
Setelah pertemuan Grace dan Alicia hari itu, Grace benar benar melarang Daffin agar tidak terlalu sering bertemu dengan Alicia dan juga Catherine. Ia sangat khawatir jika Catherin kekasih Alicia itu mempengaruhi calon suaminya dan membawanya ke jalan yang salah.
Meskipun besar kemungkinan jika Daffin tidak akan terpengaruh oleh wanita itu.
Kini hari pernikahan mereka semakin dekat, tak terasa tinggal beberapa minggu lagi mereka akan melangsungkan ijab qobul dan juga pesta pernikahan.
Beberapa hari yang lalu keduanya sudah melakukan Fitting baju yang akan di desain langsung oleh Salwa. Kiran yang berada jauh di Jerman hanya memasrahkan semuanya pada Salwa, dan beruntung ukuran tubuh Kiran tidak beda jauh dengan Grace. Jadi ia memakai bentuk tubuh Grace untuk mendesin baju yang akan di gunakan oleh Kiran.
Sementara itu, Zay akan memberi kejutan pada istrinya, ia akan terbang ke jerman untuk menemui wanita yang sangat di rindukannya itu. Padahal Luna maupun Reyhan sudah mengatakan jika nanti saja kesana sekalian membawa Kiran pulang ke indonesia. Tapi laki laki itu tidak menghiraukannya, ia terlanjur rindu dengan istrinya itu. Dan kedua orang tua Zay hanya bisa pasrah, terserah apa yang ingin putranya lakukan.
Zay memberi kabar pada Meysa jika dirinya akan terbang ke Jerman, ia memberi pesan agar jangan memberi tahu istrinya jika dirinya akan kesana. Biarkan ini menjadi kejutan kecil untuk wanita itu.
Pesawat yang di tumpangi Zay sudah mendarat di bandara internasional Berlin.
Zay menginjakkan kakinya menuruni anak tangga pesawat setelah beberapa jam penerbangan.
Perjalanan yang jauh sama sekali tidak membuatnya lelah.
Justru semangatnya bertambah kali lipat untuk segera sampai di tempat tujuan dan ingin segera bertemu dengan Istrinya.
____
" Selamat datang kembali tuan Zayyan." ucap Aska yang bertugas menjemput Zay.
ini adalah kali kedua Zay menginjakkan kakinya kembali di Jerman setelah kejadian saat itu.
" Panggil Zay aja om." balas Zay lalu Aska mengangguk kecil.
" Apa kita langsung ke apartemen nona Kiran?" Zay menggeleng sebagai jawaban.
" Kita ke tempat ini." Zay menyodorkan ponselnya dan memberikan alamat tempat yang akan ia tuju.
" Kafe?" Zay mengangguk.
" Istriku ada disana." ucap Zay lalu Aska mengangguk paham.
Zay menanyakan pada Meysa dimana istrinya berada? dan wanita itu mengatakan jika istrinya sedang berada di Kafe bersama dengan Sandy. Meysa sudah menceritakan semuanya pada Zay tentang Sandy, dan dimana laki laki itu terus menerus mencoba mendekati Kiran meskipun Kiran sudah mengatakan jika dirinya sudah menikah.
****
Kiran masih fokus pada layar laptopnya, ia berkali kali mengabaikna Sandy yang terus saja mengajaknya berbicara. Tugas yang belum kelar membuatnya harus segera ia seleseikan, karena satu minggu lagi ia harus kembali ke Indonesia untuk melangsungkan pesta pernikahannya.
" Ran..." panggil Sandy.
" hm." Kiran menjawab tanpa menoleh ke arah Sandy.
" Ran, lihat aku bentar." ucap Sandy membuat Kiran mendengus pelan. Ia mendongakkan wajahnya menatap Sandy.
" Apa?"
" Aku... a-aku suka sama kamu." ucap Sandy membuat kedua mata kiran membulat sempurna.
" Sandy!! berapa kali aku harus bilang sama kamu kalau aku sudah menikah? jadi aku mohon, jangan berharap lebih sama aku." ucap Kiran menatap Sandy dengan lelah. Ia lelah karena berkali kali ia harus mengatakan pada Sandy jika dirinya sudah menikah, namun laki laki itu tetap saja kekeh pada pendiriannya.
