My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
93.



Daffin mengendari mobilnya dengan kecepatan sedang, melihat pernikahan Zay dan Kiran membuatnya semakin memikirkan Grace.


Dimana kekasihnya itu saat ini? Kenapa dia belum bisa di temukan?"


Mobil Daffin berhenti di lampu merah, ia menatap kedepan dan tak sengaja netra matanya menangkap sosok yang selama ini ia cari dan ia rindukan berdiri di pinggir jalan yang hendak menyeberang.


Matanya membulat saat wanita itu mengok kerahnya dan ternyata adalah Grace.


" G-grace."


Dengan cepat Daffin membuka sabuk pengangamannya dan langsung turun dari mobilnya.


Baru satu kaki yang ia turunkan, justru lampu sudah berganti menjadi hijau.


Pengendara yang berada di belakang mobil Daffin terus menekan bel mereka karena mobil Daffin belum juga jalan dan menyebabkan kemacetan.


Dengan terpaksa Daffin kembali masuk krdalam mobil dan melajukan mobilnya sambil terus melihat arah belok wanita yang di duganya adalah Grace.


Tak jauh dari tempat lampu merah itu, terdapat sebuah mini market. Daffin memarkirkan mobilnya di situ dan langsung berlari kearah belokan yang tadi sempat di lalui Grace.


" Kemana dia? aku yakin tadi itu Grace, aku gak mungkin salah lihat." gumam Daffin sambil menoleh ke segala arah.


" Permisi, apa anda melihat wanita dengan rambut panjang baru lewat sini?" tanya Daffin pada salah satu pejalan kaki.


" Banyak rambut panjang yang saya jumpai tuan, apa mungkin wanita yang anda maksud adalah wanita itu?" jawabnya lalu menunjuk seorang wanita yang tengah berbicara dengan seseorang.


" Ah!! terimakasih." ucap Daffin lalu berlari menghampiri wanita itu.


" Graciella." ucap Daffin menepuk bahu wanita itu.


Wanita itu membalikkan badannya dan ternyata bukan Grace.


" Ah maaf saya salah orang." ucap Daffin sedikit menundukkan kepalanya.


Di belakang Daffin tak jauh dari tempat dia berdiri, Grace baru saja keluar dari apotek. Ia sesaat melihat ke arah Daffin namun Daffin tidak melihat ke arahnya.


Lalu Grace berjalan lurus dan bersama itu Daffin berbalik arah, namun ia sudah tidak melihat Grace.


" Kamu kemana sih Grace? aku sangat yakin, wanita yang aku jumpai tadi adalah kamu." Daffin menjambak rambutnya frustasi.


Dirinya sangat yakin jika wanita yang hendak menyeberang di lampu merah tadi adalah Graciella, kekasihnya.


Tapi kemana wanita itu? kenapa cepat sekali perginya.


Dengan perasaan keal Daffin kembali lagi ke mobilnya sambil terus menoleh kesana kemari barang kali ia bertemu lagi dengan wanita yang di duga adalah Grace.


**


Sementara itu Grace yang memang baru saja keluar dari apotek untuk membelikan obat bu Imah, kini sedang berjalan kaki kembali kerumah.


Sudah beberapa hari ini bu Imah sakit dan tak mampu membawanya untuk berobat kerumah sakit.


Dengan inisiatifnya, Grace mengambil sayuran yang di tanam di kebun belakang rumah bu Imah dan menjualnya ke pasar.


Uang hasil menjual sayuran itu ia belikan obat untuk bu Imah yang sedang sakit.


Hampir 20 menit ia berjalan kaki, akhirnya ia sampai di rumah yang selama hampir empat bulan ini ia tempati.


Jauh? memang. Karena rumah ini berada di pinggiran hutan yang jauh dari pemukiman warga.


" Assalamualaikum, Sesil pulang." ucap Sesil saat memasuki rumah.


" Waalaikumsalam nak, kamu darimana saja? ibu dari tadi mencarimu. Ibu pikir kamu pergi ninggalin rumah ini." ucap Bu imah yang langsung memeluk tubuh Grace yang penuh keringat.


Maklum karena perjalanan yang lumayan jauh membuatnya menjadi mandi keringat.


" Maaf buk, tadi Sesil ngambil sayuran buat di jual di pasar. Terus uangnya Sesil beliin obat ini." jawab Sesil sambil menunjukkan kantong kresek ditangannya yang berisi obat obatan.


" Kamu tidak perlu melakukan ini nak, ibu bisa buat jamu jamuan untuk diri ibu sendiri. Sakit seperti ini memang sudah biasa ibu alami. Tapi ibu berterima kasih banyak karena kamu sudah mau berusaha untuk membelikan ibu obat." ucap bu Imah.


" Sama sama bu, lebih baik ibu makan dulu setelah itu minum obat." ucap Sesil. Ia menuntun bu Imah kembali ke kamarnya setelah itu mengambilkan sepiring makanan lalu menyuapi bu Imah.


" Bapak masih di hutan?" tanya Sesil sambil menyuapi bu Imah.


" Iya, sebentar lagi pasti pulang karena udah siang.", jawab bu Imah.


" Ibu dan bapak jangan terlalu capek, kalian sudah terlalu tua dan tenaga kalian pun sudah tidak seperti waktu muda lagi. Kalian harus banyak istirahat." ucap Sesil. Ia meletakkan piring dan memeberikan segelas minuman untuk bu Imah.


" iya nak, ibu tau. Tapi bagaimana lagi, hanya dengan begitu kami bisa bertahan hidup." ucap Bu imah dengan mata berkaca kaca.


" Kalau begitu izinkan Sesil untui mencari pekerjaan." ucap Sesil dengan yakin.


