
Devano melangkahkan kakinya masuk kedalam sebuah Kafe, disana sudah ada teman temannya yang sudah menunggu kedatangannya. Dengan gaya yang terlihat sangat cool, Devan mengedarkan pandangannya mencari keberadaan teman temannya.
Setelah melihat wajah temannya, ia langsung berjalan menuju meja yang berada di sudut ruangan.
Banyak kaum muda yang kagum melihat ketampanan seorang Devano, entah kenapa hari ini Devan terlihat sangat keren dan juga tampan. Meski kesehariannya dia selalu terlihat tampan, namun kali ini berbeda. Aura yang dia pancarkan terlihat lebih cerah.
sreekk..
" Akhirnya tuan muda Devano sudah datang." ucap Nathan saat Devan menarik kursi di sebelah Freya.
" Macet?" tanya El dibalas gelengan oleh Devan.
" Bentar - bentar!! Nih gue perhatiin hari ini, kok lu kelihatan lebih cerah? Ada apaan nih?" sahut Nathan namun Devano hanya menatapnya malas.
" Lu kebangetan jadi temen, aura gue dari dulu emang gini. Lu nya aja yang baru nyadar." jawab Devano membuat Nathan memutar bola matanya malas.
" Gue tarik ucapan gue" ucap Nathan dan Devan hanya menggedikkan bahunya acuh.
Bukan Nathan aja yang merasa penampilan Devano lebih keren, tapi Freya juga menyadari itu. Bahkan menurut Freya, hari ini Devan lebih cuek dengannya. Jika biasanya Devan akan langsung menyapa atau menggodanya, namun kali ini dia terlihat biasa saja. Menyapapun tidak. Entahlah, mungkin hanya perasaan Freya saja.
" Dev." panggil Freya.
" hm?" Devan menoleh kearah Freya dengan mengangkat sebelah alisnya.
" Kenapa?" tanya Devan karena Freya tidak kunjung berbicara.
" Gapapa." jawab Freya lalu memalingkan wajahnya.
Melihat gelagat yang di tampilkan Freya dan Devan, ketiga temannya itu mengira jika Devan dan Freya sedang bertengkar. Padahal Freya sendiri tidak tau ada apa dengan Devan.
" Kalian kenapa?" tanya Rissa menatap Devan dan Freya bergantian.
" Gapapa." jawab Devan dan Freya bersamaan.
" Kalian berantem?"
" Tidak." lagi lagi menjawab dengan kompak.
" Kenapa pada diem dieman?"
" Nggak juga." lagi dan lagi mereka menjawab kompak. Bahkan kali ini keduanya saling tatap lalu sama sama membuang muka.
Rissa mendengus kesal jika ada salah satu dari mereka yang sedang bertengkar. Pasalnya nongkrong tidak akan seru jika ada suasana hati yang sedang buruk.
" Kalian tuh kenapa sih? Devan, lu kenapa?" tanya Rissa pada Devano, namun laki laki itu hanya menggelengkn kepalanya.
" Freya, Lu juga kenapa?"
" Emang gue kenapa?" jawab Freya yang justru semakin membuat Rissa bertambah gregetan.
" Jangan sampe nih jus tumpah di kepala kalian masing masing ya." geram Rissa sambil mengangkat segelas jus miliknya.
" Buruan katakan!! ada apa dengan kalian." desak Rissa membuat Devan mendengus kesal.
" Ikut gue." Devano menarik pelan tangan Freya hingga membuat gadis itu berdiri.
" Mau kemana kalian." sahut El.
" Urusan rumah tangga." jawab Devan lalu menarik tangan Freya menempati meja kosong yang agak jauh dari teman temannya.
Freya duduk setelah Devan menarik kursi untuknya. Ia sungguh tidak mengerti ada apa dengan Devan hari ini. Sikapnya yang tadi cuek sekarang perhatian membuatnya susah menebak apa yang ada di dalam hati Devano.
" Lu kenapa sih dev? gak jelas tau gak." Freya menyilangkan tangannya di depan dada dengan wajah yang kesal.
" Lu ngingkari komitmen kita?" tanya Devan to the point. Kening Freya berkerut, ia tidak mengerti apa yang dimaksud dengan Devan.
" Haaa? maksud lu apaan? gue gak ngerti." jawab Freya.
" Kemarin gue lihat lu pergi sama cowok, siapa dia?" ucap Devan membuat Freya sedikit kaget.
Ia tidak menyangka jika Devan melihatnya kemarin.
" Jawab!!" ucap Devan dengan nada dingin.