" Ran, cincin itu gak bisa ngebuktiin apa apa. Kamu bisa membelinya sendiri untuk hiasan jari tangan kamu. Dan aku yakin kamu bilang gitu karena kamu ingin menghidariku kan?" Kiran geleng geleng kepala mendengar perkataan Sandy. Bagaimana bisa menikah dijadikan alasan untuk menghindari seseorang? karena pada kenyataannya dirinya memang sudah menikah, dan itu bukan suatu alasan untuk menghindari laki laki seperti Sandy.
" Apa ini sudah cukup membuktikan jika wanita di hadapanmu memang sudah menikah?" sebuah tangan meletakkan dua buku nikah dan satu undangan yang memang sengaja ia bawa.
Kedua orang itu menoleh dan mendapati Zay kini tengah berdiri di hadapan mereka. Zay menatap datar ke arah Sandy hingga membuat laki laki itu langsung berdiri.
" Sayang." Kiran juga ikut berdiri dan langsung memeluk tubuh suaminya.
Zay tersenyum manis lalu mengecup kening istrinya.
" Bagaimana? masih belum cukup untuk meyakinkanmu jika wanita ini sudah memiliki suami?" Zay berkata dengan nada dingin, sedangkan laki laki itu terlihat jelas jika dirinya tengah kecewa.
" Aku udah berulang kali memberi tahumu jika aku sudah menikah, tapi kamu tidak percaya. Maafkan aku jika aku mengecewakanmu." ucap Kiran sedikit menundukkan kepalanya.
Pupus sudah kesempatan untuk mendapatkan hati Kiran, wanita itu benar benar sudah menikah. Padahal ia sudah sangat lama menyukai wanita itu, tapi apa daya? dirinya sudah kalah sebelum berperang.
___
" Kamu kenapa datang kesini? satu minggu lagi aku akan pulang." ucap Kiran. Ia menyederkan kepalanya pada lengan suaminya.
" Emang aku gak boleh menjenguk istriku sendiri?" Zay menjawab dengan datar. Kiran menegakkan tubuhnya dan menatap Zay dengan alis bertaut.
" Kamu marah sama aku?"
" Haruskah aku menjawab iya sedangkan kamu sendiri sudah tau jawabannya." Zay menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Ada rasa cemburu saat melihat istrinya berduaan dengan laki laki lain di Kafe, meski di meja lain ia melihat Meysa yang terus mengawasi keduanya.
" Kamu cemburu?" Kiran menahan senyumnya saat melihat raut kesal wajah suaminya.
" Enggak." jawab Zay sambil memalingkan wajahnya.
" Bilang cemburu dong." Kiran menoel dagu Zay membuat laki laki itu semakin membuang muka.
" Please bilang cemburu, jarang jarang kan lihat orang seperti kamu ini cemburu sama aku. Biar gak aku doang yang kamu bikin cemburu." ucap Kiran yang sukses membut Zay menatapnya datar.
" Gak usah dibahas lagi, dia sudah meninggal." ucap Zay membuat Kiran mencebikkan bibirnya.
" Yaudah sekarang bilang cemburu dong." ucap Kiran dengan wajah di buat seimut mungkin.
" Enggak."
" Iya."
" Enggak."
" Iyaa."
" Iya sayang iya, aku cemburu sama laki laki tadi. aku cemburu kamu berduaan di Kafe sama dia. Dan aku gak suka melihatnya." ucap Zay membuat Kiran terdiam dengan senyum mengembang.
" Aaaahhhhh... Akhirnya aku dicemburui juga sama suamiku." Kiran merangkul lengan Zay lalu menyandarkan kepalanya.
" You are my wife, you are mine. So, no other man should approach you except me." Kiran mengangguk paham.
" Ayo pulang." Zay berdiri dan menarik pelan tangan istrinya.
" Tugas aku?" Kiran menunjuk laptop yang masih menyala.
" Di lanjut nanti, aku udah kangen banget sama kamu." ucap Zay setelah menutup laptop milik Kiran.
" Meysa, bawa barang barang kita." ucap Zay pada Meysa.
" Baik tuan."
Kiran tersenyum senang lalu keduanya berjalan keluar Kafe diikuti Meysa di belakangnya.
.
.
.
.
.
🌻🌻🌻