My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
39.



Tanpa Zay dan Oliv sadari, Dari kejauhan didalam sebuah mobil, terlihat sepasang mata sedang mengawasi mereka.


Ia tidak sengaja melihat mobil Zay yang terparkir di sebuah taman.


Ia mengedarkan pandangannya dan melihat Zay bersama wanita yang ia kenali.


Kiran!! wanita itu menunduk dalam saat melihat Zay bersama Oliv yang terlihat begitu mesrah.


Kiran berusaha keras menahan air matanya agar tidak jatuh, ia sudah tau jika hal ini akan terjadi.


Namun ia tidak menyangka jika Oliv akan kembali secepat ini di saat dirinya dan Zay baru saja merajut kasih.


Harusnya Kiran membiarkan Zay menyeleseikan masa lalunya sebelum ia merajut kasih dengan Zay.


Ini salahnya, ini kebodohannya, kenapa ia tidak berpikir dua kali sebelum merajut tali kasih dengan Zay yang jelas jelas masih bermasalah dengan masa lalunya.


Kalau sudah seperti ini ia tidak bisa menyalahkan siapapun, bahkan takdirpun enggan untuk disalahkan.


Andai waktu bisa terulang kembali, ingin sekali ia tidak kembali ke indonesia dan bertemu dengan Zay.


Membiarkan hatinya mencintai dalam diam jauh lebih baik dari pada tersakiti oleh masa lalu kekasih yang telah kembali.


Kiran melajukan mobilnya saat melihat Mobil Zay yang pergi meninggalkan area taman.


Kiran terus mengikuti mobil Zay hingga akhirnya mobil itu berhenti di depan sebuah rumah yang sangat sederhana.


Oliv turun dari mobil Zay, setelah itu mobil Zay melesat pergi.


Kiran melajukan mobilnya dan berhenti di depan rumah Oliv.


Kiran turun lalu masuk kedalam ruma oliv.


tookk..took..


" Apalagi Za--" mata Oliv membulat sempurna saat tau siapa yang mengetuk pintu rumahnya.


Ia berpikir jika yang mengetuk rumahnya adalah Zay yang kembali menemuinya, karena tidak ada siapapun yang tau rumahnya kecuali Zay.


" K-kiran." sapa Oliv dengan gugup.


" Apa kabar?" sapa Kiran tersenyum manis lalu memeluk tubuh Olive yang menurutnya semakin kurus.


Jantung Oliv berdetak begitu cepat, darimana Kiran tau rumahnya?


Apa mungkin sedari tadi kiran mengikuti Zay? karena hanya Zay yang tau rumahnya.


Oliv diam mematung, tangannya seakan lemas hanya sekedar membalas pelukan Kiran.


" Boleh aku masuk?" ucap Kiran membuyarkan lamunan Oliv.


" Aahh..i-iya silahkan masuk, kamu duduk dulu biar aku buatkan minum." ucap Oliv mempersilahkan Kiran untuk masuk dan duduk.


" Tidak usah repot repot, aku hanya ingin bicara sama kamu, aku kangen banget sama kamu." sahut Kiran.


Ia menarik pelan tangan Oliv agar duduk di sebelahnya.


" Nak Kiran." seru Ranti saat melihat tamu dirumahnya.


Ia baru saja dari pasar untuk membeli bahan makanan.


" tante." sapa kiran sambil menyalimi Ranti.


" Dari mana kamu tau kami tinggal disini?" tanya Ranti memeluk tubuh kiran.


" Apa sih yang kiran gak tau tan." jawab Kiran sambil tertawa kecil.


" Kamu apa kabar? maafkan kami yang pergi tanpa kabar apapaun." ucap Ranti yang merasa bersalah.


Karena bagaimanapun Kiran adalah sahabat terdekat Oliv bahkan ia sudah menganggap Kiran sebagai anaknya sendiri.


" Apapun alasan kalian pergi, aku bahagia saat melihat kalian kembali dalam keadaan sehat." sahut Kiran.


Olive dan Ranti saling pandang, Kiran belum tau jika keadaan oliv tidak baik baik saja.


" Kamu duduk dulu, biar tante naruh belanjaan ini dan buatin kamu minum." ucap Ranti diangguki Kiran.


" Kenapa kamu pindah ke rumah ini? rumah lama kamu kemana?" tanya Kiran yang melihat rumah Oliv berbeda 180⁰ dari rumahnya yang dulu.


