My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
113.



Daffin keluar dari kamar Grace setelah memastikan Grace sudah tertidur dengan pulas. Dengan perlahan Daffin menutup pintu kamar Grace dan turun menemui kedua calon mertuanya yang masih setia duduk di ruang tengah bersama Zay dan devano.


" Loh bang Daffin disini? sejak kapan?" ucap devan saat melihat Daffin menuruni anak tangga.


" Sejak tadi." jawab Luna.


" Bagaimana? sudah baikan?" tanya Luna saat Daffin mendudukkan tubuhnya di sofa sebelah Zay.


" Sudah tan, sekarang dia juga sudah tidur." jawab Daffin, Luna manggut manggut.


" Sifat Grace memang masih sangat kekanak kanakan. Jadi kamu harus lebih sabar untuk menghadapinya." ucap Reyhan diangguki Daffin.


" Daffin ngerti kok Om, dan Daffin gak mempermasalahin hal itu. Pelan pelan nanti Daffin akan merubah sifat Grace agar tidak terus terusan seperti ini." ucap Daffin, Luna dan Reyhan mengangguk setuju.


" Dia terlalu dimanja di keluarga ini, jadi gue harap lu makhlumi kalau perubahan dia akan nampak sedikit demi sedikit." sahut Zay, dan Daffin mengangguk paham.


" Bang Daffin cowok hebat ya? ceweknya ngambek aja langsung dateng buat nyelesein masalahnya. Beda lagi kalau gue, Freya ngambek malah gue tinggal main Game. hahaha." ucap Devan dengan tawanya.


" Emang kamu udah jadian sama Freya?" tanya Luna dibalas gelengan kepala oleh Devan.


" Belum ma. Freya gak mau terikat kontrak sama Devan. Katanya, kalau kayak gini aja bisa panggil sayang ngapain harus jadian? Lagian kita udah sama sama komitmen buat jaga hati masing masing." ucap Devan membuat yang lain geleng geleng kepala.


" Kalau salah satu dari kalian ada yang suka sama orang lain gimana?" Luna menyilangkan kaki dan tangannya lalu menatap Devano.


" Ya gapapa, pokoknya Freya nanti harus nikahnya sama Devano, gak boleh sama yang lain." jawab Devano dengan santai. Luna dan Reyhan geleng geleng kepala melihat putra bungsu mereka.


Sifat Devano ini benar benar turunan dari kedua orang tuanya. Jika sifat Luna menurun pada Grace, dan Sifat Reyhan menurun pada Zay, maka Sifat Devano ini perbaduan antara sifat Luna dan Reyhan.


" Aturan dari mana itu? sama aja lu memaksakan kehendak lu sendiri. Kalau si Freya udah nyaman sama cowok lain, lu harus relain dia dan lu gak boleh egois." ucap Zay membuat Devan menoleh padanya.


" Kok gitu?" tanya Devan dengan raut wajah tidak terima.


" Ya memang harus begitu. Itulah pentingnya status dalam sebuah hubungan. Jika hanya dengan komitmen aja setiap orang pasti akan bisa mengingkarinya, karena hanya sekian persen dari orang bisa berpegang teguh pada komitmen yang dia buat.." Jawab Zay membuat kening Devan berkerut.


Benar apa yang dikatakan oleh abangnya. Jika nanti Freya berpaling hati dengan yang lain, mungkin Freya akan lebih memilih laki laki yang buat dia nyaman dari pada dirinya. Karena dirinya dan Freya tidak terikat hubungan apa apa selain pertemanan dengan sebuah komitmen. Dan siapapun bisa mengingkari komitmen itu.


" Minta kejelasan bubungan lu sama Freya lah? Kalau dia tetep gak mau punya status sama lu, berarti dia ada seseorang buat jadi pilihan berikutnya setelah elu." ucap Zay santai namun mampu membuat kedua mata Devan membola sempurna.


" Jangan ngadi ngadi lu bang, Freya gak ada deket sama cowok lain kecuali gue sama nathan. Dan gak mungkin juga Freya suka sama cowok lain." jawab Devan dengan raut wajah kesal.


" Lagian cowok mana yang bisa memikat hati si Freya? gak ada di bumi ini cowok ganteng selain gue. Cuma gue cowok ganteng pertama dan itu stok terakhir. Gak ada lagi yang bisa bikin produk dan hasilnya melebihi kegantengan gue." ucap Devan dengan PD dan gaya songongnya dan membuat keempat orang yang ada di situ benar benar di buat geleng geleng mendengar perkataan Devano.


" Anak kamu tuh pa. PD nya sama persis kek kamu." Cibir Luna.


" Dan sialnya yang di ucapkan Devano memang benar adanya. Dia bilang gitu karena dia memang tampan, dan dunia mengakui itu." hawab Reyhan lalu kedua anak dan papa itu bertos ria.


" Ini baru papa gue." ucap Devan tersenyum bangga.


" Mana yang pegel pa? biar Devan pijitin sini." ucap Devan sambil memijit lengan papanya.


" Gak anak, gak bapak, sama aja. Gak ada yang bener tuh otak." ucap Luna dan ketiga orang itu menatap Reyhan dan Devan dengan malas.


Setelah percakapan random malam itu, Daffin pamit pulang karena malam semakin larut.


Ia akan kembali lagi besok untuk menjemput Grave dan membawanya ke apartemen Alicia.


.


.


.


.


.


Gak usah berat berat konflikya, dikit dikit yang penting ceritanya gak garing. Nanti kalau aku bikin konflik berat dan panjang, kalian pada ngamuk lagi. 😂😂


Mau di tes? 😂