" Temen gue Dev. Kemarin, mobil yang gue bawa mogok, dan kebetulan ada temen gue yang mau nganterin pulang. Yaudah gue ikut dia sekalian." jawab Freya yang merasa bersalah.
" Lu punya ponsel kan? lu bisa telfon gue buat jemput lu. Sesibuk apapun gue, gue akan selalu prioritasin elu." ucap Devano.
" Maaf, gue gak kepikiran." lirih Freya menundukkan kepalanya.
" Bener kata bang Zay, status dalam sebuah hubungan itu penting. Kita gak bisa menjamin orang itu setia pada komitmennya atau enggak." Devan menarik napas dalam.
" Sekarang gue akan tanya sekali lagi dan ini akan jadi pertanyaan yang terakhir gue." Freya mendongakkan wajahnya menatap Devan yang sedang dalam mode serius itu.
" Lu mau jadi pacar gue, atau nerusin hubungan yang kayak gini?" ucap Devan membuat Freya sedikit tersentak.
" Lu gak percaya sama gue?" Freya menatap Devan dengan wajah yang sulit diartikan.
" Frey, gue gak mau menjalani hubungan yang gak jelas kayak gini. Gue terlalu sayang sama elu Frey. Dan gue gak mau lu seenakknya deket sama cowok lain." ucap Devan.
" Kemarin kemarin lu udah gak ngungkit masalah ini, kenapa sekarang lu ungkit lagi?"
" Jadi lu mau hubungan gak jelas kayak gini?"
" Bukan gitu maksud gue Dev. Gue---"
" Oke terserah elu." Devan berdiri, ia hendak pergi namun tangannya di cekal oleh Freya.
" Lu mau kemana?"
" Peduli apa lo." Devan menghempas tangam Freya lalu berjalan keluar Kafe.
" DEVAN.. DEVANO." teriak Freya namun devan terus berjalan keluar Kafe.
Freya menatap punggung Devan yang sudah menghilang di balik pintu, ia dengan jelas melihat kepergian mobil Devan yang melesat dengan cepat. Ketiga temannya yang dari tadi memperhatikan dari kejauhan berjalan mendekati Freya. Mereka bertiga tidak tau masalah apa yang dialami Freya dan juga Devano.
" Frey?" Rissa merangkul pundak Freya yang bergetar.
Ya, freya menangis. Ia merasa egois dalam hal ini.
" Ada apa?" tanya Rissa.
" Devan marah sama gue." jawab Freya yang masih terisak.
" Kenapa? kalian bertengkar?" Freya mengangguk sebagai jawaban.
" Masalahnya?"
" Dia kemarin lihat gue diantar pulang sama Bima. Lu masih inget Bima kan? cowok yang bantuin kita pas mobil kita mogok tengah jalan." ucap Freya dan Rissa mengangguk ragu.
Ia ingat kejadiannya namun tidak ingat wajah laki laki itu.
" Terus?"
" Dia marah, dan dia minta kejelasan hubungan kita." ucap Freya semakin terisak.
" Emang lu jawab apa sampe si Devan marah sama lu?" sahut El yang berkata datar pada Freya.
Sssttt.. Rissa menyikut pelan pinggang El karena nada bicaranya pada Freya.
" G-gue--"
" Lu tuh cewek munafik tau gak? kurang apa sih Devan di mata lu? dia beneran sayang dan cinta sama lu. Dia hanya minta kepastian dari lu aja, lu malah ngegantungin dia. Komitmen gak menjamin orang itu tetep setia frey, Dalam hal ini gue gak nyalahin Devan kalau dia marah sama lu. Dan inget, Devan bisa daja cari cewek lain yang lebih dari lu. Jadi jangan sampe lu nyesel." ucap El lalu ia pergi meninggalkan ketiga temannya.
" El.. Elvano.." teriak Nathan namun El terus melangkah keluar.
Freya semakin terisak di pelukan Rissa, ia tidak menyangka masalah kecil seperti ini menjadi besar karena keegoisannya.
" Gue salah ya Riss?"
" Gue gak bisa nyalahin salah satu diantara kalian berdua, karena hubungan gue sama Nathan juga sama kek kalian. Jadi saran gue, lu minta maaf sama Devan. Terserah lu mau merubah status kalian jadi pacaran atau enggak, yang penting gue pengen kalian akur kembali." ucap Rissa dan Freya mengangguk paham.
" Yaudah mending kita pulang aja." sahut Nathan di angguki kedua gadis itu.
.
.
.
.
.
🌻🌻🌻