" Tidak boleh, kamu bisa celaka nanti. Kamu tidak ingat cerita bapak waktu itu. Kecelakaan kamu itu di sengaja, itu artinya kamu masih dalam bahaya. Bagaimana kalau orang orang itu melihatmu dan mengincar nyawamu lagi?." sahut pak Rohim yang baru saja pulang dari hutan.


" Kamu jangan bertindak bodoh nak, bapak tidak apa apa jika lelah seperti ini asal kamu jangan kerja di luar sana. Bapak khawatir orang orang itu masih mencarimu." ucap Pak Rohim mengusap lembut punggung sesil.


" Bapak gak usah khawatir, Sesil bisa menyamar." sahut Sesil.


" Dengerin bapak, bapak mau kamu sembuh dulu. Mengingat masa lalu kamu dulu. Dengan begitu kamu bisa kembali ke keluargamu, jadi kamu tidak perlu bekerja diluaran sana." ucap pak Rohim sambil mencengkeram lembut kedua bahu Sesil.


" S-sebenernya sesil udah ingat semuanya." ucap Sesil dengan kepala menunduk.


" APAA?" Bu imah dan pak Rohim kompak terkejut mendengar pengakuan Sesil.


" Tatap ibu, jadi kamu sudah ingat semuanya? kamu tidak berbohong kan?" ucap Bu imah diangguki sesil.


" Lantas kenapa kamu tidak bilang sama kami berdua?" sahut Pak Rohim.


" Sesil takut jika bapak dan ibu tidak mengizinkan sesil tinggal disini." ucap Sesil menundukkan kepalanya.


" Ya ampun nak, ibu dan bapak tidak mungkin tidak mengizinkanmu tinggal disini. Kami berdua justru senang dengan adanya kamu di rumah ini." ucap Bu imah memeluk tubuh sesil.


" Apa kamu sudah ingat siapa namamu dan keluargamu?" tanya Pak Rohim diangguki Sesil.


" Nama Sesil adalah Graciella Parmadita Wijaya anak dari Aluna wijaya dan Reyhan kusuma." ucap Sesil.


" Kalau begitu tunggu apa lagi? sebaiknya kamu kembali ke keluargamu dan ceritakan semua kejadian yang kamu alami. Ibu dan bapak yakin jika mereka masih mencari keberadaanmu." ucap Bu Imah namun Sesil menggeleng lemah.


" Belum saatnya Sesil kembali bu, orang orang itu pasti mengira jika sesil sudah meninggal. Dan jika Sesil kembali ke keluarga sesil, besar kemungkinan mereka akan mencoba untuk membunuh sesil lagi." ucap Sesil.


" Lantas apa rencana kamu selanjutnya?"


" Sesil ingin mencari tau dulu siapa dalang dari kecelakaan sesil waktu itu, kalau sesil sudah benar benar tau siapa orang itu, sesil akan kembali ke keluarga sesil dan memberikan bukti pada keluarga sesil siapa dalangnya." ucap Sesil.


Saat ini hanya satu nama yang ada dalam pikiran Grace yaitu ANGEL. Hanya wanita itu yang menjadi prasangkanya.


Selama ini Grace tidak pernah mempunyai musuh selain Angel, bahkan sering kali Angel mengancam Grace jika ia akan memberinga kejutan.


Jadi tidak heran jika Grace mengira kecelakaan ini adalah salah satu kejutan yang dimaksud oleh Angel.


" Baiklah terserah padamu, bapak tidak menahan ataupun menyuruhmu pergi dari sini. Jika kamu ingin kembali ke keluargamu kami berdua rela, tapi jika kamu masih ingin tetap disini, kami akan dengan senang hati menerimamu." ucap Pak Rohim.


" Terimakasih pak, buk. Sesil berjanji jika semuanya sudah terungkap dan sesil kembali lagi kerumah. Sesil akan membawa kalian dan mengenalkan kalian ke keluarga sesil." ucap Sesil memeluk keduanya.


" Jadi izinkan sekarang Sesil untuk mencari pekerjaan, bapak dan ibu tidak usah khawatir. Sesil akan menyamar jadi tidak ada yang tau kalau sesil masih hidup." ucap Sesil yang masih berusaha meminta izin untuk di perbolehkan mencari pekerjaan.


" Apa kamu yakin?" tanya Bu imah diangguki Sesil.


" Kalau sesil hanya berdiam diri disini, bagaimana sesil bisa mencari bukti buk? Sesil yakin kok dengan keputusan sesil." ucap Sesil.


" baiklah, kami mengizinkanmu, tapi kamu harus berhati hati. Bapak bener bener khawatir jika penyamaranmu nanti terbongkar." ucap Pak Rohim.


" Bapak tenang aja, Sesil jago kok dalam hal nyamar menyamar." ucap sesil dengan tawa kecilnya.


Pak Rohim dan bu Imah juga ikut tersenyum saat melihat tawa kecil dari Sesil.


Keduanya benar benar sudah menganggap Sesil seperti anak kandung mereka sendiri.


Selama sesil tinggal bersama mereka, rumah yang tadinya sepi kini diisi canda tawa dari Sesil.


Tak heran jika terselip kesedihan jika suatu saat Sesil benar benar kembali ke keluarganya.


Sebenarnya bisa saja Grace kembali kerumah, namun resikonya pasti sangat besar.


Orang orang yang mencoba mencelakainya akan tau jika dirinya masih hidup. Karena ia tahu seberapa besar pengaruh keluarganya pada media.


Itulah yang membuat Grace belum ingin kembali dan memilih untuk mencari bukti sendiri..


.


.


.


.


.


Yaudah nih aku kasih lanjut.


Gimana masih penasaran kelanjutannya gak?🤪


Oh ya btw maaf kalau masih banyak typo. 🙏🏻