" Kamu mau mendengarkan ceritaku?" ucap Olivia diangguki kiran.


" Untuk apa aku kesini kalau bukan untuk mendengar ceritamu? Sudah lama sekali kita tidak saling bercerita, jadi aku akan mendengarkan semua yang kamu ceritakan." jawab Kiran dengan antusias.


Oliv menceritakan semuanya mulai dari penyakitnya, kenapa dia pergi tanpa kabar dan kenapa dia bisa tinggal di rumah ini.


Kiran meneteskan air matanya saat ia mendengar semua cerita Olivia.


Ia tidak menyangka jika ada penyakit Ganas yang menggerogoti tubuhnya.


" Maafkan aku yang tidak tau jika kamu sakit parah, maafkan aku yang tidak bisa memberi support di masa tersulit kamu." ucap Kiran menangis dan memeluk Oliv.


" Kamu nggak salah kiran, memang aku yang tidak ingin merepotkan kamu dan yang lain.


Aku tidak ingin hanya karena penyakitku ini membebani semua orang di sekelilingku, cukup aku saja yang merasakannya." ucap Oliv mengusap punggung Kiran.


" Sekali lagi maafkan aku."


" Jangn meminta maaf, aku gak suka karena kamu gak salah " sahut Oliv.


" Sekarang jujur sama aku, dari mana kamu tau rumah aku disini?" tanya Oliv.


Ia hanya ingin memastikan jika Kiran tidak mengikuti Zay dari tadi.


" Hanya kebetulan lewat dan tidak sengaja melihat kamu masuk rumah ini." jawab Kiran beebohong.


Oliv tersenyum, ia tau jelas jika kiran berbohong, karena sahabatnya yang satu ini tidak pandai dalam hal berbohong.


" Kamu kuliah dimana?" tanya Oliv mengalihkan pembicaraan.


" Di jerman dan besok aku akan kembali kesana." jawab Kiran.


" Kenapa cepet banget? baru saja kita bertemu." ucap Oliv dengan raut wajah sedih.


" Lusa aku udah mulai kuliah, lagian aku pulang ke indonesia udah satu bulan yang lalu." jawab Kiran.


Banyak hal yang mereka ceritakan dengan silih berganti, Kiran juga berusaha keras agat tidak membahas tentang Zay sedikitpun, begitupun dengan Oliv, ia sedikitpun tidak menyinggung hubungan Kiran dengan Zay.


Akan menjadi canggung jika mereka sama sama membicarakan tentang Zay.


Tak terasa sudah hampir sore Kiran berada di rumah Oliv, ia melihat jam di pergelangan tangannya lalu pamit pulang.


" Aku pulang dulu ya, aku belum nyiapin barang barang aku." pamit Kiran.


" Gapapa, aku doain kemo kamu berjalan lancar dan kamu segera sembuh dari penyakit itu." jawab Kiran.


Oliv mengangguk, ia mengantar Kiran pulang setelah kiran berpamitan dengan mamanya.


" Aku pulang dulu, jaga diri kamu baik baik dan semoga cepat sembuh." ucap Kiran memeluk erat tubuh Oliv.


" Kamu hati hati, jaga kesahatan kamu." jawab Oliv.


Kiran mengangguk lalu masuk kedalam mobil.


Ia melambaikan tangannya setelah itu mobil melesat pergi.


Satu notifikasi masuk kedalam ponsel kiran, ia menepikan mobilnya dan membuka ponselnya.


Ia terkejut saat puluhan pesan dan puluhan panggilan tidak terjawab dari Zay.


Ternyata laki laki itu sedari tadi menghubungi kiran, namun ponsel kiran tertinggal di mobil.


Zay panik sampai harus mendatangi rumah Kiran dan ternyata kiran tidak ada dirumah.


Jika biasanya Kiran selalu bilang padanya jika akan pergi kemana mana, namun hari ini ia tidak mendapatkan kabar sedikitpun dari Kiran.


Jadilah Zay khawatir jika kiran kenapa napa.


" Kamu diamana? kenapa telponku dari tadi tidak kamu angkat? kamu gak kenapa napa kan?" tanya Zay beruntun.


Ia langsung mengubungi kiran saat semua pesannya sudah terbaca oleh kiran.


