mengangguk paham.
" Baik tuan, terimakasih." balas Meysa dengan menundukkan kepalanya.
" Kau boleh pergi sekarang."
" Baik. Saya permisi dulu." ucap Meysa lalu ia berjalan keluar apartemen.
Zay mendudukkan bokongnya di sofa, ia menyandarkan tubuhnya lalu mendongakkkan kepalanya menatap langit langit.
Baru saja ia memejamkan matanya, sebuah tangan kecil nan lembut melingkar sempurna di lehernya.
Hembusan napas yang terasa hangat menerpa wajahnya dan membuatnya sedikit memutar lehernya menatap wajah perempuan yang tadi terlelap.
" Kenapa bangun?" Zay menarik tangan Kiran agar ia duduk disanpingnya.
" Gak ada kamu disamping aku." jawab Kiran dengan manja, ia menyenderkan kepalanya di lengan Zay dan menautkan kedua tangan mereka.
" Ayo ke kamar." ajak Zay yang sudah berdiri lalu diikuti Kiran dengan menggenggam tangan suaminya.
*********
Indonesia...
Devano membanting pintu kamarnya dengan keras, ia masih merasa kesal dengan jawaban yang diberikan oleh Freya kepadanya. Padahal setau dia, wanita manapun akan senang jika dikasih kepastian dalam menjalin hubungan. Tapi Freya? gadis itu malah lebih memilih hubungan yang tidak jelas dari pada harus mengubah status mereka menjadi sepasang kekasih.
Grace yang saat itu keluar dari kamarnya mendengar Devan menutup pintu dengan keras, ia langsung berjalan ke arah kamar adiknya lalu mengetuk pintu kamar itu.
toookkk.. toookk.... toookk..
" Devan ini kakak, buka pintunya." teriak Grace dan tak lama Devan membuka pintu kamarnya.
" Ada apa kak?" ucap Devan dengan nada dan tatapan datar.
Grace sampai mengernyit bingung, ada apa dengan adik bungsunya ini?.
" Lu kenapa? ada masalah?" tanya Grace namun dibalas Devan dengan gelengan.
" Kalau gak ada masalah lu gak mungkin ngomong sama natap gue dengan datar kek gitu. Ngomong sama gue, Lu kenapa?" ucap Grace, namun Devan malah berjalan masuk ke kamar.
" Kenapa?"
Kini keduanya duduk berdua di kursi balkon dengan Grace duduk menghadap Devano.
" Emang ada ya kak cewek yang gak seneng kalau di kasih kepastian?" tanya Devan menoleh pada kakaknya.
" Maksud lu?" Grace masih belum mengerti arah pembicaraan adiknya ini.
Devan mengela napasanya lalu berkata. " Freya." ucap Devan dan Grace kini mengangguk paham.
" Jadi masalah lu sama Freya?" Devan memgangguk sebagai jawaban.
" Gue bingung harus bersikap kek gimana sama Freya?
Kita memang bukan pasangan kekasih, tapi kita udah komitmen untuk saling jaga hati masing masing. Tapi bukan berarti dia seenaknya deket sama cowok lain. Gue punya hati yang bisa aja cemburu, tapi cemburu gue gak ada alasan karena bagaimanapun status gue sama dia masih cuma temen." ucap Devano dan Grace mengangguk paham. ia mengerti apa yang di rasakan oleh adiknya ini.
" Lu udah nyoba ngomong sama dia?"
" Udah, tapi respond dia kek gitu mulu." jawab Devan.
" Mungkin dia masih ragu buat nerima lu jadi cowoknya. Gue udah ngomong berkali kali sama lu, yakinin dia kalau lu emang laki laki yang pantes untuk dia."
" Gue kurang pantes gimana sih kak? Kurang besar apa coba rasa cinta dan sayang gue buat dia? Masa dia gak bisa lihat ketulusan gue sih? kita berteman juga udah dari orok sampe segede ini, jadi mustahil banget kalau dia masih ngeraguin ketulusan cinta gue." ucap Devano dengan kesal.
" Lu gak akan bisa tau apa yang ada dalam hati dia, meskipun kalian udah berteman lama. Hati gak bisa dipaksain dek. Justru lu harus tau dulu gimana isi hati Freya, bisa jadi dia memang nyaman berteman sama lu dari pada harus menjalin hubungan pacaran sama lu." Grace menjeda kalimatnya.
" Lu tau kan orang pacaran gak selamanya akan berjalan mulus? banyak batu kerikil yang akan kalian hadapi nanti. Dan banyak banget kemungkinan kalian bisa putus kalau kalian gak bisa melewati setiap masalah yang akan kalian hadapi nanti."
" Dan lu bisa bayangin gimana nanti kalau kalian putus tapi kalian masih ingin tetep jadi sahabat. Semuanya gak akan sama kayak awal. pasti ada rasa canggung dari dalam diri masing masing. Dan mungkin karena hal itu Freya gak ingin ada status di antara kalian.
Dia hanya meminimalisir segala kemungkinan yang terjadi di masa depan nanti. Dan lu sebagai cowok harus mengerti dia." ucap Grace panjang lebar.
" Tapi gue gak bisa lihat dia deket sama cowok lain kak. Setidaknya gue bisa larang dia buat deket sama cowok lain kalau kita berstatus pacar." lirih Devan dengan menundukkan kepalanya.
" Dek, dengerin kakak." Grace meraih kedua pundak Devan dan mereka saling berhadapan.
" Gak harus jadi pacar dulu untuk kamu ngelarang Freya buat deket sama cowok lain. Lu bisa ngomongin ini baik baik sama Freya. Lu juga harus bisa bersikap dewasa, gak semua yang lu lihat itu salah di mata lu."
" Sekarang gak usah kesel atau marah lagi, semua ini hanya salah paham diantara kalian berdua. Jadi kakak mau, besok kamu selesein masalah kamu sama dia. Kamu cowok jadi kamu harus mempunyai sikap dewasa. Oke." ucap Grace dibalas anggukan oleh Devano.
" Good boy." Grace menepuk pucuk kepala Devan dan membuat sang empu mendengus kesal.
" Makasih ya kak, udah nasehatin Devan. Gue bener bener beruntung mempunyai kakak dan bang Zay yang selalu ada buat Devan." Devan memeluk tubuh Grace dan wanita itu membalasnya.
" Sama sama dek. Kita kan bersodara, jadi jika salah satu dari kita ada yang punya masalah sebisa mungkin untuk saling memberi masukan dan support satu sama lain." jawab Grace.
" Kakak emang terbaik." Devan melepas pelukannya dan membenru dua jempol pada Grace dan membuat wanita itu terkekeh.
" Yaudah, dari pada kesel kesel gak jelas gini, mending kita ngemall aja. Udah lama gue gak ke mall. Kita ajak Vero sama El juga. Gimana?" usul Grace diangguki Devan dengan antusias.
" Let's go kak." ucap Devan, ia langsung berdiri diikutu Grace yang juga ikut berdiri.
" Kamu siap siap. Kakak juga mau siap siap dulu." ucap Grace diangguki Devan.
" Siap tuan putri." jawab Devan sambil memebri hormat.
Grace terkekeh geli lalu berjalan keluar kamar Devan.
.
.
.
.
🌻