" Aku lagi dijalan sayang, kenapa khawatir gitu?" jawab Kiran masih bisa bersikap tenang, padahal dalam hatinya ia sakit hati karena Zay tidak jujur padanya tentang Olivia.


" Gimana aku gak khawatir kalau kamu hari ini gak kasih aku kabar apapun." jawab Zay sedikit kesal.


" Aku baik baik saja, lagian aku gak mau ganggu kamu, karena aku pikir kamu sedang sibuk hari ini." jawab Kiran yang menahan sesak didadanya.


" Iya tadi aku sedikit sibuk, tapi sekarang udah enggak.


Kamu dimana biar aku kesana sekarang." ucap Zay.


" Aku dijalan mau pulang." jawab Kiran dengan suara tercekat.


" Kamu kenapa? kamu gapapa kan?" ucap Zay yang mendengar suara kiran tidak seprti biasanya.


" Aku gapapa, aku pulang dulu ya. aku matiin dulu telponnya." ucap Kiran lalu mematikan sambungan teleponnya.


Zay merasa heran, pasti terjadi sesuatu dengan Kiran.


Zay mengambil Jaketnya lalu pergi menemui kiran, ia khawatir jika terjadi sesuatu dengan Kiran tapi gadis itu enggan untuk bercerita.


Zay melesatkan motornya menuju rumah kiran.


Ia ingin segera bertemu dengan kiran, karena ia yakin jika kekasihnya itu sedang tidak baik baik saja.


Motor terparkir mulus di depan rumah Kiran ia mengetuk ointu dan tak lama kiran membukanya.


" Kenapa?" tanya Kiran yang melihat raut wajah Zay yang khawatir.


" Aku yang tanya seperti itu, kamu kenapa? kamu gapapa kan?"


" Aku gapapa, emang aku kenapa?" jawab Kiran sambil berjalan ke sofa.


Ia mendudukkan bokongnya di sofa tunggal.


Jika biasanya dia akan duduk di sofa panjang bersama Zay, namun kali ini ia duduk di sofa tunggal.


" Aku punya salah sama kamu?" tanya Zay yang melihat sikap kiran tidak seperti biasanya.


" Emang kamu ngerasa buat salah sama aku?" tanya balik kiran.


" A-aku.."


" Aku udah tau semuanya Zay." potong Kiran membuat Zay membulatkan matanya.


" M-maksud kamu?"


Bukannya menjawab, ia bangun dari duduknya dan pindah duduk di sebelah Zay.


Ia menangkup kedua pipi Zay dan mencium sekilas bibir Zay.


Zay menahan tengkuk Kiran dan memperdalam ciuman itu.


ia bahkan tidak perduli jika ada yang mempergoki perbuatannya.


Kiran hanya diam, ia tidak membalas ciuman Zay seperti biasanya.


Ia membiarkan Zay melakukan apa yang dia mau.


Kiran memukul dada Zay pelan saat ia mulai kehabisan napas.


Zay yang paham langsung melepas ciuman itu.


ia mengusap bibir Kiran yang sedikit membengkak.


" Udah kan? sekarang kamu pulang sana, aku mau tidur dulu, aku harus nyiapin banyak energi buat penerbanganku besok." ucap Kiran menahan air matanya agar tidak jatuh.


" Aku nggak mau pulang, jelasin dulu maksud ucapan kamu tadi." ucap Zay.


Tidak mungkin jika Kiran tau kalau Oliv sudah kembali, hati Zay bedegup kencang, ia takut jika kiran tau semuanya.


Bukan maksud Zay menyembunyikan ini semua dari kiran, tapi belum saatnya ia memberi tahu kiran.


" Tanpa aku menjelaskan kamu harusnya sudah tau bukan? aku kamar dulu, kalau kamu besok sibuk, kamu gak usah nganterin aku. Aku ngerti kok." ucap Kiran.


Ia mencium sekilas pipi Zay lalu berjalan menaiki tangga meninggalkan Zay yang diam mematung.


Zay mengcak rambutnya Frustasi, ia menebak jika kiran sudah tau kalau Olive kembali dan ia dekat kembali dengan oliv.


Zay keluar dari rumah kiran dan melesatkan motornya pergi meninggalkan rumah kiran.


.


.


.


.


Hadeehhh pengen nampol si Zay sumpah.


😆